Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Dua Menara Al Habsyi Solo "Habib Anis dan Habib Ali" Yang Menyejukan Hati

Minggu, 22 Februari 2015

Habib Anis Al Habsyi
Al Arif billah Al Habib Muhammad Anis bin Alawi Al Habasyi dan adik beliau , Al allamah Alhabib Ali bin Alawi al Habasyi adalah menara kembar kota Solo. Kedua kakak adik yang merupakan Ka'bah para Muhibbin ini bisa jadi adalah peninggalan yang paling berharga , warisan yang paling bermakna dari Al Qhuthub Al Habib Ali Shahibul Maulid yang diberikan kepada kita Warga Nusantara tercinta.

Al HABIB ANIS SEORANG YANG TINGGI JIWA SENINYA.

Dahulu semenjak Ayahanda beliau , dalam pembacaan Maulid Simthud Durar di Masjid Riyadh Solo cara membacanya sekedar di baca begitu saja. Seperti adatnya orang-orang Hadramaut umumnya . Tanpa iringan rebana atau tepukan dufuf-dufuf lainnya. Tetapi jiwa seni Habib Anis memanggil dan beliau menginofasi pembacaan Maulid itu dengan iringan Rebana ala Banjar . Rebana-rebana itu di pukul saat mengiringi beberapa qashidah yang di baca di sela-sela pembacaan fasal-fasal Maulid. Kalau tidak salah beliau melakukan hal itu sesudah berbincang banyak hal dengan Tuan Guru Zaini Abdul Ghani Martapura.

Tidak hanya itu . Sebelumnya, setiap selesai pembacaan fasal terahir kitab Maulid ; WALAQOD ITTASHOFA...maka langsung di baca Fasal Do'a Maulidnya . Hal sedemikian sudah berlangsung lama seperti kebiasaan di Hadromaut juga. Tetapi beliau lihat , sesudah sedemikian lama para pendengar menyimak fasal-fasal Kitab Maulid yang cukup panjang itu beliau lihat ada sebagihan dari mereka tampak bosan atau hilang rasa. Maka beliau berinisiatif sebelum pembacaan do'a beliau perintahkan sekarang untuk dibacakan qashidah-qashidah . Baru sesudahnya dibacalah fasal Do'anya . Ternyata kiat beliau ini sangat jitu dalam mengembalikan dhauqiyyah para jama'ah di dalam majlis - majlis Maulid .
Dan uniknya , begitu tinggi jiwa seni beliau , Habib Anis yang giliran membaca fasal do'a itu pasti berbeda langgam nya. Cara baca do'anya. Beliau akan sesuaikan irama dan nada bacaan do'a beliau dengan langgam Qashidah-qashidah yang di baca sebelumnya.

HABIB ANIS SEORANG YANG PERFEKSIONIS

Ada yg bilang jiwa seni Habib Anis sejalan dengan sikap perfeksionis beliau nyaris dalam setiap hal. Meski hal itu tampak sepele bagi sebagihan orang. Soal kebersihan. Soal lurusnya Shaf dalam shalat berjama'ah sampai-sampai di lantai masjid di bentangkan tali memanjang sepanjang shaf-shaf nya.
Beliau itu jika memakai Imamah di kepala beliau bisa sampai setengah atau satu jam lamanya. Satu kerutan lilitan imamah yang tidak serasi bagi beliau tidak ada ampun. Mesti di ulang memakainya. Sampai kuncup atas ala Imamah Al Athas di bagihan samping belakang pun harus perfek. Tidak pendek dan tidak pula terlalu panjang.


HABIB ANIS DI DALAM KAMARNYA

Didalam Manaqib Syeikh Abdulqadir Al Jilaniy disebutkan bahwa : " ...Qaala Kuntu asma'u 'indahu SALAAMUN "ALAIKUM ...SALAAMUN 'ALAIKUM ...Wahuwa yaruddus salaam ilaa an yakhruja lisholaatil fajri.....Syaikh di setiap malam di waktu ibtihal serta do'a nya sering kali terdengar ada yang mengucapkan salam kepada beliau [ yakni para ahli Ghaib] dan beliau membalas salam mereka.."

Habib Anis di dalam kamar khusus beliau pun seringkali terdengar beliau membalas ucapan salam atau mengucapkan selamat datang :

" Waalaikumus salaam...Ahlan wasahlan wa marhaban..."
Tidak jarang terdengar beliau tertawa tawa dari dalam sana atau berbicara serius dengan seseorang . Padahal kamar beliau adalah kamar khusus yang anak-anak beliau pun tidak di ijinkan sembarangan memasukinya . Tidak lain hal itu adalah salah satu bukti beliau selain menerima dan menjamu para Tamu dhahir  , ternyata beliau juga menjamu para Tamu-Tamu beliau dari para ahlil Barzakh dan ahli Bathin.

HABIB ANIS DAN KEZUHUDAN DAN KETEGUHAN SIKAPNYA

Sebagaimana sifat para Shalihin , habib Anis telah dihiasi oleh Allah sifat-sifat suci dalam diri beliau seperti sifat Zuhud terhadap dunia. Tidak terbersit dalam benak beliau Thama' mengharapkan limpahan materi apalagi dari pemberian orang lain.
Suatu hari datang seorang Pedagang Kaya Raya bersilatuh rami kepada beliau . Di kesempatan itu si Pedagang menghadiahi sejumlah uang ratusan juta [ masih dalam bendel dan dalam buntelan plastiknya ] . Beliau perintahkan khadim untuk memasukkan uang itu ke dalam kamar.

Habib Anis saat menerimanyapun biasa saja. Tak ada perubahan rona wajah atau sikap beliau . Si Pedagang tersebut diperlakukan sama dengan para Tamu dan hadirin yang lain. Beberapa harikemudian , si pedagang datang lagi . Tetapi disaat habis shalat berjama'ah dia berkata kepada Habib Anis :

" Habib , seharusnya jendela-jendela Masjid ini di ganti dengan yang lebih bagus lagi..Ini sudah kuno.."

Mendengar ucapan itu Habib Anis memanggil Khadim dan menyuruhnya mengambil buntalan Plastik dari dalam Kamar. Ternyata isinya adalah Uang-Uang yang beberapa hari lalu si pedagang hadiyahkan kepada beliau . Pelastik itu masih utuh. Belum di buka ikatannya semenjak semula. Bundelan dan label Bank di uang-uang itu pun masih tersusun sebagaimana sebelumnya . Tampaknya, sedari awal Habib menerima uang-uang itu , habib tidak menyentuhnya sama sekali.
 Lalu sambil menyerahkan kembali uang tersebut kepada Pedagang itu , Habib Anis berkata :

" Terima kasih , saya kembalikan uang hadian ente . Tampaknya ente menghadiyahi uang ane untuk mengatur - atur ane Ya ? "

Maka menangislah pedagang itu : " Tidak habib. Saya ikhlas memberikannya..Maafkan kelancangan saya.."
Habib bergeming :

" Tidak, terimakasih . Bawa kembali uang ente. Sungguh ane membangun semua yang ada dalam Masjid ini adalah dengan uang hasil jerih payah keringat ana sendiri. Kalau dengan uang ente kira bisa mengatur-atur ane maka maaf saja.."

HABIB ANIS DAN RIZQI GHAIB

Banyak kisah para Auliya yang diberikan Allah kemulyaan karamah mampu mendapatkan rejeki dari jalan ghaib. Beberapa diantara mereka menyuguhi tamu-tamu mereka makanan-makanan yang tidak dalam musimnya . Atau makanan-makanan yang hangat serta lezat seakan baru turun dari surga [ atau memang turun dari surga ]

Ayahanda Al Qhuthub Habib Muhammad bin Thahir Al Haddad Tegal , di kota Gaidun di rumah beliau ada satu kamar yang jika banyak tamu-tamu datang , beliau perintahkan Khadim mengambil hidangan-hidangan aneka rupa dari dalamnya . Hal-hal semacam ini adalah salah satu macam keramat auliya.

Habib Anis pernah di dapati melakukan hal semacam ini , meskipun tidak sering . Di hari itu sesudah Rauhah karena ada kebutuhan tertentu beliau diharuskan membayar sejumlah uang yang tidak sedikit . Maka beliau perintahkan salah satu keponakan beliau untuk mengambil uang dari dalam kamar beliau .

" Ente ambil uang yang ada di kotak lemari bagihan atas ." Kata Habib Anis.

Sang keponakan segera menuju Kamar habib dan membuka lemari yang di katakan beliau tadi. Dia dapati seluruh kotaknya penuh dengan uang yang bertumpuk-tumpuk rapi. Dia segera mengambil beberapa lembar uang yang diperlukan dan menyerahkannya kepada Habib. Beberapa menit kemudian Habib menyuruhnya ke kamar lagi untuk keperluan yang lain. { tetapi sebenrnya saya rasa maksud Habib yg ini adalah untuk menunjukkan sebuah kerahasiyaan beliau } .

Begitu masuk ke dalam kamar , dia melirik kotak lemari yg beberapa saat tadi dia dapati penuh dengan uang di dalamnya. Iseng-iseng dia buka, ingin menghitung berapa bendel uang jumlahnya. Tetapi begitu dia buka ternyata isi kotak itu kosong belaka. Tak ada sesuatu apapun ada di dalamnya .

Kemana menghilangnya uang-uang begitu banyak yang dia saksikan beberapa menit sebelumnya ? Jawabannya sesungguhnya itu adalah bentuk kemulyaan Habib Anis bahwa beliau termasuk orang-orang yang mempunyai jalan Rejeki minal Ghaib.


HABIB ANIS DAN MAJLIS MAULID

Jika anda mendatangi majlis Haul Solo di Gurawan dengan puncak acaranya yaitu Maulidan dengan dihadiri puluhan bahkan ratusan ribu kaum muslimin dari dalam serta luar negeri itu semua tidak terjadi dengan tiba-tiba. Dahulu Al Habib Alawiy ayahanda Habib Anis merintisnya sedikit demi sedikit. Yang hadir saat itu paling hanya memenuhi ruangan masjid kecil itu saja .

Tetapi lambat laun, sesudah Habib Anis lebih dari 50 tahun mencurahkan perhatian serta jerihpayahnya merumat Majlis ini maka hasilnya bisa dilihat seperti sekarang. Inilah barang kali salah satu sumbangsih terbesar beliau dan merupakan jariyah terbaik beliau bagi ummat Islam di negeri ini . Majlis Haul serta rauhah-rauhah yang beliau kokohkan pondasinya menjadi salah satu majlis-majlis peninggalan orang-orang Saleh terdahulu , baqiyyatul aslaaf yang keberkahannya tidak saja di nikmati oleh masyarakat sekitar . Tetapi merambah jauh mengayomi negeri Nusantara tercinta Ini . Dan Insyaallah akan terus dirasakan hingga yaumil Qiyamah nanti .

Karena majlis-majlis beliau kesemuanya adalah Majlis yang Ussisa 'alat Taqwaa min awwali yaumin .. Majlis yang diletakkan dalam pondasi awalnya niat-niat yang tulus serta ketaqwaan oleh orang-orang Pilihan . Kini para anak cucu beliau serta para pecinta-pecintanya tinggal meneruskan saja.

HABIB ANIS DAN PERHATIANNYA TERHADAP SIMTHUD DURAR

Kitab Maulid Simthud Durar terhitung sebagai salah satu kitab maulid yang populer . Digubah oleh Kakek Habib Anis , seorang Sayyid Agung dari kota Sewun Hadromaut . Seorang Wali Qhuthub yang kita kenal dengan sebutan Habib Ali Shahibul Maulid . Karena masih cucu langsung penggubahnya [ beliau Anis bin Alawi bin Ali Shohibul Maulid ] maka beliau sangat perhatian terhadap kitab kecil itu . Sangat cemburu akan ke'hormatan' kitab kakeknya tersebut .
Anda akan mendapati beliau sangat keras dalam mengajarkan tata cara membacanya . Membenarkan beberapa kekeliruan tulisannya . Beliau pandang bahwa membaca Simthud Duror alangkah baiknya jika dilakukan semirip mungkin dengan cara-cara penulis aslinya membaca [ Habib Ali]
Tidak sembarangan asal baca.

Meskipun beliau selalu mengatakan , membaca asal-asalan , apalagi bershalawat , tetap ada pahalanya juga. tetapi beliau sangat menganjurkan para pembaca Simthud Durar untuk memenuhi 'kayfiyyah' ala Penulisnya . Adab-adab ala Penggubahnya . Karena di balik itu akan keluar sempurna limpahan sir dan madadiyyahnya .

Habib Anis pada akhir-akhir hayatnya sudah tidak melayani Ijazah Maulid Simthud Durar. Bagi beliau ijazah kitab tersebut mesti dibaca kata perkata. Fasal per fasal . Diterangkan makna-makna nya seperlunya . Di terangkan tata cara pelafalannya . serta lain sebagainya . Pada ahirnya keadaan fisik serta waktu lah yang tidak memungkinkan beliau memberikan ijazah . Beliau hanya :..."MEMBERIKAN IJIN MENGAMALKANNYA ATAU MEMBACANYA" .
Adapun ijazah , biasanya beliau serahkan kepada adik beliau Al Habib Ali bin Alawi yang nanti kita tuturkan sedikit manaqibnya .

Walhasil , jika merunut keterangan-keterangan dari beliau bahwa membaca Kitab Maulid Simthud Durar intinya mesti disertai adab-adab membacanya . Agar Hasil maqsud pembacaan maulidnya dengan memperoleh banyak berkah serta rahasia-rahasia nya yang sebagaimana dijanjikan oleh Al Habib Ali bin Muhammad Al Habasyi Shohibul Maulid .

Habib Ali Al Habsyi

Al Habib Ali bin Alawi Al Habasyi

Beliau adik Habib Anis . Tinggalnya masih di Gurawan Solo juga. Beliau ini terhitung adik yang paling dekat dengan Habib Anis .Beliau pernah menirukan ucapan Habib Anis yang mengomentari dirinya :
" Ali itu orang yang paling bisa mengerti aku."

Habib Ali berkata : " Itu karena saya yang paling bisa sabar berhadapan dengan ketegasan dan perfecsionis nya Habib Anis . Saudara yang lain tidak ada yang kuat seperti saya. Saya yang diajak Habib Anis mengurusi urusan -urusan penting beliau. Saya yang dipercaya mengurusi dagangan beliau saat kami masih jual batik di Pasar Klewer. Saya yang bisa menyelami apa kata hati dan kehendak-kehendak beliau ."

Habib Ali Seorang Nahwiy.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Habib Ali ini seorang yang dalam penguasaannya terhadap ilmu-ilmu bahasa Arab terutama ilmu Alatnya . Lisan beliau sangat fasikh . Lahjah beliau khas dan unik. Khas karena selain menampakkan logat khadhromiy nya tetapi terdengar di telinga sangat Fushah rasanya . Kemahiran berbahasa arab serta loghat-loghatnya sering mengecoh banyak orang arab sana, mereka kira Habib Ali itu wathoniy. Penduduk asli Arab. Padahal beliau asli Indonesia .

" Saya ini Banten punya.." Kata beliau suatu kali dengan nada berkelakar.

Habib Ali Seorang Pendekar

Beliau mengaku darah Banten beliau begitu Kuat . Terah Syarif Hidayatullah yang menetes dari jalur Ibundanya membuat cakra-cakra dalam diri Habib Ali selalu antusias dan menunjukkan kelasnya tersendiri dalam ilmu-ilmu hikmah serta olah kanuragan.

Beliau bercerita dari semenjak muda disaat yang lain sukanya menelaah Kalam dan Nasehat Habib Ali Shohibul Maulid [ datuk beliau ] , beliau malah suka menelaah kitab-kitab kanuragan dan do'a-do'a buah Karya Sang Datuk . Nyaris setiap hari kitab itu ada dalam genggaman tangannya. Sewaktu Habib Anis melihat adiknya seperti itu , Beliau hanya tersenyum. Tidak melarangnya. Hanya memberi nasehat sedikit-sedikit saja.

Mungkin memang darah Banten , Darah pendekar itu yang menyebabkan dari Alam Arwah Kanjeng Sunan Kalijaga secara khusus mengajari beliau rahasia-rahasia ilmunya . Ini sering kali beliau ceritakan bagaimana Kanjeng Sunan [begitu biasanya beliau menyebut gurunya itu] datang dlm mimpi beliau . Mengajari beliau .
Memang sewaktu masih Muda Habib Ali menguasai penuh jurus-jurus Silat serta asma' - asma' dan do'a milik Kanjeng Sunan Kalijaga . Dan saking ta'alluqnya beliau dengan Kanjeng Sunan maka beliau sampai bisa mendeteksi seseorang yang masih punya darah keturunan Kali Jaga .

Suatu malam , seorang teman saya [ yang tanpa ada yang tahu bahwa sebenarnya dia adalah keturunan Kanjeng Sunan ] sowan kehadapan beliau. Sebagai seorang anak turun Kali Jaga tentu dia merasa tertarik ingin mengetahui rupa dan sosok kakek buyutnya . Sehingga begitu mengetahui kedekatan Habib Ali dengan Kanjeng Sunan Kalijaga [ dalam alam Arwah] itu dia bertanya :

"Habib Ali . Sosok dan wajah Kanjeng Sunan itu seperti apa?"
Secepat kilat habib menjawab : " Ya seperti sampeyan itu rupa wajahnya."

Dari jawaban itulah kami semua akhirnya tahubhwa teman kami selama ini menyimpan rahasia bahwa dia sebenarnya termasuk keturunan salah satu Wali Songo tersebut.

Keramat Habib Ali

Keramat beliau banyak. Diantaranya yang ada dalam catatan saya adalah :
Mukasyafahnya : Seorang teman dari Jepara saya ajak sowan kepada beliau. Dari rumah sudah menyiapkan amplop untuk bisyarah buat beliau. Padahal sebenarnya dia tidak banyak uang lebih. Maka bisyarah tersebut ia ambil dari cra berhutang. Sesudah sowan , ketika berpamitan dia memberikan amplopnya saat bersalaman. Tetapi dengan tersenyum Habib Ali berkata :

" Terimakasih, ini saya terima. Sekarang saya berikan balik buat sampeyan. Buat bayar hutang.."

Teman saya merah wajahnya tersipu-sipu malu dia. Ketahuan aslinya.

Mustajab Do'a nya : Saya punya sahabat dua. Sama-sama namanya Lukmanul Hakim . Yang pertama anaknya Kyai saya dari Kudus. Beliau ini yang mengenalkan saya dengan Habib Ali . Beliau ini sangat dekat dengan Habib bahkan dengan keluarga-keluarga beliau . Pokoknya jika mau punya hajat dengan Habib Ali , kami tinggal menghubungi Gus Lukman ini dan biasanya beres urusannya.

Yang kedua, Lukman yang ini misanan saya. Saya yang mengenalkan dia kepada Habib Ali . Perkaranya , Lukman ini punya penyakit empedu. Dokter memvonis wajib operasi dengan biaya puluhan juta tentunya. Maka saya kenalkan dia kepada Habib dan minta agar di bantu di do'akan dan di obati.
Dua minggu lamanya , setiap hari Lukman ini mendatangi Habib dan menjalani terapi beliau. Dalam masa berobat itulah Lukman yang satu ini menjadi dekat dengan Habib. Dianggap anak belaiu segala.

Alhamdulillah , do'a-do'a beliau dikabulkan dan kini penyakit empedunya telah dinyatakan sembuh oleh dokter tanpa operasi .

Tentang Merokoknya : Habib Ali perokok berat . Anak beliau Ustadhuna Alwi bin Ali sudah kehabisan akal melarang. Maklum, Ustadz Alwi ini didikan Hadromaut tulen yang mana merokok hukumnya HARAM . Tetapi usaha melarang abahnya merokok itu tidak pernah berhasil . Namun saat mereka Ziarah ke Hadromaut Ustadz Alwi kali ini dengan teramat sangat mewanti-wanti soal Rokok . Dia bilang ketika meluncur dari bandara Sewun menuju Kota :
" Abah... Tolong, untuk kali ini saja selama di Hadromut Abah berenti dahulu merokok. Disini, Para Sayyid sepuh tidak ada yang merokok. Bisa menjadi aib yang besar.."

Habib Ali menjawab dengan suara lirih : " Oh, begitu ya , Alwi ? Baik kalau begitu, Abah berenti.."

Tiba-tiba begitu Habib Ali berkata berenti, Mobil yang membawa mereka mogok. Ditengah jalan. diantra gurun-gurun pasir. Sopir membuka Kap Mobil memeriksa dan dilihatnya semua baik-baik saja. Tetapi setiap kali di stater tidak mau hidup juga. Sopir menelepon tukang montir. Datang dari kota si montir memeriksa mobil dan seperti semula dikatakannya, mobil mesinnya baik-baik saja. Namun setiap kali di stater tetap saja tidak menyala.

Habib Ali duduk di kursi depan mobil seperti gelisah . sudah beberapa jam mereka berhenti di tengah jalan itu. Ustadz Alwi lebih gelisah lagi . Da'i muda yang sangant Tawadhu' itu berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya Ustadz Alwi berkesimpulan , jangan-jangan mogoknya mobil ada hubungannya dengan dia yang melarang Abahnya merokok di Hadromut tadi ?

Maka Ustadz Alawi mendekati Abahnya dan berkata : " Abah. Sekarang kalau mau merokok merokok saja , laah.."
" Boleh ya Alwi ?" Tanya Habib Ali pendek.
" Boleh, terserah Abah saja.." Jawabnya. Secepat kilat Habib Ali menghidupkan batang rokoknya dan menghisap dalam-dalam kepul asapnya. Dan benar juga. Dengan ajaibnya, mobil di setater kembali dan hidup tanpa ada kendala !

Ustadz Alwi ahirnya dari kursi belakang mobil hanya bisa geleng-geleng kepala.  Abahnya merokok ternyata bentuk Khaal yang sulit di jelaskan hakekatnya .

______________________

*Ust.Muhajir Madad Salim, Muthih Wedung Demak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar