Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Terjemah Tarikh Thabari: Makhluk Yang Pertama Kali Diciptakan [3]

Senin, 23 Februari 2015

Sahih hadits riwayat Ubadah bin Ash Shamit ra, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Sesungguhnya benda yang pertama diciptakan Allah adalah kalam, lalu Dia berfirman kepadanya: “Tulislah!” Maka saat itu juga kalam menulis apa yang akan terjadi”.
            Ibnu Abbas ra bertutur, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Sesungguhnya benda yang pertama diciptakan Allah adalah kalam dan Dia memerintahnua agar menulis segala sesuatu”.
            Atha’ bertanya kepada Al Walid bin Ubadah: “Apa wasiat ayahmu ketika akan meninggal dunia?” Al Walid menjawab: “Ayahku Ubadah bin Ash Shamit memanggil aku dan berkata: “Anakku, bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah, bahwa kamu tidak akan bertakwa kepada Allah dan tidak akan mendapat ilmu, kecuali jika kamu beriman kepada Allah dan takdir, baik maupun buruk. Aku mendengar Nabi saw bersabda:
            “Sesungguhnya benda yang pertama kali diciptakan Allah azza wa jalla adalah kalam, lalu Dia berfirman kepadanya: “Tulislah!” Kalam berkata: “Tuhanku, apa yang kami tulis?” Nabi bersabda: “Maka kalam saat itu juga menulis apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi sampai selamanya”.
            Ulama salaf sebelum kami berbeda pendapat mengenai hal itu dan kami akan menuturkan pendapat mereka, lalu menjelaskannya insya Allah
            Sebagian dari mereka berpendapat sebagaimana diriwayatkan dari Nabi saw.
            Ulama yang berpendapat demikian:
Abu Dhabyan bertutur, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Benda yang pertama kali diciptakan Allah adalah kalam, lalu Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!” Kalam berkata: “Apa yang kami tulis, Tuhanku?” Allah berfirman: “Tulislah takdir”. Maka kalam menulis apa yang terjadi mulai saat itu sampai terjadinya hari kiamat, kemudian asap air terangkat, lalu langit terbelah darinya”.
            Yang lain berkata: “Sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah cahaya dan gelap”.
            Ulama yang berpendapat demikian:
            Salamah bin Al Fadhl bertutur, bahwa Ibnu Ishaq berkata: “Yang pertama kali diciptakan Allah adalah cahaya dan kegelapan. Setelah itu, Allah memisahkan keduanya dan menjadikan kegelapan sebagai malam dan menjadikan terang sebagai siang yang terang”.
            Menurut kami, dari kedua pendapat itu, yang paling benar adalah pendapat Ibnu Abbas. Hal ini berdasarkan hadits yang kami tuturkan dari Nabi saw sebelumnya, yaitu sabda beliau: “Sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah kalam”.
            Jika seseorang bertanya: “Menurut anda, yang paling tepat dari kedua pendapat di atas adalah pendapat Ibnu Abbas, bahwa yang pertama kali diciptakan Allah adalah kalam. Namun bagaimana dengan ucapan Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Mujahid, bahwa dia berkata: “Beberapa orang mendustakan takdir”. Ibnu Abbas berkata: “Mereka mendustakan Al Qur-an. Sungguh kami akan mengambil rambut salah seorang dari mereka, lalu kami akan mengibaskannya. Allah berada di Arasy-Nya sebelum menciptakan sesuatu, lalu yang pertama kali diciptakan Allah adalah kalam, lalu kalam menulis sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat. Umat manusia hanya berlaku di atas sesuatu yang telah diselesaikan”.
            Dan bagaimana dengan ucapan Ibnu Ishaq mengenai firman Allah:
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya di atas air”. (QS Hud : 7)
Ibnu Ishaq berkata: “Arasy ada di atas air dan di Arasy adalah Allah. Maka yang pertama kali diciptakan Allah adalah cahaya dan gelap”.
            Kami jawab: “Ucapan Ibnu Abbas bahwa Arasy Allah ada di atas air sebelum Dia menciptakan sesuatu, lalu yang pertama kali diciptakan-Nya adalah kalam, jika memang benar itu adalah ucapan Ibnu Abbas, maka berarti menurut Ibnu Abbas Allah menciptakan kalam setelah menciptakan Arasy. Hadits tersebut dituturkan oleh Syu’bah dari Abu Hasyim, namun Syu’bah tidak mengatakan sebagaimana Sufyan, bahwa Arasy Allah di atas air, lalu sesuatu yang pertama kali diciptakan adalah kalam. Syu’bah menuturkan sebagaimana rawi lainnya, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah kalam”.
            Ulama yang berpendapat demikian:
Mujahid bertutur, bahwa Abdullah (tidak diketahui apakah yang dimaksud Ibnu Umar atau Ibnu Abbas) berkata: “Sesuatu yang pertama diciptakan Allah adalah kalam, lalu Dia berfirman kepadanya: “Tulislah!” Maka kalam menulis apa yang akan terjadi dan umat manusia pada hari ini hanya berbuat pada apa yang telah diselesaikan”.
            Ucapan Ibnu Ishaq yang telah kami tuturkan, artinya adalah Allah menciptakan cahaya dan kegelapan setelah menciptakan Arasy dan air yang Arasy ada di atasnya. Sabda Nabi saw yang telah kami tuturkan adalh paling layak untuk benar, sebab beliau adalah yang paling tahu. Kami bertutur, bahwa Nabi bersabda:
            “Sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah azza wa jalla adalah kalam”
tanpa mengecualikan apapun. Berarti penciptaan Allah terhadap kalam adalah dahulu. Bahkan sabda Nabi:
            “Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diciptkan Allah adalah kalam”
mencakup segala sesuatu dan menunjukkan bahwa kalam diciptakan sebelum segala sesuatu tanpa mengecualikan Arasy, air maupun lainnya.
            Hadits yang kami tuturkan dari Abu Dhabyan dan Abu Dhuha dari Ibnu Abbas lebih layak untuk sahih daripada riwayat Mujahid dari Ibnu Abbas lewat jalur Abu Hasyim, sebab riwayat darinya berbeda antara Syu’bah dan Sufyan.
            Sedangkan Ibnu Ishaq, dia tidak memusnadkan ucapannya kepada siapapun. Padahal masalah ini tidak bisa diketahui, kecuali lewat berita dari Allah atau Nabi saw.

Yang kedua setelah kalam
            Setelah menciptakan kalam dan setelah menyuruhnya untuk menulis apa yang terjadi sampai hari kiamat, Allah menciptakan awan tipis, yaitu awan yang yang disebutkan oleh Allah dalam Al Qur-an:
            “Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan”. (QS Al Baqarah : 210)
Hal itu sebelum Allah menciptakan Arasy dan demikianlah yang disebutkan oleh Nabi saw dalam hadits.
            Waki’ bin Hudus bertutur, bahwa pamannya Abu Razin berkata: “Ya Rasulullah, di mana Tuhan kita berada sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Nabi menjawab:
            “Dia ada di awan tinggi, di bawahnya tidak ada udara dan di atasnya tidak ada udara. Kemudian Dia menciptakan Arasy-Nya di atas air”.
            Waki’ bin Hudus bertutur, bahwa pamannya Abu Razin Al Uqaili berkata: “Ya Rasulullah, di mana Tuhan kita sebelum menciptakan langit bumi?” Nabi menjawab:
            “Dalam awan tinggi yang di atasnya udara dan di bawahnya udara, lalu Dia menciptakan Arasy di atas air”.
            Shafwan bin Muhriz bertutur, bahwa Ibnu Hashin ra berkata: “Sekelompok orang menghadap Nabi saw, lalu beliau memberi mereka berita gembira, lalu mereka berkata: “Berilah kami”. Sampai hal itu membuat Nabi susah, lalu mereka keluar dari sisi beliau. Datanglah sekelompok orang yang lain, lalu mereka menghadap dan berkata: “Kami semua datang untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah dan belajar Islam dan bertanya mengenai permulaan makhluk ini”. Nabi bersabda:
            “Maka terimalah berita gembira, sebab ia tidak diterima oleh orang-orang yang keluar itu”. Mereka berkata: “Kami terima”. Nabi saw bersabda: “Allah ada, tidak ada sesuatu selain Dia dan Arasy-Nya di atas air. Al Qur-an ditulisi sebelum segala sesuatu, lalu Dia menciptakan tuju langit”.  
            Setelah itu, seseorang mendatangi kami dan berkata: “Untamu lepas”. Maka keluarlah unta itu menuju fata morgana, padahal kami ingin membiarkannya”.
            Imran bin Hushain ra bertutur, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Terimalah berita gembira, hai Bani Tamim”. Bani Tamim berkata: “Anda telah memberi kami berita gembira, maka berilah kami”. Nabi lalu bersabda: “Terimalah berita gembira hai penduduk Yaman”. Penduduk Yaman berkata: “Kami menerima, lalu beritahulah kami, bagaimana permulaan makhluk ini?” Nabi menjawab: “Allah azza wa jalla di atas Arasy dan itu sebelum segala sesuatu dan Dia menulis segala sesuatu yang terjadi pada Lauh”.
            Seseorang mendatangiku dan berkata: “Hai Imran, untamu melepaskan talinya”. Maka kaimi berdiri, namun tiba-tiba fatamorgana menghalangi antara kami dan dia. Kami tidak tahu apa yang terjadi setelah itu?”
            Apa yang diciptakan Allah setelah awan tinggi dipersengketakan ulama. Sebagian dari mereka berkata: “Setelah awan itu, Allah menciptakan Arasy”.
            Ulama yang berpendapat demikian:
            Adhahhak bin Muzahim bertutur, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Allah azza wa jalla menciptakan Arasy pada permulaan menciptakan, lalu bersemayam di atas-Nya”.
            Ulama yang lain berkata: “Allah menciptakan air sebelum Arasy, lalu menciptakan Arasy, lalu meletakkannya di atas air.
            Ulama yang berpendapat demikian:
            Abu Malik dan Abu Shaleh bertutur, bahwa Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan beberapa orang sahabat Nabi berkata: “Allah azza wa jalla Arasy-Nya di atas air dan Dia tidak menciptakan sesuatu selain apa yang Dia ciptakan sebelum air”.
            Abdush Shamad bin Ma’qil bertutur, bahwa Wahb bin Munabbih berkata: “Arasy sebelum terciptanya langit bumi ada di atas air. Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan langit bumi, maka Dia menggenggam segenggam dari air jernih, allu membuka genggaman itu, lalu naik menjadi asap. Kemudian Allah merampungkan tujuh langit dalam dua hari dan membentangkan bumi dalam dua hari dan menyelesaikan penciptaan pada hari Sabtu”.
            Pendapat lain, bahwa yang diciptakan Allah setelah kalam adalah Kursi, lalu setelah kursi Arasy, lalu setelah itu Allah menciptakan udara dan kegelapan, lalu menciptakan air, lalu meletakkan Arasy di atas.
            Menurut kami, yang paling tepat dari kedua pendapat adalah pendapat yang mengatakan, bahwa Allah menciptakan air sebelum Arasy. Berdasarkan hadits yang dituturkan Abu Razin Al Uqaili, bahwa Nabi ditanya: “Di mana Tuhan kita berada sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Nabi menjawab: “Dia ada di awan tinggi, di bawahnya tidak ada udara dan di atasnya tidak ada udara. Kemudian Dia menciptakan Arasy-Nya di atas air”. Hadits ini menunjukkan, bahwa Allah menciptakan Arasy di atas air. Jika Allah menciptakan Arasy di atas air, maka mustahil jika Arasy ada sementara air belum ada, baik sebelumnya atau bersamanya. Jika demikian, maka Arasy hanya ada dua kemungkinan. Bisa diciptakan setelah Allah menciptakan air dan bisa Arasy dan air diciptakan Allah bersamaan. Jika Arasy diciptakan sebelum air, maka mustahil menurut penuturan Abu Razin.
            Pendapat lain, air ada di atas angin pada saat Allah menciptakan Arasy di atas air. Jika demikian, maka air dan angin diciptakan sebelum Arasy.
            Ulama yang berpendapat demikian:  
Said bin Jubair bertutur, bahwa Ibnu Abbas ditanya mengenai ayat:
            “Dan adalah Arasy-Nya di atas air” (QS Hud : 7)
Air berada di atas apa? Ibnu Abbas menjawab: “Di atas angin”.
            Langit, bumi dan seluruh isinya dikelilingi oleh laut-laut dan semua benda tersebut dikelilingi oleh Haikal, dan konon Haikal dikelilingi oleh Kursi.
            Ulama yang berpendapat demikian:
Abdush Shamad bertutur, bahwa Wahb berkata tentang besarnya haikal sambil berkata: “Langit, bumi dan laut ada di dalam Haikal dan haikal ada di dalam Kursi”. Wahb ditanya: “Apa Haikal itu?” Wahb menjawab: “Suatu benda dari ujung langit yang mengelilingi bumi dan laut bagaikan tali tenda”.
            Wahb juga ditanya mengenai bumi ini, bagaimana ia? Wahb menjawab: “Bumi ada tujuh yang dibentangkan berupa beberapa pulau. Antara tiap dua bumi ada laut dan laut mengelilingi bumi, sementara Haikal ada di balik laut”.
            Pendapat lain, antara menciptakan kalam dan menciptakan makhluk yang lain terpaut seribu tahun.
            Ulama yang berpendapat demikian:???
Arthah bin Al Mundzir bertutur, bahwa Dhamrah berkata: “Allah menciptakan kalam, lalu dengannya Dia menulis apa yang Dia ciptakan dan yang terjadi dari makhluk-Nya. Tulisan itu mensucikan Allah dan mengagungkan-Nya selama seribu tahun sebelum Dia menciptakan makhluk lainnya. Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan langit dan bumi, maka Dia menciptakannya selama enam hari. Tiap hari dinamai dengan nama yang berbeda”.
            Konon nama hari pertama dari enam hari di atas adalah Abjad, hari kedua Hawaz, hari ketiga Hutay, hari keempat Kalman, hari kelima Sa’fas, hari keenam Karsat.
            Termasuk orang yang berpendapat demikian adalah Adh Dhahhak bin Muhazim, dia bertutur: “Allah menciptakan tuju langit dan bumi pada enam hari dan masing-masing hari mempunyai nama: Abjad, Hawaz, Hutay, Kalman, Sa’fas dan Karsat.”
            Adh Dhahhak juga bertutur, bahwa Zaid bin Aslam berkata: “Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam har dan masing-masing hari memiliki nama: Abjad, Hawaz, Hutay, Kalman, Sa’fas dan Karsat.”
            Ulama lain berpendapat: “Allah menciptakan satu hari dan menamainya Ahad, menciptakan hari kedua dan menamainya Itsnain (Senin), menciptakan hari ketiga dan menamainya Tsulatsa’ (Selasa), menciptakan hari keempat dan menamakannya Arbia’ (Rabo) dan menciptakan hari kelima dan menamainya Khamis (Kamis)”.
            Termasuk ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abbas yang bertutur: “Sesungguhnya Allah menciptakan satu hari dan menamainya Ahad, menciptakan hari kedua dan menamainya Itsnain (Senin), menciptakan hari ketiga dan menamainya Tsulatsa’ (Selasa), menciptakan hari keempat dan menamakannya Arbia’ (Rabo) dan menciptakan hari kelima dan menamainya Khamis (Kamis)”.
            Sebenarnya kedua pendapat di atas tidak berbeda, sebab bisa saja nma-nama hari adalah yang diriwayatkan oleh Atha’ dari Ibnu Abbas menurut bahasa Arab, sedangkan dengan bahasa lain adalah nama-nama yang diriwayatkan Dhahhak bin Muzahim.
            Pendapat lain, jumlah hari adalah tujuh, bukan enam.
            Termasuk yang berpendapat demikian adalah Wahb bin Munabbih yang bertutur: “Hari-hari ada tujuh”.
            Kedua pendapat di atas, yang pertama kami riwayatkan dari Dhahhak dan Ibnu Abbas bahwa Allah menciptakan enam hari, yang kedua kami riwayatkan dari Wahb bahwa jumlah hari adalah tujuh, keduanya sahih dan tidak bertentangan. Alasannya, makna ucapan Ibnu Abbas dan Adh Dhahhak adalah hari-hari di mana Allah menciptakan makhluk sejak mulai menciptakan langit dan bumi serta isinya sampai selesai yaitu enam hari, sebagaimana firman Allah:
            “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa”. (QS Hud : 7)
Dan arti ucapan Wahb adalah jumlah hari hari dalam seminggu ada tujuh, bukan enam.
            Ulama salaf berbeda pendapat mengenai hari pertama Allah menciptakan langit dan bumi. Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa hari itu adalah hari Ahad.
            Yang berpendapat demikian adalah Abdullah bin Salam ra, dia berkata: “Allah mulai menciptakan makhluk, lalu menciptakan bumi pada hari Ahad dan hari Senin”.
            Juga Ka’b ra, dia bertutur: “Allah memulai menciptakan makhluk dan menciptakan langit bumi pada hari Ahad dan Senin”.
            Juga Adh Dhahhak yang berkomentar mengenai ayat:
                        “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa”. (QS Hud : 7)
Dia berkata: “Enam hari dari hari akhirat, tiap hari sama dengan seribu tahun. Allah memulai penciptaan pada hari Ahad”.           
            Ulama lain mengatakan: “Allah mulai menciptakan pada hari Sabtu’.
            Muhammad bin Abu Ishaq yang bertutur: “Pengikut Taurat berkata: “Allah mulai menciptakan pada hari Ahad”. Pengikut Injil berkata: “Allah mulai menciptakan pada hari Senin”. Kita kaum muslimin berkata berdasarkan hadits yang sampai kepada kita dari Nabi saw, bahwa Allah mulai menciptakan pada hari Sabtu”.
            Kedua kelompok di atas yang berbeda pendapat, masing-masing mendasari pendapatnya dengan hadits Nabi saw. Pendapat pertama mengatakan bahwa mulai penciptaan adalah hari Ahad dan pendapat kedua mengatakan bahwa mulai penciptaan adalah hari Sabtu. Kedua hadits telah kami sebutkan, hanya saja di sini kami mengulangi sebagian hadits yang menjadi dasar kesahihan pendapat mereka.
            Hadits yang mendasari pendapat bahwa mulai penciptaan hari Ahad adalah hadits Ibnu Abbas, bahwa kaum Yahudi menghadap Nabi saw dan bertanya mengenai penciptaan langit dan bumi, maka Nabi menjawab:
            “Allah menciptakan bumi pada hari Ahad dan Senin”.
            Hadits yang mendasari pendapat bahwa mulai penciptaan hari Sabtu adalah hadits Abu Hurairah: “Nabi saw memegang tanganku, lalu beliau bersabda:
            “Allah menciptakan tanah pada hari Sabtu dan menciptakan gunung-guung pada hari Ahad”.
            Menurut kami, dari kedua pendapat di atas yang paling sahih adalah pendapat yang mengatakan, bahwa Allah mulai penciptakan langit dan bumi pada hari Ahad, sebab ulama salaf sepakat akan hal ini.
            Alasan Ibnu Ishaq berpendapat bahwa Allah mulai menciptakan pada hari Sabtu adalah Allah selesai menciptakan seluruh makhluk pada hari Jum’at, yaitu hari ketujuh dan hari di mana Dia bersemayam di Arasy dan hari yang merupakan hari raya bagi muslimin. Namun alasan tersebut justru menjadi senjata makan tuan, sebab Allah berfirman berkali-kali dalam Al Qur-an, bahwa Dia menciptakan langit bumi dan isinya dalam enam hari. Misalnya ayat:
            “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS As Sajdah : 4)
Dan ayat:
 “Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS Fushilat : 9-12)
Tidak ada perselisihan di antara ulama, bahwa dua hari yang disebutkan Allah dalam firman: ‘Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa’ termasuk dalam enam hari yang disebutkan sebelumnya. Karena Allah hanya menciptakan langit dan bumi serta isinya dalam enam hari, sedangkan hadits-hadits dari Nabi saling menguatkan bahwa yang terakhir diciptakan Allah adalah Adam dan Allah menciptakannya pada hari Jum’at, maka jelaslah bahwa hari Jum’at di mana Allah selesai menciptakan makhluk adalah termasuk enam hari di mana Allah menciptakan makhluk. Seandainya Jum’at tidak termasuk enam hari tersebut, mak Allah menciptakan makhluk dalam tujuh hari, bukan enam hari, sedangkan hal ini bertentangan dengan isi Al Qur-an. Karena itu jelaslah, bahwa hari pertama Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya adalah Ahad, sebab hari terakhir adalah Jum’at, sebagaimana firman Allah
Hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw dan para sahabat yang menunjukkan, bahwa Allah menyelesaikan penciptaan pada hari Jum’at, akan kami sebutkan di tempatnya insya Allah.

____________________

Oleh: Abi Muhamm, Pengasuh Pon-Pens Al Qaoumaniyah (Pondok Bareng), Jekulo, Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar