Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

TARIKH THABARI [Bahasa Indonesia. bagian: 1]

Kamis, 19 Februari 2015


TARIKH THABARI
ABU JA’FAR MUHAMMAD BIN JARIR ATH THABARI (224-310 H)
(TARIKH AL UMAM WA AL MULUK)
ATAU
(TARIKH AR RUSUL WA AL MULUK)

PERCETAKAN:
DARUL KUTUB AL ILMIYAH, BEIRUT LIBANON, 2005

JUZ 1
TARIKH SEBELUM NABI SAW HIJRAH

Pendahuluan

بسم الله الرحمن الرحيم

            Segala puji bagi Allah Yang Pertama sebelum segala sesuatu yang pertama, Yang Akhir sesudah segala sesuatu yang akhir, Yang Kekal tanpa sirna, yang berdiri atas segala sesuatu tanpa berpindah, Yang Menciptakan makhluk tanpa pokok maupun contoh. Dia-lah Yang Tunggal dan Esa tanpa bilangan, Dia-lah Yang Kekal setelah siapapun tanpa batas maupun akhir. Dia-lah pemilik keagungan, kebesaran, keluhuran dan kekuasaan. Dia Tinggi untuk mempunyai sekutu dalam kekuasaan, Dia tidak mempunyai sekutu dalam keesaan, Dia tidak mempunyai pembantu maupun asisten dalam pengaturan-Nya. Dia tidak mempunyai anak, istri atau saingan. Khayalan tidak bisa menyentuh-Nya, ruang tidak melingkup-Nya, mata tidak mampu mencapai-Nya, Dia melihat semua mata dan Dia Yang Maha Lembut dan Maha Mengenal.
            Kami memuji-Nya atas nikmat-Nya, kami bersyukur kepada-Nya karena anugerah-Nya, dengan puji orang yang mengesakan-Nya dengan memuji dan dengan syukur orang yang mengharapkan karunia-Nya bertambah. Kami meminta petunjuk kepada-Nya kepada perbuatan dan ucapan yang mendekatkan kami kepada-Nya dan membuat Dia ridha kepada kami. Kami beriman kepada-Nya dengan iman orang yang mengesakan-Nya dan mengagungkan-Nya.
            Kami bersaksi, bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan kami bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba yang agung dan rasul-Nya yang terpercaya. Dia memilihnya untuk mengemban risalah dan mengutusnya dengan wahyu untuk berdakwah agar umat manusia menyembah-Nya. Maka dia mengindahkan perintah-Nya, berjuang di jalan-Nya, mengharapkan kebaikan untuk umatnya dan menyembah-Nya sampai kematian tiba. Dia tidak pernah bersalah dalam bertabligh dan tidak pernah malas untuk berjuang. Semoga Allah mencurahkan salawat dan salam kepadanya.
            Amma ba’du:
            Allah swt menciptakan makhluk tanpa terpaksa dalam menciptakan mereka dan Allah membuat mereka tanpa memerlukan mereka. Sebaliknya Allah menciptakan siapa yang Dia kehendaki dari mereka dengan perintah perintah dan larangan-Nya dan Dia menguji mereka dengan ibadah agar mereka menyembah-Nya, lalu Dia membalas mereka dengan nikmat. Dan agar mereka memuji-Nya atas nikmat-Nya, lalu Dia menambah mereka dengan karunia dan menyempurnakan pemberian kepada mereka, sebagaimana Dia firmankan:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh”. (QS Adz Dzariyat : 56-58)
Karena itu, menciptakan mereka saat Dia menciptakan mereka, tidak menambah seberat atompun bagi kekuasaan-Nya atas apa yang ada sebelum menciptakan mereka. Jika Dia menyirnakan dan memusnahkan mereka, maka hal itu juga tidak mengurangi seberat rambutpun, sebab Dia tidak terpengrauh oleh keadaan, bosan tidak menyentuh-Nya, malam dan siang tidak mengurangi kekuasaan-Nya, sebab Dia-lah yang menciptakan waktu dan masa. Anugrah dan kemurahan-Nya merata kepada mereka semua, nikmat dan karunia-Nya mengena seluruh mereka. Dia memberi mereka telinga, mata dan hati dan secara khusus Dia memberi mereka akal pikiran yang dengannya mereka mampu membedakan yang hak dan yang batal, tahu mana yang bermanfaat dan yang berbahaya.
Dia menjadikan bumi hamparan untuk mereka agar mereka melalui jalan yang banyak, menjadikan langit sebagai atap yang terjaga dan bangunan yang kokoh. Dari langit, Dia menurunkan hujan dengan deras dan memberi mereka rezeki dengan takaran. Di langit, Dia menjalankan rembulan malam dan matahari siang, keduanya silih berganti demi kebaikan makhluk. Dia jadikan malam sebagai pakaian dan siang untuk mengais rezeki bagi mereka. Sebagai karunia, Dia membuat matahari dan rembulan silih berganti, lalu Dia menghapus malam dan menjadikan siang terang benderang, sebagaimana Dia firmankan:
 “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas”. (QS Al Isra’ : 12)
Dengan silih bergantinya malam dan siang, para hamba tahu waktu kewajiban mereka yang Dia bebankan atas mereka dalam beberapa saat dari malam, siang, bulan dan tahun, yaitu shalat, zakat, haji, puasa dan lainnya. Demikian juga jatuh tempo hutang piutang mereka, sebagaimana Dia berfirman:
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji”. (QS Al Baqarah : 189)
Dan firman-Nya:
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS Yunus : 5-6)
Semua itu menjadi anugrah dan karunia Allah bagi para hamba, lalu banyak dari mereka yang bersyukur kepada-Nya atas karunia itu, lalu Dia menambahnya nikmat atas nikmat yang telah ada, sebagaimana Dia janjikan kepada mereka:
“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim : 7)
Di samping nikmat tambahan di dunia itu, Dia memberi mereka nikmat masuk surga yang kekal di akhirat kelak. Dia menunda untuk banyak hamba tambahan yang Dia janjikan, sampai mereka kembali kepada-Nya dan mereka menghadap-Nya. Di antara hamba, ada juga banyak hamba yang kufur atas nikmat-Nya, mereka mengingkari nikmat itu dan menyembah selain Dia, sehingga Dia mencabut karunia-Nya dari mereka dan menimpakan siksa atas mereka di dunia. Di akhirat kelak, Dia menyediakan siksa yang menghinakan mereka, namun di dunia ini Dia memberi banyak orang dari mereka nikmat sebagai istidraj agar dosa mereka lengkap agar mereka berhak menerima siksa-Nya di akhirat.
Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan yang mendekatkan kita kepada murka Allah dan semoga Dia memberi kita pertolongan agar kita dekat dengan ridha-Nya dan cinta-Nya.
Dalam kitab ini, kami menuturkan raja tiap waktu sejak Allah menciptakan makhluk-Nya sampai mereka meninggal dunia, yakni orang-orang yang kabar beritanya sampai kepada kami dan Allah telah memberikan nikmat kepada mereka. Di antara mereka ada yang mensyukuri nikmat itu, yaitu rasul atau raja yang berkuasa atau khalifah, lalu Allah menambah mereka dengan nikmat di dunia ini, di samping karunia yang Dia berikan kepada mereka. Ada juga yang tambahannya diakhirkan Allah dan menjadikannya sebagai tabungan di sisi-Nya. Di antara mereka, ada yang mengukufuri nikmat, lalu Allah mencabut nikmat yang Dia berikan kepadanya dan menyiksanya di dunia ini. Namun ada juga yang mengkufuri nikmat, namun Allah memberinya banyak nikmat sampai dia mati dan menghadap-Nya.
Setiap orang yang kami sebutkan di sini, kami sertai dengan masanya dan secara gelobal kami sebutkan apa peristiwa yang terjadi pada masanya, sebab menyebutkan seluruh peristiwa sulit dilakukan oleh manusia dan membuat kitab menjadi tebal. Kami juga menyebutkan berapa panjang usianya dan kapan dia meninggal dunia. Pertama kali, kitab ini kami awali dengan menyebutkan waktu dan masa, apakah masa itu, berapakah lamanya masa, kapan mulainya dan kapan berakhirnya. Dan apakah sebelum Allah menciptakan masa, Allah telah menciptakan lainnya? Apakah masa itu fana? Apakah setelah masa fana, ada sesuatu selain Allah? Apa yang ada sebelum Allah menciptakan masa? Apa yang ada setelah masa fana dan sirna? Bagaimana permulaan Allah menciptakan masa dan bagaimana fananya? Dan mendasari, bahwa yang dahulu hanyalah Allah Yang Perkasa, penguasa langit dan bumi serta makhluk antara keduanya dan apa yang ada di bawah bumi, singkat tidak panjang lebar, sebab ini kitab ini tidak ditujukan kepada dasar tersebut.
Tujuan penyusunan kitab ini adalah sejarah para raja yang telah lalu dan berita mereka secara ringkas, masa para rasul dan nabi serta umur mereka, masa para khalifah yang dahulu dan sebagian sejarah mereka, sampai di mana kekuasaan mereka dan peristiwa yang terjadi pada masa mereka. Setelah itu, kami meneruskannya dengan menuturkan -insya Allah- para sahabat Nabi saw, nama mereka, nama samaran mereka, nasab mereka, umur mereka, wafat masing-masing dari mereka, tempat di mana mereka wafat. Setelah itu, kami menuturkan Tabiin sebagaimana cara tersebut. Setelah itu, kami menuturkan periode setelah mereka, ditambah dengan orang yang riwayatnya kami terima, orang yang riwayatnya kami tolak, orang yang riwayatnya lemah dan penyebab kami menolak riwayatnya dan beritanya serta alasan yang menyebabkan penuturannya tidak kuat.
Hanya Allah-lah yang kami inginkan pertolongan-Nya dalam menyelesaikan maksud dan cita-cita kami. Hanya kepada Allah kami meminta bantuan agar apa yang kami inginkan tercapai, sebab Dia-lah yang memiliki daya dan kekuatan. Semoga Allah mencurahkan salawat dan salam kepada Nabi-Nya Muhammad saw.
Hendaknya pembaca tahu, bahwa dasar kami dalam menuturkan isi kitab ini dengan syarat yang kami tetapkan tadi, hanyalah hadis dan atsar yang kami tuturkan lengkap dengan sanadnya sampai rawi pertama, bukan sesuatu yang kami tahu dengan hujah akal dan pemikiran, kecuali sedikit sekali. Sebab berita dan cerita mengenai orang-orang dahulu yang telah lewat dan apa yang sedang terjadi dewasa ini, tidaklah sampai kepada orang yang tidak menyaksikannya dan tidak hidup pada saat itu, kecuali lewat penuturan orang yang memberitakan, bukan hasil buah pikiran maupun renungan jiwa.
Apapun yang ada dalam kitab ini, yaitu berita sebagian orang yang telah lewat, namun diingkari oleh pembaca atau dianggap buruk orang yang mendengarnya karena dia tidak menjumpai apa ayng sebenarnya terjadi, hendaknya dia tahu, bahwa hal itu bukan dari sisi kami, namun hal itu berasal dari orang-orang yang menyampaikannya kepada kami. Kami hanya menyampaikannya sebagaimana ia sampai kepada kami.

bersambung.......


Oleh: Abi Muham, Pengasuh Pon-Pes Al-Qoumaniyah (Pndok Bareng), Jekulo, Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar