Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

ULAMA YANG MEMILIH (JOMBLO) TIDAK MENIKAH (3) IMAM ZAMKHSYARI AL-MU’TAZILI

Minggu, 22 Februari 2015

IMAM ZAMKHSYARI AL-MU’TAZILI

Tokoh dan ulama lain yang memilih tidak menikah adalah Imam Zamakhsyari. Nama lengkapnya adalah al-Imam Abu al-Qasim Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari al-Khawarizmi, (467-538 H). Khawarizm adalah nama sebuah propinsi di Asia Tengah, seperti halnya Bukhara dan Samarkand. Pada abad pertengahan ia menjadi bagian dari kekuasan Persia. Ia dikenal sebagai tokoh “Mu’tazilah”, sebuah aliran Islam Rasional. Tetapi ia menganut mazhab Hanafi dalam Fiqh. Masyarakat memberinya gelar “Jar Allah” (tetangga Allah). Julukan ini diberikan kepadanya karena ia tinggal di Makkah untuk waktu yang cukup lama. SyeikhAbu Hayyan al-Andalusi menceritakan bahwa Zamakhsyari menempuh perjalanan dari Khawarizm ke Makkah kira-kira sebelum tahun 520 H. Tujuan utamanya adalah untuk mengaji “Kitab Sibawaih”, murid Imam Khalil Ahmad al-Farahidi. Gurunya seorang ulama dari Andalusia, bernama : Abu Bakar Abdullah bin Thalhah al-Yabiri, al-Isybili (Sicilia), Andalus, Spanyol. “Kitab Sibawaih” adalah buku tentang Ilmu gramatika bahasa Arab yang dijadikan standar didunia Islam. Al-Jahizh, sastrawan besar, mengatakan : “Belum ada buku tentang gramatika Arab yang menandingi kitab Sibawaih ini”.



Saya mengenal nama ini ketika belajar Alfiyah dalam Ilmu Nahwu (Gramatika Arab) dan ilmu sastra atau “Balaghah” di pesantren, awal tahun 1970. Dan saya mendengar cerita dari guru di pesantren bahwa Imam Sibawaih adalah seorang murid yang cerdas, dan karena kecerdasannya itu ia menjadi ahli bahasa yang dikagumi masyarakat. Santri-santri gurunya : Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi (718-786 M), berbondong-bondong pindah mengaji kepadanya. Konon peristiwa ini membuat sang guru menekuni bidang lain ; yakni note-note musik. Yang kemudian disebut sebagai pencipta “Ilmu ‘Arudh” (Wadhi’ Ilm al-‘Arudh). Saya pernah belajar ilmu ini dan mengenal 15 bahr, seperti Bahr Thawil, Rajaz, Kamil, Basith, Wafir dan lain-lain. Tetapi sekarang sudah lupa. Gus Dur sering menyebut nama Imam Khalil ini sebagai “penulis Kamus bahasa Arab yang pertama, yang disebut “Qamus al-‘Ain” atau “Mu’jam al-‘Ain”.
Kembali ke Imam Zamakhsyari. Dalam dunia ilmu pengetahuan Islam, ia dikenal sebagai seorang sastrawan besar dan ahli bahasa. Buku tentang kaedah-kaedah sastra Arab yang sangat popular adalam “Asas al-Balaghah”. Di samping itu ia juga dikenal sebagai mufassir (ahli tafsir) besar. Ia member nama kitab Tafsir ini : “al-Kasysyaf ‘an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujud al-Ta’wil”, Ia adalah kitab tafsir dalam perspektif Mu’tazili, yang rasionalis.

Karya-karya Zamakhsyari

Imam Zamakhsyari adalah tergolong ulama produktif. Sepanjang hidupnya ia telah menulis 50 buku penting. Beberapa di antaranya adalah : “Al-Kasysyaf”, “al-Faiq fi Gharib al-hadits”, “Nukat al-A’rab fi Gharib al-I’rab”, “Mutasyabih Asma al-Ruwat”, “Athwaq al-Dzahab fi al-Mawa’izh”, “Asas al-Balaghah”, “Syarh Syawahid Kitab Sibawaih”, “Diwan al-Tamtsil”, “Nawabigh al-Kalim”, Nashaih al-Kibar”, “Nashaih al-Shighar” “Syaqaiq al-Nu’mal fi Haqaiq al-Nu’man” (biografi Imam Abu Hanifah) dan lain-lain.
Alasan tidak menikah

Hal paling menarik sekaligus menjadi perdebatan para ulama adalah alasan Imam Zamakhsyari memilih untuk tidak menikah. Ia tidak seperti para ulama yang sudah diceritakan maupun yang belum diceritakan (Insya Allah) yang memilih tidak menikah dengan alasan lebih mencintai ilmu pengetahuan dan mencintai seorang perempuan. Zamakhsyari mengungkapkan alasannya dalam sejumlah bait puisinya. Antara lain :


Aku telah mengamati nasib anak-anak
Aku hampir tak menemukan, anak-anak yang tidak menyakiti ibu dan ayahnya
Aku melihat seorang ayah yang menderita karena mendidik anak-anaknya
Dan ia ingin sekali anaknya menjadi orang yang pintar dan cerdas
Ia ingin mendidik generasi yang cemerlang
Tetapi apa daya, apakah ia menjadi baik atau menjadi nakal
Saudaraku menderita, ia menjadi beban anaknya
Anak itu begitu nakal
Karena itulah, aku tinggalkan menikah
Dan memilih cara hidup sebagai biarawan
Ini bagiku jalan hidup yang terbaik


Banyak ulama yang mengkritik cara pandang Zamakhsyari yang pesimistis itu. Itu bukanlah alasan yang masuk akal. Jika ada sebagian anak yang nakal dan menyusahkan orang tuanya, maka itu tak bisa digeneralisasi. Itu adalah pengalamannya sendiri yang tidak bisa disamakan dengan orang lain. Begitu banyak orang tua di dunia yang mempunyai anak-anak yang baik-baik, saleh, cerdas, pintar, genius, dan menjadi ulama besar, menyayangi orang tuanya ketika sudah tua dan tak berdaya. Anak-anak adalah “taman wangi kehidupan”. Dan mereka adalah para penerus kehidupan ini.

Cirebon, 04-Pebruari-2015

***

*KH.Husein Muhammad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar