Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Mudahnya Takbiratul Ihram

Sabtu, 21 Februari 2015
 
Di akhir tahun 90 an, saat saya mengikuti Pasanan (pesantren kilat) di Ponpes Al Falah Ploso Kediri , salah satu teman yang saya kenal mempunyai kebiasaan unik. Dia itu selalu saja saat takbiratul ihram panjang sekali takbirnya.

"Alloooooooooohu akbar …." Panjang sampai habis nafasnya. Itupun tidak langsung jadi. Bisa dia ulang 3 sampai 4 kali takbiran . Saya yakin saat dia bertakbir panjang, pada saat yang sama ‘hatinya’ melafalkan niat "ushalli"-nya itu sembari pikirannya mendeteksi apakah telinganya telah mendengar seluruh huruf  Takbir itu dibaca atau tidak ? Apakah rukun – rukun Takbirnya yang lain ditepati atau tidak ?

Allooohu akbar yang sedemikian panjang dan menguras nafasnya tersebut adalah untuk mengakomodasikan ‘pikiran-pikiran’ nya itu  Inilah yang kemudian membuat Takbiratul ihram menjadi sesuatu yang tidak lagi mudah baginya. Sesuatu yang selalu menguras energinya ketika hendak shalat menghadap Rabb-nya . Inilah salah satu bentuk dari waswas.



Semestinya Tabiratul ihram itu dilepaskan dari pikiran macam – macam selain memikirkan keagungan Allah saat mulut terucap Allahu akbar. Untuk dapat seperti itu maka para Fuqaha syafi’iyyah mensunahkan talaffudh niyat, melafalkan niat sebelum takbiratul ihram . Gunanya untuk menuntun hati .
Sehingga saat sebelum takbir hati telah berkonsentrasi serta diarahkan mengingat: Ushalli-nya … aku shalat fardhunya.. Shalat maghrib bla..bla..bla…, begitu tangan di angkat dan lisan mengucap "Allahu akbar." dalam 3 atau 4 detik takbirnya itu, hati telah dalam ke khudhuran niatnya. Tidak lagi hati melafalkan ushalli-nya yang begitu panjang, karena beberapa detik sebelumnya telah terekam di dalamnya. Hatinya di saat takbir itu justru masuk dalam menghayati makna – makna kebesaran Allah Ta’ala saja.
Dua tiga detik sudah cukup untuk bertakbiratul ikhram.

Al Habib Ahmad bin Hasan al Athas berkata : “ Beristikhdor , menghadirkan keagungan Allah di dalam shalat dianggap cukup meskipun tanpa berniat “

Artinya, niat shalat jika dibuat sulit – sulit, maka selain dapat menarik waswas kedalam shalat juga dapat menghalangi seorang Mushalli untuk mampu merasakan 'Udhmatil ilah, keagungan Tuhan disaat mulutnya bertakbir Allohu Akbar. Allah Maha Besar. Tentu ini sebuah kerugian yang teramat besar .

Takbir – sebagaimana yang di tulis Al Imam Ali Bin Hasan al Athas di dalam Kitab Al Qirthas – adalah sebuah dzikir yang paling besar serta paling banyak keutamaannya . Takbir, Allahu Akbar ini adalah dzikir yang paling sering terucap dari lisan Sayyidina Umar ibn Al Khattab ra.

Takbir pula yang mampu meredam segala peristiwa yang dahsyat di muka bumi ini. Angin kencang. Gempa . Kebakaran serta pertempuran – pertempuran dahsyat di medan laga . Bahkan syetan akan lari terbirit – birit jika mendengarnya .

Dalam sebuah Hadits, jika seseorang bertakbir maka takbirnya itu akan menutupi seluruh isi dunia hingga ke atas langit sana. Dengan takbir pula Adzan menjadi rangkaian dzikir yang tiada duanya . Namun takbir yang mempunyai efek dahsyat adalah takbir yang diucapkan dengan penuh ketulusan, kekhudhuran serta – sebagaimana dzikir atau doa yang lain – keluar dari lisan seorang hamba yang mulia.

Syahdan, ada seseorang yang kerasukan jin. Oleh seorang Kyai ia dibacakan ayat kursyi. Jin itupun menjerit dan keluar dari tubuh orang yang di rasukinya. Pada waktu yang lain, jin itu merasuki orang lain lagi.
Anak Kyai yang pernah melihat ayahnya membacakan ayat kursyi dulu itu, segera menghampiri tubuh orang yang kerasukan tersebut dan membacakan ayat Kursyi. Namun jin yang ada di dalam tubuh orang itu malah tertawa-tawa mengejek :

Ha ..Ha…Ha… ! Ayatnya sama yang dibaca . Yang beda adalah siapa yang membacanya…”

Kunci shalat adalah takbiratul ihram, dan dengan merasakan kesempurnaan takbiratul ihram seseorang akan dapat menggapai kesempurnaan shalatnya maka penting bagi seorang muslim untuk meluruskan tata cara Takbirnya. Mencoba menghayati Hadhratul ilah (kehadiran didalam makna – maknanya . Merasakan ‘kehadiran’ Allah dan meresapi kebesaran Akbar-Nya .

Al Imam Muhammad bin Idrus al Habasyi berkata: “ Suatu hari , Al Habib Thahir bin Umar al Haddad memasuki masjid Jami’ kota Syibam di saat shalat Dhuhur sudah mulai berlangsung. Kebiasaan Habib Thahir adalah selalu bersuara keras saat bertakbir. Sedangkan penduduk kota Syibam hampir – hampir tidak terdengar suara meraka di saat shalat-shalat mereka.

"Maka saat Al Habib Thahir itu bertakbir, seluruh yang hadir shalat bergemetaran tubuhnya. Diantara mereka sempat berpikiran bathal shalat, saking gemetarnya. Bagaimana tidak mereka begitu ? Jangankan mereka, setiap kali mendengar takbir nya Habib Thahir bin Umar itu para syetan pun pada lari !"

_______________

*Ust.Muhajir Madad Salim, Muthih Wedung, Demak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar