Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Ajaran Nur Muhammad : Kontroversi Yang Tidak Kunjung Reda

Sabtu, 08 April 2017



: Mohammad Machin

Perbincangan tentang Nur Muhammad ini sangat menarik. Karena melibatkan berbagai macam tradisi besar islam, baik tradisi yang masih eksis maupun yang sudah gulung tikar. Dari mulai kalangan tasawuf falsafi, syiah, Sunni, hingga belakangan kaum Wahabi, semuanya mengeluarkan sikap dan pendapat masing-masing. Selama ratusan tahun ajaran ini juga berkembang di berbagai dunia islam. Mulai dari Arab, Persia, India hingga Nusantara. Di Nusantara sendiri, Ajaran ini pernah tersebar dari mulai Aceh hingga kawasan timur Indonesia. Dalam hal ini Otoritas pesantren, tarekat, dan majlis berperan besar.
Sebenarnya sejak lama telah terjadi tarik menarik antar kelompok soal kebenaran ajaran ini. Dua kelompok besar islam, Ahli hadits dan Sufi, bak air dan minyak dalam satu wadah : tidak bisa disatukan. Kelompok pertama menentang otentisitas sumber pijakan ajaran ini, sementara golongan kedua justru menjadi sponsor utama yang memperkenalkannya secara luas. Dua kelompok besar tsb nampaknya juga tidak menaruh minat dalam bidang ini secara bersamaan. Konsep Nur Muhammad sudah diperbincangkan dalam ranah tasawuf falsafi sejak abad 9, Sementara golongan kedua baru bereaksi beberapa abad kemudian (Tercatat Imam Suyuthi adalah pakar hadits paling awal yang mengomentari hadits Nur Muhammad).
Dalam literatur klasik, Terdapat beragam redaksi tentang konsep Nur Muhammad ini, Terutama tentang detail cerita yang diangkat. Namun secara garis besar, konsep tsb tetap sama. Nur Muhammad diyakini sebagai makhluk pertama yang diciptakan Allah. Dari Nur tsb Allah kemudian menciptakan semesta raya dengan segala isinya. Malaikat, Nabi, matahari, bulan, bintang, surga, neraka, Qalam, semuanya berasal dari Nur Muhammad. Nur tsb kemudian berada di tubuh Adam, lalu berpindah ke puteranya, Syits dan turun temurun hingga menjadi sempurna dengan lahirnya Nabi Muhammad.. Ajaran yang demikian ini diklaim mengacu pada sebuah hadits yang dinisbatkan kepada Abdur Razzaq dari sahabat Jabir bin Abdullah yang dalam semua literatur disebut tanpa disertai sanad.
Dalam literatur Syiah Ismailiyah, Ajaran ini mengalami sedikit variasi. Imad Al-Din al-Qurasyi, salah satu tokoh Syiah Ismailiyah dalam kitab Zuhrul Ma'ani menyebut riwayat bahwa : 'Arsy diciptakan dari Nur Muhammad, Cahaya langit dari Nur Ali, Cahaya bulan dari Nur Hasan (Puutera Ali), dan cahaya matahari dari Nur Husain (Putera Ali). Dari kalangan Syiah Imamiyah, Ajaran ini dikembangkan lagi dengan menisbatkan sebuah riwayat kepada Ali bin Abi Thalib. Bahwa yang mula-mula diciptakan Allah dari Nur keagungan-Nya bukan cuma Nabi dan Ali saja, tapi juga 11 imam Syiah. Mereka semua menyembah dan mensucikan Allah sebelum penciptaan makhluk. (236)
Kehadiran ajaran ini di kalangan Syiah juga dikonfirmasi oleh para sejarawan baik kontemporer maupun klasik. Dari kalangan klasik, Ibnu Thahir al-Maqdisi, dalam bukunya "Al-Bad'u Wa at-Tarikh" menulis : "Saya mendengar sebagian orang syiah mengira bahwa makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah Nur Muhammad dan Ali. Mereka juga menyebut riwayat. (Dan) Hanya Allah yang tahu kebenaran riwayat ini". Sementara dari kalangan kontemporer, Reonald Necholson juga mengatakan : "Paham tentang keazalian Nur Muhammad ini ditemukan dalam aliran syiah sejak waktu yang sangat lama". (al-Haqiqat al-Muhammadiyah Am Al-Falsafah al-Aflathuniyah / Aidh bin Sa'ad Ad-Dausari)
Belakangan konsep Nur Muhammad yang berbeda-beda ini menimbulkan gejolak intelektual di dalam dunia keilmuan. Kelompok ahli hadits kontemporer banyak yang menentangnya dengan dalih hadits yang dijadikan dasar idologis adalah hadits palsu (maudhu'). Sebagian pihak justru mensinyalir bahwa ajaran tsb berasal dari filsafat Plato yang diserap pertama-tama oleh ideologi syiah Ismailiyah. Diantara ahli hadits kontemporer yang menyatakan kepalsuan hadits ini adalah Sayyid Abdullah al-Ghumari, Sayyid Ahmad Al-Ghumari, Syekh Abdullah al-Harrari, Syekh Thahir bin 'Asyur, Syekh Abdullah at-Talidi, Syekh Rasyid Ridha, Syekh Abdul Fattah Abu Ghudah, dan masih banyak lagi. Dari kalangan Wahabi ada nama-nama seperti Al-Albani dan Bin Baz.
Ada beberapa argumentasi ilmiah yang dijadikan landasan para Ulama di atas. Diantaranya saja seperti tidak disertai sanad, tidak disebut dalam karya Abdur Razzaq sebagaimana diklaim, dan kandungan maknanya juga sangat kontradiktif. Belakangan dua alasan pertama sempat berusaha dipatahkan oleh seorang Doktor hadits, Isa Mani' Al-Himyari, yang mengaku menemukan salah satu manuskrip Mushannaf Abdu ar-Razaq yang memuat hadits Nur Muhammad lengkap dengan sanadnya. Penemuan itu-pun ia cetak dengan judul "Al-Juz'u al-Mafqud Min Mushannaf Abdir Razzaq" (bagian yang hilang dari Mushannaf Abdir Razzaq) dan sempat menggegerkan jagat keilmuan. Tak kurang dari 50 Cendekia hadits pun menentang secara keras karya tsb.
Berbeda dengan kalangan ahli hadits yang menentang. Dalam dunia tasawuf falsafi, ajaran ini justru tumbuh subur. Ajaran ini pertama kali dikenalkan oleh Al-Hallaj, Sufi yang dieksekusi mati. Lalu digodok oleh Ibnu 'Arobi (w. 638 H) sehingga menjadi semakin matang dan sempurna., Bagi kalangan ini, Sebelum lahir sebagai manusia, Nabi Muhammad sudah ada sebelum makhluk lain diciptakan. Keberadaan ini-lah yang mereka anggap sebagai Nur Muhammad yang berbeda dari kepribadian Nabi sebagai manusia dan utusan. Nur ini selanjutnya menjadi poros segala kehidupan di dunia dan terlibat dalam keberadaan segala perwujudan empiris. Dalam hal ini, Nur Muhammad adalah tempat tajalli paling sempurna bagi Tuhan.
Secara subtansial, Nur Muhammad -- seperti diuraikan Abu al-Ala' Afifi -- adalah perkara metafisik yang tidak terikat dengan waktu dan tempat. Dan karenanya ia bersifat azali Hal ini berbeda dengan kepribadian Nabi Muhammad sebagai manusia yang terikat masa dan tempat tertentu. Dalam kaitannya dengan manusia, Nur Muhammad ini bisa disebut al-Insan al-Kamil. Yakni konsep manusia sempurna yang mengumpulkan segala macam hakikat wujud pada dirinya. Sebagian peneliti menyebut : al-Insal al-Kamil ini bisa dibilang adalah perantara antara Tuhan dan makhluk. Sebab ia punya sifat keduanya. Maka jika Nabi Isa AS dalam keyakinan umat Kristiani menjadi tempat tampaknya sifat-sifat Allah SWT secara sempurna, maka bagi kalangan Sufi, orang tsb adalah Nur Muhammad (Al-Haqiqat al-Muhammadiyah).
Menurut Abu al-Ala', Ajaran Nur Muhammad yang semacam ini dikonsepsikan oleh Ibnu Arobi dari berbagai elemen filsafat di luar islam, Seperti Filsafat Plato, Kristen, Yahudi dan Syiah Ismailiyah. Tak lupa Ibnu Arobi juga membubuhkan hadits Jabir dalam membangun konsep ini. Saking eratnya hubungan Ibnu Arobi dengan ajaran ini, Abu al-Ala' juga menyebut bahwa ajaran tsb -- selain dalam lingkungan Syiah Ismailiyah, tidak dikenali kecuali dari Ibnu Arobi. Begitu besarnya pengaruh yang dihasilkan paham tsb, Sehingga Karl Henrik Becker menyebut bahwa paham ini-lah yang mengubah persepsi kelompok sufi tentang Nabi Muhammad dari seorang utusan Allah menjadi seperti Tuhan yang telah ada sejak dalam azali. Dan pada gilirannya melahirkan tradisi yang seolah-olah men-Tuhan-kan Nabi.
Selain Al-Hallaj dan Ibnu Arobi, konsep Nur Muhammad atau al-Insan al-Kamil juga diperbincangkan oleh tokoh-tokoh sufi lainnya dengan istilah yang beragam. Seperti Abdul Karim Al-Jili dalam bukunya "Al-Insan al-Kamil, As-Suhrawardi, Ibnu Sab'in, Ibnu al-Faridh dengan istilah Al-Quthb, Al-badawi, Al-Dasuqi, Ibnu al-Qadhib al-Ban dan para tokoh lain. Fakta ini-lah yang kemudian membuat kita dilematis. Sebab di sisi lain, ajarannya yang kontroversial telah mengundang kritik tajam dari berbagai kalangan, namun kedudukan mereka sebagi sufi agung justru tetap tidak tergoyahkan. Contoh saja, Imam Suyuthi yang dalam satu waktu mengkritik otentisitas hadits Jabir yang dijadikan landasan paham ini, tiba-tiba justru membela Ibnu Arabi dari tuduhan sesat dengan membuat kitab berjudul "Tanbihul Ghabi Fi Tabriati Ibni Al-'Arabi".
Namun terlepas benar tidaknya paham tsb, agaknya langkah terbaik adalah menyerahkan interpretasi dan pemahamannya kepada kalangan mereka sendiri. Tentu dengan tidak terburu-buru menghukumi sesat atau keliru. Toh bagi kalangan seperti Ibnu Arobi, Mereka punya logika dan aturan main sendiri di dalam mengelola paham-paham tasawufnya. Yang selama ini memang kerap memicu kontroversi. Dan agaknya kita musti mengutip statemen Sayyid Zaki Ibrahim terkait kelompok penganut tasawuf falsafi ini. Bahwa pertama-tama : "Tidak ada satu-pun manusia yang berijtihad dalam agama untuk masuk neraka. Dan karenanya, terkait ajaran mereka, bila terdapat ta'wil yang bisa diterima, maka kita musti menerimanya. Namun jika tidak, maka kita pasrahkan saja urusannya kepada Allah".
Sementara beberapa Ulama berupaya merekonsiliasi kontradiksi antara hadits Jabir di atas dengan Hadits Bukhari yang menyatakan makhluk pertama adalah 'Arsy. Diantaranya adalah Ibnu Hajar dalam kitabnya Fatawi Al-Haditsiyah. Menurutnya kontradiksi antara hadits Jabir (Nur Muhammad) dengan hadits yang justru menyatakan makhluk pertama adalah 'Arsy (bukannya Nur Muhammad) bisa saja dihindari, jika pada hadits pertama yang dikehendaki adalah awal penciptaan secara Idhafi (bukan awal sebenarnya) sedangkan dalam hadits Bukhari adalah awal secara Haqiqi (sebelum ada makhluk). Namun Abdullah al-Ghumari dalam Mursyidul Hair secara tegas menolak usulan Ibnu Hajar ini. Menurutnya, rekonsiliasi bisa dilakukan jika hadits Jabir juga berstatus Shahih.
Dalam dua arus besar yang tarik menarik di atas (Ahli hadits & Sufi) tampaknya hadits Jabir yang mejadi landasan ajaran Nur Muhammad tsb juga tidak serta merta memperoleh kesepakatan. (Dan mungkin saja ini yang juga menyebabkan paham tsb banyak menuai pro dan kontra). Dari kalangan ahli hadits, ada saja yang tidak memberi pernyataan eksplisit tentang statusnya dan justru seolah mendukungnya. Seperti Al-Qasthalani yang mengutipnya di dalam Mawahib alladuniyah. Sementara dari kalangan sufi pun tidak semuanya sepakat. Ibnu 'Ajibah al-Maghribi, tokoh sufi dari Maroko menyatakan kelemahan (Dhaif) hadits tsb dalam Syarah al-Hikam-nya.
"Ajaran Nur Muhammad di Nusantara"
Dalam sejarahnya, Konsep ajaran tsb dikenal luas di berbagai belahan dunia islam. Di Mekkah, jantung umat islam, ajaran tsb dikenal sudah sejak lama dan banyak disampaikan dalam berbagai kitab terutama kitab maulid. Diantaranya maulid Al-'Azzab karya Sekh Muhammad Azzab. Ibnu Hajar al-Haitami, Pakar Fikih Mekkah yang hidup di abad 9 H juga mengemukakan ajaran ini di dalam kitabnya Fatawi al-Haditsiyah. Di Yaman konsep tsb terbukukan dalam kitab Simtud Duror karya Habib Ali al-Habsyi. Ajaran tsb juga dikenal di India dan Persia. Adapun di Persia, ia dikemas diantaranya dalam sebuah karya berjudul Raudhatul Ajab, yang nantinya diterjemah ke dalam bahasa Melayu dan dikenal luas dengan teka Hikayat Nur Muhammad.
Tidak kalah dengan dunia islam di barat, Ajaran Nur Muhammad ini di Nusantara juga sangat populer sejak beberapa abad yang lalu. Kepopulerannya ini bisa dibuktikan dengan banyaknya teks-teks keagamaan Nusantara yang memperbincangkannya -- baik karya berbahasa arab, melayu, jawa, bahkan juga buton. Berdasarkan kajian manuskrip yang al-Faqir lakukan, ajaran ini sudah masuk ke Indonesia sejak masa awal islam. Kemungkinan pada masa kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Ajaran tsb dikenalkan oleh Syekh Abdullah al-'Arif, pendakwah arab yang datang ke Aceh, dalam kitabnya yang berjudul Bahrul Lahut.
Naskah tasawuf Nusantara lainnya yang memuat ajaran ini berjudul "Bayan al-Alif". Sampai saat ini al-Faqir belum menemukan data siapa penulisnya dan kapan dikarang. Namun genre tasawuf yang diusung di dalamnya mencerminkan bahwa karya tsb jelas lahir di bawah bayang-bayang tradisi tasawuf falsafi pada masa awal islam. Dalam manuskrip Bayan al-Alif yang tersimpan di perpustakaan kami, juga ditemukan hadits Nur Muhammad yang ditulis dengan redaksi yang agak berbeda dari redaksi dalam sumber-sumber arab. Hadits tsb menyatakan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah.
Seiring berjalannya waktu, paham tsb menyebar bersamaan dengan meluasnya pengaruh tradisi islam Aceh ke berbagai penjuru negeri. Distribusi kitab Bahrul Lahut dan Bayan al-Alif yang menjadi gerbong pertama ajaran ini menjangkau berbagai daerah di Nusantara. Yang pada gilirannya nanti menjadikan ajaran tsb dikenal secara luas di berbagai daerah. Sampai saat ini, naskah tsb ditemukan dalam bentuk bahasa melayu dan Jawa. Teks berbahasa Melayu tersimpan di Malaysia dan Madura, sedangkan yang berbahasa Jawa gandul berada di daftar koleksi perpustakaan kami. Adapun kitab Bayan al-Alif ini masih diajarkan sampai abad 19. Ronggo Warsito (w. 1873), Pujangga besar keraton Solo pun masih mengutip kitab ini dalam Wirid Hidayat Jati .
Ajaran Nur Muhammad ini juga ditemukan dalam karya klasik Nusantara dengan bergama bahasa. Bahkan ada karya yang secara khusus membahasnya. Adalah Hikayat Nur Muhammad , karya sastra melayu lama yang mengupas proses penciptaan Nur Muhammad dan segala manifestasinya. Dalam karya tsb, diterangkan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah. Darinya kemudian tercipta beragam anasir kehidupan, tanah, api dan air. Nur Muhammad juga berpindah dari Adam ke puteranya Syits, lalu secara turun temurun sampai ayah Nabi Muhammad, Sayid Abdullah.
Dalam catatan sejarah Nusantara, teks Hikayat Nur Muhammad ini sangat populer di kalangan umat islam. Perpustakaan nasional saja mengoleksi 7 naskah, perpustakaan Leiden di Belanda memiliki 1 naskah, dan terdapat juga naskahnya di british library. Ini belum menghitung naskah-naskah milik pribadi yang tersebar ke berbagai daerah, dan mungkin saja banyak yang hilang. Menurut inventarisasi yang dilakukan Rahmawati, terdapat 30 naskah yang tersebar dari mulai Jakarta, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan dengan bergama aksara. (tentang teks ini dan perbedaan redaksinya, lihat skripsi Rahmawati berjudul : Hikayat Nur Muhammad, Suntingan teks & penciptaannya/Universitas islam Indonesia / 2012).
Edward Jamaris yang melakukan penelitian terhadap teks ini di tahun 1983 mengemukakan, bahwa teks Hikayat Nur Muhammad yang tersimpan di Perpusnas bisa dikelompokkan menjadi 2 macam. Yakni teks pendek yang hanya membahasa Nur Muhammad dan proses penciptaan alam darinya. (teks pendek ini dicetak di Singapura). Kategori kedua adalah teks panjang yang menguraikan kejadian Nur Muhammad, sampai pada fase perpindahannya dari Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan sampai wujudnya yang sempurna di Nabi Muhammad. Lalu setelah beliau wafat, Nur tsb berpindah ke Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain, dan seterusnya pada keluarga Nabi.
Konsep tentang Nur Muhammad ini juga menyebar sampai ke pulau Buton yang berada di Sulawesi Tenggara. Sebuah naskah buton berjudul Hikayana Nuru Muhamadi yang disusun menggunakan bahasa cia-cia (bahasa setempat) membahas konsep tsb secara baik. Secara garis besar, isi dari naskah tsb tidak jauh beda dengan konsep Nur Muhammad di daerah lain. Teks tsb juga menyatakan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah. Naskah tsb adalah disalin oleh Abdul Malik Zahari pada tahun 1947 M. Ajaran Nur Muhammad juga ditemukan dalam karya sastra Melayu lainnya, seperti Hikayat Muhammad Hanafiyah, Hikayat Syah Merdan, dan dalam kitab perundang-undangan Mingkabau. (Edward Jamaris)
Dalam pandangan al-Faqir, proses meresapnya ajaran Nur Muhammad di Nusantara ini melibatkan berbagai unsur tradisi besar islam lama. Sebab menilik pada teks-teks Nusantara yang membicarakannya, serta karakteristik ajaran yang disampaikan, konsep ini bisa dibilang beragam, sebagaimana yang terdapat di dunia islam barat. Hal ini menjadi indikator bahwa kedatangan ajaran tsb tidak melalui satu pintu saja. Bisa diduga, bahwa 3 pengaruh tradisi besar yakni tradisi tasawuf falsafi, tradisi Syiah, dan tradisi fikib Ortodoks, ikut terlibat dan saling mewarnai. Hal ini bisa kita rasakan dengan kesan yang berbeda-beda dalam teks-teks tsb.
Dua teks pertama yang kami sebut, Bahrul Lahit dan Bayan al-Alif. Jelas menggambarkan aliran tasawuf dengan pendekatan filsafat yang memang pernah berkembang di Aceh. Secara sepintas, Teks Bahrul Lahut ini menggambarkan tasawuf seperti halnya yang dikemas oleh Abdul Karim al-Jili dalam bukunya Al-Insan al-Kamil. Pengaruh ini yang mungkin membuat konsep Nur Muhammad dalam Bahrul Lahut diuraikan dengan bahasa yang rumit dan sulit dipahami. Hal yang mungkin saja tidak kita temukan dalam konsep Nur Muhammad dalam kitab-kitab Maulid. Dalam teks Bahrul Lahut kami juga tidak menemukan kesan pengaruh Syiah yang begitu mencolok misalnya seperti dalam Hikayat Nur Muhammad.
Dalam teks ini , di mana dalam versi panjangnya menjelaskan peran serta Ahlul Bait dalam transformasi Nur Muhammad, seperti dalam riwayat Syiah Imamiyah, kesan Syiah begitu terasa. Dijelaskan di sini bahwa setelah Nabi wafat, Nur Muhammad berpindah secara turun temurun ke keturunan Nabi ( Imam Syiah ). Hikayat ini juga menjelaskan bahwa Nur Muhammad dirupakan dalam bentuk burung. Kepala burung adalah Ali bin Abi Thalib. Kedua matanya adalah Hasan dan Husain. Lehernya adalah Fathimah (puteri Nabi). Kedua lengannya adalah Abu bakar dan Umar. Ekornya adalah Hamzah (paman Nabi). Dan bagian belakangnya adalah Abbas (paman Nabi). Adanya pengaruh Syiah pada teks ini diperkuat lagi dengan fakta asal-usul teks tsb yang merupakan terjemah dari karya berbahasa Persia berjudul Raudhatul Ajab. (Dr. Liaw Yock Fang / Sejarah Melayu Lama)
Dalam Hikayat Nur Muhammad ini terdapat satu keterangan yang al-Faqir belum menemukan dalam sumber-sumber tentang Nur Muhammad lainnya, baik itu sumber arab maupun lokal. Kurang lebih sebagai berikut :
"Barang siapa yang membaca atau mendengar cerita ini maka ia memperoleh pahala seperti pahala naik haji dan mengelilingi Ka'bah 7 kali. Dan barang siapa membacanya setiap malam, maka ia akan memperoleh pahala mati syahid". (Hikayat Nur Muhammad / Hal. 8 / Cetakan Sulaiman Mar'i / Singapura, Pinang, Kota Baharu).
Agak belakangan, Ajaran Nur Muhammad Ini datang ke Nusantara bukan lagi melalui teks-teks dua tradisi tsb. Melainkan dibawa oleh tradisi baru yang datang dari Mekkah. Dalam tradisi ini, kesan tasawuf falsafi dan Syiah -- seperti dapat kita temui dari teks Bahrul Lahut dan Hikayat Nur Muhammad -- tidak terlihat. Tradisi ini mengemas ajaran Nur Muhammad secara sederhana. Diantaranya yang paling popouler, adalah teks-teks kitab Maulid Nabi. Ajaran Nur Muhammad yang diangkat dalam kitab-kitab ini adalah tentang penciptaannya yang mendahului semua makhluk. Paham ini bisa kita lihat dalam permulaan (Muqaddimah) kitab maulid Al-'Azzab. Sementara kitab Maulid Sintud Durar atau Maulid al-Habsyi mengemas paham ini dengan bentuk hadits yang biasanya dijadikan landasan, yakni hadits Jabir yang sudah kami bahas di atas.
Bisa dipahami bahwa penyebutan ajaran Nur Muhammad dalam kitab-kitab maulid ini, sengaja ditujukan untuk melegitimasi kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Apalagi ia dikutip dalam kitab yang secara khusus menjelaskan tentang keutamaan beliau. Hal ini sebenarnya terjadi bukan saja dalam kitab Maulid, tapi juga dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah , seperti kitab Mawahib Alladuniyah karya Imam Al-Qasthalani dan Khashais al-Kubra karangan Imam Suyuthi -- meski pun Imam Suyuthi dalam karya : Qut al-Mughtadzi dan Al-Hawi menganggap hadits Nur Muhammad yang dinisbatkan kepada Jabir bermasalah. Hal ini-lah yang oleh Syekh Abdullah al-Ghumari dan orang-orang yang sependapat, dianggap tidak perlu. Sebab sudah banyak hadits shahih yang menjelaskan keutamaan Nabi, tanpa perlu membawa hadits ini yang dianggapnya bermasalah. (Lihat : Mursyidul Hair).
Di Nusantara sendiri, terutama di abad modern, Ajaran Nur Muhammad memang belum mendapat perhatian yang cukup serius dari kalangan tokoh agama. Karya-karya yang lahir pun, lebih banyak menekankan pada aspek filologis -- seperti penelitian Rahmawati atas teks Hikayat Nur Muhammad. Sejauh ini al-Faqir hanya menemukan dua sikap Ulama Nusantara yang kurang lebih tidak beda dengan yang terjadi dalam tradisi besar islam di barat. Yakni menentang dan mendukung. Salah satu sikap yang mungkin paling awal adalah pernyataan Buya Hamka. Seperti dikutip Edward Jamaris -- ia menyatakan bahwa konsep ajaran Nur Muhammad adalah inti (diserap) dari filsafat Hinduisme bernama atman yang masuk ke dalam tasawuf islam.
Dari statemen di atas, kritik Hamka tampak-nya tidak secara tegas diarahkan kepada hadits Jabir yang menjadi landasan teologis ajaran ini. Hamka justru menyoroti ajaran ini dari sudut teologis dan tasawuf dengan menyatakan bahwa konsep tsb adalah konsep al-Insan al-Kamil yang dianut al-Hallaj, kemudian difilsafatkan (disempurnakan) oleh Ibnu Arabi, dan Abdul Karim al-Jili dalam kitabnya "Al-Insan al-Kamil". Menurut Hamka, Konsep al-Insan al-Kamil tsb maksudnya adalah manusia yang maha sempurna. Dia-lah permulaan wujud dan kesudahan Nabi. Dia menyatakan dirinya dalam bentuk yang berbeda-beda, menjadi Nabi Adam, dan seterusnya hingga sempurna dengan kelahiran Nabi SAW. Nur tsb, kemudian pindah secara turun temurun kepada Imam Ali dan cucunya.
Kalau-lah Hamka memandang ajaran tsb dari sudut ideologis, Habib Thahir Al-Kaff, Salah satu Ulama asal Tegal, memandang salah satu poin ajaran tsb dari sudut pandang hadits. Dalam acara haul Habib Ali Al-Habsyi beberapa tahun silam, Ia mengatakan bahwa hadits tsb shahih dan punya mata rantai (Sanad). Statemen tsb agaknya ia ungkapkan sebagai pembelaan atas hadits Jabir yang termaktub dalam kitab Simtud Durar. Dalam kitab tsb memang terdapat hadits yang dinisbatkan kepada Jabir yang secara tegas menyatakan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah. Dan kandungan ini-lah sebagaimana di atas, telah ditentang oleh Buya Hamka.
Selain dua tokoh di atas, Al-Faqir belum menemukan tokoh-tokoh agama di Nusantara yang mengomentari ajaran ini. Baik komentar terhadap haditsnya, mau-pun terhadap subtansi ajaran tsb. Terlepas dari kontroversi yang ada, Sampai sekarang ajaran tsb masih sering disampaikan dalam berbagai acara keagamaan. Kitab Maulid dan sastra melayu yang mengutip ajaran tsb-pun masih dibaca di mana-mana tanpa ada komentar tokoh-tokoh agama, baik komentar yang menentang mau-pun mendukung. Sejauh ini pun, kalangan yang menentang ajaran tsb kebanyakan berasal dari Timur tengah, meski ada saja dari mereka yang mendukungnya. (nama-nama mereka disebutkan Ziyad bin Umar at-Taklah / Lihat : Difa' 'An An-Nabi Wa Sunnatihi dan Al-Izhaq Li Abathil al-Ighlaq).
Pada masa belakangan ini, pemahaman atas Nur Muhammad seolah tercabut dari tradisi tasawuf falsafi yang dahulu sangat erat kaitannya. Orang-orang yang membaca ajaran ini banyak yang tidak mengira bahwa konsep Nur Muhammad adalah salah satu ajaran dalam tasawuf falsafi dan erat kaitannya dengan paham Wahdatul Wujud. Hal ini mungkin bisa dipahami karena beberapa alasan, diantaranya adalah sebab aliran tasawuf tsb telah gulung tikar dan tidak lagi ada pengikutnya. Tradisi besar yang kontroversial tsb, punah seiring mangkatnya para penganutnya. Dan akhirnya, pembicaraan tentang Nur Muhammad pun cenderung lebih sederhana dengan hanya bertolak dari hadits Jabir, tidak seperti dalam tasawuf falsafi yang menguraikannya dengan pendekatan logika filsafat yang sangat rumit.
Terakhir, Terlepas dari pro kontra yang terjadi, Kalau-lah memang ajaran ini adalah ajaran Ibnu Arabi, di mana istilahnya banyak yang hanya bisa dipahami oleh golongan mereka sendiri, maka biar-lah saja mereka dengan pemahamannya itu. Dan bagi yang tidak berasal dari golongan mereka, dan tidak paham betul tentang konsep Nur Muhammad ini, agaknya tidak mengapa jika tidak mempercayainya. Toh ajaran ini juga bukan termasuk akidah wajib yang menjadi syarat seseorang bisa disebut muslim. Terlebih konsepnya yang sulit dicerna, bila dipahami secara keliru, justru malah membahayakan akidah. Misalnya saja seperti meyakini bahwa Allah SWT berupa Nur (Cahaya). Dan dari Nur tsb diciptakan-lah Nabi Muhammad SAW.
Referensi :
1. Mursyidul Hair Fi Wadh'i Haditsi Jabir / Abdullah al-Ghumari
2. Al-Izhaq Li Abathil al-Ighlaq / Muhammad Ziyad bin Umar al-Taklah
3. al-Haqiqat al-Muhammadiyah Am Al-Falsafah al-Aflathuniyah / Aidh bin Sa'ad Ad-Dausari
4. Sejarah kesusastraan Melayu klasik / Dr. Liaw Yock Fang
5. Katalog Naskah Buton / Abdul Muluk Zahari
6. Bahr al-Lahut / Abdullah al-'Arif
7. Bayan al-Alif / pengarang tidak diketahui.
8. Hikayat Nur Muhammad / Cetakan Singapura
9. Hikayat Nur Muhammad / Penelitian Edward Jamaris
10. Hikayat Nur Muhammad, Suntingan teks dan penciptaannya / Rahmawati (2012).
11. Kitab-kitab Maulid, Al-'Azzab, Simtud Duror, dll.
12. Ushul Al-Wushul / Sayyid Zaki Ibrahim.
13. Ta'liq Fusush al-Hikam / Abu al-Ala' Afifi.
14. Artikel : Ganasnya Filsafat Tasawuf dan imbasnya pada paham Hakikat Muhammadiyah / Akhina Aufan Nawal (Guru di Pesantren al-Anwar Sarang)
Read more ...

ISLAM DI KUDUS ( abad 16 - 19 M ) ; ANTARA PERSPEKTIF BELANDA DAN HIKAYAT RAKYAT

Kamis, 16 Februari 2017
: Moh Machin

Sejarah Kudus berangkat dari hijrahnya Sunan Kudus ke daerah Tajug yang berada di kawasan Pulau Muria. Dalam buku "The Islamic State of Java", Th. Pigeaud dan D.J. De Graf pernah menulis bahwa pasca hijrah ke pulau muria, Sunan Kudus berhasil membangun kota keagamaan yang hari ini bernama Kudus. Menurut tradisi lisan, kawasan tsb berada di sebelah barat sungai Gelis. Istilah "Kota keagamaan" yang dipakai oleh D.J. De Graf ini-lah yang tentunya sangat menarik untuk kita dalami.

Dua sejarawan gaek di atas tidak menjelaskan gambaran yang rinci tentang kota islam yang baru ini. Dia hanya menulis bahwa kota di kawasan pulau Muria itu, seperti kota Pati, Jepara dan Juwana, adalah kota kecil dibanding Demak yang banyak ditumbuhi pohon-pohon jati. Kawasan pulau Muria pada abad 16 umun-nya menjadi pemasok beras ke kawasan Demak. Sebagaimana diketahui, Demak saat itu adalah kota terpenting di Jawa dan dihuni tak kurang dari 7 ribu orang.

Tome Pires di dalam bukunya "Suma Oriental" juga tidak banyak memberi informasi tentang islam di Kudus. Agen Portugis yang datang ke Jawa pada paruh pertama abad 15 M itu justru malah banyak berbicara tentang Jepara, Demak, Pati, atau Cajongan (Juwana). Hal ini bisa dimaklumi karena Kudus saat itu belum ada. Kudus sendiri baru berdiri sesudah kedatangan Pires, yakni pada tahun 1549 M.
Read more ...

Ithâf al-Dzakî”, Syaikh Siti Jenar, dan Tafsir “Wahdatul Wujud”

Jumat, 10 Februari 2017
“Ithâf al-Dzakî”, Syaikh Siti Jenar, dan Tafsir “Wahdatul Wujud” Maha Guru Madinah untuk Muslim Nusantara di Abad ke-17 M

Beberapa hari yang lalu telah kita kaji sebuah manuskrip penting dari kitab berjudul “al-Jawâbât al-Gharâwiyyah li al-Masâil al-Jâwiyyah al-Juhriyyah” karangan seorang ulama besar Madinah asal Kûrân (Kurdistan) bernama Syaikh Burhân al-Dîn Ibrâhîm ibn Hasan al-Kûrânî al-Madanî (w. 1690).

Kitab “al-Jawâbât” ditulis di kota Madinah, dalam bahasa Arab, dan khusus untuk merespon lima buah persoalan yang datang dari Nusantara pada paruh abad ke-17 M. “al-Jawâbât” menjadi penting karena menjadi sumber data dan informasi yang kaya terkait sejarah sosial-intelektual Islam di Nusantara, serta sejarah hubungan intelektual ulama Nusantara-TimurTengtah yang terjadi pada masa itu.

Adapun ini adalah manuskrip kitab dari pengarang yang sama, yaitu Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî al-Madanî. Kitab ini juga tak kalah pentingnya, karena juga khusus ditulis untuk merespon sebuah permasalahan keislaman yang cukup serius berkembang di bumi Nusantara pada masa itu, yaitu tentang faham panteisme (wahdatul wujud) yang erat kaitannya dengan ajaran Syaikh Siti Jenar.

Kitab ini berjudul “Ithâf al-Dzakî fî Syarh al-Tuhfah al-Mursalah ilâ Rûh al-Nabî”. Adapun gambar ini adalah gambar halaman judul dan halaman pertama dari kitab tersebut, dari naskah manuskrip salinan (al-nuskhah al-makhtûthah al-mansûkhah) koleksi Perpustakaan Universitas Toronto, Kanada.

Kitab “Ithâf al-Dzakî” memiliki banyak salinan manuskrip. Prof. Oman Fathurrahman, filolog Islam Nusantara dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang lama meneliti kitab “Ithâf al-Dzakî” ini mengatakan ada kurang lebih 32 buah salinan naskah dari kitab tersebut. Ke-32 naskah salinan itu tersebar di beberapa perpustakaan dunia, mulai dari Mesir, Turki, Saudi Arabia, Iran, Jepang, Belanda, Jerman, hingga USA dan Kanada. Prof. Oman mendasarkan penelitiannya dari 17 buah naskah yang beliau temukan. Hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 2012 oleh Mizan, dengan judul “Ithaf al-Dhaki; Tafsir Wahdatul Wujud Bagi Muslim Nusantara”.

Kitab “Ithâf al-Dzakî” karangan al-Kûrânî sendiri merupakan uraian dan penjelasan (syarh) atas kitab “al-Tuhfah al-Mursalah fî Haqîqah al-Syarî’ah al-Muhammadiyyah” atau yang dikenal dengan “al-Tuhfah al-Mursalah ilâ Rûh al-Nabî” karangan seorang teosof (al-shûfî al-falsafî) besar asal Burhanpur (India) yaitu Muhammad ibn Fahdlullâh al-Burhânpûrî (w. 1620).

Melalui “al-Tuhfah al-Mursalah”, al-Burhânpûrî mengkaji ilmu tasawuf secara mendalam dan filosofis. Pemikiran al-Burhânpûrî sangat terpengaruh oleh pemikiran Syaikh Muhyiddîn Ibn al-‘Arabî (Ibnu Arabi, w. 1240), sufi dan filsuf besar asal Andalus (Spanyol) dan wafat di Damaskus (Syria). Melalui karyanya itu pulalah al-Burhânpûrî memperkenalkan konsep “martabat tujuh” dalam ilmu tasawuf. Namun permasalahannya adalah, pandangan-pandangan tasawuf al-Burhânpûrî dalam karyanya itu lebih cenderung didominasi oleh pemahaman pantheisme (wahdatul wujud) yang kontroversial.

Kitab “al-Tuhfah al-Mursalah”, konsep “martabat tujuh”, sekaligus faham “wahdatul wujud” ala al-Burhânpûrî sampai ke Nusantara, berkembang dengan sangat pesat dan berpengaruh besar di sana, sehingga menjadi semacam “tren pemikiran Islam” yang cukup dominan pada paruh pertama abad ke-17 M. Kitab “al-Tuhfah al-Mursalah” pun dijadikan pedoman. Beberapa ulama Nusantara yang ikut serta mengkampanyekan dan menyokong pandangan ini adalah Syaikh Hamzah Fansuri (w. ?) dan Syamsuddin Sumatrani (w. 1630).

Pandangan “wahdatul wujud” di atas ditentang oleh beberapa ulama Nusantara lainnya, seperti Syaikh Nuruddin Raniri (Nûr al-Dîn Muhammad ibn Jailânî ibn ‘Alî ibn Hasanjî al-Qarsyî al-Rânîrî al-Asy’arî, w. 1658) dan Syaikh Abdul Rauf Singkel (‘Abd al-Raûf ibn ‘Alî al-Fanshûrî al-Sinkilî al-Âsyî al-Jâwî, w. 1693). Dua ulama ini lebih hendak menyebarkan ajaran tasawuf berfaham sunni (al-Ghazzâlî atau al-Junaidî) yang berkaitan dengan fikih madzhab Syâfi’î dan teologi madzhab Asy’arî.

Perdebatan antara dua kubu, yaitu kubu “tasawuf wahdatul wujud” dengan kubu “tasawuf sunni” pun mengemuka dengan sangat dinamis. Syaikh Nuruddin Raniri dan Abdul Rauf Singkel pun menulis beberapa karya untuk merespon faham “wahdatul wujud” tersebut.

Abdul Rauf Singkel, yang merupakan salah satu murid terdekat Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî, mengajukan permasalahan dialektika faham “wahdatul wujud” ini kepada gurunya itu sewaktu al-Singkili berada di Madinah. Sang guru pun merespon permasalahan yang diajukan muridnya itu, yang kala itu sedang menjadi “tranding topic” di Nusantara.

Karena itu, dalam kata pengantarnya, Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî menulis;

ققد صح عندنا من أخبار جماعة الجاويين أن بلاد جاوة قد نشى في أهلها بعض كتب الحقائق وعلوم الأسرار. فتداولتها ايدي من باب (؟) ..... وذكروا لي أن من أشهرها عندهم المختصر الموسوم بالتحفة المرسلة الى النبي صلى الله عليه وسلم تأليف العارف بالله الشيخ محمد بن الشيخ فضل الله الهندي البرهانبوري نفع الله به، فاسترشحه لذك غير واحد منهم من هذا الفقير شرحا يوضح تطبيق مسالكه على قواعد أصول الدين المؤيد بالكتاب العزيز وسنة سيدن المرسلين

“Kami telah menerima kabar dari sekelompok Muslim Nusantara (Jamâ’ah al-Jâwiyyîn) bahwa di kalangan masyarakat Nusantara (Jawah) telah tersebar sebagian kitab tentang ilmu hakikat dan ilmu tasawuf. Mereka menceritakan kepadaku bahwa di antara kitab yang paling masyhur di kalangan mereka adalah risalah pendek berjudul ‘al-Tuhfah al-Mursalah’ karangan seorang al-Arif Billah Syaikh Muhammad bin Fahdlullah al-Hindi al-Burhanpuri, semoga Allah senantiasa memberikan kita kemanfaatan dari ilmu-ilmunya. Beberapa dari Jemaah Muslim Nusantara itu meminta kepada diriku yang fakir ini untuk menulis sebuah ulasan/penjelasan (syarh) atas kitab tersebut, agar dapat menjelaskan kesesuaian masalah-masalah di dalamnya dengan prinsip-prinsip dasar agama yang benar”.

Dijelaskan oleh Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî, bahwa permintaan yang diajukan oleh Muslim Nusantara untuk menanggapi masalah “wahdatul wujud” itu tidak datang sekali dua kali saja, tetapi berkali-kali. Akhirnya, setelah melakukan istikharah berkali-kali, beliau pun mengabulkan permintaan tersebut dan mulai menuliskan ulasan atas kitab “al-Tuhfah al-Mursalah” yang menjadi biang permasalahan dan perbedaan yang berujung perselisihan di kalangan Muslim Nusantara.

Dalam identifikasi al-Kûrânî, permasalahan di atas timbul akibat adanya ketimpangan yang cukup parah pada neraca pemahaman dan keilmuan Muslim Nusantara, pada tidak adanya balance antara pengamalan tasawuf sebagai ilmu batin (esoteris) dengan pemahaman fikih dan praktek syariat sebagai ilmu lahir (eksoteris). Kajian tasawuf berkembang tanpa diimbagi dan dibekali terlebih dahulu dengan dasar-dasar ilmu fikih dan ilmu-ilmu syari’at lainnya. Inilah yang kemudian meneguhkan pendapat al-Imam al-Ghazzali bahwa “man tashawwafa wa lam yatafaqqah faqad tazandaqa” (barang siapa yang mendalami ajaran dan laku tasawuf tanpa memiliki bekal dasar-dasar ilmu fikih, maka ia akan melenceng jauh!).

Anggitan Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî ini (Ithâf al-Dzakî), ternyata sangat efektif meredakan gejolak polemik pandangan “wahdatul wujud” yang terjadi di Nusantara. Faham tersebut pun kian surut dan redup dengan beriringnya waktu, utamanya setelah berkarirnya Syaikh Abdul Rauf Singkel, yang merupakan murid Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî, sebagai mufti Kesultanan Aceh. Lewat institusi resmi kenegaraan, Syaikh Abdul Rauf Singkel berhasil menghilangkan pengaruh ajaran tasawuf “wahdatul wujud” dan menggantinya dengan ajaran tasawuf yang sunni dan “resmi”.

Sahabat sekaligus guru saya al-Fadhil DukturHerman Syah, yang juga meneliti kitab “Ithâf al-Dzakî”, mengidentifikasi bahwa kitab tersebut ditulis pada tahun 1076 Hijri (1665 Masehi). Dikatakan oleh beliau, bahwa penanggalan paling tua berkaitan dengan penulisan naskah Ithaf ad-Dhaki ini terdapat dalam salah satu salinan naskah bernomor MS 820 koleksi Fazil Ahmed Pasa, Perpustakaan Köprülü, Istanbul (Turki), yang menyebutkan bahwa kitab “Ithâf al-Dzakî” mulai ditulis pada hari Ahad 30 Rabi‘ al-Awwal 1076 H/20 September 1665 M, dan selesai pada awal Jumada al-Akhir pada tahun yang sama.

Jakarta, Februari 2017
A. Ginanjar Sya’ban




Read more ...

Ulama-Ulama Nusantara di Makkah Abad-19

Jumat, 10 Februari 2017
: Moh Machin

Komunitas pelajar dan pengajar Jawa (Nusantara) di kota suci -- yang biasanya berniat haji -- sudah sangat banyak, setidaknya sejak abad 17 M. Mereka ini punya peran besar di dalam tradisi Ulama Nusantara sesudahnya. Bisa dibilang, mereka adalah penyambung dua peradaban yang terpisah antara Jawa dan arab. Namun siapa yang pertama dan seberapa banyak mereka?

Memang sebuah hal yang sangat sulit jika kita memaksakan diri untuk melacak jejak Ulama pertama yang belajar di tanah suci. Hal ini jelas beralasan mengingat banyaknya orang-orang Jawa yang datang dan menetap di kota tsb. Tentu kiranya ini juga berlaku bila berusaha menghitung jumlah mereka. Jauh hari apa yang kita yakini ini juga disadari oleh banyak penulis, diantaranya Al-Maqqari, sejarawan Maroko yang menulis kamus biografi cendekiawan Spanyol di master piece-nya, Nafhu at-Thib Fi Ghusni al-Andalusi ar-Rathib.

Barangkali sudah mafhum di banyak kalangan tentang sosok Arsyad al-Banjari, Abdul Wahab bugis, Nafis Al-Banjari, dan Abdus Shamad Palembang yang menjadi wakil para pelajar Jawa di Mekah pada abad 18. Atau nama-nama semisal Yusuf Al-Makassari, Abdur Rauf Singkel. Nurundin Raniri dan beberapa nama lain yang meramaikan dunia keilmian abad 17. Namun bagaimana dengan abad 19?

Snouck Hurgronje yang membuat laporan tentang Mekah pada tahun 1885 M, pernah menulis tentang komunitas Jawa di kota tsb. Ia menggambarkan betapa masifnya gelombang kedatangan orang Jawa, baik sebagai penghaji atau pencari ilmu. Dalam bukunya itu, ia melaporkan bahwa orang-orang Jawa di Mekah adalah sosok religius. Mereka yang berusia lanjut dikenal ahli ibadah, sedangkan yang muda sangat tekun bahkan rakus dalam mencari ilmu.

Dalam catatan sejarah, abad 19 M ini bisa dibilang memberikan gambaran yang lebih utuh tentang Ulama Jawa di Mekah dibanding periode sebelumnya. Berbagai sumber, baik lokal maupun non-lokal menginformasikan berbagai tokoh agama di sana. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab diakui atau tidak, peralihan kendaraan kapal menjadi kapal api (sebelumnya kapal layar) serta dibukanya terusan Suez mempunyai peranan penting.

Pada paruh pertama abad 19, Tercatat beberapa nama Ulama Jawa yang sangat berpengaruh di sana. Setidaknya kita bisa mengambil contoh dengan Syekh Junaid betawi. Sosok satu ini seperti diungkapkan oleh Snouck, sangat dihormati oleh para Ulama Jawa di Mekkah. Mereka tak canggung untuk mencium tangan sang Syekh dan bahkan menganggapnya sebagi guru besar. (Snouck / 598). Kelak Syekh Junaid ini dianggap sosok terpenting dalam jaringan Ulama betawi.

Sang Syekh sebenarnya lahir di daerah Pekojan Jakarta, dan baru datang ke Mekah sekitar tahun 1834 M. Beberapa muridnya seperti Syekh Nawawi banten, Syekh Khatib Minangkabau, dan Syekh Mujtaba. Kelak yang terakhir ini dijadikan menantu oleh sang Syekh. Sedangkan menantu lain dari sang Syekh adalah Abdur Rahman Mishri, Ulama ahli falak dari Mesir. Dan mempunyai anak diantatanya Ibu mufti betawi Sayyid Utsman bin Yahya. (Genealogo Ulama betawi / 64).

Tradisi keilmuan pada masa itu juga sangat menarik minat para santri Jawa. Snouck Hurgronje mencatat, di dalam masjidil haram yang saat itu menjadi institusi paling mentereng di sana terdapat tidak kurang 50 halaqah keilmuan setiap hari. Dengan kondisi seperti itu. bisa dibayangkan bagaimana nunasa ilmiah yang terbentuk di sana. Apalagi institusi ini pun terbilang sangat lengkap. Karena menyediakan kajian 4 madzhab dan berbagai disiplin keilmuan.

Para santri Jawa di sana pun berasal daro berbagai daerah. Ada yang dari Banten, batavia, surabaya, semarang, Padang, Aceh, Banjar, Pontianak, Madura dan berbagai kawasan lain di Indonesia. Bahkan Snouck juga ketemu dengan santri-santri yang berasal dari Ponorogo dan Pacitan. (snouck / 602). Mereka meramaikan tidak saja halaqah ilmiah yang dipimpin Ulama Jawa, tapi juga halaqah Ulama lain bahkan yang beda madzhab sekali pun. Kepada Ulama tsb biasanya mereka belajar ilmu-ilmu di luar fikih.Tokoh-tokoh Ulama yang tercatat punya banyak murid dari Jawa seperti Syekh Sulaiman Afandi (w. 1308 H) dan Syekh Khalil Pasya. Keduanya bermadzhab Hanafi dan mengajar di Masjidil haram. Beberapa tokoh lain -- biasanya dari Mesir -- juga mendapat reputasi yang mentereng dan punya banyak murid dari Jawa. Kita bisa ambil contoh Syekh Musthafa Afifi (w. 1308 H), Syekh Nahrawi atau Syekh Ahmad Minsyawi (w. 1317 H), Syekh Hasbullah.

Dari banyaknya Ulama besar di Mekah saat itu, tampaknya sosok Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan adalah yang paling dihormati oleh orang-orang Jawa. Pada abad ini, setidaknya tercatat banyak sekali orang Jawa yang belajar kepada tokoh satu ini. Nama besar tokoh ini bahkan juga telah menyebrang nun jauh ke pulau Jawa. Banyak orang Jawa yang terinsipirasi dan menggunakan namanya. Di musim haji, rumah Syekh Ahmad Zaini Dahlan ini banyak dikunjungi orang Jawa. Mereka ada yang sekedar sowan atau mengubah nama. (dalam tradisi Jawa masa itu, orang berhaji sering merubah namanya menjadi nama arab). Snouck Hurgronje dalam bukunya tsb pernab melihat langsung rombongan dari Kediri - Jawa timur yang datang ke rumah sang Syekh. Dengan dipandu seorang Gaet, belasan orang itu satu persatu menghadap sang Syekh dan meminta nama baru.

Orang-orang Jawa di dalam lingkaran Ulama Mekah saat itu memang bukan hal yang aneh. Mereka tidak saja menjadi murid dan hadir di halaqah-halaqahmasjidi haram, tapi juga banyak yang menjadi pelayan (khadam). Snouck mencatat bahwa ada dua orang Jawa yang tinggal di rumah Sayid Muhammad Zainudin Syatha (ayah Syeikh Bakri Syatho yang begitu dihormati kalangan Jawa). Satu dari keduanya adalah Abdus Syakur yang berasal dari Surabaya. Sosok satu ini selain belajat kepada Sayid Muhammad, juga menjadi khadam yang melayani segala keperluan. Ia juga yang menyediakan air wudhu sang guru saat hendak shalat malam.

Abdus Syakur sendiri datang ke Mekah sekitar 40 tahun sebelum kedatangan Snouck. Yakni sekitar tahun 1845 M. Kepercayaan besar yang ia peroleh dari gurunya, membuat namanya terkenal di kalangan orang-orang Jawa saat itu. Snouck bahkan mengatakan bahwa Orang-orang Jawa di Mekkah saat itu tidak ada yang tak mengenal kisah Abdus Syakur dengan gurunya itu. Yang lebih mengejutkan lagi, Abdus Syakur akhirnya dijadikan menantu oleh sang Syeikh dan menikahi 3 anaknya secara berurutan.

Pada paruh kedua abad 19 itu, orang-orang banten bisa dibilang kalangan Jawa paling menonjol. Kebanyakan dari guru-guru agama saat itu adalah dari kalangan mereka. Sosok seperti Syeikh Nawawi banten, Syekh Abdul Karim banten (mursyid tarekat naqsyabandi pasca Khatib Sambas), Syeikh Marzuqi banten dan lainnya. Sosok Syekh Marzuqi ini tidak begitu terkenal dibanding dua karibnya, Syekh Nawawi dan Abdul Karim. Namun ternyata juga sosok yang luar biasa. Bahkan dalam penguasaan bahasa arab dan Melayu, ia dianggap Snouck lebih baik dibanding karibnya itu. Selain mengajar di rumahnya, Marzuqi juga mendapat kehormatan mengajar di Masjidil Haram. Hal ini tentu memperlihatkan keistimewaan tersendiri, sebab hanya kalangan yang benar-benar alim yang boleh mengajar di situ. (Snouck / 609)

Dari banyaknya tokoh-tokoh Banten di Mekah, nampak yang paling menonjol adalah Syekh Nawawi banten dan Syekh Abdul Karim banten. Tokoh pertama lebih dikenal di dalam bidang keilmuan, sedangkan yang kedua lebih sering dibicarakan dalam ranah tarekat -- khususnya tarekat Qadiriyah. Duo banten yang dihormati bukan saja oleh kalangan Jawa itu, benar-benar tokoh berpengaruh pada periode tsb. Syekh Nawawi -- selain pengajar ulung di Masjidil Haram -- juga seorang penulis produktif. Karya-karyanya sampai hari ini masih digunakan di berbagai negara, terutama Indonesia. Setidaknya reputasinya yang tinggi itu membuat orang-orang menjulukinya Sayyidu Ulama al-Hijaz (pemimpin Ulama Hijaz).

Lain lagi dengan karibnya, Syekh Abdul Karim banten. Namanya melejit pasca kemangkatan gurunya, Syekh Khatib Sambas dan menjadi pimpinan tertinggi tarekat Qadiriyah di Mekkah. Pengaruhnya di banten begitu luas, hingga saat pulang ke Banten pihak belanda selalu memata-matai dan mengekang langkahnya. Snouck Hurgronje yang pernah bertemu langsung bahkan bilang dalam bukunya, bahwa ulah belanda tsb membuat sang Syekh merasa terganggu dan terenggut kebebasannya. Hal ini karena fatwa dan nasihat sang Syekh, sangat didengarkan oleh penduduk Banten. Jelas hal itu membahayakan bagi kelanggengan imperialisme mereka. (Snouck / 614).

Van Bruinessen dalam tarekat Naqsyabandiyah bahkan secata tidak langsung menjelaskan bahwa Sang Syekh menjadi pihak paling berjasa atas pergolakan kaum tarekat di Banten tahun 1888 H. Pengaruhnya dari Mekah secara tidak langsung melahirkan keberanian penduduk Banten untuk melawan Penjajah. Melalui H. Marzuki (murid dari Sang Syekh), sang Syekh digadang-gadang menjadi aktor yang membangkitkan perlawan bersejarah itu.

Sementara tokoh dari bagian Jawa yang lain juga ikut meramaikan tradisi ilmiah di kota suci. Pada akhir abad 19 ini, perhatian khusus harus diberikan kepada Syekh Mahfudz Tremas - Pacitan. Sebelum menetap di Mekkah, sosok jenius ini terlebih dulu belajar kepada Kyai Sholeh Darat di Semarang. Tahap belajarnya di Mekkah kemudian ia lalui diantaranya dengan mengaji kepada Sayid Bakri Syatha (Ulama penting Syafi'iyah masa itu). Reputasi ilmiahnya sudah tidak perlu diragukan. Ia menguasai berbagai cabang ilmu, dari fiqih, hadits, dan Qira'at.

Salah satu teman Syekh Mahfudz mengaji kepada Sayid Bakri Syatha adalah Syekh Abdul Hamid Kudus. Ayahnya, Ali bin Abdul Qadir adalah Ulama kelahiran kota Kudus - Jateng. Sebelum kemudian keluarganya hijrah ke Mekkah, dan di kota tsb Ali kemudian punya anak sosok yang kita bicarakan ini. Beberapa kalangan dibuat bingung dengan tokoh ini. Penulis sering dengar orang mengatakan bahwa Abdul Hamid berasal dari Quds - Palestina. Sementara yang lain beranggapan sosok tsb berasal dari Kudus. Justru kajian kepustakaan menunjukkan bahwa keluarganya-lah yang berasal dari Kudus (sebelumnya mereka imigran dari Yaman).

Beberapa kalangan menambahi gelar Kudus di belakang namanya, sementara yang lain gelar daerah tsb disematkan justru di balik nama ayahnya bukan nama dirinya. Kerancuan ini mungkin saja dipicu kesalah pahaman menafsiri tradisi arab dalam penyematan nama kota asal. Snouck dalam bukunya tentang Mekkah menulis bahwa Orang-orang Jawa yang datang ke Mekkah identik menambahkan nama kota asal mereka di belakang nama aslinya. Biasanya tanpa imbuhan huruf "Al" atau nisbat layaknua orang arab. Berangkat dari ini kiranya penambahan kata 'Kudus' yang tepat adalah di belakang nama ayahnya, bukan Syekh Abdul Hamid yang justru lahir di Mekah.

Terlepas dari kerancuan tsb, tokoh yang kita bicarakan ini setidaknya termasuk murid unggul dari Sayyid Bakri Syatha. Sebuah fakta menarik yang memperlihatkan kualitas tokoh bersangkutan bisa kita baca melalui bukunya, Anwarus Saniyyah. Di pembukasn buku tsb, Syekh Abdul Hamid mengaku bahwa gurunya lah menyuruh dirinya untuk mengarang kitab tsb. Padahal matan dari kitab tsb adalah karangan dari gurunya langsung. Fakta ini jelas merupakan sebuah legitimasi dan pengakuan khusus seorang guru atas kualitas muridnya.




Read more ...

KH.Anwar Seribandung, Ulama Besar Dari Utara Sumatera Selatan

Senin, 06 Februari 2017
: Hafidhuddin

Syaikh Kyai H. Anwar ibn H. Kumpul ibn Marudin ibn Badarudin. Dalam manuskrip yang beliau tulis sendiri, lahir di desa Seribandung tahun 1903 M.

Sewaktu di Saulatiyah Mekah, ia berguru kepada Syaikh Abdul Qodir Mandailing, Syaikh Umar Kabir, Syaikh Ahyad Banten, Syaikh Muhammad Daud Rusydi, Syaikh Hasan Basri, Syaikh Abdullah Ubaid, Syaikh Mahyuddin Kerinci, Syaikh Muhammad Zein Bawean, Syaikh Mukhtar ibn Athorid, Syaikh Umar Arbain, Syaikh Muhammad Aman Lintang, Syaikh Zahruddin Asahan, Syaikh Husein Betung, Syaikh Muhsin al-Musawa. 

Selama 4 tahun (1927-1930) di Mekah belajar kepada beberapa ulama di sana, lalu ia kembali ke Indonesia, tepatnya di Inderagiri, Riau untuk mengabdikan ilmunya di madrasah Syaikh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari (1930), di sini kemudian terjalin hubungan baik dengan ulama Riau. 

Niat untuk mendirikan sebuah madrasah di desa kelahirannya itu (Seribandung) baru terwujud di tahun 1931. Madrasah yang dinamai Sa'adatud Daren ini bermetamorposa menjadi lembaga pesantren yang kemudian bernama Nurul Islam. 
KH.Anwar bersama para pengurus pendiri pesantren

Perjuangan Syaikh Anwar untuk menyebarkan ajaran Islam tidak hanya terfokus di daerah Sumatera, namun sampai ke Singapura bersama ulama lain, seperti Syaikh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Jamil Jaho dan lainnya. Selain itu, ia juga telah menulis 11 kitab dalam berbagai disiplin ilmu. Di tahun 1959, ulama besar ini wafat. 





 

Semoga perjuangan hidup, intelektual dan kegigihannya dalam menyebarkan Islam dapat kita lanjutkan.
Read more ...

RADEN FATAH (W.1518)

Senin, 06 Februari 2017



A.    Asal-usul Raden Fatah
                                                         
          Para ahli sejarah, berbeda pendapat dalam menentukan asal-usul Raden Fatah. Babad Jawa dan Serat Kanda begitu pula sumber berita yang yang diambil dari klenteng Sam Po Kong di Semarang memiliki perbedaan. Berbeda pula buku Sejarah Umat Islam Indonesia yang ditulis oleh bebrapa pakar sejarah mencamtumkan beberapa pilihan.Menurut Purwaka Caruban Nagari ia ketua raja Majapahit Kertabumi. Tome Pires dalam bukunya Suma Oriental (1413-1515) menyebutkan bahwa asal-usul penguasa Demak adalah Pate Rodim (Taufik Abdullah, dkk, 1991)
           Awalnya Raden Fatah, santri perguruan Islam di Ampel Denta, diberi ijazah oleh gurunya untuk membuka perguruan Islam di mana saja. Pada tahun 1475 Raden Fatah mendirikan pesantren di hutan Glagah Arum di sebelah selatan Jepara. Pesantren itu mendapat kemajuan yang pesat, sehingga Glagah Arum kampung kecil itu turut maju, akhirnya berobah menjadi kabupaten, yaitu Bintara dan Raden Fatah sebagai bupatinya (1475). Bintara menjadi pusat untuk menyebarkan Islam ke seluruh Jawa.
            Proses masuk Islamnya penduduk Demak tidak lain karena wilayah tersebut terletak di pantai pesisir-pesisir utara Jawa, yang pada saat itu menjadi pelabuhan yang ramai dikunjung para pedagang. Akibat hubungan dagang inilah Islam tersebar ke seluruh Pulau Jawa. Bukti-bukti arkeologis perjalanan sejarah ini terlacak di daerah Leran Gresik yang berbentuk batu nisan dengan nama Fatimah binti Maimun, sebagaimana telah kami uraikan di muka.
             Hanya setahun Sultan yang bijaksana ini menikmati gelar Sultan, walaupun sebelum itu telah lama memerintah sebuah kerajaan Islam yang pada hakikatnyatelah merdeka, tetapi resminya masih di bawah naungan Majapahit Ia meninggal pada tahun 1518.
Sumber sejarah tersebut dapat dibandingkan dengan sumber Babad Jawadan Serat Kanda. Dalam sumber itu disebutkan bahwa Raden Fatah adalah putra Arya Damar yang bersaudara dengan Raden Kusen. Arya Damar menghendaki upaya Raden Fatah naik tahta kerajaan di Palembang sebagai penggantinya dan Raden Kusen sebagi patihnya. Raden Fatah dan Raden Kusen berkerabatan terhadap niat ayahnya, karena masih sangat muda dan belum mampu memerintah. Ia segera jadi ejekan orang banyak dan tidak sampai hati membawa rakyat ke jurang nestapa. Mendengar ucapan itu Arya Damar diam. Suatu isyarat bahwaia marah (Slamet Mulyana, 1964).
           Dalam Serat Kanda disebutkan, mereka bertemu dengan dua orang penyamun bernama Supala dan Supali. Supala dan Supali yang bermaksud jahat terhadap mereka berdua, terpaksa menyerah. Sementara itu mereka berdua mendaki gunung Rasamukayang mengongkang di atas laut akan bertapa sambil menunggu kalau-kalau ada perahu dagang lewat. Ada seorang pedagang yang sudah siap berlayar ke Jawa. Ketika melihat bahwa ada duan orang pertapa di lereng gunung Rasamuka, segera dihampirinya. Tanya jawab berlangsung antara mereka Akhirnya kedua Raden itu menumpang perahu dagang sampai ke Pulau Jawa. Sampai Bandar Surabaya. Raden Fatah dan Raden Kusen mendarat. Dilihatnya menara masjid Ampel, Setelah beberapa lama tinggal di Ampel, Raden Kusen mengingatkan kakaknya untuk melanjutkan perjalanannya ke Majapahit., mengabdi kepadan Prabu Brawijaya. Ajakan itu ditolak, karena Raden Fatah segan mengabdi kepada raja Kafir. Raden Kusen disuruh berangkat sendiri. Raden Fatah tetap tinggal di Ampel. Diambil menantu oleh Sunan Ampel. Kemudian Raden Fatah atas petunjuk Sunan Ampel menetap di hutan Bintara atau Glagah Wangi. Hutan Bintara dibuka. Disitu ia mendirikan masjid dan menjadi guru agama. Raden Kusen berangkat ke Majapahit. Ia berhasil diterima sebagai magang (calon) dipura Majapahit. Tidak diceritakan beberapa lama ia menjadi magang. Akhirnya diwisudai menjadi adipati Terung.
           Dalam riwayat lain disebutkan Prabu Brawijayamendengar bahwa di hutan Bintara ada penghuni baru yang sangat gentur tapanya. Sang Prabu menanyakan siapa orang itu. Jawab adipai Terung, bahwa guru ilmu itu adalah kakaknya sendiri. adipai Terung diperintahkan memanggil Raden Fatah untuk menghadap sang prabu. Sampai di Sripanganti Raden Fatah bertemu dengan sang Prabu. Melihat tingkah laku dan rupa Raden Fatah sang prabu sangat tertarik. Sang prabu minta kepada dayang-dayang supaya diambilkan kaca. Yang diperintah segera beragkat. Sang prabu berkaca terkejutlah beliau, karena rupanya mirip skali dengan Raden Fatah. Raden Fatah diakui sebagai putera dan diwisudai menjadi adipati Bintara. Demikianlah Kusen menjadi adipati Terung dan Fatah menjadi Adipati Bintara. Adipati Bintara minta izin untuk mengundurkan diri. Sang prabu berpesan agar adipati Bintara setiap tahun menghadap sang prabu di Majapahit. Beliau memberi restu dan mengharapkan agar hutan Bintara di kemudian hari menjadi negara yang subur makmur dan adipati Bintara menjadi raja Islam yang pertama.
          Saat itu kerajaan Majapahit berada di daerah kemundurannya. Dipenuhi dengan kericuhan dan perang saudara yang tidak henti-hentinya. Saat itulah Adipati Bintara yang masih tunduk pada Majapahitsegera mengambil sikap untuk mengamankan keadaan agar rakyat tenang dan kehidupan rakyat berjalan sebagaimana mestinya.
          Prabu Brawijaya diberi tahu tentang kedatangan tentara Islam dari Demak di bawah pimpinan Raden Fatah. Adipati Bintara sudah sampai di pagelaran. Mendengar laporan itu Prabu Brawijaya segera naik panggung untuk melihat kedatangan puteranya, atas perintah Raden Fatah dan keputusan pra wali. Prabu Brawijaya dibiarkan lolos beserta semua pengikutnya yang masih setia.
          Kemudian adipati Bintara masuk istana. Melihat Istana kosong, menangis adipati Bintara. Atas nasehat Sunan Ampel, Sunan Giri diangkat menjadi raja Majapahit selama empat puluh hari untuk meghilangkan segala pengaruh raja kafir. Sesudah waktu empat puluh hari lampau, tahta kerajaan diserahkan kepada Raden Fatah. Raden Fatah dinobatkan oleh Sunan Ampel menjadi Sultan Demak dan mendapat gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Paelmbang Sayidin Panata agama. Setelah panobatan menyusul kemudian pembangunan masjid Demak.
          Demak merupakan pertama kerajaan Islam di pulau Jawa, berdiri bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit pada tahun 1478 setelah Perang Paregreg. Keruntuhan pusat Majapahit bukan oleh Muslim semata-mata, tetapi lebih banyak disebabkan Perang Paregreg, oleh dinasti Girindrawardhana dan Kediri. Tome Pires (1512-1515) sama sekali tidak tidak menyebut-nyebut nama Majapahit disebut Majapahit dan pusatnya tidak lagi di Trowulan, tetapi sangat besar kemungkinannya di Daha, atau Kediri. Hal ini jelas disebutkan oleh Tome Pires bahwa Davo (Daha) ialah ibukota kerajaan berhala (Hindu) yang letaknya dapat dicapai dengan berjalan kaki yang kuat selama dua hari dari Tuban. Sangat menarik perhatian bahwa Tome Pires menceritakan tentang masih adanya kerajaan-kerajaan yang bercorak Indonesia Hindu, baik di daerah pedalaman Jawa Timur maupun di Jawa Barat, disamping sudah adanya kerajaan yang bercorak Islam di Demak dan daerah lainnya di pesisir utara Jawa Timur, Jawa Tengah sampai Jawa Barat. Tome pires menyebutkan raja Daha, ialah Vigjaya dan “kapten utama” mungkin patihnya, Patih Gusti Pate, yang lebih berkuasa daripada rajanya dalam menjalankan pemerintahan. H.J. De Graaf menduga bahwa yang dimaksud dengan Batara Vigjaya adalah Br Wijaya yang namanya terkenal dalam babad-babad, dan yang lebih kurang setengah abad sebelumnya telah meninggalkan Majapahit sebagai pusat pemerintahannya dan pindah ke Daha atau ke Kediri (Tjandrasasmita. 1984:6, 19).
        Pendiri kerajaan Demak adalah Raden Fatah, yang masih keturunan Raja Majapahit, putera Brawijaya Raja Majapahit. Meski sudah menjadi kerajaan Islam Demak tetap patuh dan tunduk terhadap kerajaan Majapahit. Di bawah pemerintahan Raden Fatah kerajaan Demak menjadi pusat perkembangan Islam di pulau Jawa. Dan pada masa itu kekuasaan Demak juga terus meluas menggantikan posisi kerajaan Majapahit.

B.     Nidzam Islam di kerajaan Demak
       Setelah berdiri kerajaan Demak, maka pendidikan dan pengajaran Islam bertambah maju dengan amat pesat dan penyiaran Islam ke pulau Jawa, berjalan dengan amat mudah karena telah ada pemerintah dan pembesar-pembesar Islam yang membelanya.
Sekitar tahun 1476 di Pintara dibentuk suatu organisasi Bayangkare Islah (Anggota Pelopor Kebaikan). Itulah organisasi Islam yangbpertama dibentuk di Indonesia. Dalam rencana pekerjaannya antara lain disebutkan Mahmud Yunus (1979) sebagai berikut:
1.      Tanah Jawa Madura dibagi atas beberapa bagian untuk lapangan pekerjaan bagi pendidikan dan pengajaran. Pimpinan pekerjaan di tiap-tiap bagian dikepalai oleh seorang wali dan seorang pembantu (Badai).
2.      Supaya mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat maka pendidikan dan pengajaran Islam harus diberikan melalui jalur kebudayaan yang hidup dalam masyarakat itu, asal tiada menyalahi hukum syara’.
3.      Para wali dan para Badal, selain harus pandai dalam ilmu agama, harus pula memelihara budi pekerti diri sendiri dan berakhlak mulia, supaya menjadi suritauladan bagi masyarakat sekelilingnya.
4.      Di Bintara harus segera didirikan sebuah masjid Agung untuk menjadi sumber ilmu dan pusat kegiatan usaha pendidikan dan pengajaran Islam. Sebelum selesai persiapan bahan-bahan untuk masjid Agung itu, maka didirikan sebuah masjid sementara (semi permanent) dinamai masjid Sikayu. Itulah mesjid pertama yang didirikan di Jawa Madura (sekitar 1477). Sampai sekarang masih ada masjid di tempat asalnya, terkenal dengan nama Sikayu sebelah Barat dekat Semarang.
5.      Di tempat-tempat suatu daerah didirikan masjid di bawah pimpinan seorang badal untuk menjadi sumber ilmu dan pusat pendidikan dan pengajaran Islam. Mesjid-mesjid itu sampai sekarang masih dapat dilihat.
6.      Wali suatu daerah diberi gelaran resmi, yaitu gelaran Sunan ditambah dengan nama daerahnya, sedangkan badal gelaran resminya Kyai Ageng. Misalnya Sunan Gunung Jati, Sunan Geseng, Kyai Ageng Tarub, Kyai Ageng Sela dan lain-lain.

         Untuk penyempurnaan rencana Bhayangkare islah, maka oleh Dewan wali sangan dari
kerajaan Demak diambil putusan supaya semua cabang kebudayaan naional, yakni filsafat hidup, kesenian, kesusilaan, adat-istiadat, ilmu pengetahuan dan sebagainya sedapat mungkin diisi dengan anasir pendidikan dan pengajaran agama Islam. Dengan demikian agama islam menjadi mudah diterima rakyat dan menjadi darah daging tumbuh dalam masyarakat. Pelaksanaan putusan ditugaskan kepada Raden Syahid yang kemudian bergelar Sunan Kalijaga dan Raden Paku yang kemudian bergelar Sunan Giri. Usaha memasukkan anasir-anasir Islam ke dalam kebudayaan nasional itu berhasil dengan sebaik-baiknya.

C.     Masjid Agung

          Masjid Demak mulai dibangun, sembilan wali ikut serta membangunnya, yakni Sunan Giri, Sunan Cirebon, Sunan Gesang, Sunan Madjagung, Syekh Lemah Abang, Sunan Undung, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Sunan Kalijaga. Pada tahun 1328 Sunan Ampel mangkat.
          Sunan Kalijaga mendapat tugas untuk membuat tiang dan menetapkan kiblat. Tiang Masjid yang penghabisan dibikin dari tatal, oleh karena itu disebut Saka tal. Kiblat ada di tangan Kiri dan Ka’bah ada di tangan Kanan. Pembangunan Masjid selesai pada tahun Saka 1399 (1477) M berdasarkan candrasengkala yang berbunyi “Kori Trus Gunaning Janmi” (Solihin Salam. 1960). Sunan Giri diangkat menjadi imam, delapan sunan lainnya menjadi katib. Raden Iman, putera Sunan Kudus menjadi kebayan, marbot, modin dan bilal.
Nanti kita lihat, bahwa nidzam Islam Kerajaan Demak terus berlangsungmeskipun kerajaan Demak telah runtuh dan diganti Kerajaan Islam Pajang dan Mataram. Sistim ketatanegaraan ini dibangun oleh Raden Fatah bersama para wali di tanah Jawa. Palembagaan sistem ketatanegaraan tidak hanya muncul di Keraton tetapi dalam bentuknya yang klasik muncul di masjid-masjid sampai ke surau-surau.
             Di zaman Sultan Agung Mataram pelembagaan sistim itu semakin kuat. Kerajaan Islam Demak tidak hanya mewariskan sistem ketatanegaraan, tetapi juga mempersembahkan ideologi-ideologi politik yang lebih populer bagi orang Jawa dari pada etnis lain. Ideologi itu nampak dalam falsafah Jawa seperti Sabdo Pandhito Ratu (kesatuan ulama dan raja) dan lain-lain. Sistem ini juga kemudian terhapus oleh penjajahan Belanda sementara idiologinya tetap hidup sampai sekarang.
Read more ...