Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Riyadlul Badi'ah: Ushuludin, Sifat Wajib, Muhal dan Jaiz Para Rasul

Rabu, 25 Februari 2015

           Sifat wajib para rasul ada empat:

Pertama shidiq (jujur) dalam segala hal yang mereka beritakan meskipun dengan kelakar tanpa melukai perasaan orang yang diajak bicara. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ath Thabarani dari Aisyah, bahwa seorang nenek dari Anshar mendatangi Nabi dan berkata: "Doakanlah kepada Allah agar saya masuk surga". Nabi bersabda:
"Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek".
Setelah bersabda demikian, Nabi pergi untuk shalat. Saat beliau kembali, Aisyah berkata: "Nenek tadi sangat terpukul karena sabdamu". Nabi bersabda:
"Sesungguhnya hal itu memang demikian. Sesungguhnya Allah jika memasukkan mereka ke surga, Allah merubah menjadi menjadi gadis".
Dalil sifat ini adalah adanya mukjizat di tangan mereka yang diciptakan Allah. sejak dunia da sampai sekarang, Allah tidak pernah memberikan mukjizat kepada orang dusta.     
Kedua amanah (terpercaya). Yakni lahir dan batin mereka terjaga dari melakukan larangan, meskipun makruh atau khilaful aula. Para rasul terjaga lahir dan batinnya dari seluruh dosa. Dalil sifat ini adalah seluruh umat diperintah untuk mengikuti nabi yang diutus kepada mereka. Padahal tidak mungkin uamt itu diperintah melakukan sesuatu yang dilarang syariat. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” (QS Al A'raf : 28)
Ketiga fathanah (cerdas) yakni mampu mengalahkan musuh dan membantah kebatilannya. Dalil sifat ini adalah beberapa ayat, misalnya:
"Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya". (QS Al An'am : 83)
Orang yang pelupa tidak mungkin mampu berdiplomasi.
Keempat tabligh (menyampaikan) sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan kepada umat manusia. Lain halnya sesuatu yang mereka diperintah untuk merahasiakannya dan hal yang mereka boleh memilih. Apa yang mereka diperintah untuk merahasiakannya, pasti mereka merahasiakannya. Allah bersaksi bahwa Nabi saw telah bertabligh, sehingga berfirman:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku". (QS Al Maidah : 3)
Setelah ayat ini, tidak ada halal haram yang diturunkan lagi. Seandainya Nabi tidak menyampaikan seluruh syariat, maka Allah tidak berfirman bahwa Islam telah sempurna, sebab jika Nabi menyembunyikan sesuatu, maka agama kita cacat.
            Sifat mustahil bagi para rasul juga empat:
Pertama kidzib (dusta) mengenai pengakuan risalah dan mengenai sesuatu yang mereka sampaikan dari Allah. Ini kebalikan sifat shidiq.
Kedua khiyanah (berkhianat). Yakni melakukan larangan, baik haram maupun makruh. Ini kebalikan sifat amanah.
Ketiga baladah (pelupa) kebalikan fathanah.
Keempat kitman (merahasiakan) sebagian dari hal yang mereka diperintah untuk menyampaikannya. Ini kebalikan tablig. Yang dimaksudkan mustahil adalah keempat sifat ini tidak mungkin terjadi pada rasul dengan dalil syar'i.
            Sifat jaiz bagi para rasul adalah sifat manusiawi yang tak mengurangi ketinggian derajat mereka di sisi Allah, misalnya makan dan minum Nabi saw suka makan daging, pernah memakan ayam jantan dan menyukai manisan serta madu. Beliau juga suka meminum air yang dingin dan beliau meminumnya dalam tiga nafas. Nabi tidak suka meminum air panas sebab menyakitkan perut dan tidak menyegarkan. Nabi pernah merendam kurma dan meminum airnya untuk memudahkan proses pencernaan. Nabi  tidak memakan masakan yang dihangatkan di pagi hari dan tidak memakan makanan yang panas. Contoh lain adalah sakit yang tidak menyebabkan orang jijik, senggama yang halal dan hal sejenisnya.
            Seluruh sifat di atas terkumpul dalam kalimat: (لا اله الا الله مُحَمَّد رسول الله). Yakni makna ucapan kalimat tersebut mengumpulkan seluruh sifat Allah dan sifat para rasul Allah. Ucapan yang pertama yaitu (لا اله الا الله) menunjukkan pengakuan bahwa selain Allah bukan tuhan dan bahwa Allah adalah Tuhan. Sedangkan Tuhan adalah zat yang disembah dengan benar. Berarti Allah tidak membutuhkan selain Dia dan selain Dia membutuhkan Dia. Hal tersebut menunjukkan dua puluh sifat wajib, dua puluh sifat mustahil dan satu sifat jaiz Allah. Ucapan kedua yaitu (مُحَمَّد رسول الله) menunjukkan pengakuan risalah Muhammad saw yang berarti membenarkan apa yang dia bawa. Hal tersebut menunjukkan shidiq para rasul, amanah mereka, fathanah mereka dan tablig mereka dan menunjukkan mustahilnya empat sifat kebalikannya, yaitu kadzib, khianat, kitman dan baladah. Dan menunjukkan jaiznya sifat manusiwai bagi mereka. Ulama berkata: "Mengucapkan dua kalimat syahadat tidak ada gunanya, kecuali jika mengerti artinya, meskipun secara gelobal."
_____________________

Abi Muhamm, Pengasuh Pon-Pes Al Qoumaniyah (Pondok Bareng), Jekulo, Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar