Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

TARIKH THABARI: MAKHLUK YANG DICIPTAKAN ALLAH DALAM ENAM HARI [3]

Rabu, 25 Februari 2015


Makhluk Yang Diciptakan Allah dalam Enam Hari
Ketika Menciptakan Langit Bumi

            Ulama salaf berbeda pendapat mengenai hal tersebut.
            Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa Abdullah bin Salam ra bertutur: “Allah mulai menciptakan makhluk pada hari Ahad. Allah menciptakan bumi pada hari Ahad dan Senin, menciptakan makanan dan gunung pada hari Selasa dan Rabo, menciptakan langit pada hari Kamis dan Jum’at. Allah selesai pada akhir waktu dari Jum’at, lalu menciptakan Adam dengan segera. Saat itulah saat di mana hari kiamat terjadi.”
            Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat Nabi bertutur: “Allah menciptakan bumi dalam dua hari, yaitu Ahad dan Senin. Allah menciptakan gunung agar bumi tidak goyah, gunung, makanan penghuni bumi, pepohonan dan benda yang berguna bagi bumi dalam dua hari, yaitu Selasa dan Rabo. Kemudian Allah menuju langit yang saat itu masih merupakan asap, lalu menjadikannya satu langit. Kemudian Allah membelahnya dan menjadikannya tujuh langit dalam dua hari, yaitu Kamis dan Jum’at”.
            Ibnu Abbas ra bertutur: “Allah menciptakan bumi dalam dua hari, yaitu Ahad dan Senin”.
            Menurut pendapat para ulama di atas, bumi diciptakan sebelum langit, sebab menurut mereka langit diciptakan pada hari Ahad dan Senin.
            Ulama lain berpendapat, bahwa Allah menciptakan bumi lengkap dengan makanannya sebelum langit, namun Allah belum membetangkan bumi. Kemudian Allah menuju langit, lalu menjadikannya tujuh langit, lalu membentangkan bumi”.
            Termasuk ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menuturkan penciptaan bumi sebelum langit, lalu menuturkan langit sebelum bumi. Maksudnya Allah menciptakan bumi beserta makanannya tanpa membentangkannya sebelum menciptakan langit. Kemudian Allah menuju langit, lalu menjadikannya tujuh langit, lalu membentangkan bumi setelah itu. Itulah tafsir firman Allah:
            “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”. (QS An Nazi’at : 30)
            Ibnu Abbas menafsiri ayat:
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (QS An Naziat : 30-32)
dan berkata: “Yakni Allah menciptakan bumi langit. Setelah menyelesaikan langit sebelum menciptakan makanan bumi, Allah menyebarkan makanan bumi setelah menciptakan langit. Dan Dia membentangkan gunung-gunung. Makanan bumi dan tumbuhan bumi tidak layak, kecuali dengan malam dan siang. Itulah firman Allah: Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Tidakkah anda mendengar firman-Nya: Ia memancarkan darinya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”.
            Menurut kami, yang benar di antara pendapat-pendapat di atas adalah pndapat yang mengatakan, bahwa Allah menciptakan bumi pada hari Ahad, menciptakan langit pada hari Kamis, menciptakan bintang-bintang, matahari dan rembulan pada hari Jum’at, sebab sahihnya hadits yang kami sebutkan sebelumnya dari Ibnu Abbas. Tidaklah mustahil apa yang kami riwayatkan dari Ibnu Abbas, yaitu Allah menciptakan bumi dan belum membentangkannya, kemudian Allah menciptakan langit lalu menyempurnakannya, lalu membentangkan bumi setelahnya, lalu mengeluarkan airnya, tumbuhannya dan gunung Dia pancangkan. Menurut kami, itulah yang benar, sebab menciptakan lain dengan membentangkan. Allah berfirman:
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh”. (QS An Naziat : 27-32)
Ada pendapat, bahwa Allah menciptakan Ka’bah di atas air dengan empat sudut dua tahun sebelum menciptakan bumi, kemudian bumi dibentangkan di bawahnya.
Termasuk yang berpendapat demikian adalah:
1- Ibnu Abbas, dia bertutur: “Ka’bah diletakkan di atas air dengan empat sudut dua tahun sebelum bumi diciptakan, kemudian bumi dibentangkan di bawah Ka’bah”.
2- Abdullah bin Umar ra bertutur: “Allah menciptakan Ka’bah sebelum bumi dua ribu tahun dan dari Ka’bah bumi dibentangkan”.
Jika demikian, maka penciptaan bumi adalah sebelum langit, sednagkan pembentangan bumi dengan makanannya, tumbuhannya dan pepohonannya adalah setelah langit diciptakan, sebagaimana kami tuturkan dari Ibnu Abbas.
Abu Bakar ra bertutur: “Kaum Yahudi menghadap Nabi saw, lalu berkata: “Hai Muhammad, beritahulah kami, apa yang diciptakan pada keenam hari itu?” Nabi menjawab:
“Dia menciptakan bumi pada hari Ahad dan Senin, menciptakan gunung-gunung pada hari Selasa, menciptakan kota-kota, makanan-makanan, sungai-sungai, keramaian bumi dan tanah ksongnya pada hari Rabo, menciptakan langit dan malaikat pada hari Kamis, sampai tiga jam yang tersisa dari hari Jum’at. Pada jam pertama dari tiga jam Dia menciptakan ajal, pada jam kedua menciptakan petaka, pada jam ketiga menciptakan Adam”.
Mereka berkata: “Kamu benar jika kamu teruskan”. Lalu Nabi saw tahu apa yang mereka inginkan, sehingga beliau marah, lalu Allah menurunkan ayat:
“Dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan”. (QS Qaf : 38-39)
Jika seseorang bertanya: “Jika benar apa yang anda sebutkan, bahwa Allah menciptakan bumi sebelum langit, maka apa makna hadits Ibnu Abbas, di mana dia bertutur: “Sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah kalam, lalu Dia berfirman kepadanya: “Tulislah!” Kalam bertanya: “Apa yang kami tulis?” Allah berfirman: “Tulislah takdir”. Maka kalam menulis apa yang akan terjadi sejak saat itu sampai terjadinya kiamat. Kemudian Allah mengangkat uap air, lalu darinya membelah langit, lalu menciptakan ikan, lalu bumi dibentangkan di atasnya. Ikan itu goyang, lalu bumi goyang, lalu bumi ditetapkan dengan gunung-gunung, maka gunung-gunung sombong kepada bumi”.
Ibnu Abbas juga bertutur: “Sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adaalh kalam, lalu kalam menulis apa yang akan terjadi. Kemudian Allah mengangkat uap air, lalu darinya Dia menciptakan langit, lalu menciptakan ikan. Kemudian bumi dibentangkan di atas ikan itu, lalu ikan itu goyang, lalu bumi goyang, lalu ditetapkan dengan gunung-gunung. Maka gunung-gunung sombong kepada bumi”. Ibnu Abbas membaca ayat:
“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”. (QS Al Qalam : 1)
Ibnu Abbas juga bertutur: “Sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah kalam, lalu Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!” Maka kalam menulis apa yang terjadi sampai terjadinya hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan ikan di atas air, lalu meletakkan bumi di atasnya”.
Kami jawab, bahwa penjelasan Ibnu Abbas tidak berlawanan dengan apa yang dikatakan penanya.
Jika dia bertanya: “Apa penjelasan yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas tersebut?”
Kami jawab, penjelasan itu adalah penjelasan yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud serta beberapa sahabat Nabi, mengenai ayat:
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.” (QS Al Baqarah : 29)
Mereka berkata: “Arasy Allah ada di atas air ketika Dia belum menciptakan sesuatu sebelum air. Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan makhluk, maka Dia mengeluarkan uap dari air, lalu uap itu berada di atas air. Kemudian Allah berada di atas air, lalu Dia menyebutnya langit, lalu Allah mengeringkan air, lalu menjadikan air itu satu bumi. Kemudian Allah membelahnya, lalu menjadikannya tujuh bumi dalam dua hari, Ahad dan Senin. Allah menciptakan bumi di atas ikan yang dimaksudkan dengan ayat: “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”. Ikan ada di dalam air, air ada di atas batu halus, batu halus ada di atas punggung seorang malaikat, malaikat ada di atas batu besar, batu besar di atas angin. Batu besar inilah yang dimaksudkan oleh Luqman dan tidak ada di langit maupun di bumi. Ikan itu bergerak, lalu bumi goyang, lalu Allah menancapkan gunung padanya, lalu bumi tetap, lalu gunung sombong kepada bumi. Itulah firman Allah:
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu”. (QS An Nahl : 15)
Ucapan para sahabat di atas menunjukkan, bahwa Allah menciptakan langit dan langit belum disempurnakan sebelum bumi, kemudian Dia menciptakan bumi.
Jika benar apa yang mereka katakan di atas, maka tidaklah mustahil bahwa Allah menciptakan uap dari air, lalu uap itu Dia letakkan di atas air. Kemudian Allah mengeringkan air itu, lalu uap yang ada di atasnya menjadi bumi namun Dia belum membentangkannya, belum membuat makanannya, belum mengeluarkan airnya dan tumbuhannya, kecuali setelah Dia menuju langit yang dulu merupakan uap yang timbul dari air, lalu Allah menjadikannya tujuh langit. Kemudian Allah membentangkan bumi yang sebelumnya berupa air, lalu mengeringkannya, membelahnya dan menjadikannya tujuh bumi serta menciptakan makanannya. “Ia memancarkan darinya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh”. Maka seluruh hal yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dalam masalah tersebut adalah sahih.
Mengenai hari Senin, kami telah menyebutkan perselisihan pendapat ulama dan apa yang diriwayatkan dari Nabi saw.
Hari Selasa dan Rabo, kami telah menuturkan sebagian dari riwayat mengenai kedua hari itu dan selanjutnya kami tuturkan apa yang belum kami sebutkan sebelumnya.
Ibnu Abbas dan Abdullah bin Abbas serta beberapa orang sahabat menuturkan, bahwa bahwa Allah menciptakan gunung di bumi, makanan bagi penduduk bumi, pepohonan bumi dan kepentingan bumi dalam dua hari, Selasa dan Rabo. Yaitu ketika Allah berfirman:
“Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya”. (QS Fushilat : 9-10)
Demikianlah kejadiannya. Kemudian Allah menuju langit yang masih berupa asap. Asap itu timbul dari nafas air ketika bernafas, lalu Allah menjadikannya satu langit. Kemudian Dia membelahnya, lalu menjadikannya tujuh langit dalam dua hari, yaitu Kamis dan Jum’at”.
            Abdullah bin Salam ra bertutur: “Allah menciptakan makanan dan gunung pada hari Selasa dan Rabo”.
            Ibnu Abbas ra bertutur: “Allah menciptakan gunung pada hari Selasa, karena itu orang-orang berkata: “Selasa adalah hari yang berat”.
            Menurut kami, yang benar adalah tutur Ibnu Abbas ra, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Sesungguhnya Allah ta’ala menciptakan gunung-gunung dan manfaat yang ada padanya pada hari Selasa dan pada hari Rabo Dia menciptakan pepohonan, air, kota-kota, keramaian dan tanah kosong”.
            Juga diriwayatkan dari Nabi saw, bahwa Allah menciptakan gunung pada hari Ahad, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan hal yang dibenci pada hari Selasa, menciptakan nur pada hari Rabo. Demikian riwayat Abu Hurairah ra.
            Hadits pertama lebih sahih dan lebih layak untuk sahih, sebab demikianlah pendapat mayoritas ulama salaf.
            Pada hari Kamis, Allah menciptakan langit, lalu dibelah setelah sebelumnya berpadu, sebagaimana kami menerima penuturan dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat Nabi saw mengenai ayat:
“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap”. (QS Fushilat : 11)
Mereka berkata: “Asap itu timbul dari nafas air ketika bernafas dan Allah menjadikannya satu langit. Kemudian Allah membelahnya dan menjadikannya tujuh langit dalam dua hari, Kamis dan Jum’at”.
Hari disebut hari Jum’at, sebab pada pada hari itu Allah mengumpulkan langit dan bumi:
“Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya”. (QS Fushilat : 12)
Yakni pada tiap langit Allah menciptakan malaikat dan lautan, gunung es dan sesuatu yang tidak diketahui. Kemudian Allah menghiasi langit terdekat dengan bintang-bintang dan menjadikannya sebagai perhiasan dan penjagaan dari setan. Setelah selesai menciptakan apa yang Dia kehendaki, Allah bersemayam di Arasy, yaitu ketika Dia berfirman:
“Menciptakan langit dan bumi dalam enam masa”. (QS Hud : 7)
Dan berfirman:
            “Langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. (QS Al Anbiya’ : 30)
            Abdullah bin Salam ra bertutur: “Allah menciptakan langit pada hari Kamis dan Jum’at dan selesai pada jam terakhir dari Jum’at, lalu Dia menciptakan Adam dengan segera. Itulah waktu di mana hari kiamat terjadi”.
            Ibnu Abbas ra bertutur: “Allah menciptakan tempat-tempat sungai dan pohon pada hari Rabo, menciptakan burung, binatang liar, serangga dan binatang buas pada hari Kamis, menciptakan manusia pada hari Jum’at. Dia selesai menciptakan segala sesuatu pada hari Jum’at”.
            Apa yang dikatakan orang tersebut, bahwa Allah menciptakan langit, malaikat dan Adam pada hari Kamis dan Jum’at, adalah pendapat yang sahih menurut kami. Dasarnya hadits riwayat Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Dan pada hari Kamis Dia menciptakan langit, pada hari Jum’at menciptakan bintang, matahari, rembulan dan malaikat sampai tiga jam yang tersisa darinya. Lalu pada jam pertama dari tiga jam ini, Dia menciptakan ajal; orang yang hidup dan orang yang mati. Pada jam kedua Dia menimpakan petaka atas segala sesuatu dari yang dimanfaatkan  umat manusia dan pada jam ketiga Dia menciptakan Adam, menempatkannya di surga, menyuruh Iblis sujud kepadanya dan mengusir Iblis dari surga pada jam terakhir”.
            Abu Hurairah ra bertutur: “Nabi saw memegang tanganku, lalu bersabda:
            “Allah di bumi menebarkan binatang pada hari Kamis, menciptakan Adam makhluk terakhir setelah asar pada jam terakhir dari jam-jam Jum’at antara asar sampai malam”.
            Jika Allah menciptakan makhluk sejak mulai menciptakan langit dan bumi sampai selesai dari menciptakan mereka semua dalam enam hari, sedangkan masing-masing hari di mana Allah menciptakan mereka sama dengan seribu tahun hari dunia, dan jarak antara mulai mencipta makhluk dengan menciptakan kalam yang Dia perintah untuk menulis segala sesuatu yang akan terjadi sampai kiamat tiba, maka jelaslah waktu antara permulaan menciptakan apa yang Dia ciptakan sampai selesai menciptakan makhluk terakhir adalah tuju ribu tahun. Allah menambah sesuatu jika menghendaki atau mengurangi sesuatu sesuai dengan hadits dan atasr yang kami sebutkan. Kami tidak menuturkan banyak dari hadits dan atsar itu karena khawatir kitab ini menjadi tebal.
            Jika benar bahwa waktu antara selesainya Allah menciptakan seluruh makhluk sampai fananya seluruh makhluk sesuai dalil yang telah kami sebutkan dan dalil yang akan kami sebutkan adalah  tuju ribu tahun, kurang atau lebih sedikit, maka jelaslah bahwa waktu antara permulaan penciptaan Allah terhadap makhluk sampai terjadinya hari kiamat dan fananya seluruh alam semesta adalah empat belas ribu tahun, sama dengan empat belas hari akhirat. Tujuh tahun darinya yaitu tuju ribu tahun dunia adalah waktu antara permulaan penciptaan Allah terhadap makhluk pertama sampai selesai-Nya dari menciptakan makhluk terakhir yaitu Adam. Sedangkan tuju hari lain, yaitu tuju ribu hari dunia, waktu antara selesainya Allah dari menciptakan makhluk terakhir yaitu Adam sampai fananya makhluk terakhir dan terjadinya kiamat. Keadaan kembali ke asal, yaitu yang ada hanyalah Maha Esa yang menguasai perkara sebelum segala sesuatu, sehingga tidak ada apapun sebelum-Nya, dan yang ada setelah segala sesuatu, sehingga yang tersisa hanyalah Zat-Nya.
            Jika seseorang bertanya: “Apa dalilmu, bahwa tiap hari di mana Allah menciptakan makhluk sama dengan seribu tahun dunia, padahal hari itu tidak seperti hari dunia yang dikenal penghuni bumi? Allah hanya berfirman:
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa”. (QS Al Furqan : 59)
Ayat ini tidak memberitahukan apa yang anda sebutkan. Sebaliknya ia memberitahu kita, bahwa Allah menciptakan ketiganya dalam enam hari, sedangkan hari yang dikenal oleh orang-orang yang menerima firman adalah hari yang awalnya terbitnya fajar dan akhirnya adalah terbenamnya matahari. Menurut anda, firman Allah dalam Al Qur-an diartikan dengan makna yang paling masyhur dan paling dominan. Anda mengartikan firman Allah mengenai penciptaan langit bumi dan isinya dalam enam hari dengan selain makna yang dikenal. Perkara Allah jika Dia menghendaki sesuatu adalah hanya berfirman KUN FAYAKUN, sebagaimana Dia firmankan sendiri:
            “Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata”. (QS Al Qamar : 50)
            Kami jawab, kami sudah menuturkan sebelumnya, bahwa dalam kitab ini kami hanya berpegangan pada hadits dan atsar yang diriwayatkan dari Nabi saw dan ulama salaf saleh sebelum kami, bukan hasil buah pikiran dan renungan, sebab mayoritas isi kitab ini adalah berita hal yang telah lewat dan yang akan terjadi. Hal itu tidak bisa dihasilkan dengan berpikir.
            Jika dia bertanya: “Apakah ada hujah yang jelas atas benarnya hal tersebut dari segi hadits?”
            Kami jawab: “Setahu kami tidak akan seorangpun dari ulama Islam yang berpendapat berlawanan”.
            Jika dia bertanya: “Apakah ada riwayat satu orang dari mereka?”
            Kami jawab: “Ilmu tentang hal itu pada ulama saleh terlalu masyhur, sehingga tidak memerlukan riwayat yang dinisbatkan kepada satu orang khusus. Hal di atas diriwayatkan dari beberapa orang dari mereka yang namanya sudah disebutkan”.
            Jika dia bertanya: “Sebutkan mereka kepada kami”.
            Kami jawab: “Diriwayatkan kepada kami, bahwa Ibnu Abbas ra berkata: “Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, tiap hari dari hari-hari itu sama dengan seribu tahun dari apa yang kalian hitung”.
            Juga diriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas menafsiri ayat:
            “Dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS As Sajdah : 5)
Ibnu Abbas berkata: “Yakni enam hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi”.
            Adh Dhahhak menafsiri ayat:
            “Dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS As Sajdah : 5)
Adh Dhahhak berkata: “Yakni hari di antara enam hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya”.
            Adh Dhahhak juga menafsiri ayat:
            “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.” (QS Hud : 7)
 dan bertutur: “Enam hari dari hari akhirat, tiap hari sama dengan seribu tahun. Allah mulai menciptakan pada hari Ahad dan selesai pada hari Jum’at”.
            Ka’ab ra bertutur: “Allah mulai menciptakan langit dan bumi pada hari Ahad, Senin, Selasa, Rabo dan Kamis serta selesai pada hari Jum’at. Tiap hari sama dengan seribu tahun”.
            Mujahid bertutur: “Sehari dari enam hari sama dengan seribu tahun menurut hitunganmu”.
            Demikianlah. Tidak ada alasan seseorang berkata: “Bagaimana dikatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya dalam enam hari yang sama dengan enam ribu tahun dunia? Padahal jika menghendaki sesuatu, Allah cukup berfirman KUN FAYAKUN”. Sebab apa yang dikatakannya, juga ada dalam ucapan orang lain: “Allah menciptakan semua makhluk tersebut dalam enam hari dunia, sebab jika menghendaki sesuatu, Allah cukup berfirman KUN FAYAKUN”.
_____________________

Abi Muhamm, Pengasuh Pon-Pes Al Qoumaniyah (Pondok Bareng), Jekulo, Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar