Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

KISAH MUSLIMAH: SIWA OARA, PENULIS JEPANG

Senin, 02 Maret 2015

ilustrasi

            Setelah 15 tahun mempelajari dan menyelidiki agama dan filsafat, salah satu penulis berkebangsaan Jepang memaklumatkan Islamnya. Penulis itu berkata: “Islam adalah agama yang benar dan diunggulkan oleh Alloh atas seluruh agama agar menjadi petunjuk bagi mereka yang sesat ke jalan yang lurus. Segala puji bagi Alloh yang memberi petunjuk, sehingga aku memeluk agama yang benar ini setelah aku membiarkan dirika dan pikiranku sia-sia serta tercerai berai,s ampai Alloh menunjukkan aku ke agama ini”.
            Penulis wanita Jepang itu bernama Siwa Oara, anggota Sekertariat Negeri Jepang di Tokio. Dia mengakhiri penyelidikannya terhadap kebudayaan dunia di Kairo ketika sedang meneliti kebudayaan kuno dan alam pikir manusia. Siwa berkata: “Islam-lah adalah fitrah. Orang yang jiwanya sempurna, dia pasti memeluk agama ini dan beriman kepada Alloh dan bahwa Muhammad adalah penutup nabi dan rosul”.
            Siwa juga berkata: “Aku memutuskan untuk meneliti peninggalan-peninggalan Fir’aun di Mesir setelah menyelesaikan penelitian mengenai kebudayaan, filsafat dan agama di belahan dunia lainnya”. Ketika di Kairo, Siwa dibimbing oleh adzan untuk masuk Islam. Setelah penyelidikan singkat, Siwa yakin, bahwa Islam adalah agama Alloh terakhir. Maka Siwa memaklumatkan Islamnya di hadapan Lajnah Fatwa di Al Azhar.

Merenungi kenyataan
            Siwa yang setelah masuk Islam namanya Maryam Tusi Wahdan menulis beberapa syair dan makalah dalam banyak buku berbahasa Jepang. Di antaranya buku Main Kay, Asohai dan Mentase. Maryam banyak mengikuti diskusi dan debat mengenai pemikiran. Dia berjasa banyak dalam kebudayaan. Hal ini diketahui masyarakat Jepang pada umunya. Maryam kuliah filsafat di fakultas Sastra di universitas Kay, Jepang. Setelah lulus, Maryam membentuk sebuah lembaga yang membantu urusan keagamaan yang bernama SUKIYU MAHARI.
            Maryam menyusun lebih dari sepuluh buku filsafat dan agama. Di antaranya Hikayah Thoir Stul, Al idrok, Bidhoh Al Kaun dan Khulashoh Al Budziyah. Mata kuliah Maryam menuntunnya untuk berpikir mengenai kehidupan. Namun saat itu juga Maryam tahu, bahwa teori filsafat tidak berguna secara riil bagi masyarakat. Karena itu, Maryam menghubungkan filsafat dengan kehidupan umat manusia. Maryam mendirikan sebuah lembaga kebudayaan yang mencurahkan kemampuannya untuk masyarakat. Kemudian dia mencurahkan waktu untuk menulis buku yang berisi pemikiran mengenai alam roh. Seringkali Maryam diundang untuk menjadi nara sumber dalam diskusi mengenai bidang itu.
            Mengenai kecimpungnya berpikir tentang agama, Maryam berkata: “Pada usia lima belas tahun, aku mulai bertanya-tanya mengenai hakekat jiwa manusia dan arti hidup mati. Pada usia tiga puluh delapan tahun, aku merasa fitrah Alloh memanggil aku dalam jiwaku. Kemudian perasaan tersebut semakin besar dan mengajak aku untuk mengenal Alloh. Ketika aku sedang tenggelam dalam pemikiran-pemikiran itu, Pemerintah Jepang membuka pintu lebar-lebar tanpa batas untuk sains. Karena itu, aku ingin mendalami masalah keberadaan Alloh lewat teori alam. Lalu aku mempelajari ilmu filsafat. Namun ternyata, ilmu-ilmu itu yang sudah mencapai derajat tinggi dalam tingkatan kehidupan alam materi dan alam indra, tidak mampu untuk mengenal alam ghaib.
            Karena itu, aku beralih ke ilmu jiwa. Aku mempelajari perasaan dan indra manusia secara detail. Dari ilmu ini, aku berhasil mencapai medan, di mana aku hampir mengenal Pencipta alam semesta. Memang aku sudah yakin sepenuhnya akan adanya Alloh dan seakan-akan Alloh membuat aku tahu secara tidak langsung bahwa Dia-lah Sang Pencipta. Namun aku belum bisa meyakini hal itu secara mantap dan teguh, sebab aku hidup di lingkungan berhala yang tidak mengenal hal-hal ini”.
            Maryam menambahkan, bahwa keinginan tahunya mendorong dia untuk menyusun sebuah buku filsafat dengan judul “Wujud Minter Iks” yang diterbitkan 15 tahun yang lalu. Maryam berkata: “Dalam buku ini, aku jelaskan secara gamblang, bahwa alam semesta ini ada penciptanya. Aku bertendensi pada teori-teori ilmiyah yang masuk akal dan sebagian bisa digabungkan dengan yang lain, sehingga membawa kita ke pikiran tersebut. Sehari-hari aku memikirkan kenyataan dan alam semesta. Lalu aku berkata kepada diriku sendiri: “Seandainya di alam semesta ini ada penghubung yang mengatur sebagian makhluk dengan yang lain dan mengatur hubungan bumi dengan planet lainnya serta hubungan planet-planet dengan kenyataan agar kehidupan ini nyata, maka penghubung itu ada penciptanya”. Kemudian aku mempelajari ilmu akidah. Aku membandingkan akidah-akidah antara beberapa agama. Lalu aku tahu, bahwa dalam setiap agama ada pembicaraan mengenai Alloh. Bahkan urutan huruf kata Alloh terdapat dalam bahasa Jepang dan urutan itu mengisyaratkan adanya yang berkaitan dengan langit. Aku menemukan, bahwa di sana ada kesamaan mengenai adanya Alloh dalam akidah semua agama kuno dan menurut kebanyakan bangsa. Aku putuskan untuk pergi ke Mesir untuk meneliti bekas-bekas peninggalan fir’aun kuno di kota Aksar dan Uswan”.
            Dia menambahkan: “Sesampaiku di Kairo, aku disambut oleh adzan yang berkumandangan berkali-kali dalam waktu-waktu tertentu. Aku melihat banyak orang pergi sholat segera etelah mendengar adzan. Aku kerap kali berada di hadapan barisan-barisan di mana mereka berdiri dengan corak khusus untuk memenuhi panggilan Alloh. Aku kaget. Aku yakin, bahwa mereka itu mukmin sesungguhnya, beriman kepada Alloh yang sedang aku cari. Maka aku mempelajari Islam dan merasa perlu lebih mempelajari agama ini. Aku segera memulai perjalananku ke Aksar dan Uswan dan menelaah buku-buku Islami. Aku mengguanakan jasa penerjemah.
            Setia kali aku mendengar atau membaca tentang Islam, aku merasa, bahwa Islam agama yang cocok dengan aku dan aku menemukan agama yang aku cari-cari. Aku tidak perlu lagi meneliti bekas-bekas peninggalan Fir’aun atau lainnya. Aku hanya perlu mencurahkan waktu untuk membaca tentang Islam dan menyusun buku tentang Islam setelah memeluknya berkat karunia Alloh. Akan ada sebuah buku dengan judul “Ath Thoriq ila Al Islam” yang mengetengahkan perjalananku dari kesesatan menuju petunjuk. Aku akan tinggal di Kairo agak lama untuk mengumpulkan bahan-bahan buku ini. Sebab aku berjanji kepada diriku sendiri untuk mengisahkan hasil risetku kepada umat manusia sesampai di negeriku”.
            Maryam Tusi Wahdan menjelaskan, bahwa hal terpenting yang dia ketahui adalah, bahwa termasuk syarat iman adalah beriman kepada seluruh nabi dahulu. Dari sini dia tahu, bahwa Islam adalah risalah dan misi yang dibawa oleh para nabi sejak Adam as sampai Muhammad saw. Inilah hal trpenting yang dia tahu tentang Islam, di samping kelebihan lainnya dan dakwah kemanusiaan yang sesungguhnya.
            Maryam mengatakan: “Aku merasakan kedamaian jiwa, kebahagiaan dan ketenangan hati setelah memeluk Islam, yang belum pernah aku rasakan selama hidupku”. Maryam mengatakan, bahwa penting baginya untuk memperhatikan Islam. Dia berkata: “Aku ingin tahu lebih banyak tentang Islam. Aku akan bawa misi ini ketika aku kembali ke negeriku, Jepang. Semoga Alloh memberikan petunjuk lewat aku kepada banyak orang Jepang”.
       Majalah Ad Dakwah edisi 1579

Tidak ada komentar:

Posting Komentar