Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Ulama Yang Memilih (Jomblo) Tidak Menikah: Ibnu Taimiyah [4]

Selasa, 24 Februari 2015

TAQI AL DIN IBNU TAIMIYAH
661-728 H./1262-1327 M.

Ulama besar yang memilih tidak menikah yang patut disebut adalah Imam Ibnu Taimiyyah. Nama lengkapnya adalah Taqi al-Din Ahmad bin Abd al Halim bin Abd al Salam bin Abd Allah bin Abu al-Qasim al Khidr bin Muhammad bin Khidhr bin Ali bin Abd Allah bin Taimiyah al Harani al Dimasyqi. Lahir di Haran, Damaskus pada bulan Rabi’ al Awal 661 H. Sejak kecil, 667 H, ia sudah dibawa ayah dan saudaranya ke Damaskus karena menghindari serbuan tentera Tartar, Mongol. Namanya disebut sebagai Syeikh al-Islam. Ia seorang ulama dengan banyak keahlian: Muhaddits (ahli hadits), Mufassir (ahli tafsir), Ushuli (ahli ushul fiqh). Ia juga dikenal sebagai Mujtahid, Mujaddid (pembaru) sekalgus Mujahid (pejuang).

Sejak usia 7 tahun ia sudah terlihat sebagai anak yang cerdas dan sudah hafal al qur-an. Bahkan kecerdasan ini bukan hanya terlihat dari kemampuannya menghafal al-Qur-an, tetapi juga memahaminya. Tetapi minatnya yang besar tertuju pada bidang hadits. Ia mengaji dengan baik Al-Kutub al-Sittah (kitab hadits yang enam) dan Al Masanid. Ia juga mempelajari Tafsir Ushul Fiqh dan beberapa cabang ilmu pengetahuan lainnya, antara lain logika dan filsafat. Semua ilmu ini dikuasai dengan sangat baik, bahkan mampu mengungguli para ulama lain. Pada usia kurang dari 20 tahun ia sudah menjadi guru besar dan berfatwa. Pada usia ini juga ia sudah aktif menulis dan mengarang.

Ibnu Taimiyah dipandang seorang “Nashir al-Sunnah” (pembela hadits Nabi). Ia menguasi dan hafal semua hadits-hadits Nabi saw. dan ucapan para sahabatnya. Banyak ulama yang mengatakan “Kalau ada orang yang bicara tafsir, ia adalah pakarnya. Kalau bicara fiqh, maka di tangannyalah persoalannya terjawab. Jika bicara hadits, dialah pemilik keilmuan maupun periwayatannya. Dan kalau dia memberikan kuliah ilmu perbandingan agama, maka tidak seorangpun yang dapat menguasai secara luas seperti dia”. Seorang ulama besar; Ibnu Daqiq al-‘Id, pernah bersama-sama Ibnu Taimiyah. Ketika ia diminta komentarnya tentang sahabatnya itu, ia mengatakan : “Aku melihat semua ilmu seakan-akan berada di hadapan kedua matanya. Ia dapat mengemukakan apa saja atau tidak menyebutkan apa saja “. Di antara muridnya yang terkenal adalah 
Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan mufassir besar Sunni; Ibnu Katsir.

Ibnu Taimiyah adalah tokoh besar dalam mazhab Hanbali. Doktrin-doktrin keagamaannya sejalan dengan pandangan Ahmad bin Hanbal yang dalam kalangan ulama fiqh digolongkan sebagai Imam Mutasyaddidin (pemimpin kaum fundamentalis). Dalam fatwa-fatwa keagamaannya, kelompok ini mendasarkan diri pada Al-Qur’an, Sunnah (hadits) dan fatwa para generasi Salaf. Karena itu ia disebut sebagai penganut Islam Salafi. Ia menerapkan penafsiran literal ketat. Ibnu Taimiyah menyerang praktik-praktik keagamaan yang tidak dilakukan Nabi dan para sahabatnya dan menganggapnya sebagai bid’ah yang dimaknai sebagai kesesatan, seperti ziarah kubur, perayaan Maulid Nabi, dan sejenisnya. Ia juga menyerang praktik tawassul kepada para orang suci (wali) yang disebutnya sebagai praktik menyekutukan Tuhan atau “musyrik”. Cara pandang keagamaan literalis ketat dan fundamentalistik ini belakangan diikuti oleh Syeikh Muhammad bin Abd al-Wahab (1703-1791) dari Nejd, Saudi Arabia. Para pengikutnya disebut kaum Wahabi. Dalam beberapa tahun ini, kelompok Wahabi sangat gencar menyebarkan paham-paham keagamaannya ke seluruh dunia, bahkan seringkali dengan cara-cara kekerasan. Mereka belakangan lebih suka disebut “Golongan Salafi”.

Ada suatu kisah. Suatu hari Ibnu Taimiyyah diminta datang ke Mesir. Di sana ia diminta berfatwa, dan iapun menyampaikan fatwanya. Tetapi kemudian ada sebagian penduduk Mesir membencinya. Ibnu Taimiyah ditangkap dan dipenjara disebuah bukit di Mesir atas perintah hakim negeri itu bersama saudaranya Syaraf al Din. Tidak lama kemudian ia dilepaskan. Ia kembali mengajar dan menyampaikan fatwanya yang kontroversial. Ia tidak pernah merubah keyakinannya, meski banyak orang membencinya dan mengecamnya.
Akibat fatwa-fatwanya yang controversial dan suka mengkafirkan masyarakat muslim itu, ia beberapa kali diadili oleh penguasa dan beberapa kali dijebloskan ke penjara. Selama di tahanan ia tetap melakukan aktifitasnya ; mengarang dan menulis surat kepada para sahabatnya. Ia mengatakan : “ Allah telah membukakan hati dan fikiranku di dalam penjara ini, sehingga aku dapat memahami kandungan al Qur-an dan sejumlah besar prinsip-prinsip ilmu pengetahuan “. Ia pernah dilarang menulis dengan tidak diberikan tinta, pena dan kertas. Dalam keadaan ini ia hanya bisa membaca al Qur-an, shalat dan berzikir. Ia mengatakan : “ Musuh-musuhku tidak dapat menahanku. Aku seorang pekerja kebun di hatiku. Kemanapun aku pergi ia selalu bersamaku. Aku anggap tahanan tempat aku berkhalwah. Kematian bagiku karena perjuangan menegakkan agama. Jika aku diusir dari negeriku, maka aku anggap sebagai rekreasi “. Ia juga menemui ajalnya di penjara di sebuah bukit di Damaskus, tahun 728 H, dan dimakamkan di kuburan kaum sufi.

Ada sebuah analisis orang, mengapa Ibnu Taimiyah bersikap keras dan membenci praktik-praktik tradisi keagamaan di atas. Konon, itu karena Ibnu Taimiyah menghadapi serbuan yang tentara Mongol terhadap kaum muslimin di seluruh wilayah Khilafah Islamiyah. Sementara mereka lebih suka melakukan ziarah kubur, dan ritual-ritual keagamaan lainnya dan enggan atau malas berjuang menghadapi kaum Tartar yang kafir itu. Keadaan ini akan mengakibatkan kekalahan dan kehancuran kaum muslimin sendiri. Ia sendiri adalah seorang politisi sekaligus jendral, panglima perang. Ibnu Taimiyah bersama dua orang saudaranya ; Syaraf al Din dan Zain al Din terus menggelorakan “Jihad fi Sabilillah” untuk mengusir kaum penjajah Mongol itu. Dengan begitu, Ibnu Taimiyyah sesungguhnya tidak melarang ziarah kubur dan tawassul bi al-Nabi, itu sendiri, melainkan karena keadaan darurat perang semata. Jadi pengharaman itu berlaku kontekstual. Wallahu A’lam.

Adalah menarik pandangan ahli hadits besar abad ini : al-‘Allamah Muhaddits al-‘Ashr Al-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, mengenai isu Tawassul dalam pandangan Ibnu Taimiyyah. Ia menjelaskannya dalam bukunya yang terkenal : “Mafahim Yajib al-Tushahhah” (pemahaman keagamaan yang harus diluruskan). Beliau menulis dalam salah satu judul : “Tahlil Muhimm li Ra’yi Ibn Taimiyyah Ghaba ‘an ‘Uqul Atba’ihi” (Penjelasan Penting atas panddangan ibn Taimiyyah yang tidak dipahami para pengikutnya) dan “Masyru’iyyah al-Tawassul ‘ala Thariqah al-Syeikh Ibnu Taimiyyah”(Disyari’atkannya Tawassul menurut Ibn Taimiyyah).

Karya-karya Ibnu Taimiyah

Penulis kitab Fawat al Wafayat menyebutkan karangan Ibnu Taimiyah mencapai tiga ratus jilid. Antara lain : Iqtifa al Shirat al Mustaqim wa Mukhalafah Ash-hab al Jahim, Fatawa Ibnu Taimiyah, Al Sharim al Maslul ‘ala Syatim al Rasul, al Sharim al Maslul fi Bayan Wajibat al Ummah Nahwa al Rasul, Al Jawab al Shahih li Man Baddala Din al Masih, al Jawami’ fi al Siyasah al Ilahiyah wa al Ayat al-Nabawiyah, al-Siyasah al-Syar’iyah fi Ishlah al-Ra’i wa al-Ra’iyah, Rasail Syeikh al Islam Taqiy al Din bin Taimiyah, Minhaj al Sunnah al Nabawiyah fi Naqd Kalam al Syi’ah wa al Qadariyah, Al Farq baina Awliya al Rahmaan wa Awliya al Syaithan, Al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin, Al-Muwafaqah baina al-Ma’qul wa al-Manqul, Raf’ al-Malam ‘an Aimmah al-A’lam, dan lain-lain.

Alasan Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyyah Tidak Menikah
 

Banyak orang bertanya mengapa Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah tidak menikah. Bukankah dia seorang ulama besar, hafal ribuan hadits, ahli fiqh, pemikir Islam hebat dan pujian-pujian lainnya. Bukankah hadits tentang kesunahan menikah begitu jelas dan sangat popular?. Ibnu Taimiyah sendiri tampaknya tidak memberikan penjelasan soal ini. Akan tetapi para pengagumnya memberikan jawaban pembelaan atasnya. Salah satunya adalah ini : 

أن الإمام ابن تيمية ما ترك النكاح رغبة عنه ورهبة ومصادمة للفطرة أو تحريماً له بل عزوفه اختيارٌ منه؛ لأنه آثر غيره عليه من علم
 وجهاد ودعوة وإصلاح وتربية للمستفيدين على اختلاف منازلهم وعلومهم ورعايتهم يضاف إلى ذلك ما ابتلي به من حبس واعتقال واغتراب لذا ما كان عزوفه رغبة عنه؛ لأنه يعرف قدره ومنزلته في الشريعة وهو من أساطين العلماء الداعين إلى نشرها وتطبيقها وكانت حياته كلها مسخرة لنصرتها والذب عنها وإبراز مقاصدها ووجوب الاعتصام بها.

“Ibnu Taimiyah tidak menikah bukan karena ia tidak menyukainya, menghindari atau melawat fitrah manusia, apalagi mengharamkannya. Itu hanya karena pilihan yang disadarinya. Ia lebih mengutamakan ilmu pengetahuan, dakwah, jihad, kerja transformasi social, mendidik masyarakat. Di samping itu ia juga sering berada di penjara, diasingkan. Ia bukan tidak mengerti hadits-hadits Nabi, karena ia seorang ulama besar. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk membela agama dan mewujudkan cita-cita agama. Rahimahu Allah wa Askanahu Fasiha Jannatih”.

***

Oleh: KH. Husein Muhammad

2 komentar:

  1. Hebat bener sampeyan,Ibnu Taimiyah aja ga ngasih alasan milih jombloh. Emangnya sampeyan Tuhan, bisa tahu isi hati orang, Jangan bikinklaim tak berdasar. Karena orang lain juga berhak menilai dan melakukan klaim yang bertolak belakang denga sampeyan.

    BalasHapus
  2. Hebat bener sampeyan,Ibnu Taimiyah aja ga ngasih alasan milih jombloh. Emangnya sampeyan Tuhan, bisa tahu isi hati orang, Jangan bikinklaim tak berdasar. Karena orang lain juga berhak menilai dan melakukan klaim yang bertolak belakang denga sampeyan.

    BalasHapus