Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

ULAMA BESAR YANG MEMILIH (JOMBLO) TIDAK MENIKAH (2)

Kamis, 19 Februari 2015


IMAM MUHYIDDIN AL-NAWAWI

Ulama lain yang tidak menikah sampai akhir hayatnya adalah Imam Nawawi. Ia lebih memilih jalan hidup dengan menekuni ilmu pengetahuan dan menyebarkannya sekaligus mengabdi kepada umat. Nama lengkapnya adalah Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husein bin Muhammad bin Jum'ah bin Hizam, seorang faqih Syafi'i, ahli hadits dan zahid. Ia dikenal dengan panggilan Abu Zakariya Muhyiddin al-Nawawi, bergelar “Syeikh al-Islam”. Lahir tahun 631 H di Nawa sebuah desa di Kecamatan Hauran, Siria.

Nawawi ini bukanlah Nawawi al-Bantani. Para ulama pesantren biasanya membedakan keduanya dengan panggilan kehormatan terhadap keduanya. Nawawi yang pertama biasanya disebut dengan gelar al-Imam, sementara Nawawi yang kedua disebut Syeikh atau Kiyai. Keduanya adalah ulama besar yang karya-karyanya diajarkan di semua pondok pesantren selama berabad-abad. Nama Imam Nawawi, ulama besar yang sedang kita ceritakan ini adalah paling banyak diingat oleh para ulama NU sesudah Imam al-Syafi’I, ketika acara Bahtsul Masail. Yakni membahas masalah-masalah keagamaan untuk menjadi keputusan lembaga. Para ulama NU dalam system pengambilan keputusan agama menyepakati sebuah pedoman yang diambil dari kitab “I’anah al Thalibin”, karya Abu Bakar Syatha, bermazhab Syafi’i. Kitab ini menyebutkan hirarki pengambilan keputusan fiqh : 1. Pendapat yang disepakati oleh Imam Nawawi dan Imam Rofi’i. Jika tidak ada kesepakatan keduanya, maka diambil 2. Pendapat Imam Nawawi. 3. Pendapat Imam Rafi’i.4. Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama.5. Pendapat faqih yang terpandai (a’lam) dan 6. Pendapat faqih yang paling wara’ (zuhud).

Pilihan mendahulukan Imam Nawawi dan Imam Rafi’i (Abu al Qasim Abd al Karim bin Muhammad al Rafi’i. w.623 H) didasarkan atas pandangan bahwa keduanya adalah “Muharrir al-Mazhab”, , yakni orang yang mampu menseleksi dan memverifikasi pendapat-pendapat Imam al-Syafi’i. Oleh karena itu keduanya dipandang sebagai “Mujtahid Tarjih” dalam mazhab al-Syafi’i. Di tangan kedua ahli fiqh terkemuka ini seluruh pikiran-pikiran mazhab Syafi’i menemukan titik seleksi secara final. Dan jika kedua berbeda pendapat, maka pendapat Imam Nawawi yang diambil. Alasannya adalah Imam Nawawi merupakan “faqih muhaddits”, sementara Imam Rafi’i hanya seorang “faqih”. Ada juga alasan lain. Dan ini bersifat mistis. Saya mendengar dari seorang guru yang konon dia mendengar dari seorang Kiyai, bahwa Imam Nawawi memeroleh prioritas daripada Imam Rafi’I adalah karena “manakala Imam Rafi’I menulis bukunya, maka pena yang digunakan untuk menulis itu bercahaya. Sedangkan jika Imam Nawawi sedang menulis buku, maka yang bersinar adalah jari-jarinya”. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Aktifitas Belajar Imam Nawawi

Imam Nawawi adalah ulama yang hidup dalam kemiskinan. Makanannya sehari-hari hanyalah roti kering yang dibagikan sekolahnya. Ia sangat rajin dan tekun dalam belajar. Allah memberinya anugerah kekuatan fisik dan mental yang luar biasa, sehingga dalam satu hari ia dapat belajar 12 bidang ilmu pengetahuan, meliputi hadits, ilmu hadits, ushul fiqh, bahasa, “tashrif”, kalam (teologi), mantiq (logika), dan lain-lain. Ia pernah punya keinginan untuk mempelajari ilmu kedokteran, tetapi gagal. Ia menceritakan keinginan ini : “Aku pernah tertarik untuk mempelajari kitab “Al-Qanun fi al-Thibb”, (matera medica), karya filsuf dan dokter terkemuka : Ibnu Sina (di Barat dikenal sebagai Avicenna). Lalu aku membelinya. Tetapi hatiku resah. Aku stress selama beberapa hari sehingga aku tak bisa melakukan apa-apa. Begitu sembuh aku menjual buku itu. Dan hatiku kembali bercahaya”.

Menurut al-Dzahabi, selama 20 tahun Imam Nawawi tidak pernah berhenti belajar dan itu dilakukannya siang - malam, di tempat di manapun, bahkan dalam perjalanan, sambil tetap hidup dalam kesederhanaannya, zuhud, dan berdakwah. Sesudah itu ia menulis banyak buku. Ia pernah memimpin lembaga pendidikan Dar al Hadits, menggantikan Syeikh Syihab al Din Abu Syamah. Untuk jabatan ini ia tidak mengambil upah sedikitpun. Ia dengan senang hati menerima cara hidup bersahaja dari kiriman orang tuanya.

Karya-karya Nawawi

Imam Nawawi adalah penulis produktif. Ia telah berhasil menulis sejumlah karya penting dan dijadikan standar atau semacam buku paling otoritatif (mu’tabar) dalam mazhab Syafi’i. Beberapa di antaranya adalah : Syarh Shahih Muslim, Riyadh al Shalihin, Al Minhaj syarh Muslim ( hadits ), Al Adzkar, Al-Majmu’ Syarh al Muhadzdzab ( fiqh ), Al Idhah fi Manasik al Hajj, Al Tibyan fi Adab Hamalat al Qur-an, Al Khulashah fi al Hadits, karya ringkasan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Syarh al- Muhadzdzab, Al Arba'in al Nawawiyah ( hadits ). Semua kitab-kitab Imam Nawawi ini terus diaji diseluruh pesantren di Indonesia sampai hari ini.

Menjaga Jarak dengan Kekuasaan dan Kritis

Imam Nawawi dikenal sebagai ulama yang tidak terlalu suka dengan para penguasa pada masanya. Ia acap mengkritisi kebijakan mereka. Meski demikian ia tetap mendo’akannya. Suatu saat ia menulis surat untuk penguasa : “Dari hamba Allah, Yahya al-Nawawi. Keselamatan, kasih saying dan keberkatan Allah semoga dilimpahkan kepada tuan. Kepada Raja Badr al-Din. Semoga Allah melanggengkan kebaikan kepada anda. Semoga pula Allah mengabulkan cita-citanya : kenikmatan duniawi dan ukhrawi, dan Dia memberkati semua tindakannya”. Salam Yahya al-Nawawi.

Bulan Rajab 676 H, Nawawi meninggal dunia dan dikebumikan di desanya. Kuburannya diziarahi banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Tetapi beberapa hari lalu, kuburan sang Imam dihancurkan oleh kelompok yang mengaku muslim dan menamakan dirinya ISIS. Ini sebuah tindakan yang biadab, anti peradaban dan melukai kaum muslimin, terutama para pengikut mazhab Syafi’i. Ghafara Allah Lahu wa Rahimah, wa Ij’al al-Jannah Matswah wa Ma’wah.

***

Oleh: KH.Husein Muhammad, Pengasuh Pon-Pes Dar al-Tauhid, Cirebon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar