Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Sejarah Awal Mula Pesantren di Nusantara, dari Abad 15 - 19 M.

Sabtu, 21 Februari 2015
Masjid Tegal Sari, Ponorogo

Usaha pengembangan dakwah Islam yang dijalankan WaliSongo yang tidak kalah penting adalah usaha mengembangka npendidikan model dukuh, asrama dan padepokan dalam bentuk pesantren-pesantren (Agus Sunyoto, 2012).  Menurut Zaini Achmad Syis dalam buku berjudul Standardisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren (1984), konteks pendidikan pendidikan pesantren yang representative mencitrakan sistem pendidikan Islam di Nusantara, pada dasarnya adalah pengambilan bentuk lembaga pendidikan sistem biara dan asrama yang dipakai oleh para pendeta Bikhu mengajar dan belajar.  

Salah satu proses Islamisasi yang dilakukan Wali Songo melalui pendidikan adalah usaha mengambil alih lembaga pendidikan Syiwa-Budha  yang disebut asrama atau dukuh  yang diakulturasikan dengan model pendidikan pada  zaman nabi yang menjadikan masjid sebagai sentra ltempat belajar dan mengajar. Usaha tersebut terbilang sukses,  karena para guru sufi dalam lembaga Wali Songo mampu memformulasikan nilai-nilai sosiokultural religious yang dianut masyarakat Syiwa-Budha dengan nilai-nilai Islam, terutama memformulasikan nilai-nilai Ketauhidan Syiwa-Budah dengan ajaran tauhid Islam.

Menurut P.J.Zoetmulder dalam Kalangwan (1983), seiring lenyapnya keraton-keraton di bawah kerajaan Majapahit, menyusu lterancamnya pusat-pusat keagamaan yang pada gilirannya lenyap pada waktunya, memiliki dampak terhadap mulai hilangnya sastra Jawa kuno kakawin yang terpengaruh Hindu india, dengan digantikan era sastra Jawatengahan bercorak  Islam tembang, pusat-pusat pendidikan keagamaan lama (Hindu-Budha) sepertidukuh, asrama dan padepokan juga ikut lenyap, seiring terjadinya perubahan, digantikan dengan berdirinya pusat-pusat pendidikan keagamaan Islam yang disebut pesantren.

C.C.Berg (dalam Gibb, 1932: 257) berpendapt, istilah “pesantren” diambildari  kata “santri  yang diadaptasi dari kata “sashtri” yang bermakna orang-orang yang mempelajari kitab-kitab suci “sashtra”. Namun menurut pendapat Prof.Abdul Karim –dalam Sarasehan Budayadari Pesantren untuk Bangsa, di Pon-Pes Al-Anwar Rembang (2012)–kata “santri” adalah pelafalan (aksen) terhadap kata “cantrik” yang memiliki makna “orang yang dekat penguasa / orang yang dekat kepada guru”.
Meskipun kedua pendapat  yang  tersebut di atas berbeda dalam soal pokok asal kata, namun keduanya sama-sama memiliki makna “belajar”, sama-sama diserap dari bahasa Sansekerta dan sama-sama menjadi sumber kata “pesantren”.  Oleh karena itu, dapat didefinisikan bahwa pesantren adalah tempat orang-orang  belajar kitab-kitab keagamaan kepada seorang  guru.

*

Sampai sekarang belum dapat diketahui dengan pasti pesantren mana yang pertama kali ada dan tahun berapa berdirinya (?). Yang jelas, lembaga pendidikan Islam dalam bentuk pesantren sudah ada sejak era WaliSongo, abad 15 –16 M. Hal itu dikarenakan hamper semua WaliSongo memiliki pendekatan dakwah dengan cara membuka lembaga pendidikan pesanten seperti yang tersebut di atas.

Seperti pendapat Lembaga Riset Pesantren Luhur Sunan Giri Malang, mereka menemukan jejak sejarah bahwa salah satu bidang dakwah yang digarap Sunan Giri adalahpendidikan model pesantren. Banyak murid-muridnya yang dating dari berbagai daerah, mulai JawaTimur, Jawa Tengah, Kalimantan, Makassar, Lombok, Sumbawa, Flores, Ternate, Tidor dan Hitu.

Namun jika merujuk pada tahun, Pendapat paling konkret menyebutkan, Pesantren Tegalsari Ponorogo yang didirikan oleh Kyai Hasan Besari adalah salah satu pesantren tertua di Indonesia. Pendapat tersebut didasarkan pada data F.Fokkens , dalam bukunya De piersterscholteTegalsari, 1877, bahwa pada tahun  1742 Raja Pakubuwana II pernah mengirimkan anaknya ke pesantren Tegalsari untuk belaja rilmu agama.
Pada kurun waktu yang berdekatan, tahun 1745 Sayyid Sulaiman(istri cucu sunan Gunung Jati) melakukan babad desa dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri Pasuruan dengan dibantu oleh Kiai Aminullah (pulau Bawean).Tarikh beridirinya pesantren Sidogiri ini (1745), diambil beradasarkan surat yang  ditandatangani pada tahun 1971 oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri  yang ke-226. Dari akta tersebut disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745.

Kemudian disusul dengan Pondok Buntet Cirebon (1758), Pesantren Termas yang didirikan pada tahun 1823, LangitanTuban (1852), Tebu Ireng (1899), Lirboyo Kediri (1910), Pondok Lasem 1916 - 1920), Mbareng Kudus (1926),  dan masih banyak lagi. Demikian gambaran singkat pondok pesantren di  Jawa abad 15 – 19 M.
_____________________
*Disadur bebas dari Atlas Wilongo (Agus Sunyoto), Lembaga Riset Cermin, website sidogiri.net, dan Sarasehan Budaya dari Pesantren untuk Bangsa di Pon-Pes Al-Anwar, Sarang Rembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar