Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

CEMBURU ADALAH KODRAT WANITA

Jumat, 27 Februari 2015

Suatu saat, suamiku memutuskan untuk kawin lagi. Hal itu dia lakukan setelah kami hidup makmur bersama anak-anak kami dalam satu keluarga. Aku tidak setuju dan berusaha untuk menggagalkan perkawinan keduanya ini. Namun dia tetap bersikeras untuk kawin lagi. Dia berargument, bahwa dia mampu dan agama memperbolehkan beristri empat.
            Ketika tak ada jalan lain untuk mencegah suamiku kawin lagi dan dia tetap negotot menduakan aku, seorang kenalanku menyuruh aku untuk menghadap orang tua demi mengatasi keruwetan ini. Aku menghadap kiyai itu dan menceritakan apa yang terjadi. Dia berkata: “Mudah. Akan aku jadikan dia taat kepadamu dan aku buat dia jauh dari madumu”. Aku bertanya: “Bagaimana caranya?” Orang tua itu menjawab: “Mudah. Datanglah ke sini dua hari lagi”.
            Aku mnghadap kepada orang tua itu pada waktu yang ditentukan. Kemudian dia memberikan sebuah silet kepadaku dan berkata: “Jagalah silet ini dan jangan sampai terkena air. Air akan menghapus tulisan dan silet ini tak bertuah sama sekali”. Maka aku letakkan silet itu di tempat yang tidak terlihat seorangpun. Pagi harinya aku menanti reaksi silet orang tua itu. Seandainya aku tidak berbuat demikian dan tidak pergi menghadap orang tua itu … Aku hampir saja kehilangan segalanya karena tindakanku ini.
            Beberapa hari kemudian, suamiku kembali kepadaku dengan muka merah padam. Dia bingung tidak tahu apa yang dia inginkan. Malam harinya, dia pergi kepada pengantinnya. Pada hari kedua, dia menemuiku. Namun ketika kami berbaring di ranjang, dia berdiri dan mengambil belati. Dia berkata kepadaku: “Jika kamu tidak berterus terang kepadaku, aku akan memotong satu demi satu urat nadimu”. Aku berkata: “Tenang dulu. Ada apa ini?” Dia menjawab: “Aku ingin tahu sebabnya”. Aku bertanya: “Sebab apa?” Dia menjawab: “Kenapa jika aku bermalam denganmu, aku bisa berbuat apa saja? Namun ketika bermalam dengan istri baruku, aku tidak mampu bersetubuh dengannya?” Aku berkata: “Subhanallloh. Apa dosaku?” Dia berkata: “Pasti ada apa-apa. Ini kejahatan kaum wanita. Apa yang sudah kamu lakukan? Sebaiknya kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi”.
            Dia berdiri dan meletakkan belati di leherku. Aku berteriak dan menangis, namun tiada berguna. Aku berkata kepadanya: “Aku katakan, namun jangan permalukan aku. Kecemburuan telah membutakan hatiku”. Dia berkata: “Oke, aku setuju”. Aku ambil silet itu dan aku berkata: “Basuhlah silet ini dan pergilah ke istrimu”. Dia lalu pergi menemui istri keduanya. Dua hari kemudian, dia datang lagi dan berkata: “Kamu harus beritahu aku siapa orang tua yang berbuat ini”. Aku berkata: “Bukankah kamu sudah berjanji?” Dia menjawab: “Orang seperti ini haram hidup di antara umat manusia, sebab dia tukang sihir. Kamu harus bertaubat dan kembali kepada Alloh, sebab kamu pergi kepada tukang sihir”.
            Aku berkata: “Kamulah penyebabnya. Mengapa kamu kawin lagi, padahal aku masih kecil?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dan melupakan urusan ini. Namun dia tetap menasehati. Setelah perdebatan sengit, aku memberitahukan nama orang tua itu. Dia segera keluar dan beberapa jam kemudian kembali. Dia berkata: “Orang tua itu melarikan diri ketika melihat aku. Namun aku sudah mempermalukan dia di hadapan khalayak. Aku jelaskan mereka, bahwa doa tukang sihir dan kafir. Dia harus dipenggal. Orang yang mempercayainya dan menghadapnya adalah kafir”.

            Aku meminta maaf dan bertaubat”. (*)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar