Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

ULAMA BESAR YANG (JOMBLO) TIDAK MENIKAH

Kamis, 19 Februari 2015

Oleh: KH. Husein Muhammad *

Teman-teman yang masih "Jomblo". Tak usah gundah-gulana, gelisah dan malu, jika masih belum menemukan Jodoh, kekasih hati. Kalian tidak sendiri. Banyak ulama besar yang tidak menikah sepanjang hidupnya. Itu pilihan hidup. Aku tidak menganjurkan menjomblo lho ya?. He he he

IBNU JARIR AL-THABARI

Ibnu Jarir al-Thabari . nama lengkapnya Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari (224-310 H/838-923 M). Lahir di Tabaristan, sebuah kota di Turkmenistan, Selatan Laut Kaspia. Ia dikenal sebagai Imam Mujtahid Mutlak, ahli tafsir, ahli hadits, sejarawan, faqih, Ushuli (ahli teori fiqh) dan ahli bahasa. Ia penulis yang sangat produktif. Ia menulis puluhan buku dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Karyanya yang sangat terkenal antara lain : Tafsir al-Qur’an berjudul “Jami’ al-Bayan “an Ta’wil Ayi al-Qur’an” (30 jilid) dan “Tarikh al-Rusul, wa al-Anbiya wa al-Muluk wa al-Umam”, Sejarah para utusan Tuhan, para Nabi, Raja-raja dan bangsa-bangsa-bangsa, 8 jilid, masing-masing 700 halaman. Kemudian “Tahdzib al-Atsar”, “Ikhtilaf Ulama al-Amshar”, “Adab al-Qadhi” (Etika Hakim), dll.

Dia menceritakan semasa kecilnya : “Aku sudah hafal al-Qur’an pada usia 7 tahun”. “Aku menjadi Imam shalat padaa usiaku 8 tahun”. “Aku menulis hadits waktu usiaku 9 tahun”.
Ibnu Jarir tidak menikah sampai akhir hayatnya. Orang arab menyebutnya sebagai “Azib”. Pluralnya adalah : ‘Uzzab. Ini adalah pilihan hidupnya. Sebagai ulama besar, ia tentu bukan tidak mengerti tentang hadits Nabi soal Nikah. Hari-harinya dilalui untuk menuntut ilmu di berbagai tempat, kepada para ulama besar. Dan menulis. Seorang muridnya, al-Simsimi, menceriakan : “Ibnu Jarir al-Thabari menulis buku selama 40 tahun. Setiap hari 40 lembar.

Menulis Tafsir dan Sejarah 7 tahun

Suatu hari, Ibnu Jarir mengatakan kepada para santrinya : “apakah kalian sanggup dan bersemangat menuliskan Tafsir al-Qur’an?”. Mereka menjawab : “Kira-kira akan berapa lembar?”. “Ya sekitar 30.000 lembar”, jawab al-Imam. Mereka mengatakan : “Wah, ini akan menghabiskan umur kami, bahkan mungkin sebelum kitab ini selesai ditulis”. “Kalau begitu aku akan ringkas menjadi 3000 lembar saja”, ujar al-Imam. Lalu ia mendiktekan tafsirnya setiap hari, hingga 7 tahun. Yaitu dari tahun 283 hingga tahun 290 H.
Ia juga menulis sejarah para nabi, sejak Nabi Adam, para raja dan bangsa-bangsa di dunia. Ia menanyakan kepada para santrinya pertanyaan yang sama : “Apakah kalian sanggup menuliskan Sejarah dunia sejak Nabi Adam sampai hari ini?. Mereka menjawab seperti ketika menjawab penulisan Tafsir. Imam mengatakan : “Inna Lillah, semangat kalian masih rendah. Jika begitu aku akan mendiktekannya kepada kalian seperti ketika kalian menulis Tafsir : 3000 halaman”. Dan Kitab “Tarikh al-Umam wa al-Muluk” itu selesai tahun 303 H.

Seorang sahabatnya menceritakan bahwa dia mengumpulkan karya-karya tulis Imam Ibnu Jarir al-Thabari. Lalu menghitung sambil mengkonversikannya dengan usianya yang 80 tahun. Maka ditemukan bahwa Ibnu Jarir setiap hari menghasilkan tulisan 14 halaman.

Siapa bisa menandingi?

__________


*K.H. Husein Muhammad, lahir di Cirebon, 9 Mei 1953. Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, tahun 1973 melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur-an (PTIQ) Jakarta. Tamat tahun 1980.

Kemudian melanjutkan belajar ke Al-Azhar, Kairo, Mesir. Di tempat ini ia mengaji secara individual pada sejumlah ulama Al-Azhar.Kembali ke Indonesia tahun 1983 dan menjadi salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid, yang didirikan kakeknya tahun 1933 sampai sekarang.

Tahun 2001 mendirikan sejumlah lembaga swadaya masyarakat untuk isu-isu Hak-hak Perempuan, antara lain Rahima, Puan Amal Hayati, Fahmina Institute dan Alimat.

Sejak tahun 2007 sampai sekarang menjadi Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Tahun 2008 mendirikan Perguruan Tinggi Institute Studi Islam Fahmina di Cirebon. Aktif dalam berbagai kegiatan diskusi, Halaqah, dan seminar keislaman, khususnya terkait dengan isu-isu Perempuan dan Pluralisme, baik di dalam maupun di luar negeri.

Suami Lilik Nihayah Fuadi dengan 5 orang anak ini aktif menulis di sejumlah media massa, menulis dan menerjemahkan buku. Ada sekitar 10 buku karya yang dihasilkannya. Salah satu bukunya yang banyak digunakan sebagai referensi aktivis perempuan adalah “Fiqh Perempuan, Refleksi Kiyai atas Wacana Agama dan Gender”. Karyanya yang lain adalah “Islam Agama Ramah Perempuan”, “Ijtihad Kiyai Husein, Upaya Membangun Keadilan Gender”, “Dawrah Fiqh Perempuan“ (modul pelatihan), “Fiqh Seksualitas”, “Fiqh HIV/AIDS”, “Mengaji Pluralisme Kepada Maha Guru Pencerahan”,”Sang Zahid, Mengarungi Sufisme Gus Dur”, “Menyusuri Jalan Cahaya”, dan lain-lain.

Ia menerima penghargaan Bupati Kabupaten Cirebon sebagai Tokoh Penggerak, Pembina dan Pelaku Pembangunan Pemberdayaan Perempuan (2003), penerima Award (penghargaan) dari Pemerintah AS untuk “Heroes To End Modrn-Day Slavery”, tahun 2006. Namanya juga tercatat dalam “The 500 Most Influential Muslims” yang diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center, tahun 2010, 2011-2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar