Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

TARIKH THABARI [Bahasa Indonesia, bag: 2] - USIA DUNIA MENURUT BEBERAPA AGAMA

Sabtu, 21 Februari 2015



APAKAH MASA ITU?

            Masa atau zaman adalah waktu siang dan malam hari. Kadang masa diartikan waktu yang pendek dan waktu yang panjang. Bangsa Arab mengatakan: “Kami mendatangimu pada masa pemerintahan Al Hajjaj”. Juga mengatakan: “Kami mendatangimu pada masa peperangan”. Mereka juga mengatakan: “Kami mendatangimu pada masa-masa pemerintahan Al Hajjaj”. Maksud mereka adalah tiap waktu dari pemerintahan Al Hajjaj dianggap sebagai masa tersendiri.

LAMANYA MASA DARI AWAL SAMPAI AKHIR

            Ulama salaf sebelum kami berbeda pendapat mengenai hal tersebut, sebagian mengatakan bahwa seluruh masa adalah tuju ribu tahun.
            Ulama yang berpendapat demikian:
            Said bin Jubair bertutur, bahwa Ibnu Abbas ra berkata: “Dunia adalah beberapa jum’at dari jum’at-jum’at akhirat, tuju ribu tahun. Sudah lewat enam ribu dua ratus tahaun dan akan datang beberapa ratus tahun, di mana tidak ada orang yang bertauhid di atas dunia ini”.
            Ulama lain berpendapat, bahwa seluruh masa adalah enam ribu tahun.
            Ulama yang berpendapat demikian:

            Abu Shaleh bertutur, bahwa Ka’b ra berkata: “Dunia adalah enam ribu tahun”.
            Abdush Shamad bin Ma’qil bertutur, bahwa Wahb berkata: “Sudah lewat lima ribu enam ratus tahun bagi dunia dan kami sungguh tahu raja-raja dan nabi-nabi yang pada masa tersebut’. Abdush Shamad bin Ma’qilb bertanya: “Berapa umur dunia?” Wahb menjawab: “Enam ribu tahun”.
            Menurut kami, yang benar dari pendapat-pendapat tersebut adalah apa yang dibenarkan oleh hadits dari Nabi saw, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, bahwa dia mendengar Nabi saw bersabda:
            “Ajal kalian dibandingkan ajal orang sebelum kalian adalah dari shalat asar sampai terbenamnya matahari”.
            Ibnu Umar bertutur, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Ingat, sesungguhnya ajal kalian dibandingkan ajal orang yang lewat dari umat-umat adalah seperti antara shalat asar sampai terbenamnya matahari”.
            Abdullah bin Umar juga bertutur, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Tidaklah sisa bagi umatku dari dunia, kecuali seperti perkiraan matahari jika shalat asar dilakukan”.
            Ibnu Umar juga bertutur: “Kami duduk di sisi Nabi saw, sementara matahari naik di atas Quaiqi’an setelah asar, lalu beliau bersabda:
            “Tidaklah umur kalian di antara umur orang yang telah lewat, kecuali seperti apa yang tersisa dari siang ini pada apa yang telah lewat darinya”.
            Anas bin Malik ra bertutur, bahwa suatu hari Nabi saw berkhutbah kepada para sahabat, sementara matahari hampir tenggelam dan yang tersisa hanya sedikit sisi. Maka beliau bersabda:
            “Demi Dia yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah tersisa dari dunia kalian di antara apa yang lewat darinya, kecuali sebagaimana apa yang tersisa dari hari kalian di antara apa yang lewat darinya. Dan kalian tidak melihat matahari, kecuali sedikit”.
            Abu Said ra bertutur, bahwa Nabi saw bersabda ketika matahari terbenam:
            “Sesungguhnya perumpamaan apa yang tersisa dari dunia dibandingkan apa yang lewat darinya adalah seperti sisa hari kalian ini pada apa yang telah lewat darinya”.
            Abu Hurairah ra bertutur, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Kami dan kiamat diutus sebagaimana dua jari ini” dan beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan tengah.
            Anas bin Malik menghadap Al Walid bin Abdul Malik, lalu Al Walid bertanya kepadanya: “Apa yang anda dengar dari Nabi saw mengenai hari kiamat?” Anas menjawab: “Kami mendengar beliau bersabda:
            “Kalian dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini” dan Anas berisyarat dengan kedua jarinya.
            Buraidah ra bertutur, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Kami dan hari kiamat diutus semua, sungguh dia hampir mendahuluiku”.
            Al Mustaurid bin Syaddad Al Fihri bertutur, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Kami dutus pada diri hari kiamat. Kami mendahuluinya sebagaimana ini mendahului ini”.
Yang beliau maksudkan adalah jari telunjuk dan jari tengah.
            Jika hari permulaannya adalah terbitnya matahari dan akhirnya adalah terbenamnya matahari dan hadits yang kami sebutkan sahih, bahwa Nabi bersabda setelah shalat asar: “Tidaklah tersisa dari dunia kalian di antara apa yang lewat darinya, kecuali sebagaimana apa yang tersisa dari hari kalian di antara apa yang lewat darinya”, maka waktu antara tengah shalat asar jika dilakukan pada saat bayangan sesuatu sama dengan dua kali lipatnya adalah kira-kira seper empat belas hari, kurang lebih demikian. Demikian juga paut antara jari tengah dan telunjuk.
            Di samping itu, ada hadits sahih dari Nabi saw, yaitu riwayat Abu Tsa’labah Al Khusyani ra, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Tidak akan umat ini melemahkan Allah dari setengah hari”.
            Dari hadits ini jelaslah, bahwa pendapat yang paling benar di antara dua pendapat mengenai lamanya masa dan yang paling mirip dengan hadits-hadits Nabi, satu dari Ibnu Abbas dan satu dari Ka’ab adalah pendapat Ibnu Abbas, bahwa dunia adalah satu jum’at di antara jum’at-jum’at akhirat, tuju ribu tahun.
            Jika hadits dari Nabi benar bahwa yang tersisa dari tuju ribu tahun pada hidup Nabi adalah setengah hari, yaitu lima ratus tahun, sebab sehari adalah seribu tahun, maka jelaslah bahwa yang telah lewat dari dunia ini sampai Nabi bersabda hadits yang diriwayatkan oleh Abu Tsa’labah Al Khusyani adalah enam ribu lima ratus tahun atau  sekitarnya.
            Apa yang kami katakan mengenai usia dunia sejak diciptakan Allah sampai akhirnya, adalah termasuk pendapat paling kuat di antara pendapat yang ada berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan kesahihannya.
            Diriwayatkan dari Nabi saw sebuah hadits yang menunjukkan sahihnya pendapat, bahwa umur dunia adalah enam ribu tahun. Seandainya sahih sanadnya, kami tidak beralih darinya kepada yang lain. Yaitu hadits yang dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Huqub adalah delapan puluh tahun, seharinya darinya adalah seperenam dunia”.
            Dalam hadits tersebut dijelaskan, bahwa umur dunia adalah enam ribu tahun, sebab jika sehari dari hari akhirat kira-kira seribu tahun dan sehari akhirat sama dengan seperenam dunia, maka kesimpulannya adalah seluruh hari dunia adalah enam hari akhirat, yaitu enam ribu tahun.
            Kaum Yahudi mengatakan, bahwa usia dunia menurut mereka berdasarkan isi Taurat yang ada di tangan mereka mulai Allah menciptakan Adam sampai Hijrah adalah empat ribu enam ratus empat puluh dua tahun (4642). Mereka merinci hal tersebut dengan kelahiran seorang demi seorang, nabi demi dan kematiannya sejak Adam sampai Hijrah Nabi Muhammad saw. Kami akan menuturkan rincian mereka ini insya Allah dan rincian kaum selain mereka dari ulama kafir ahli kitab yang pandai mengenai sejarah dan kisah umat manusia jika sampai kepada kami.
            Kaum Yunani Nasrani mengatakan, bahwa apa yang dikatakan kaum Yahudi adalah salah. Yang benar menurut mereka mengenai usia dunia sejak Allah menciptakan Adam sampai Hijrah Nabi Muhammad menurut redaksi Taurat yang ada di tangan mereka adalah lima ribu sembilan ratus sembilan puluh dua tahun (5992) plus beberapa bulan. Mereka menuturkan rinvian pendapat mereka tersebut dengan kelahiran nabi demi nabi dan raja demi raja serta wafat mereka sejak periode Adam sampai Hijrah. Mereka mengatakan, bahwa kaum Yahudi mengurangi sejumlah tahun antara tahun yang ada di dalam sejarah mereka dan tahun sejarah Nasrani. Hal itu dengan tujuan menentang kenabian Isa as karena sifat dan waktu terutusnya Isa tercantum di dalam Taurat. Yunani mengatakan: “Belum sampai waktu yang ditentukan untuk kami di dalam Taurat, waktu di mana Isa muncul”. Mereka menantikan munculnya Isa menurut pendapat mereka.
            Perkiraan kami, orang yang mereka nantikan yang sifatnya adalah tercantum di dalam Taurat adalah Dajal yang telah dijelaskan sifatnya oleh Nabi Muhammad kepada umatnya. Nabi bersabda, bahwa mayoritas pengikut Dajal adalah kaum Yahudi. Jika Dajal adalah Abdullah bin Shayyad, maka dia termasuk keturunan Yahudi.
            Kaum Majusi mengatakan, bahwa usia dunia sejak Raja Jayumart sampai waktu Hijrah Muhammad adalah tiga ribu seratus tiga puluh sembilan tahun (3139), namun mereka tidak menuturkan sesuatu yang dikenal di atas Raja tersebut. Mereka mengatakan, bahwa Jayumart adalah Adam bapak manusia.
            Mengenai Jayumart, ulama sejarah berbeda pendapat. Ada yang berpendapat sebagaimana pendapat kaum Majusi dan ada yang berpendapat, bahwa Jayumart menamakan dirinya Adam setelah menguasai tujuh negara dan bahwa Jayumart adalah Jamar bin Yafis bin Nuh. Jamar berbakti kepada Nuh, selalu melayaninya serta menyanginya. Karena itu, Nuh mendoakan dia dan anak cucunya agar panjang umur, menguasai banyak negeri, mengalahkan musuh, menjadi raja dan kekuasaan mereka kekal, berkat kebaktian dan kebaikannya itu. Allah mengabulkan doa Nuh untuk Jayumart dan anak cucunya. Jayumart adalah kakek moyang bangsa Persia dan tahta Persia terus menerus berada di tangan anak cucunya, sampai kaum muslimin menguasai Madain Kisra dan kekuasaan lepas dari mereka.
            Ada juga yang berpendapat lain lagi dan kami insya Allah akan menuturkan pendapat yang sampai kepada kami mengenai hal tersebut saat kami menuturkan sejarah raja-raja, umur mereka, nasab mereka dan penyebab mereka menjadi raja.

Dalil bahwa masa, malam dan siang adalah makhluk
            Dulu kami sudah mengatakan, bahwa masa adalah waktu dari malam dan siang, sedangkan waktu dari malam dan siang adalah perkiraan dari peredaran matahari dan rembulan di cakrawala, sebagaimana Allah berfirman:
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS Yasin : 37-40)
Jika masa adalah hal tersebut, sedangkan waktu dari malam dan siang adalah peredaran matahari dan rembulan di garis edarnya di langit, maka jelas bahwa masa adalah makhluk dan demikian juga malam serta siang. Yang membuat ketiganya adalah Allah, satu-satunya yang menciptakan seluruh makhuk, sebagaimana Dia berfirman:           
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”. (QS Al Anbiya’ : 33)
Barangsiapa tidak tahu bahwa masa adalah makhluk, maka dia pasti tahu silih bergantinya malam dan siang, bahwa salah satunya yaitu malam mendatangkan kegelapan dan kepekatan bagi makhluk dan yang lain mendatangkan terang dan cahaya serta mengganti gelapnya malam, yaitu siang.
Jika demikian, maka jelas bahwa berkumpulkan malam dan siang adalah mustahil dalam satu waktu. Salah satu dari keduanya pasti ada sebelum yang lain. Manapun yang ada sebelum yang lain, maka yang lain adalah ada sesudahnya. Itulah penjelasan mengenai dalil bahwa malam dan siang adalah makhluk dan hal yang baru.
Termasuk bukti bahwa malam dan siang adalah makhluk, bahwa hari pasti ada setelah hari sebelumnya dan sebelum hari yang sesudahnya. Maka jelaslah, bahwa hari itu asalnya tiada, lalu ada, bahwa ia makhluk yang diciptakan, bahwa dia mempunyai Pencipta.
Bukti lain, bahwa malam dan siang terbatas jumlahnya. Suatu benda pasti tidak lepas dari dua kemungkinan: genap atau ganjil. Jika genap, maka permulaan gelap adalah dua. Hal itu mendukung pendapat, bahwa malam dan siang ada permulaannya. Jika suatu benda ganjil, maka permulaan ganjil adalah satu. Hal itu menunjukkan, bahwa malam siang ada permulananya. Sesuatu yang ada permulaanya, pasti mempunyai pencipta.

Apakah Allah menciptakan sesuatu sebelum masa, siang dan malam?
Sebelumnya kami telah menuturkan, bahwa masa adalah waktu dari malam dan siang dan bahwa waktu adalah peredaran matahari dan rembulan di garis edarnya.
Benar bahwa kaum Yahudi menghadap Nabi saw, lalu bertanya mengenai penciptaan langit dan bumi, lalu beliau menjawab:
“Allah menciptakan bumi pada hari Ahad dan Senin, menciptakan gunung-gunung dan manfaat padanya pada hari Selasa, Allah menciptakan pohon, air, kota, kearmaian dan tanah kosong pada hari Rabo. Maka ini adalah empat”.
Lalu Nabi membaca ayat:
“Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya”. (QS Fushilat : 9-10)
Nabi bersabda lagi:
            “Dan Allah menciptakan langit pada hari Kamis, menciptakan bintang-bintang, matahari, rembulan dan para malaikat pada hari Jum’at sampai tiga jam yang tersisanya darinya, lalu pada jam pertama dari tiga jam Dia menciptakan ajak orang yang hidup dan orang yang mati. Pada jam kedua Dia menjatuhkan marabahaya atas sesuatu yang dimanfaatkan oleh umat manusia dan pada jam ketiga Dia menciptakan Adam dan menempatkannya di surga, memerintahkan Iblis bersujud kepadanya dan mengusirnya dari surga pada jam terakhir”.
            Kemudian para Yahudi berkata: “Lalu apa hai Muhammad?” Nabi menjawab:
            “Kemudian Dia bersemayam di arasy”.
Mereka berkata: “Kamu sungguh benar jika kamu teruskan, bahwa kemudian Allah beristirahat”. Maka Nabi saw marah besar, lalu turunlah ayat:
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan”. (QS Qaf : 38-39)
Abu Hurairah ra berkata: “Nabi saw memegang tanganku, lalu bersabda:
“Allah menciptakan tanah pada hari Sabtu, menciptakan gunung-gunung padanya pada hari Ahad, menciptakan pepohonan pada hari Senin, menciptakan hal yang dibenci pada hari Selasa, menciptakan nur pada hari Rabo, menyebarkan binatang di bumi pada hari Kamis, menciptakan Adam setelah asar hari Jum’at, makhluk yang terakhir Dia ciptakan pada jam terakhir dari jam-jam Jum’at antara asar sampai malam”.
Abu Hurairah dan Abdullah bin Salam meriwayatkan dari Nabi saw waktu yang ada di hari Jum’at. Abdullah bin Salam berkata: “Aku tahu, mana waktu itu. Allah mulai menciptakan langit dan bumi pada hari Ahad dan selesai pada jam terakhir dari hari Jum’at. Yakni pada jam terakhir dari hari Jum’at”.
Ikrimah bertutur, bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi saw: “Apakah hari Ahad itu?” Nabi menjawab:
“Pada hari itu Allah menciptakan bumi dan membentangkannya”. Mereka bertanya: “Lalu hari Senin?” Nabi menjawab: “Pada hari itu Allah menciptakan Adam”. Mereka bertanya: “Lalu hari Selasa?” Nabi menjawab: “Pada hari itu Allah menciptakan gunung-gunung, air, anu, anu dan apa ayng dikehendaki Allah”. Mereka bertanya: “Lalu hari Rabo?” Nabi menjawab: “Makanan pokok”. Mereka bertanya: “Lalu hari Kamis?” Nabi menjawab: “Dia menciptakan langit”. Mereka bertanya: “Lalu hari Jum’at?” Nabi menjawab: “Allah menciptakan malam dan siang pada dua waktu”.
Lalu mereka menyebutkan hari Sabtu dan menyinggung istirahat dan Nabi berkata: “Subhanallah”. Kemudian Allah menurunkan ayat:
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan”. (QS Qaf : 38)
Kedua hadits di atas yang kami riwayatkan dari Nabi saw menunjukkan, bahwa matahari dan rembulan diciptakan setelah Allah menciptakan banyak benda dari makhluk. Hadits Ibnu Abbas menyebutkan, bahwa Allah menciptakan matahari dan rembulan pada hari Jum’at. Jika demikian, maka bumi langit dan isinya selain malaikat dan Adam, diciptakan sebelum Allah menciptakan matahari dan rembulan. Saat itu tidak ada malam dan siang, sebab malam siang berkaitan dengan peredaran matahari dan rembulan pada orbitnya.
Jika benar bahwa bumi langit dan isinya selain hal di atas sudah ada sebelum ada matahari dan rembulan, maka jelas bahwa semua itu ada tanpa siang dan malam. Demikian juga hadits Abu Hurairah, sebab hadits ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan nur pada hari Rabo. Yang dimaksudkan nur adalah matahari insya Allah.
Jika seseorang bertanya: “Anda sudah mengatakan, bahwa hari adalah waktu antara terbitnya matahari dan terbenamnya. Kemudian sekarang anda mengatakan, bahwa Allah menciptakan matahari dan rembulan setelah beberapa hari sejak pertama kali menciptakan benda. Anda menetapkan adanya waktu dan anda menyebutnya hari, padahal saat itu tidak ada matahari maupun rembulan. Jika tidak ada dalil yang mengesahkannya, maka sebagian ucapan anda bertentangan dengan sebagian yang lain”.
Kami jawab: “Allah menyebut apa yang kami sebutkan sebagai hari, sehingga kami mengikutinya. Menyebutnya sebagai hari padahal saat itu tidak ada matahari maupun rembulan adalah sama dengan firman Allah:
            “Bagi mereka rezekinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang”. (QS Maryam : 62)
Padahal tidak ada pagi maupun sore di sana, sebab tidak ada malam, matahari dan rembulan di akhirat, sebagaimana firman Allah:
“Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur'an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat”. (QS Al Hajj : 55)
Allah menyebut hari kiamat sebagai hari yang ‘aqim’, sebab hari kiamat adalah hari yang tidak ada malam setelah terjadinya. Kami menyebut hal tersebut dengan hari sebelum terciptanya matahari dan rembulan terpaut seribu tahun menurut perhitungan penghuni dunia, yaitu dua belas bulan yang waktu dan harinya ditentukan dengan peredaran matahari dan rembulan di orbit, sebagaimana hal tersebut disebut pagi dan sore karena rezeki yang diberikan Allah kepada ahli surga dalam waktu yang menurut mereka di dunia dikenal dengan matahari. Padahal di surga tidak ada matahari maupun malam hari.
Ulama salaf juga berpendapat sebagaimana yang kami sebutkan.
Ibnu Juraij bertutur, bahwa Mujahir berkata: “Allah memutuskan urusan segala sesuatu selama seribu tahun kepada para malaikat. Kemudian terus seperti itu sampai lewat seribu tahun. Kemudian Allah memutuskan urusan segala sesuatu selama seribu tahun, lalu terus seperti itu selamanya. Allah berfirman:
“Dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS As Sajdah : 5)
Hari adalah firman Allah kepada apa yang Dia putuskan kepada para malaikat: “KUN FAYAKUN”. Hanya saja Allah menyebutnya hari sebagaimana yang Dia kehendaki. Firman Allah:
“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS Al Hajj : 47)
adalah sama dengan hari di atas”.
            Hadits Nabi menuturkan, bahwa Allah menciptakan matahari dan rembulan setelah Dia menciptakan langit bumi serta beberapa benda lain. Sekelompok ulama salaf berpendapat demikian.
            Ulama yang berpendapat demikian:
            Mujahid bertutur, bahwa Ibnu Abbas berkomentar mengenai firman Allah:
“Lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (QS Fushilat : 11)
Ibnu Abbas berkata: “Allah berfirman kepada langit: “Terbitkanlah matahari dan rembulan-Ku”. Dan Allah berfirman kepada bumi: “Belahlah sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu”, lalu langit bumi berkata: “Kami datang dengan suka hari”.
            Said bertutur, bahwa Qatadah berkomentar mengenai ayat:
“Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” (QS Fushilat : 12)
Qatadah berkata: “Yakni menciptakan matahari, rembulan, bintang dan kemaslahatan di tiap langit”.
            Hadits-hadits yang kami sebutkan menunjukkan, bahwa Allah menciptakan langit bumi sebelum menciptakan masa, siang dan malam dan sebelum matahari rembulan. Wallahu a’lam.

Masa, siang dan malam fana, yang kekal hanya Allah
            Keabsahan ha tersebut didasari oleh firman Allah:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (QS Ar Rahman : 26-27)
Dan firman-Nya:
“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS Al Qashash : 88)
Jika segala sesuatu akan binasa kecuali zat Allah sebagaimana Dia firmankan, sedangkan malam dan siang adalah gelap atau terang yang Dia ciptakan demi kepentingan makhluk-Nya, maka tidak ada kebimbangan lagi, bahwa malam dan siang adalah fana, sebagaimana firman Allah:
“Apabila matahari digulung”. (QS At Takwir : 1)
Yakni matahari dibutakan dan cahayanya sirna, yaitu ketika hari kiamat terjadi. Hal ini tidak perlu kami panjang lebarkan, sebab seluruh pemeluk tauhid mengakuinya, baik muslimin, pengikut Taurat, pengikut Injil maupun Majusi. Yang mengingkarinya hanyalah kelompok non tauhid yang tidak kami maksudkan untuk menjelaskan kesalahan mereka. Semua kelompok yang kami sebutkan mengakui fananya alam ini, sehingga tidak ada yang sisa selain Zat Allah, mereka semua mengaku bahwa Allah-lah yang menghidupkan mereka setelah mereka fana dan membangkitkan mereka setelah mereka binasa, selain sekelompok orang penyembah berhala. Mereka mengakui fananya alam, namun mengingkari kebangkitan.

Allah dehulu sebelum segala sesuatu dan Dia-lah Pencipta

            Termasuk bukti keabsahan hal di atas adalah bahwa yang ada di alam ini hanyalah jasad atau berdiri pada jasad. Jasad terbagi menjadi dua, yaitu jasad yang tercerai berai dan jasad yang menyatu. Semua jasad yang bercerai berai pasti mungkin menyatu dengan jasad yang lain dan semua jasad yang menyatu pasti mungkin bercerai berai. Jika salah satu dari keduanya sirna, maka yang lain ikut sirna. Jika dua bagian darinya menyatu setelah bercerai berai, maka pasti persatuan itu terjadi setelah tidak terjadi. Demikian juga percerai beraian keduanya setelah menyatu, terjadi setelah tidak terjadi.
            Jika peristiwa di alam ini adalah sebagaimana di atas, sedangkan makhluk pasti ada penciptanya, baik berdiri sendiri atau ada pada benda lain, dan makhluk ada yang bercerai berai dan ada yang bersatu, sedangkan yang mencerai beraikannya dan yang menyatukannya adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk bercerai berai dan bersatu, maka jelaslah bahwa Pencipta alam semesta ada sebelum sebelum segala sesuatu dan jelas bahwa masa dan jam adalah makhluk dan Penciptanya adalah yang mengaturnya. Sebab tidak mungkin pencipta sesuatu ada, kecuali sebelum sesuatu itu sendiri. Firman Allah:
            “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS Al Ghasyiyah : 17-20)
merupakan hujah paling jelas dan paling menunjukkan bagi orang yang mau berfikir dan merenung, bahwa Pencipta unta, langit, gunung dan bumi adalah dahulu dan bahwa segala benda yang sejenis dengan keempat benda di atas adalah makhluk yang mempunyai Pencipta yang tidak sama dengannya.
            Segala sesuatu yang disebutkan oleh Tuhan kita dalam ayat di atas, baik gunung, bumi maupun unta, umat manusia menafaatkannya, baik dengan merubahnya, menggalinya, mengukirnya maupun merobohkannya. Tidak ada larangan terhadap hal-hal tersebut. Namun manusia tidak mampu untuk membuat apapun dari benda-benda di atas sama sekali. Jelas, bahwa sesuatu yang lemah untuk membuat benda-benda tersebut, dia tidak ada dengan sendirinya dan bahwa benda yang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perbuatan benda lain terhadapnya, dia tidak diciptakan oleh benda yang sama dengannya dan dia juga tidak mampu membuat dirinya sendiri. Yang membuatnya pastilah sesuatu yang tidak bisa dilemahkan oleh sesuatu yang dikehendakinya dan dia tidak terhalang untuk menciptakan apa yang dia inginkan, yaitu Allah SWT.
            Jika ada orang bertanya: “Apa alasan anda ingkar bahwa ada dua tuhan yang menciptakan benda-benda besar tersebut?”
            Kami jawab: “Kami mengingkari adanya dua pencipta karena kami melihat tatanan dan penciptaan yang sempurna. Seandainya pencipta dua dua, maka ada kemungkinan keduanya sepakat dan ada kemungkinan keduanya berselisih. Jika keduanya sepakat, maka kehendak keduanya sama. Jika keduanya berselisih, maka mustahil penciptaan dan tatatan akan smepurna, sebab perbuatan satu dari dua pihak yang berselisih bertentengan dengan perbuatan pihak lain. Jika yang satu mengidupkan, maka yang lain mematikan. Jika salah satu membuat, maka yang lain memusnahkan. Karena itu, mustahil adanya sesuatu dari makhluk dengan sempurna. Firman Allah:
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan”. (QS Al Anbiya’ : 22)
Dan firman Allah:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS Al Ghasyiyah : 17-20)
merupakan dalil yang paling kongkrit dan paling jelas atas batalnya ucapan orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu bahwa seandainya di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah, tentu kedua benda itu tidak lepas dari sepakat dan berselisih. Kenyataan bahwa keduanya sepakat menunjukkan, bahwa tidak ada dua tuhan, bahwa Allah esa. Ucapan bahwa kedua benda itu berselisih menunjukkan hancurnya langit dan bumi, sebagaimana firman Allah: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa”. Sebab jika salah satu dari dua tuhan menciptakan sesuatu, maka yang lain memusnahkannya, sebab dua benda yang berselisih perbuatannya berlawanan, seperti api yang memanaskan dan es yang mendinginkan apa yang dipanaskan api.
            Di samping itu, menurut apa yang dikatakan orang-orang musyrik, dua orang tuhan itu adakalanya keduanya sam-sama kuat atau sama-sama lemah. Jika keduanya lemah, maka yang lemah adalah kalah dan tidak akan menjadi tuhan. Jika keduanya kuat, maka masing-masing lemah karena dia tidak mampu berbuat terhadap tuhan yang lain, sedangkan yang lemah tidak akan menjadi tuhan. Jika masing-masing dari kedua tuhan kuat terhadap tuhan yang lain, maka ia lemah karena kuatnya tuhan yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan orang musyrik.
            Maka jelaslah Pencipta segala sesuatu, yaitu Maha Esa yang ada sebelum segala sesuatu, ada setelah segala sesuatu, awal sebelum segala sesuatu, akhir setelah segala sesuatu. Dia ada ketika tidak ada masa dan waktu, tidak ada malam dan siang, tidak ada gelap dan terang kecuali nur Zat-Nya, tidak ada bumi langit, tidak ada matahari rembulan maupun bintang. Segala sesuatu selain Dia adalah baru dan dibuat. Dia sendiri yang menciptakan semua itu tanpa teman, asisten maupun penolong. Betapa Dia Kuasa dan Perkasa.
            Abu Hurairah bertutur, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Sesungguhnya kalian setelah kami akan ditanya mengenai segala sesuatu, sampai orang berkata: “Ini adalah Allah, Dia menciptakan segala sesuatu. Lalu siapa yang menciptakan-Nya?”
            Orang-orang bertanya kepada Abu Hurairah mengenai hadits tersebut, lalu Abu Hurairah bertakbir dan berkata: “Nabi tidak bersabda sesuatu kepadaku, kecuali kami telah menyaksikannya (atau menantikannya). Abu Ja’far mendengar Abu Hurairah berkata: “Jika umat manusia bertanya kepada kalian mengenai hal tadi, maka jawablah: “Allah Pencipta segala sesuatu, Allah ada sebelum segala sesuatu, Allah ada sesudah segala sesuatu”.
            Jika sudah diketahui, bahwa Pencipta segala sesuatu ada ketika tidak ada sesuatu selain Dia, bahwa Dia menciptakan segala sesuatu lalu mengaturnya, bahwa dia menciptakan bermacam-macam makhluk sebelum menciptakan waktu dan masa, sebelum menciptakan matahari rembulan yang menjadi pedoman waktu dan penanggalan dan pemisah antara malam dan siang, maka hendaknya kita bertanya: “Apa yang pertama kali diciptakan Allah?”

______________________

Oleh: Abi Muham, Pengasuh Pon-Pes Al-Qoumaniyah (Pondok Bareng 1926), Jekulo, Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar