Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

INSTITUSI PESANTREN

Jumat, 20 Februari 2015
Pembicaraan tentang institusi pesantren berarti berbicara tentang elemen pokok  yang menjadi cirri khusus pesantren. Secara umum elemen pesantren terdiri dari lima unsur: kyai, santri, kitab salaf, masjid dan pondok (asrama).

Keberadaan kyai merupakan elemen mutlak dalam sebuah pesantren, sebab kyai adalah tokoh sentral yang memberikan pengajaran dalam kehidupan pesantren. Kemasyhuran atau kelangsungan bahkan kebesaran pesantren tergantung dari keahlian dan kedalaman ilmu serta kharisma seorang kyai, makin besar seorang kyai, makin besar kharisma kyai akan mempercepat besarnya pesantren tersebut.

Santri merupakan elemen pokok dalam lembaga pesantren. Santri dalam pesantren biasanya terdiri dari: (1) santri mukim, yaitusantri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pesantren. (2) santri kalong, yaitu santri yang berasal dari daerah sekitar dan biasanya mereka tidak tinggal menetap dalam pesantren, mereka pulang ke rumah masing-masing, setelah selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren. Yang membedakan antara pesantren besar dan kecil terletak pada komposisi antara santri mukim dan santri kalong.Pesantren yang disebut pesantren besar biasanya ditandai dengan banyaknya santri mukim dibanding santri kalong. Pesantren digolongkan pesantren kecil bila memiliki santri kalong lebih banyak dibanding santri mukim.

Elemen pokok yang membedakan antara pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya adalah pesantren mengajarkan kitab-kitab Islam klasik atau sering dikenal dengan istilah kitab salaf yang ditulis oleh ulama terdahulu dan ulama itu memiliki kharisma dan keahlian di bidang ilmu tertentu, serta keahliannya sudah diakui oleh masyarakat luas. Tingkatan sebuahpesantren biasanya juga dilihat dari ejenis-jenis kitab salaf yang diajarkan kepada santrinya.

Masjid dalam konteks ini dijadikan sebagai pusat menjalankan ajaran agama (beribadah) dan pusat melaksanakan  proses belajar mengajar.  Masjid sebagai elemen pokok kedua dari pengertian pesantren disamping untuk menjalankan ibadah juga dijadikan sebagai pusat untuk mempelajari, memahami dan mengkaji masalah agama. Biasanya waktu belajar dilakukanse belum maupun sesudah melakssanakan ibadah shalat lima waktu sehari semalam. Meskipun pesantren sudah dibangun berbagai bangunan untuk belajar, masjid masih tetap dijadikan sarana untuk memantapkan ibadah para santri, seperti I’tikaf, berdzikir maupun amalan lainnya dalam kehidupan thariqah.

Pondok (asrama), di sinilah santri bersamasama kyai bertempat tinggal. Adanya asrama sebaga itempat tinggal bersama antara santri dan kyai, memanfaatkan dalam rangka kerjasam amemenuhi kebetuhan hidup sehari-sehari baik kebetuhan yang menyangkut pengembangan ilmu-ilmu agama maupun kebutuhan sosialnya lainnya. Hal inilah yang menjadikan antara lembaga pesantren dengan lembaga lainnya. Perkembangan selanjutnya, pada masa sekarang pesantren tampaknya lebih menonjol fungsinya sebagai tempat pemondokan atau asrama dansetiap santri dikenakan semacam iuran untuk memelihara atau perbaikan asrama pesantren tersebut.

Dalam mengajarkan kitab-kitab salaf, secara umum pesantren menggunakan tigametode: (1) sorogan, yaitu system belajar secara individual di mana seorang santri berhadapn dengan seorang  guru secara bergantian. (2) bandongan, metode ini juga disebut halaqah, yaitu system pembelajaran di mana kyai membaca sebuah kitab, sedangkan santrinya mendengarkan secara bersama-sama. Orientasi metode pembelajaran bandongan atau halaqah lebih banyak pada keterlibatan atau keikut sertaan santri dalam mengikuti pengajian. Sementara kyai berusaha menanamkan pengertian dan kesadaran kepada santri bahwa pengajian itu merupakan kewajiban. (3) weton, yaitu metode pengajian rutin haria tetapi dilaksanakan pada saat-saat tertentu, misalnya setiaphari jum’ah dan sebagainya.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Pesantren merupakan inspirasi bagi siapapun (pemerhati, pengamat danpeneliti) dalam pengembangan khazanah ilmu pegetahuan. Awal mula lembaga pesantren adalah berjalan secara alakadar, kurang  sistematis. Setelah mengalami berbagai proses, lembaga pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian atau biasa disebut “nggon ngaji” yang telahmerumuskankurikulumnya yaitu pengajaran Bahasa arab, tafsir, hadits, tauhid, fiqh, akhlaq, tashawuf dan lain-lainnya.

Bentuk yang demikian itu kemudianberkembang menjadi penginapan para santri (pelajar) yang kemudian disebut pesantren. Sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945, tidak sedikit pesantren yang menerapkan pendidikan dengan sistem madrasah dan kini terus berkembang sejalan dengan perkembangan sosial yang  ada. Mulai tahun 1970-an beberapa telah mencoba membuka sekolah sekolah umum (SD, SMP, SMU, SMK). Hal  ini disebabkan oleh adanya kesadaran di lingkungan pengasuh pesantren bahwa tidak semua alumni pesantren inngin menjadi ulama (ahli agama), ustadz atau pun mubaligh (da’i). Mayoritas santri pesantren adalah masyarakat biasa yang memiliki berbagai keperluan dalam kehidupannya. QodriAzizi (2002) menyatakan bahwa sejak dasawarsa 1970-an sudah banyak pesantren telah memberikan bekal dan keterampilan ekonomi bagi para santrinya serta terlibat dalam upaya pemberdayaan ekonomi bagi rakyat di lungkungannya.

Bentuk-bentuk pendidikan pesantren kini sangat bervariasi, di antaranya: pertama, pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional baik yang hanya memilki sekolah keagamaan (MI, MTS, MA dan PT Agama Islam), baikjuga yang memiliki sekolah umum (SD, SMP, SMU, SMK dan perguruantinggi non keagamaan).  Jenis pesantren ini terdapat di PesantrenTebuireng, Jombang, Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, dan pesantren Syafi’iyyah  Jakarta.
Kedua, pesantren yang menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerapkan kurikulum pemerintah, seperti Pesantren Gontor Ponorogo, Pesantren Maslakhul Huda Pati (Mathali’ulFalah), dan pesantren Darul Rahman Jakarta.

Ketiga, pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrasah diniyyah seperti Pesantren Salafiyyah LangitanTuban, PesantrenLirboyo Kediri, dan Pesantren Tegalrejo Magelang.
Keempat, pesantren yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian (majlis ta’lim) baik secara rutin maupun temporal.

Kelima, pesantren yang mempersiapkan diri menyediakan asrama bagi para pelajar sekolah umum dan para mahasiswa. Jenis pesantren yang terakhir ini, adalah pesantren yang lebih menitikberatkan kajianilmu yang terkait dengan status santri sebagai pelajar atau mahasiswa.

Dilihat dari proses penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, pesantren dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis. Pertama, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengancara non-klasikal (metode bandongan dan sorogan), di mana kyai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam Bahasa arab olehulama-ulama besars ejak abad pertengahan, sedang para para santri mengdengarkannya. Kedua, pesantren majlista’lim, yaitu hanya menyediakan  tempat (majlista’lim) bagi santri luar, santri kalong dan masyarakat umum dengan cara seperti  yang pertama, tetapi para santrinya tidak disediakan pemondokan atau asrama di komplek pesantren, namun tinggal dan tersebar di sekitar wilayah pesantren. Metode pendidikannya dengan system weton (temporal) yaitu santri dating pada waktu tertentu. Ketiga, pesantren dewasa ini merupakan lembaga gabungan antara pondokan dengan pesantren yang member pendidilkan dan pengajaran agama Islam dengan system bandongan, sorogan ataupun weton dengan santri mukim yang bertempat di asrama (pondokan), maupun santri kalong. Pesantren ini bias dalam bentuk sebagai lembaga pendidikan non-formal maupun lembaga pendidikan formal (persekolahan).

_______________

*Lembaga riset, Cermin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar