Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Riyadlul Badi'ah: Ushuludin, Sifat Wajib, Muhal dan Jaiz Allah

Rabu, 25 Februari 2015

Ketahuilah, bahwa pembahasan dalam ilmu ushuluddin ada tiga macam:

a- Ilahiyat, yaitu bahasan mengenai sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah.
b- Nabawiyat, yaitu bahasan mengenai sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi para rasul.
c- Sam'iyat, yaitu bahasan mengenai hal-hal yang tidak bisa dimengerti, kecuali dari pendengaran dan wahyu.
Itulah sebabnya, setiap mukallaf harus tahu akidah-akidah Iman, yaitu akidah-akidah yang harus dibenarkan dalam hati. Tidak wajib hafal sifat-sifat mendatang dan yang wajib hanyalah keyakinan yang mantap disertai dalil. Tidak diwajibkan bisa merdaksikannya, sebab mengenal adalah keyakinan yang benar dan timbul dari dalil. Tidak cukup kalau hanya kira-kira dan bimbang. Orang yang kira-kira atau bimbang mengenai akidah adalah kafir. Jika seseorang hanya mendengar akidah dari mulut para guru tanpa berpikir maupun mencari dalil, sebagaimana yang terjadi pada sebagian orang awam, dia disebut orang yang taklid dalam akidah. Menurut pendapat yang kuat, orang yang taklid berdosa jika mampu untuk berpikir dan tidak berdosa jika tidak mampu berpikir.
Akidah-akidah tersebut adalah sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah dan sifat-sifat wajib, mutahil dan jaiz bagi para rasul. Wajib yang dimaksudkan adalah sesuatu yang pasti ada dan mustahil adalah sesuatu yang tidak ada, sedangkan jaiz adalah sesutu yang bisa terjadi dan bisa tidak terjadi.

Yang pertama kali dibicarakan adalah ilahiyat sebab paling mulia:

            Sifat wajib pertama bagi Allah adalah wujud (ada). Cukup bagi orang mukallaf tahu bahwa Allah ada dan pasti ada. Dia tidak harus tahu, apakah adanya Allah itu zat-Nya atau tidak, sebab hal tersebut ilmu tauhid yang sulit.
            Kedua adalah qidam (dulu). Yakni adanya Allah tidak ada permulaannya.
            Ketiga adalah baka (kekal). Yakni adanya Allah tidak ada akhirnya.
            Keempat adalah mukhalafah lil hawadits (berbeda dengan makhluk). Yakni Allah tidak sama dengan makhluk. Maka zat, sifat dan perbuatan Allah tidak seperti zat, sifat dan perbuatan makhluk. Allah berfirman:
"Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya". (QS Al Isra' : 44)
Makna tasbih adalah setiap kali Allah membuat sesuatu, seakan-akan Allah berfirman lewat sesuatu tersebut: "Aku tidak sama dengan benda ini". Allah memuji zat-Nya sendiri dengan kesempurnaan mutlak dan kesucian yang sempurna dari menyerupai benda itu yang Dia ciptakan. Demikian disebutkan oleh syaikh Abdul Ghani Al Nabulsi dalam Al Ma'arif Al Ghaibiyah.
            Kelima, qiyamuhu binafsih (berdiri sendiri). Yakni Allah tidak membutuhkan benda yang padanya Allah berada dan tidak membutuhlkan sesuatu yang menciptakan-Nya. Sebaliknya Allah-lah yang membuat segala benda. Dengan demikian, pastilah Allah merupakan zat, bukan sifat.
            Keenam wahdaniyah (esa). Yakni Allah tiada dua-Nya dalam zat, sifat maupun perbuatan-Nya. Zat Allah tidak tersusun dari beberapa bagian, sifat Allah tidak berbilang dari satu jenis dan Allah tidak mempunyai sekutu yang membantu-Nya dalam perbuatan apapun. Esa dengan arti tidak tersusun sudah diketahui dari sifat mukhalafah lil hawadits.
Sifat-sifat di atas berjumlah enam. Yang pertama yaitu wujud disebut sifat nafsiyah yang artinya menunjukkan adanya zat, tidak lebih dari itu. Sedangkan kelima sifat selanjutnya disebut sifat salabiyah yang artinya emnafikan, sebab masing-masing sifat tersebut menafikan kekurangan bagi Allah. sebenarnya sifat salabiyah tidak terbatas, sebab kekurangan bagi Allah tidak terhingga dan seluruhnay dinafikan oleh kelima sifat tersebut. Kelima sifat tersebut merupakan silaf salabiyah yang inti.
            Sifat wajib bagi Allah seterusnya adalah tujuh sifat yang disebut sifat ma'ani. Disebut demikian, sebab ketujuhnya merupakan makna yang ada pada kenyataan dan berada pada zat Allah. seandainya tabir dibuka, maka bisa dilihat.
Sifat ma'ani pertama atau ketujuh dari seluruh sifat adalah sifat qudrah (kuasa). Dengan sifat ini Allah menciptakan benda dari ketiadaan dan meniakannya setelah ada. Dengan demikian, yang menciptakan adalah zat Allah, sedangkan qudrah adalah sebab. Qudrah bagikan pena bagi orang yang menulis.
Kedua iradah (berkehendak). Dengan sifat ini Allah mengunggulkan sebagia kemungkinan atas yang lain. Yang mengunggulkan adalah Allah, sedang iradah hanya sebab.
Ketiga ilmu (mengetahui) yang mencakup seluruh hal yang ada, termasuk zat Allah sendiri.
Keempat hayah (hidup). Sifat ini merupakan syarat bagi sifat-sifat lainnya.
Kelima sama' (mendengar). Sifat ini merupakan sifat yang ada pada zat Allah dan suci dari telinga serta lubang telinga.
Keenam bashar (melihat). Allah melihat tanpa kornea maupun kelopak mata. Allah mendengar warna seperti putih dan melihat suara serta benda-benda lembut.
Ketujuh kalam (firman) yang kosong dari huruf dan suara serta lainnya yang ada dalam kalam makhluk, misalnya panjang dan pendek serta hal lainnya. Di samping memiliki sifat kalam yang qadim, Allah juga mempunyai kalam lafdhi (berupa ucapan) dengan arti Allah menciptakannya di Lauh Mahfudz.
Dengan demikian, jumlah sifat wajib Allah ada tiga belas dan sifat mustahil Allah juga demikian. Adapun sifat maknawiyah, yaitu qadiran, muridan, aliman, hayyan, samian, bashiran dan mutakalliman, adalah merupakan redaksi adanya sifat ma'ani pada zat Allah.
            Sifat mustahil bagi Allah adalah sebagai berikut:
Pertama 'adam (tidak ada), kebalikan wujud.
Kedua huduts (baru) kebalikan qidam.
ketiga fana (rusak) kebalikan baka.
Keempat mumatsalah lil hawadits (menyamai makhluk) kebalikan mukhalafah lil hawadits.
Kelima iftiqar (membutuhkan) zat atau sesuatu yang menciptakan-Nya. Kebalikan qiyamuhu binafsih.
Keenam tak esa dalam zat-Nya atau sifat-Nya atau perbuatan-Nya. Kebalikan wahdaniyah.
Ketujuh 'ajz (lemah) kebalikan qudrah.
Kedelapan adanya sesuatu dari alam ini tanpa kehendak-Nya. Kebalikan iradah.
Kesembilan tak tahu sesuatu dari hal yang ada, baik tidak tahu sama sekali atau tahu tanpi salah. Kebalikan sifat ilmu.
Kesepuluh maut (mati) kebalikan hayat.
Kesebelas shamam (tuli) kebalikan sama'.
Kedua belas 'ama (buta) kebalikan bashar.
Ketiga belas bakam (bisu) atau adanya huruf maupun suara dalam kalam kadim-Nya. Kebalikan kalam.
            Sifat jaiz Allah adalah berbuat segala hal yang mungkin dan tak berbuat. Misalnya memberi rezeki, emnciptakan dan sejenisnya.
            Secara gelobal, segala kesempurnaan yang layak bagi zat Allah adalah wajib bagi-Nya dan segala kekurangan mustahil bagi-Nya. Semua orang harus berkeyakinan secara gelobal, bahwa Allah bersifat dengan seluruh kesempanaan yang keseluruhannya hanya diketahui oleh Allah, dan bahwa Allah mustahil bersifat segala kekurangan yang hanya diketahui oleh Allah.
Dalil seluruh sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah di atas adalah adanya alam ini dengan bentuk yang tiada duanya.
_________________
Oleh: Abi Muhamm, Pengasuh Pon-Pes Al Qoumaniyah (Pondok Bareng), jekulo, Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar