Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

KYAI PESANTREN

Rabu, 18 Februari 2015

Keberadaan seorang kyai sebagai pimpinan pesantren, ditinjau dari tugas dan fungsinya mengandung fenomena yang unik.Dikatakan unik, karena kyai sebagai seorang pemimpin di lembaga pendidikan Islam bertugas tidak hanya menyusun program atau kurikulum, membuat peraturan (tata tertib), merancang sistem evaluasi, melainkan juga bertugas sebagai Pembina dan pendidik umat serta pemimpin umat (masyarakat).Oleh karena itu, keberadaan seorang kyai dalam tugas dan fungsinya dituntut memiliki kebijaksanaan dan wawasan serta keterampilan ilmu-ilmu agama, mampu menanamkan sikap dan pandangan yang luas, serta dituntut mampu menjadi uswatun hasannah bagi para santri khususnya dan masyarakat luas umumnya.

Kepemimpinan kyai juga sering kali dikaitkan dengan fenomena kekuasaan yang bersifat supranatural, dimana figure seorang kyai dipandang sebagai pewaris para nabi, akibatnya kepemimpinan kyai dianggap sosok yang memiliki hubungan kedekatan dengan Tuhan (Madjid, 1985). Terbentuknya opini bahwa figure seorang kyai adalah sosok yang memiliki charisma atau kekuatan supranatural dipengaruhi oleh beberapa latar belakang.


Pertama, sejak zaman Hindu Budha yang mempraktikkan ajaran animis-patheistik di wilayah Jawa Sumatera sudah menghormati bahkan mengkultuskan para pendeta Syiwa, pendeta Budha, empu-empu, guru-guru dan resi-resi yang merupakan manusia kontemplatif yang hidup sebagai manusia suci dianggap memiliki kemampuan mistik dan charisma. Perkembangan lebih lanjut, persepsi mengenai sosok yang memiliki kemampuan tinggi itu akhirnya dinisbatkan kepada para ulama dan kyai yang saat itu dinisbatkan kepada Sunan Ampel seorang penyebar agama Islam di Jawa sekitar abad ke-15 (Sunyoto, 1991).

Kedua, salah satu konsep kepemimpinan dalam Islam ada yang disebut wilayah al-imam, menurut al-Mawardi dalam Kitab al-Ahkam al-Sulthaniyyah, memiliki makana bahwa pemimpin sebagai pengganti kenabian harus mampu memelihara agama dan mengatur aspek kehidupan. Konsep wilayah al-imam ini tidak lain merupakan realisasi konkret kepemimpinan Nabi yang mengharuskan untuk menjadi panutan (suri tauladan/uswatun hasanah). Artinya, keberhasilan seorang pemimpi tidak saja ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam menjalankan mekanisme organisasi (lembaga) melainkan juga perlu dilandasi oleh-oleh nilai-nilai spiritual (spiritual leader) yang memiliki otoritas keagamaan yang mana pemimpin itu dijadikan model bagi yang lain.

Ketiga, salah satu konsep yang cukup banyak berperan membentuk citra kepemimpinan seorang kyai adalah berasal dari ajaran sufisme.Islam yang dating ke Jawa telah diwarnai Islam shufi, sehingga dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat.Seorang kyai sebagai pemimpin dalam pandangan shufi adalah berkaitan dengan sifat transcendental, yaitu memiliki kekuatan tinggi yang kadang sulit dijangkau oleh kekuatan rasio manusia biasan.

Menurut Imron Arifin (1993), kepemimpinan kyai diwujudkan ke dalam tiga hal, yaitu (1) sebagai pemangku masjid dan madrasah: Kyai dalam hal ini lebih banyak berkecimpung di dalam urusan masalah agama dan melakukan proses pembelajaran di sekolah (madrasah) yang lebih menitikberatkan kitab-kitab salaf dan melakukan kajoian serta pendalaman ilmu-ilmu agama Islam. (2) Kyai sebagai seorang pengajar dan pendidik: Dalam konteks ini, sosok kyai dipandang sebagai seorang pendidik yang selalu memberi bimbingan nasihat kepada santrinya dalam hal mengembangkan ilmu pengetahuan. Peran pengajar dan pendidik seorang kyai tidak hanya diperuntukkan bagi para santrinya, tetapi juga masyarakat luas. Implikasinya, seorang kyai benar-benar menjadi sosok idola bagi orang lain. (3) Kyai sebagai seorang yang ahli dan penguasa(an) hukum Islam: dalam konteks ini, sosok kepemimpinan seorang kyai dipahami sebagai seorang yang memiliki kemampuan menyeselesaikan persoalan masyarakat, khususnya tentang status hukum mengenai hukum yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Wujud konkretnya peran kepemimpinan ini, seorang kyai sering kali dijadikan tempat bertanya tentang segala hal yang menyangkut persoalan masyarakat.

Kyai merupakan sosok figure yang memiliki peran dan fungsi yang sangat luas dan kompleks. Kyai juga selalu menjadi rujukan para santrinya dalam melaksanakan segala kativitasnya.  Karena peranannya yang sedemikian rupa, maka sosok kyai seagai seorang pemimpin harus memiliki beberapa kriteria, yaitu: (1) Kyai harus dapat dipercaya, (2) Kyai harus dapat ditaati, (3) Kyai harus bisa diteladani oleh komunitas yang dipimpin. Oleh karena itu, pra-syarat utama yang harus dipenuhi oleh seorang kyai dalam rangka memenuhi kriteria tersebut  tercermin dari integritas seorang kyai terhadap kebenaran, kejujuran dan keadilan dalam menyelesaikan segala persoalan masyarakat.

Kyai memiliki peran dan fungsi sangat luas dalam upaya mengabadikan dirinya du dalam kehidupan masyarakat.Menurut Hirokosshi (1987) dalam bukunya Kiai dan Perubahan Sosial, menyatakan kyai mempunyai empat lahan dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat. Pertama, di Masjid. Di lahan ini kyai berfungsi sebagai imam dalam melaksanakan ibadah ritual (shalat)  dan menjadi rujukan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan ibadah. Masyarakat akan selalu menunggu fatwa atau pendapat kyai itu sevelum mereka melaksanakan ibadah. Misalnya, kapan harus memulai berpuasa dan mengakhirinya (berbuka). Baik di kota maupun di desa, kyai selalu memangku masjid. Sebab di masjid inilah kyai memilik peran yang sangat vital.

Kedua, lahan madrasah.Kyai dalam hal ini lebih berperan sebagai seorang ustadz (guru) yang selalu memberikan wejangan materi pelajaran kepada para santrinya.Madrasah dalam konteks ini adalah lembaga pendidikan yang cenderung tidak formal.Oleh sebab itu, materi yang diajarkan berupa kitab-kitab salaf.Pembelajaran di lembaga ini dimaksudkan untuk memperdalam atau mengembangkan materi pendidikan yang diajarkan di pesantren.Di madrasah ini, disamping santri-santri diberikan materi-materi pelajaran tentang kitab-kitab salaf, juga diberikan beberapa materi pelajaran lainnya yang sifatnya umum atau kemasyarakatan, dengan pola atau metode pembelajaran yang khas dimiliki pesantren, seperti metode sorogan (pembelajaran individual), bandongan (mungkin yang dimaksud adalah balahan; halaqah. red), dan wetonan (pembelajaran musiman).

Ketiga, lahan pesantren. Di lahan ini peran kyai sangat total dalam membina, mengawasi atau mengurusi para santrinya. Untuk membantu pengawasan terhadap para santrinya, kyai membentuk kepengurusan  (lurah) pondok yang bertugas membantu mengawasi atau membina  para santrinya agar memiliki moralitas sesuai dengan tujuan pesantren. Menurut Hasbullah (1996), tujuan pesantren adalah memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral aagama Islam sebagai pedoman hidup masyarakat sehari-sehari.

Keempat, lahan sekolah dengan sistem klasikal. Pada pesantren tertentu, di  samping mengajarkan materi agama di dalam pesantren, juga memiliki lembaga formal (persekolahan). Hal ini dimaksudkan untuk memebrikan peluang para santrinya yang ingin mendalami ilmu-ilmu umum yang lain dan akan memperoleh penghargaan secara formal di pemerintah. Meskipun dalam lembaga formal (sistem sekolah), kyai tetap memiliki pengaruh besar dalam upaya pengembangan lemvbaga di masa depan.

Kebesaran sosok kyai dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (1) keturunan, biasanya kyai besar selalu memiliki silsilaj yang panjang dan valid dengan ulam besar periode sebelumnya; (2) Pengetahuan agama, seseorang tidak akan memiliki predikat kyai jika tidak memiliki kompetensi dalam pengetahuan ilmu agama atau kitab-kitab salaf. Bahkan kepopuleran seorang kyai (acapkali) karena memiliki keahlian menguasai bidang ilmu agama tertentu;  (3) Jumlah muridnya, indikasi kebesaran kyai lainnya dapat dilihat dari jumlah santri yang menghuni pesantren; (4) Cara mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Artinya, jika kyai mengabdikan dirinya ke dalam masyarakat secara utuh, maka kebesaran kyai akan semakin tinggi. Sebaliknya, jika kyai hanya mengabdikan dirinya kepada elemen masyarakat tertentu, maka akan surut charisma kyainya. Comtoh nyata, ketika kyai masuk secara struktur ke dalam organisasi politik (partai politik) , maka lambat laun kharismanya kyai itu akan semakin berkurang, karena hanya akan dianggap lebih mengedepankan kelompoknya sendiri.

Gerth dan Mills membagi tiga jenis kelompok kekuasaan (authority), yaitu: (1)kekuasaan tradisional yang tuntutan keabsahannya didasarkan atas kepercayaan yang telah ada (established) pada kesucian tradisi yang amat kuno; (2) kekuasaan rasional, yang berdasar hukum legal yang didasarkan pada kepercayaan terhadap legalitas peraturan yang ada; (3) kekuasaan kharismatik atau pribadi yang didapat dari pengabdian diri terhadap kesucian, kepahlawanan tertentu atau sifat yang patut dicontoh dari seseorang.
Jenis kepemimpinan pesatren biasanya didasarkan pada dua tipologi.Pertama, kepemimpinan kharismatik, yaitu suatu tipe kepemimpinan yang mengacu kepada satu figure sentral yang dianggap oleh komunitas pendukungnya memilki kekuatan supranatural dari Allah SWT, serta mekanisme kepemimpinannya tidak diatur oleh jalur birokratis.Kedua, tipe kepemimpinan tradisional, yaitu tipe kepemimpinan yang membutuhkan legitimasi formal pendukungnya dengan mencari kaitan geneologis dari kepemimpinan kharismatik sebelumnya.

Sedangkan gaya kepemimpinan kyai dikelompokan dalam dua jenis gaya. Pertama, gaya kepemimpinan religio-paternalistik, yaitu suatu gaya interaksi di mana hubungan antara kyai dengan para santrinya didasarkan oleh nilai-nilai keagamaan yang disandarkan pada gaya kepemimpinan kenabian. Hal ini cenderung menafikan partisipasi dari para santrinya.Usul-usul atau ide dari bawah (santria) tidak begitu berarti jika dibandingkan dengan kebesaran charisma seorang kyai. Berkaitan dengan gaya ini, pola hubungan kyai-santri lebih cenderung bersifat kekeluargaan. Kyai dianggap sebagai bapak yang mempunyai hak untuk mengayomi dan mengarahkan anak-anaknya sesuai dengan keinginan dan nilai-nilai yang dianutnya, di mana para santri dan bawahan memandang kyai sebagai bapak  yang wajib dipatuhi.

Kedua, gaya kepemimpina persuasive-partisipatif, yaitu gaya kepemimpinan memimpin pesantren yang mendekati komunitas yang dipimpin (santri/bawaha) dengan cara persuasive, dengan jalan menawarkan ide-ide kepada para santrinya. Hubungan antara kyai-santri dalam konteks gaya kepemimpinan persuasive-partisipatif bersifat terbukan dan inter-ralasional. Gaya kepemimpian seperti ini sangat memberikan ruang gerak (kebebasan) para santrinya untuk mengembangkan atau memberikan usul kepada siapapun, termasuk kyainya, demi perkembangan lembaga, sehingg pemimpin pesantren tidak lagi menjadi figure sentral dalam segala urusan. (*)

Sumber: CeRMIN (Central Riset dan Manajemen Informasi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar