Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

ULAMA NUSANTARA DALAM WACANA KEILMUAN DI DUNIA ISLAM ABAD 17 - 19 M DAN BIOGRAFI SYEIKH ALI BIN ABDUL QADIR, KUDUS

Rabu, 18 Februari 2015

Semenjak abad 17 M, Nusantara bisa dibilang banyak melahirkan putra-putra terbaiknya dalam bidang keilmuan islam. Beberapa diantaranya bahkan masyhur di dunia islam secara umum dan menjadi tokoh besar yang sangat berpengaruh dalam literatur keilmuan. Sebut saja semisal Syeikh Abdur Rauf Singkili, Syeikh Nawawi bin Umar Banten, Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syeikh Mahfudz bin Abdullah bin Abdul Mannan Termas-Pacitan, dan masih banyak lagi.

Para Ulama-Ulama tsb adalah orang yang membuka jendela keilmuan di Nusantara. Bisa dikatakan, mereka ibarat jembatan awal yang menghubungkan mata rantai keilmuan (sanad) antara Ulama Jawa dengan Ulama islam secara umum. Dari mereka pula transmisi madzhab dan kitab-kitab islam ke Nusantara dimulai. Hal ini bisa kita baca dari biografi mereka yang bisa kita baca dalam buku-buku sejarah dan buku tsabat mereka. (Tsabat : kumpulan Guru dan sanad Ulama).

Sepanjang catatan sejarah, Hampir tak diketemukan fenomena keilmuan yang mencolok di Nusantara sebelum abad-abad tersebut. Kalau-pun ada, mungkin gaungnya tak sekeras pada masa berikutnya. Ambil contoh seperti dalam kerajaan Samudera Pasai. Ibnu Bathuthah, seorang penglana muslim menulis dalam buju rihlah-nya : bahwa di era kerajaan Samudera Pasai, sudah banyak Ulama Syafi'iyah yang dikirim ke kerajaan.dan juga terdapat banyak tempat-tempat kajian madzhab Syafi'i. Namun sekali lagi, mata rantai seperti yang kami maksudkan itu belum terlihat coraknya.

Baru di abad ke 17, Transmisi keilmuan antar bangsa itu mulai terjalin secara lebih jelas. Jaringan keilmuan dan genealogi sanad pun mulai terbentuk secara rapi. Hal ini bisa dibuktikan dengan hadirnya Syeikh Nurud Din ar-Raniri (w. 1068 H / 1658 M), Hamzah Fanshuri, dan Abdur Rauf Singkili (w. 1105 / 1693 M).
Di era sesudahnya, estafet keilmuan mereka berdua diteruskan oleh Syeikh Yusuf al-Makassari. Murid dari Nurud Din ar-Raniri ini juga tecatat mempunya genealogi keilmuan dengan Ulama islam di Dunia islam. Tercatat bahwa ia pernah belajar dengan Ali bin Muhammad as-Syaibani az-Zabidi (w 1072 / 1661 M). Seorang ahli hadits kenamaan dari daratan Yaman. Ia juga pernah belajar dengan Ibrahim al-Kurani, bahkan dipercaya untuk menyalin naskah Al-Durrat al-Fakhirah dan Risalah fi al-Wujud karya Nur al-Din al-Jami (w. 898 / 1492 M). Perlu digarisbawahi, bahwa Ibrahim al-Kuani ini merupakan salah satu murid dari Nur al-Din Ali as-Syibramilsi (w. 1082 M), salah satu tokoh kenamaan madzhab Syafi'i yang menulis Hasyiyah dari Nihayah al-Muhtaj karya imam Muhammad Ramli (w. 1004 H).

Singkatnya, sebagaimana ditulis Azyumardi Azra dalam bukunya, Jaringan Ulama Nusantara abad 17, bahwa Abdur Rauf as-Sinkili, Nurud Din ar-Raniri dan Yusuf al-Makassari (w. 1111 H / 1699 M) merupakan tokoh terpenting dalam sanad keilmuan di Nusantara pada abad 17.

Kemudian di abad 18 M, jaringan keulamaan Nusantara dengan dunia islam itu terjalin semakin erat. Tercatat ada ratusan Ulama-Ulama Nusantara yang berbondong-bondong belajar ke Makkah-Madinah. Bahkan tak jarang, mereka juga menduduki staf pengajar dan imam di Masjidil Haram. Serta menjadi tokoh kenamaan dalam lingkaran keilmuan di abad tsb. Semisal Syeikh Arsyad Banjar (w. 1227 / 1812), Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani (w. 1203 H / 1789 M) , Abdul Wahhab al-Bughisi. Ketiganya adalah murid dari Syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, mufti syafi'iyah ternama di Madinah, serta penulis beberapa kitab penting seperti Fawaid al-Madaniyah, Hasyiyah al-Madaniyah atas Mukhtashar Bafadhal dan banyak lagi. Kemudian disusul dengan era Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 / 1916 M), Syeikh Nawawi bin Umar al-Jawi (w. 1316 H / 1898 M, dan masih banyak lagi.

BIOGRAFI SYEIKH ALI KUDUS - JAWA TENGAH (W. 1293 H / 1874 M).

Dari ratusan Ulama Nusantara yang masyhur di dunia islam di abad 18 M, setidak-nya terdapat 3 (tiga) tokoh Ulama yang berdarah Kudus. Ketiganya adalah satu silsilah keturunan. Yakni Syeikh Ali bin Abdul Qadir Khatib bin Abdullah Qudus (w. 1293 H / 1874 M), kemudian puteranya, Abdul Hamid bin Ali Qudus, dan cucunya yang bernama Ali bin Abdul Hamid bin Ali Qudus. Keduanya merupakan Ulama masyhur yang banyak mendidik Ulama-Ulama kondang. Mereka juga menyandang gelar sebagai pengajar di Masjidil Haram. Salah satu prestasi prestisius saat itu yang tidak bisa disandang sembarangan orang.
Dalam tulisan di bawah ini, penulis akan mengupas biografi singkat tentang Syeikh Ali Qudus terlebih dulu. Mengingat beliau-lah tokoh utama yang berasal dari Kudus dalam percaturan Ulama Hijaz. Serta karena lahir dan masa kecilnya adalah Kudus itu sendiri.

Nama lengkap beliau adalah Ali bin Abdul Qadir bin Abdullah Qudus. Tak diketahui kapan ia lahir, Hanya saja ia lahir di daerah Kudus-Jawa tengah. Nenek moyangnya sebenarnya berasal dari Yaman, kemudian mereka hijrah ke Indonesia dan banyak mempunyai keturunan di sini.

Saat beranjak dewasa, Syeikh Ali Qudus melakukan rihlah ilmiah ke kota Makkah. Ia belajar dari para Ulama-Ulama kondang saat itu. Diantaranya kepada Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (w. 1304 / 1886 H), Syeikh Ahmad Nahrawi (w. 1291 H / 1872 M), Syeikh Yusuf as-Sunbulawini (w. 1285 H / 1866 M), dll.
Dari beberapa guru yang ia serap ilmunya, Syeikh Ahmad Zaini Dahlan-lah yang paling lama ia pelajari. Darinya ia belajar berbagai macam ilmu, dan akhirnya memperoleh seluruh sanad keilmuan yang dimilikinya.

Puncak kelimuan Syeikh Ali Qudus terjadi saat ia mendapat restu dari syeikh Ahmad Zaini Dahlan untuk mengajar di Masjidil Haram. Prestasi ini, menurut Abdul Wahab Abu Sulaiman adalah merupakan gelar ilmiah yang prestisius. Karena menjadi staf pengajar di Masjidil Haram memudahkan seseorang untuk menjadi Qadhi (Hakim), Mufti, Khatib, imam Masjidil Haram dan Guru besar Islam.

Sesudah menjadi staf pengajar ini, Syeikh Ali Qudus mulai sibuk mengajar diri di Masjidil Haram. Banyak orang-orang jawa yang datang ke halaqah-nya dan menjadi muridnya. Berbagai kitab-kitab Ulama satu persatu dibaca. Puteranya, Abdul Hamid Qudus sempat mengatakan bahwa ayah-nya pernah mengajar kitab Syarh Taqrib karangan Qadhi Abu Syuja', dan Syarh al-Ajurumiyah satu tahun sebelum wafatnya.
Syeikh Ali Qudus terhitung sukses dalam mendidik murid-muridnya. Banyak para Ulama yang lahir dari hasil didikannya tsb. Diantaranya adalah putranya sendiri, Syeikh Abdul Hamid bin Ali Qudus. Sebagaimana ayahnya, Syeikh Abdul Hamid Qudus juga menjadi pengajar di Masjidil Haram. Bahkan ia sempat ditunjuk Syarif Ali Pasya untuk menjadi imam madzhab Syafi'i di Masjidil Haram.

Syeikh Abdul Hamid Qudus juga sangat produktif dalam menulis. Tak kurang ia menghasilkan 21 karya ilmiah dalam berbagai disiplim ilmu. Menurut Abdul Wahab Abu Sulaiman, Karya Syeikh Abdul Hamid Qudus ini merupakan salah karya-karyanya paling ditunggu oleh para penerbit kitab saat itu.
Syeikh Ali bin Abdul Qadir Qudus wafat di Makkah pada tahun 1293 H / 1875 M. Dan meninggalkan 3 orang putera. Syeikh Ali Qudus dmakamkan di pemakaman Ma'la.

Gelar Qudus dalam nama Ali Qudus dan Abdul Hamid Qudus.

Banyak pihak yang meragukan bahwa nama Qudus dalam gelar Syeikh Ali Qudus dan Abdul Hamid Qudus merujuk kepada kota kudus - Jawa tengah. Sebagian pihak mengatakan bahwa Qudus di situ yang dimaksud adalah Qudus-Palestina. Sementara pihak lain mengatakan, Qudus di situ berasal dari Yaman.
Hal ini janggal. Sebab Abdullah Mirdad Abu al-Khair (w. 1343 H) yang notabene semasa dengan Syeikh Abdul Hamid Qudus menulis dalam Mukhtashar Nasyr an-Nur wa az-Zuhr (cetakan 1986 M) bahwa gelar Qudus menunjuk kepada kota Kudus di Jawa yang merupakan tempat lahir Syeikh Ali Qudus. Demikian pula yang dikatakan Abdullah bin Abdur Rahman al-Muallimi dalam A'lam al-Makkiyin.

Lebih jelas lagi, Abu Bakar Badzaib dalam tahqiq-nya terhadap buku Dzakhair al-Qudsiyah, mengutip keterangan langsung dari Ali bin Abdul Hamid bin Ali Qudus (cucu Syeikh Ali Qudus), bahwa Qudus yang dimaksud adalah daerah yang dekat dengan Semarang.

Hemat penulis, faktor yang menyebabkan sebagian pihak mengatakan bahwa Qudus di sini merujuk kepada Qudus di Palestina, adalah karena adanya keserupaan dengan istilah Quds yang biasa merujuk kepada Palestina.

Sedangkan dugaan kedua, bahwa Kudus yang dimaksud adalah berasal dari Yaman, memang sedikit bisa dibenarkan. Hal ini karena memang Nenek moyang Syeikh Ali Qudus berasal dari Yaman. Namun perlu digaris bawahi, bahwa mereka itu sempat hijrah ke Indonesia, dan melahirkan keturunan-keturunan di sini. Diantaranya adalah Syeikh Ali Qudus yang lahir di Kudus-Jawa tengah.

Rereferensi :
• Jaringan Ulama Nusantara abad 17, karya Azyumardi Azra.
• Mukhtashar Nasyr an-Nur wa al-Zuhr Hal 369, Abdullah Mirdad Abu al-Khair (w. 1343 H)
• A'lam al-Makkiyin hal 758, karya Abdullah bin Abdur Rahman al-Mualimi.
• Tahqiq Dzakhair al-Qudsiyah, hal 11 - 23, Muhammad Abu Bakar Badzaib

*Mumahamad Machin, Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar