Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Belajar Ihlas dalam Menulis Buku

Rabu, 04 Maret 2015




Belajar Ihlas dalam Menulis Buku

Jadi penulis, pengarang buku kalau mau belajar ikhlas, harus mencoba sekali-kali tidak menyebut namanya sebagai pengarang dan tidak usah ngurusin royalti. Tidak usah juga di jual sana - sini. Pilih karangan yang terbaik miliknya.

Buku yang baik, pengarang yang baik itu jika bukunya, karangannya disebarkan gratis, kepada siapa saja.


Wazayyinil Qalba bil ihklaashi mujtahidan * Wa’lam biannar riyaa yulqi ka fil ‘athobi
Bersungguh sungguhlah kamu menghiasi hati dengan keikhhlasan
Ketahuilah , sesungguhnya Riya’ akan membuatmu terjatuh dalam kecelakaan. 
[ al imam Abdullah al Haddad ] ,

Hiasan terbaik hati dalah keikhlasan . Karena ikhlas itu adalah keimanan yang seutuhnya. Para sahabat bertanya : “ Wahai Rasulullah , apakah iman itu ? “ Maka beliau menjawab : “ Iman adalah keikhlasan “

Rasuluullah Saw juga pernah bersabda : “ Wahai sekalian manusia . Ikhlaskan lah amal-amal kalian untuk Allah Ta’ala , sesunggguhnya Allah Ta’ala tiada menerimal amal-amal kecuali yang ikhlas untuk-Nya .”
“ Makna ikhlas itu , manakala tujuan seorang insan didalam seluruh amal serta ketaatannya adalah hanya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah semata . Mencari Ridha Allah sahaja . Tidaklah mencari tujuan-tujuan yang lainnya , seperti ingin dilihat oleh sekalian manusia [ Riya’] ,mencari – cari pujian mereka atau menggharap keuntungan dari mereka.

Orang-orang yang mencampur dalam amalnya, tujuan lillahi Ta’ala dan tujuan riya’ kepada manusia maka dia dianggap sebagai Mura’in , tukang Riya juga. Amalan yang demikian tidak diterima.

Adapun seorang yang beramal memang tujuannya untuk agar dilihat manusia , andakan saja tidak ada manusia maka dia ttidak akan mau beramal, orang sedemikian ini sangat dekat dengan ketercelakaan. Ia tiada lebih seperti orang-orang munafik saja, Wana’udu billahi min dha_lik .” Tulis al Habib Abdullah Al Haddad dalam bukunya, Nashaikud Diniyyah.

Berkata Ba’dhus Shalihin : “ Tiada sesuatu yang paling langka di muka bumi ini selain ikhlas .”
Dan al habib Abdullah al Haddad berkata, “Sepatutnya seseorang mempelajari seluk beluk Ikhlas dan Riya’ ini dalam kitab Ihya’ Ulumuddin Lil Imam Al Ghazaliy, kitab ke Delapan dalam Bab al Muhlikat serta kitab ketujuh dalam Bab al Munjiyaat . Karena di dalam keduanya akan ditemukan obat penyembuh bagi berbagai penyakit hati .

Saya membayangkan betapa sulitnya sebuah keikhlasan itu, terekam dalam sebuah kisah tentang seseorang yang ingin membanggun masjid. Ada seseorang datang menemui al Habib Abullah al Haddad. Orang itu berkata : “ Wahai Habib, mohon doa restunya , saya ingin membangun masjid di kampung saya.” Al Habib Abdullah menjawab : “Begini saja , tak usahlah engkau repot – repot . Sudah , bawa sini saja seluruh uang yang kau persiapkan itu , dan berikan kepadaku , biarkan aku yang akan membangun masjid itu .…”

Orang tersebut menolak : “ Tidak bisa Habib . Maksudku adalah aku sendiri yang membanggunnya.
Al Habib menjawab : "kalau begitu , kamu belumlah ikhlas dalam niatmu itu . Karena jika kamu itu ikhlas maka kamu tidak akan perduli siapa pula yang akan membangunnya , yang penting terwujud pembangunannya."

Dahulu , Kyai Bisri Mushthofa pernah gojlok – gojlokan sama saudaranya , yaitu Kyai Misbah Mushthofa
.
“Aku kok heran , kitab karanganku itu tidak kalah hebat dengan kitab karanganmu .” Kata Mbah Misbah "Tetapi kenapa kitab – kitabmu yang laris di pasaran, sedangg kitabku tidak ?" Dengan terkekeh – kekeh Mbah Bisri menjawab : “ Ya terang dong. Itu karena sampeyan ngarang kitab itu ikhlas lillahi Ta’ala , yang sampeayan dapatkan ya cuman pahala . Kalau saya ngarang kitab itu untuk usaha cari uang, maka karangan saya ya laris dibeli orang .”

Sesudah sampai dalam paragraf terahir dalam kitab Karangannya , al Habib Hasan bin Abduullah As Syathiriy menutupnya dengan kalimat begini : “Dan sesunggguhnya aku tidak menyebutkan nama terangku dalam kitab risalah ini bukan berarti aku sok merasa ikhlas, itu tidak. Karena aku sendiri pun tidak mempercayai diriku ini apakah termasuk sebagai seorang yang ikhlas dalam perbuatannya ?

Yakni aku bayangkan seandainya suatu saat ada seseorang tiba-tiba mengakui tulisanku ini sebagai buah karyanya dan bukan sebagai hasil jerih payah diriku ini ?

Aku hanya menata diriku sendiri dan mencoba mengarahkannya searah tujuan para Mukhlisin.
___________________________

Ust.Muhajir Madad Salim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar