Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Kisah Cinta Kedua Orang Tua Ibnu Mubarok, Motivasi Bagi Jomblo Masa Kini

Sabtu, 28 Februari 2015


Bagi teman-teman yang Jomblo jangan putus asa, ada baiknya anda baca kisah Ayah ulama besar Abdullah bin Mubarok, seorang negroito yang beruntung mendapatkan istri cantik dan kaya. Siapa tahu, selama ini kalian sulit move on atau belum dapat-dapat pasangan sebab Allah menunda pernikahan kalian karena seorang wanita cantik nan salehah yang sedang menunggu untuk dijodohkan dengan kalian. Sabar ya, Mbloo..!


Alkisah, di kota Marwa, hiduplah seorang pejabat besar yang bernama Nuh bin Maryam. Dia termasuk petinggi kota itu dan menjabat sebagai hakim. Dia kaya raya, berpangkat dan berhati baik. Nuh memiliki seorang putri yang berparas cantik dan berwibawa. Banyak lelaki meminangnya, baik pejabat, orang kaya maupun jutawan. Namun Nuh tidak berkenan menyerahkan putrinya kepada mereka. Nuh memang bingung memikirkan putrinya itu.
             
Nuh memiliki seorang budak negro berkebangsaan India yang bernama Mubarok. Nuh memiliki banyak pohon dan kebun. Nuh berkata kepada budaknya itu: “Pergi ke kebun-kebun dan jagalah buahnya”. Mubarok pergi menuju kebun itu dan tinggal di sana selama dua bulan. Suatu saat, Nuh berkunjung ke kebun untuk insperksi. Nuh duduk di bawah sebuah pohon yang tinggi untuk beristirahat setelah meneliti kebunnya. Nuh menoleh kepada Mubarok dan berkata: “Mubarok! Ambilkan aku anggur yang sudah masak”. Mubarok segera mengambil sebuah anggur dan menyerahkannya kepada tuannya. Nuh menerimanya dan mencicipinya, namun ternyata anggur itu masam. Karen aitu, Nuh menegur Mubarok: “Anggur yang kamu petik ini masam. Petikkan yang lain”. Mubarok segera memetik anggur yang lain danmenyerahkannya kepada Nuh. Nuh mencicipi anggur kedua, namun rasanya juga masam.
            
 Hampir saja Nuh naik pitam, seandainya dia bukan orang bijak yang arif dan mempu menahan diri. Dia tidak jadi marah dan berkata kepada Mubarok: “Mengapa kamu tidak mengambilkan aku anggur yang manis, padahal buah kebun itu ada beberapa amcam?” Mubarok menjawab dengan jujur dan merendah: “Tuanku, saya tidak tahu, mana buah yang manis dan mana yang masam”. Nuh heran mendengar jawaban budaknya ini. Penjaga kebun tidak tahu buah yang manis dan yang masam? Kemudian Nuh berkata menandaskan hal itu: “Kamu dua bulan di kebun dan tidak tahu mana yang manis dan mana yang masam?” Mubarok mengiyakan dan menguatkan hal itu dengan bersumpah, bahwa dia memang tidak tahu, sebab selama berada di kebun, dia tidak pernah mencicipi satu buahpun di kebun.
            
 Nuh bertambah heran akan ucapan Mubarok dan berkata: “Mengapa kamu tidak memakan anggun? Apa yang menghalangimu untuk memakan buah yang ada di hadapanmu ini?” Kembali Mubarok menjawab dengan sederhana: “Tuan menyuruh aku menjaganya dan tidak saya tidak mau memakannya. Saya laksanakan perintah tuan dan saya tidak berkhianat terhadap harta anda serta melanggar perintah anda. Tak ada yang samar bagi Alloh di bumi maupun di langit”.
            
 Nuh kagum akan wirai, kejujuran dan sikap amanat Mubarok. Nuh sebentar menundukkan kepada dan dalam pikirannya terbersit banyak hal. Dia memperoleh jawaban tentang hal yang mengganggu pikirannya selama ini. Nuh berencana untuk menuntaskannya. Putrinya yang manis dan elok rupawan serta menarik hati para bangsawan, adalah anugrah paling berharga bagi pejabat terpercaya ini. Memang dia patut memiliki anak secantik itu, sesuai dengan kemuliaan yang disandangnya. Namun bagaimana dia menunaikan tugas terakhir untuk buah hatinya itu? Mungkin dia bisa melakukannya, namun dia tetap memohon pertolongan kepada Alloh agar dapat melewati rintangan, jika ada.
            
 Nuh menoleh kepada budaknya yang bernama Mubarok itu sambil berkata: “Mubarok, aku akan bertanya kepadamu tentang sesuatu. Katakan bagaimana pendapatmu. Aku lihat kamu pandai dan berilmu”. Mubarok berkata: “Tuanku, saya hanya seorang budakmu. Perintahkan sesuatu kepada saya, maka saya menunaikannya sesuai kemampuan saya”. Nuh berkata: “Baik. Begini. Aku memiliki seorang putri yang terkenal keelokan dan wibawanya. Banyak orang besar meminangnya, baik kalangan militer, sipil, pejabat maupun jutawan. Akku bingung mengenai pernikahannya, kepada siapa aku mempersembahkannya. Katakan pendapatmu tentang hal ini”. Mubarok berkata: “Tuanku, umat manusia pada masa Jahiliyah menyukai nasab dan trah. Kaum Yahudi dan Nasrani menyukai keelokan dan paras rupawan. Pada masa Nabi saw, mereka menyukai agama dan takwa. Sedangkan pada masa kita ini, mereka menyukai harta benda dan pangkat. Sekarang pilihlah apa yang engkau inginkan dari hal-hal di atas untuk tuan dan putri tuan”.
            
Nuh mendengarkan uraian Mubarok dengan seksama. Ternyata Mubarok tahu tentang hikmah yang tidak diketahui oleh kalangan ilmuwan maupun ulama. Semakin besar rasa suka Nuh kepada budak negronya itu, lalu dia berkata: “Mubarok, aku memilih agama dan takwa”. Lalu Mubarok meneruskan dengan berkata: “Aku lihat kamu beragama dan bertakwa serta terpercaya. Aku berkeputusan untuk mengawinkan kamu dengan anakku”. Mubarok berkata: “Tuanku, saya hanya budak negro. Tuan membeli saya dengan uang tuan. Bagaimana mungkin tuan mengawinkan saya dengan anak tuan? Bagaimana mungkin dia setuju?”
             
Inilah masalah sulit yang berputar-putar dalam pikirannya. Untungnya putrinya anak yang saleh dan takwa, di samping cantik rupawan. Karena itu, Nuh berharap putrinya mau menerima Mubarok yang dia pilih sebagai suaminya. Nuh menatap Mubarok sambil mengatakan: “Ikut aku …”
           
Kedua orang tuan dan budak itu masuk rumah. Tanpa ba bi bu, Nuh langsung berkata kepada anaknya: “Putriku, dengarkan. Aku lihat pemuda ini takwa, terpercaya dan saleh. Aku ingin mengawinkan kamu dengan dia. Bagaimana menurut kamu?” Sang putri dengan cepat menjawab: “Saya putri ayah, semua terserah ayah. Saya tidak akan membantah maupun menentang ayah selamanya. Saya setuju dengan apa yang ayah setujui”. Demikian juga sang ibu setuju dengan segenap bahagia dan kedamaian.
           
Kemudian mereka dinikahkan dan Nuh membekali mereka dengan banyak uang untuk menempuh hidup baru. Keduanya hidup bahagia dan saleh. Tak lama kemudian, mereka dikaruniai seorang anak yang mereka namai Abdulloh. Dia terkenal dengan nama “ABDULLOH BIN MUBAROK” yang terkenal sebagai ulama besar yang saleh. Itulah buah sifat amanah di dunia sebelum akherat.
             
Itulah beberapa peristiwa langka di jaman modern ini, di mana umat manusia menolak untuk mengawinkan anak gadisnya dengan lelaki beragama yang berakhlak mulia. Mereka menjual anak-anak gadis kepada orang-orang fasik dan durhaka hanya demi mengejar materi dan pangkat, tanpa mempedulikan bobroknya agama mempelai lelaki. Itulah sebabnya, para bapak berkewajiban untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan lelaki beragama, berakhlak dan memiliki harga diri. Mereka juga harus memilih suami saleh yang memiliki sifat mulia untuk anak perempuan mereka. Kufu dalam hal agama dan akhlak adalah hal penting dalam pernikahan, bukan kufu dalam hal uang.
                       
                                                           * Dari buku Al Mar’ah Amam At Tahaddiyat*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar