Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Tarikh Tabhari: Mana Yang Allah Ciptakan Dulu: Siang Atau Malam, Matahari Atau Rembulan?

Minggu, 01 Maret 2015


Kami sudah menuturkan, bahwa Allah menciptakan apa yang Dia ciptakan sebelum emnciptakan masa dan waktu. Kamu juga sudah menjelaskan, bahwa waktu dan masa tidak lain hanyalah jam-jam malam dan siang dengan kata lain peredaran matahari dan rebulan pada garis orbitnya. Sekarang kita bertanya: “Mana yang dahulu diciptakan, malam atau siang?”                                                                 
            Ulama berbeda pendapat mengenai hal di atas dan sebagian dari mereka berkata: “Allah menciptakan malam dahulu sebelum siang”. Dia mendasari pendapatnya dengan alasan, bahwa jika matahari tenggelam dan cahayanya yaitu siang sirna, maka datanglah malam dengan gelapnya. Dengan demikian jelaslah, bahwa cahaya adalah yang mendatangi malam dan malam tidak sirna jika tidak didatangi oleh siang. Dari penjelasan tersebut jelaslah, bahwa malam adalah yang pertama kali diciptakan dan matahari diciptakan kedua. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
            Ikrimah bertutur, bahwa Ibnu Abbas ditanya: “Apakah malam ada sebelum siang?” Ibnu Abbas menjawab: “Tahukah kalian ketika langit dan bumi masih menyatu, maka yang ada di antara keduanya hanyalah kegelapan? Hal itu agar kalian bahwa malam ada sebelum siang”.
            Ikrimah juga bertutur, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Malam ada sebelum siang hari”. Lalu Ibnu Abbas membaca ayat:
            “Langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. (QS Al Anbiya’ : 30)
            Martsad bin Abdullah Al Yazani bertutur: “Uqbah bin Amir ra ketika hilal (Ramadhan) terlihat, dia tidak melakukan shalat tarawih pada malam itu, kecuali jika siang harinya dia puasa. Lalu dia melakukan tarawih pada malamnya. Hal itu kami tuturkan kepada Ibnu Hujairah, lalu dia berkata: “Malam sebelum siang atau siang sebelum malam?”
            Ulama lain berpendapat: “Siang ada sebelum malam”. Kesahihan pendapat itu mereka dasar dengan hal, bahwa Allah ada ketika malam, siang dan benda lainnya tidak ada dan bahwa cahaya-Nya menerangi segala sesuatu yang telah Dia ciptakan, sampai Dia menciptakan malam”.
            Ulama yang berpendapat demikian:
            Ayyub bin Abdullah Fihri bertutur, bahwa Ibnu Mas’ud ra berkata: “Saat itu, di sisi Allah tidak ada malam maupun siang dan cahaya langit adalah dari cahaya Zat-Nya. Tiap hari dari hari kalian di sisi-Nya sama dengan dua belas jam”.
            Menurut kami, pendapat yang paling benar adalah pendapat yang mengatakan, bahwa malam ada sebelum siang, sebab siang adalah cahaya matahari sebagaimana telah kami sebutkan. Allah hanya menciptakan matahari dan mengedarkannya di cakrawala setelah Dia membentangkan bumi, sebagaimana firman-Nya:
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. (QS An Nazi’at : 27-29)
Jika matahari diciptakan setelah langit ditinggikan dan malamnya gelap, maka jelas bahwa sebelum matahari diciptakan dan sebelum Allah mengeluarkan menjadikan siang terang, langit adalah gelap gulita.
            Di samping itu, dari kenyataan malam dan siang yang kita saksikan, kita bisa menyimpulkan, bahwa sianglah yang menghampiri malam, sebab jika matahari tenggelam dan sinarnya sirna baik pada siang maupun malam hari, maka dunia menjadi gelap. Maka jelaslah, bahwa sianglah yang menghampiri malam dengan sinar dan terangnya. Wallahu a’lam.
            Mengenai permulaan penciptaan malam dan siang, hadits Nabi saw mengenai waktu penciptaan matahari dan rembulan berbeda.
            Ikrimah berturur, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Allah pada hari Jum’at menciptakan matahari, rembulan, bintang dan malaikat sampai tiga jam terakhir”.
            Abu Hurairah bertutur, bahwa Nabi saw bersabda:
            “Allah menciptakan cahaya pada hari Rabo”.
            Apapun yang terjadi, Allah telah menciptakan banyak benda sebelum menciptakan matahari dan rembulan, kemudian Allah baru menciptakan keduanya karena maslahat yang Dia ketahui, lalu keduanya terus menerus beredar, lalu memisahkan kepadanya. Yang satu Dia jadikan tanda malam dan yang lain Dia jadikan tanda siang, lalu Dia menyirnakan tanda malam dan menjadikan tanda siang bersinar terang. Kami akan menuturkan sebagian dari hadits Nabi mengenai perbedaan tanda malam dan tanda siang sesuai yang kami dengar. Kami juga akan menuturkan perkataan sebagian ulama salaf tentang hal tadi.
            Abdur Rahman bib Abza menuturkan, bahwa Abu Dzarr Al Ghiffari ra berkata: “Akami memegang tangan Nabi saw ketika kami berdua berjalan bersama ke arah barat, sedangkan matahari hampir terbenam. Kami berdua terus memandanginya sampai terbenam, lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah, ke mana matahari tenggelam?” Nabi saw menjawab:
            “Ia tenggelam di langit, lalu diangkat dari satu langit ke langit yang lain, sampai diangkat ke langit ke tujuh yang tinggi, sampai ada di bawah Arasy. Lalu dia bersimpuh sujud, lalu para malaikat yang diserahi matahari bersujud bersamanya, lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, dari mana Engkau perintah kami untuk terbit, dari tempat terbenamku atau dari tempat terbitku?” Nabi bersabda: “Itulah firman Allah azza wa jalla: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya” (Yasin 38) di mana ia tertahan di bawah Arasy. “Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Yasin 39). (Yang dimaksudkan ‘demikian’ adalah perbuatan Allah pada kerajaan-Nya). Lalu Jibril mendatangi matahari dengan pakaian cahaya dari cahaya Arasy sesuai jam-jam siang. Panjangnya di musim kemarau atau pendeknya di musim penghujan atau antara keduanya di musim gugur dan musim semi”. Lalu matahari memakai pakaian itu, seperti salah seorang dari kalian memakai pakaiannya. Kemudian matahari membawanya ke udara langit, sampai terbit dari tempat terbitnya. Maka itulah firman Allah azza wa jalla: “Apabila matahari digulung”. Rembulan juga demikian pada tempat terbitnya dan edarnya di cakrawala langit, tempat terbenamnya dan terangkatnya ke langit ke tujuh yang tinggi serta tertahannya di bawah Arasy. Namun Jibril as mendatanginya dengan pakaian dari cahaya Kursi. Itulah firman Allah azz wa jalla: “Menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya”. Abu Dzarr bertutur: “Kemudian kami bersama Nabi saw berganti arah, lalu kami berdua shalat magrib”.           
            Hadits ini menunjukkan, bahwa penyebab perbedaan sifat matahari dan rembulan adalah cahaya matahari dari cahaya Arasy dan cahaya rembulan dari cahaya Kursi.
            Ada hadits lain yang menunjukkan selain makna di atas, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ikrimah: “Kami duduk bersama dengan Ibnu Abbas pada suatu hari. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki, lalu dia berkata: “Hai Ibnu Abbas, kami mendengar hal yang aneh dari Ka’b Ahbar tentang matahari dan rembulan”. Ibnu Abbas yang asalnya bertele, duduk tegak lalu bertanya: “Apa yang dia katakan?” Lelaki itu menjawab: “Ka’b bertutur, bahwa pada hari kiamat nanti matahari dan rembulan didatangkan seakan-akan keduanya dua ekor sapi mandul, lalu keduanya dilemparkan ke dalam Jahanam”. Maka Ibnu Abbas marah, kemudian berkata: “Ka’b dusta, Ka’b dusta, Ka’b dusta. Ini adalah hal keyahudian yang dia masukkan ke dalam Islam. Allah terlalu agung dan besar untuk menyiksa makhluk yang taat kepada-Nya. Tidakkah kamu mendengar ayat:
            “Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)”. (QS Ibrahim : 33)
Yakni keduanya beredar dalam ketaatan. Lalu bagaimana dua hamba yang dipuji disiksa karena mereka beredar dalam taat kepada-Nya? Semoga Allah menghancurkan orang ini dan memburukkan kepandaiannya. Betapa dia berani-berani kepada Allah dan betapa dia berdusta kepada dua hamba yang taat itu”.
            Setelah itu, Ibnu Abbas beristirja’ berkali-kali dan mengambil sebuah kayu kecil di tanah, lalu mengorekkannya ke tanah. Dia terus menerus demikian, kemudian mengangkat kepalanya dan melemparkan kayu sambil berkata: “Tidakkah kalian mau kami beritahu apa yang kami dengar dari Nabi saw mengenai rambulan matahari, mulai diciptakannya dan kembali mereka?” Kami semua menjawab: “Ya, kami semua mau, semoga Allah merahmatimu”. Ibnu Abbas lalu berkata: “Nabi saw pernah ditanya mengenai hal itu, lalu menjawab:
            “Sesungguhnya Allah ta’ala ketika menyelesaikan makhluk-Nya, lalu tidak tersisa dari makhluk-Nya selain Adam, maka Dia menciptakan dua matahari dari cahaya Arasy-Nya. Adapun apa yang dalam ilmu-Nya yang dahulu Dia biarkan menjadi matahari, maka sesungguhnya Dia menciptakan sebesar dunia antara timur dan baratnya. Adapun apa yang menurut ilmu-Nya yang dahulu bahwa Dia menghapusnya dan merubahnya menjadi rembulan, maka sesungguhnya ia di bawah matahari besarnya. Namun yang kelihatan hanya kecil keduanya karena sangat tingginya langit dan jauhnya dari bumi”.
            Ibnu Abbas berkata: “Seandainya Allah membiarkan matahari dan rembulan sebagaimana saat Dia ciptakan pertama kali, maka tidak bisa dibedakan antara malam dengan siang. Buruh tidak tahu sampai kapan dia bekerja dan kapan dia menerima gaji. Orang puasa tidak tahu sampai kapan dia berpuasa. Wanita tidak tahu sampai dia menjalani masa iddah, kaum muslimin tidak tahu kapan waktu haji tiba, pemberi pinjaman tidak tahu kapan hutang jatuh tempo. Umat manusia tidak tahu kapan mereka pergi untuk mencari rezeki dan kapan mereka beristirahat. Allah lebih memikirkan hamba-Nya dan lebih sayang kepada mereka, karena itu Dia mengutus Jibril, lalu menyuruhnya meletakkan sayapnya di muka rembulan (yang saat itu masih matahari), lalu menghapus sinarnya dan yang tersisa adalah terangnya. Itulah ayat:
            “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang”. (QS Al Isra’ : 12)
            Ibnu Abbas berkata: “Warna kehitaman yang kalian lihat pada rembulan seperti garis adalah bekas penghapusan tersebut. Kemudian Allah menciptakan roda untuk matahari dari cahaya Arasy dan roda itu mempunyai tiga ratus enam puluh tali. Allah menyerahkan matahari dan rodanya kepada tiga ratus enam puluh malaikat penghuni langit terdekat. Masing-masing malaikat bergantung pada satu tali dari tali-tali tadi. Allah juga menyerahkan rembulan kepada tiga ratus enam puluh malaikat penghuni langit dan masing-masing malaikat bergantung pada satu tali”.
            Ibnu Abbas kemudian berkata: “Allah menciptakan tempat terbit dan tempat terbenam untuk matahari dan rembulan pada dua sisi bumi dan dua sisi langit berupa seratus delapan mata air di barat dan tanah liat hitam. Itulah firman Allah:
            “Dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam”. (QS Al Kahfi : 86)
Yakni lumpur hitam dari tanah liat. Dan seratus delapan puluh mata air di timur berupa lumpur hitam yang mendidih bagaikan periuk ketika sangat panas. Setiap malam dan siang, matahari mempunyai tempat terbit baru dan tempat terbenam baru. Antara tempat terbit pertama dan tempat terbenam terakhir, adalah siang paling lama pada musim kemarau sampai empat terbit terakhir. Sedangkan tempat terbenamnya pertama adalah paling pendeknya siang pada musim penghujan. Itulah firman Allah:
            “Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya”. (QS Ar Rahman : 17)
Yakni akhirnya di sini dan akhirnya di sana dan membiarkan tempat terbit dan tempat terbenam di antaranya. Kemudian Allah mengumpulkan keduanya dalam ayat:
            “Dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari”. (QS Al Ma’arij : 40)
Di sini Allah menuturkan seluruh mata air tersebut”.
            Dan Ibnu Abbas berkata: “Allah menciptakan laut, lalu laut mengalit di bawah langit kira-kira tiga farsakh. Laut adalah ombak yang tertahan dan berdiri di udara dengan perintah Allah tanpa ada setetes yang menetes. Seluruh laut tenang dan mengalir secepat anak panah. Alirannya di udara yang sempurna bagaikan tali yang diulurkan antara timur dan barat. Matahari dan rembulan serta bintang-bintang siarah beredar di ombak lautan tersebut. Itulah firman Allah:
            “Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”. (QS Al Anbiya’ : 33)
Garis edar adalah berputarnya roda pada ombak lautan tersebut. Demi Dia yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, seandainya matahari muncul dari laut itu, tentu ia membakar segala sesuatu di bumi, sampai batu-batu besar dan bebatuan. Dan seandainya rembulan muncul dari latu itu, maka ia menjadi ujian bagi penduduk bumi, sampai mereka menyembahnya bukan Allah, kecuali siapa yang Dia pindungi di antara wali-wali-Nya”.
            Ibnu Abbas berkata: “Maka Ali bin Abu Thalib: “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah, engkau menuturkan peredaran bintang siarah bersama matahari dan rembulan. Allah telah bersumpah demi bintang siarah dalam Al Qur-an sampai apa yang engkau tuturkan. Lalu apa bintang siarah itu?” Nabi menjawab: “Hai Ali,  bintang ada lima, yaitu Birjis, Zuhal, Atharid, Bahram dan Zuhrah. Kelima bintang inilah yang terbit dan beredar seperti matahari dan rembulan yang beredar bersamanya. Adapun bintang-bintang yang lain bergantung pada langit seperti tergantungnya lampu dari masjid-masjid. Kelimanya berkeliling bersama langit dengan berputar dengan tasbih, mensucikan dan salat kepada Allah”.
            Kemudian Nabi saw bersabda: “Jika kalian ingin jelas tentang hal itu, maka lihatlah berputarnya cakrawala, sekali di sini dan sekali di sini. Maka itulah berputarnya langit dan berputarnya bintang-bintang bersamanya semua kecuali lima tersebut. Berputarnya pada hari ini adalah sebagaimana kalian saksikan dan itulah berputarnya serta salatnya sampai hari kiamat dalam cepatnya putaran gilingan tepung dari prahara dan gempra hari kiamat. Itulah firman Allah:
“Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan”. (QS Ath Thur : 9-11)
Nabi bersabda: “Jika matahari terbit, maka sesungguhnya ia terbit dari sebagian mata air di atas rodanya dan bersamanya ada tiga ratus enam puluh malaikat sambil mengepakkan sayap mereka. Mereka menariknya di cakrawala dengan tasbih, mensucikan dan salat kepada Allah sesuai jam-jam malam dan jam-jam siang, baik malam maupun siang. Jika Allah menghendaki untuk menguji matahari dan rembulan, lalu Dia memperlihatkan satu tanda di antara tanda-tanda, lalu Dia mendorong mereka untuk kembali dari maksiat-Nya dan berbuat taat kepada-Nya, maka matahari tersungkur dari roda, lalu jatuh ke dalam samudra laut itu yaitu cakrawala. Jika Allah berkehendak untuk membesarkan tanda dan memberatkan peringatanan kepada para hamba, maka matahari secara keseluruhan jatuh, lalu tidak tersisa apapun darinya pada roda. Maka itulah saat siang gelap dan bintang-bintang tampak dan itulah akhir dari gerhananya. Jika Allah berkehendak untuk membuat sebuah tanda tanpa tanda lain, maka setengah atau sepertiga atau dua pertiga matahari jatuh dalam air dan selebihnya masih pada roda. Itulah gerhana sebagian, musibah bagi matahari atau rembulan, peringatan untuk para hamba dan dorongan dari Tuhan azza wa jalla. Apapun yang terjadi, maka para malaikat yang diserahi matahari menjadi dua kelompok. Satu kelompok darinya menghadap ke matahari, lalu menariknya ke arah roda dan kelompok yang lain menghadap ke roda, lalu menariknya ke arah matahari. Dalam keadaan itu, mereka menetapkan matahari di cakrawala dengan tasbih, mensucikan dan salat kepada Allah sesuai jam-jam siang atau jam-jam malam, baik malam maupun siang, baik hal itu terjadi pada musim kemarau atau musim penghujan atau di antaranya pada musim rontok atau musim semi, agar lama keduanya tidak bertambah. Namun Allah mengilhamkan tahu hal itu kepada mereka dan memberi mereka kekuatan tersebut. Apa yang kalian lihat yaitu keluarnya matahari  atau rembulan setelah gerhana sedekit demi sedikit adalah dari samudra laut itu yang berada di atas keduanya. Jika mereka mengeluarkan matahari seluruhnya, maka seluruh malaikat berkumpul, lalu mereka memikulnya sampai mereka meletakkannya pada roda, lalu mereka memuji Allah atas kekuatan yang Dia berikan kepada mereka untuk berbuat demikian. Mereka bergantung pada roda dan menariknya di cakrawala dengan tasbih, mensucikan dan salat kepada Allah, sampai mereka menyampaikannya ke tempat terbenam. Jika mereka menyampaikannya ke tempat terbenam, maka mereka memasukkannya ke mata air tersebut, lalu ia jatuh dari ufuk langit ke mata air”.
Lebih lanjut Nabi saw bersabda: “Mengagumkan ciptaan Allah, kagum kepada kekuasaan pada apa yang tidak kita lihat dari hal hal itu. Itulah ucapan Jibril as kepada Sarah:
“Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?”. (QS Hud : 73)
Sebab Allah azza wa jalla menciptakan dua kota. Salah satunya di timur dan yang lain di barat. Penduduk kota yang di timur adalah dari sisa kaum Ad dari keturunan mukmin mereka dan penduduk kota yang di barat adalah dari sisa Tsamud dari keturunan orang-orang yang beriman kepada Saleh. Nama kota yang di  timur dengan bahasa Suryani adalah Markisia dan dengan bahasa Arab adalah Jabaliq dan nama kota yang di barat dengan bahasa Suryani adalah Barjisia dan dengan bahasa Arab adalah Jabars. Masing-masing dari kedua kota mempunyai sepuluh ribu pintu, antara tiap dua pintu adalah satu farsakh. Tiap hari di tiap pintu dari pintu-pintu dua kota ini silih berganti sepuluh ribu lelaki dari penjaga yang menyandang senjata, mereka tidak digilir untuk menjaga setelah itu sampai sangkakala ditiup. Demi Dia yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, seandainya tidak banyak kaum itu dan suara mereka tidak gaduh, maka umat manusia mendengar suara jatuhnya matahari ketika terbit dan ketika terbenam. Di belakang mereka ada tiga umat: Mansak, Tafil dan Taris dan di bawah mereka ada Ya’juj wa Ma’juj.
            Sesungguhnya Jibil membawa kami kepada mereka pada malam kami diisra’kan di Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Aku mengajak Ya’juj Ma’juj untuk menyembah Allah azz wa jalla, lalu mereka menolak kami. Kemudian Jibril membawa kami ke penduduk dua kota, lalu kami ajak mereka kepada agama Allah azza wa jalla dan untuk menyembah-Nya, lalu mereka menurut dan kembali. Maka dalam agama mereka adalah saudara kita. Barangsiapa berbuat baik di antara, maka dia bersama orang yang berbuat baik dari kalian dan barangsiapa berbuat buruk dari mereka, maka mereka itu bersama orang-orang yang berbuat buruk dari kalian. Kemudian kami dibawa ke tiga umat, lalu kami mengajak mereka kepada agama Allah dan menyembah-Nya, lalu mereka menentang apa yang kamu ajakkan kepada mereka, maka mereka kafir kepada Allah azza wa jalla dan mendustakan para rasul-Nya. Maka mereka bersama Ya’juj Ma’juj dan orang yang durhaka kepada Allah lainnya di neraka. Ketika matahari tenggelam, maka ia diangkat dari satu langit ke langit yang lain dalam cepatnya terbang para malaikat, hingga ia dibawa ke langit ketujuh yang tinggi, sampai ia berada di bawah Arasy, lalu ia bersimpuh sujud dan para malaikat bersujud yang diserahi matahari sujud bersamanya. Lalu ia diturunkan dari langit ke langit lain, lalu ketika ia sampai ke langit ini, maka itulah saat fajar menyingsing. Jika ia turun dari sebagian dari mata-mata air itu, maka itu saat pagi terang. Jika ia sampai ke sisi ini dari langit, maka itu saat siang terang”.
            Nabi saw bersabda: “Allah di timur menciptakan tabir dari kegelapan di atas laut ketujuh sesuai jumlah malam sejak Dia menciptakan dunia sampai dunia hancur. Ketika hampir tenggelam, datanglah malaikat yang diserahi malam, lalu menggenggam segengam dari gelapnya tabir itu, lalu menghadap ke barat. Dia terus menerus melepaskan sebagian kegelapan dari sela-sela lemparannya sedikit demi sedikit, sementara dia menunggu mega. Ketika mega tenggelam, maka dia melepaskan seluruh kegelapan, lalu mengepakkan kedua sayapnya, lalu keduanya mencapai dua sisi bumi dan dua sisi langit. Kedua sayap itu melewati apa yang dikehendaki Allah azza wa jalla keluar di udara, lalu ia menggiring gelapnya malam dengan tasbih, mensucikan dan salat kepada Allah, hingga sampai di barat. Ketika ia sampai di barat, maka subuh menyingsing dari timur, lalu ia melipat sayapnya, lalu mengumpulkan sebagian kegelapan kepada yang lain di dua telapak tangannya, lalu menggenggamnya dengan satu telapak tangan sebagaimana genggamannya ketika meraihnya dari tabir di timur. Kemudian ia meletakkan kegelapan itu di barat di atas laut ketujuh dari sana gelapnya malam. Ketika ia memindahkan tabir itu dari timur ke barat, maka sangkakala ditiup dan selesailah dunia. Maka terangnya siang adalah dari arah timur dan gelapnya malam adalah dari arah tabir itu. Matahari dan rembulan selalu seperti itu dari tempat terbit dan tempat terbenamnya sampai keduanya naik ke langit ketujuh yang tinggi sampai di tempat keduanya tertahan di bawah Arasy, sampai tibalah waktu yang ditetapkan Allah untuk taubatnya para hamba. Maka banyaklah perbuatan durhaka di bumi dan musnahlah kebajikan, sehingga tidak ada seorangpun yang memerintahkannya dan tersebarlah kemungkaran sehingga tidak seorangpun melarangnya.
            Jika hal itu terjadi, maka matahari ditahan sekitar semalam di bawah Arasy. Setiap kali ia bersujud dan meminta ijin kapan ia terbit, maka dia tidak diberi jawaban, sampai rembulan menyusulnya dan bersujud bersamanya dan meminta ijin, kapan ia akan terbit, lalu ia tidak diberi jawaban, sampai keduanya ditahan sekitar tiga malam untuk matahari dan dua malam untuk rembulan. Lamanya malam itu tidak diketahui, kecuali oleh orang-orang yang berusaha di dunia dan mereka saat itu adalah kelompok yang sedikit pada tiap daerah di antara daerah-daerah muslimin, hina di mata orang-orang dan hina pada diri mereka. Lalu salah satu dari mereka tidur pada malam itu dalam waktu di mana dia tidur di malam-malam sebelumnya, lalu dia bangun, lalu wudhu dan masuk mushalla, lalu melakukan wirid salatnya sebagaimana dia salat sebelum itu. Lalu dia keluar, maka dia tidak melihat subuh, maka dia mengingkari hal itu dan menyangka hal-hal buruk tentangnya, lalu dia berkata: “Barangkali kami menyingkat bacaanku atau salatku pendek atau kami bangun sebelum waktu kami”.
            Nabi bersabda: “Kemudian dia kembali lagi, dia melakukan salat rutinnya sebagaimana rutinitasnya. Kemudian dia keluar, lalu tidak melihat subuh, sehingga hal itu menambah kejanggalannya dan ketakutan merasukinya dan dalam hal itu dia banyak menyangka keburukan. Kemudian dia berkata: “Barangkali kami menyingkat bacaanku atau salatku pendek atau kami bangun pada permulaan malam”. Kemudian dia kembali lagi pada malam ketiga, sedangkan dia takut dan jarih karena apa yang dia takutkan yaitu prahara malam tersebut. Lalu dia juga salat sebagaimana rutinitasnya pada malam ketiga, lalu dia keluar, lalu dia melihat malam masih tetap, sedangkan bintang-bintang berputar dan kembali ke tempatnya dari permulaan malam. Maka saat itu dia takut dengan takutnya orang yang tahu apa yang dia khawatirkan yaitu prahara malam itu, lalu takut menjadikannya luas dan tangis menjadikannya ringan. Kemudian sebagian dari mereka memanggil sebagian yang lain dan sebelum itu mereka saling kenal dan tersambung. Maka orang-orang yang bersungguh-sungguh dari penduduk tiap negeri berkumpul ke satu masjid di antara masjid-masjidnya dan mereka memohon tolong kepada Allah dengan menangis dan teriak pada sisa malam itu, sementara orang-orang yang lupa dalam lupa mereka. Sehingga ketika sempurna bagi keduanya kira-kira tiga malam bagi matahari dan dua malam bagi rembulan, maka keduanya didatangi Jibil, lalu Jibril berkata: “Sesungguhnya Tuhan azza wa jalla menyuruh kalian untuk kembali ke tempat terbenam kalian, lalu kalian terbit darinya dan bahwa sesungguhnya tidak ada cahaya maupun nur bagi kalian di sisi kami”. Maka keduanya menangis ketika itu dengan tangisan yang didengar oleh penghuni tujuh langit di bawah keduanya dan penghuni tenda-tenda Arasy serta para malaikat pemikul Arasy di atas keduanya. Maka mereka menangis karena tangisan keduanya disertai takut mati dan takut hari kiamat yang mereka mencampuri mereka”.
            Nabi bersabda: “Ketika umat manusia menanti terbit matahari dan rembulan dari timur, tiba-tiba keduanya terbit di belakang tengkuk mereka dari barat dalam keadaan hitam dan tergulung bagaikan dua karung. Tidak ada sinar bagi matahari dan tidak ada cahaya bagi rembulan sebagaimana keduanya gerhana sebelum itu. Maka penduduk dunia saling berteriak dan ibu-ibu lupa akan anak-anaknya dan para pecinta kepada buah hatinya. Masing-masing jiwa sibuk karena apa yang menimpanya. Adapun orang-orang saleh dan orang-orang yang berbakti, maka sungguh tangis mereka berguna bagi mereka saat itu dan hal itu ditulis sebagai ibadah bagi mereka. Adapun orang-orang fasik dan orang-orang yang durhaka, maka sungguh tangis mereka tidak berguna bagi mereka saat itu dan hal itu ditulis sebagai kerugian bagi mereka. Maka matahari dan rembulan naik bagaikan dua unta yang disertakan, masing-masing berlomba satu sama lain. Hingga ketika keduanya sampai di tengah langit, maka Jibril mendatangi keduanya, lalu memegang tanduk keduanya, lalu mengembalikan keduanya ke tempat terbenam, lalu Jibril tidak menenggelamkan keduanya di tempat-tempat terbenamnya yaitu mata-mata air tersebut, namun menenggelamkan keduanya di pintu taubat”.
            Umar bin Khathab berkata: “Kami dan keluarga kami menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Lalu apa pintu taubat itu?” Nabi menjawab: “Hai Umar, Allah azza wa jalla menciptakan sebuah pintu untuk taubat di +-elakang tempat tembenam, dua daun pintu dari emas yang dimahkotai dengan mutiara dan berlian. Antara daun pintu ke daun pintu lain jarak empat puluh tahun bagi pengendara yang cepat. Maka pintu itu terbuka sejak Allah menciptakan makhluk-Nya sampai esok malam tersebut ketika terbitnya matahari dan rembulan dari tempat terbenam keduanya. Tidak ada hamba di antara hamba-hamba Allah bertaubat dengan taubat nasuha sejak Adam sampai esok malam tersebut, kecuali taubat itu masuk dalam pintu tersebut, kemudian diangkat kepada Allah azza wa jalla”.
            Mu’adz bin Jabal berkata: “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Apa taubat nasuha itu?” Nabi saw menjawab: “Sesalnya pelaku dosa atas dosa yang dia lakukan, lalu dia memohon ampun Allah, kemudian tidak kembali kepadanya, sebagaimana air susu tidak kembali ke ambing. Kemudian Jibril mengembalikan kedua daun pintu, lalu mengatupkan keduanya, seakan-akan tidak pernah ada belahan antara keduanya. Jika pintu taubat ditutup, maka setelah itu taubat tidak diterima dan setelah itu tidak berguna kebaikan yang dia lakukan dalam Islam, kecuali orang yang berbuat baik sebelum itu. Maka ses dibalaskan kepada mereka dan atas mereka apa yang terjadi sebelum itu. Itulah firman Allah azza wa jalla:
            “Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya”. (QS Al An’am : 158)
            Ubay bin Ka’ab berkata: “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Lalu bagaimana matahari dan rembulan setelah itu? Bagaimana umat manusia dan dunia?” Nabi menjawab: “hai Ubay, sesungguhnya matahari dan rembulan setelah itu diberi pakaian sinar dan cahaya, keduanya terbit dan terbenam atas manusia, sebagaimana sebelumnya. Adapun umat manusia, maka sesungguhnya mereka melihat apa yang mereka lihat, yaitu tanda yang menakutkan, lalu mereka melukai dunia sampai mengalirkan sungai-sungai padanya, menenaminya dengan pepohonan dan mendirikan bangunan padanya. Adapun dunia, maka sesungguhnya seandainya seorang lelaki diberi anak kuda, maka dia tidak menanikinya sejak terbitnya matahari dari tempat terbenamnya sampai sangkakala ditiup”.
            Hudzaifah bin Al Yaman berkata: “Kami dan keluarga kami menjadi keluargamu, wahai Rasulullah. Lalu bagaimana mereka ketika sangkakala ditiup?” Nabi menjawab: “Hai Hudzaifah, demi Dia yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kiamat terjadi dan sungguh sangkakal ditiup, sedangkan lelaki menutupi telaganya, maka dia tidak diberi minum darinya. Dan sungguh kiamat terjadi, sementara pakaian ada di antara dua lelaki, lalu mereka tidak melipatnya dan tidak menjual belikannya. Dan sungguh kiamat terjadi, sedangkan lelaki sudah mengangkat suapannya ke mulutnya, lalu dia tidak memakannya. Dan sungguh kiamat terjadi, sedangkan lelaki berangkat dengan air susu untanya dari bawahnya, lalu dia tidak meminumnya”. Kemudian Nabi saw membaca ayat:
            “Dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya”. (QS Al Ankabut : 53)
            Jika sangkakala ditiup, kiamat terjadi dan Allah memisahkan antara ahli surg adan ahli neraka dan mereka belum memasukinya setelah itu, tiba-tiba Allah memanggil matahari dan rembulan. Lalu Allah mendatangkan keduanya hitam dan tergulung jatuh dalam gempa dan tercerai berai, urat leher keduanya bergetar karena phara hari itu dan takut Ar Rahman. Hingga ketika keduanya ada di uka Arasy, keduanya bersimpuh sujud kepada Allah, lalu berkata: “Tuhan kami, Engkau sungguh tahu ketaatan kami kepada-Mu dan kegigihan kami dalam menyembah-Mu serta segera kami dalam perintah-Mu di hari-hari dunia. Maka janganlah Engkau menyiksa kami karena penyembahan orang-orang musyrik kepada kami, sebab sesungguhnya kami tidak mengajak untuk menyembah kami dan kami tidak lupa untuk menyembah-Mu”. Maka Tuhan tabaraka wa ta’ala berfirman: “Kalian benar dan Aku sungguh sudah memutuskan bagi-ku bahwa Aku memulai dan mengulangi dan Aku mengembalikan kalian pada apa yang Aku mulai kalian darinya. Maka kembalilah kalian kepada apa yang kalian diciptakan darinya”. Keduanya berkata: “Tuhan kami, dari apa Engkau menciptakan kami?” Allah berfirman: “Aku menciptakan kalian dari cahaya Arasy-Ku, maka kembalilah kalian kepadanya”. Maka berkiblatlah sebuah sinar dari keduanya yang cahayanya hampir menyambar mata, lalu bercampur dengan cahaya Arasy. Itulah firman-Nya:
            “Menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)”. (QS Al Buruj : 13)
            Ikrimah berkata: “Kemudian kami berdiri bersama orang-orang yang meriwayatkan hadits tersebut menuju Ka’b, lalu kami beritakan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mawah karena haditsnya. Kami juga menjelaskan apa yang diriwayatkan Ibnu Abbas dari Nabi saw. Maka berdirilah Ka’b bersama kami menuju Ibnu Abbas, lalu Ka’b berkata: “Sudah sampai kepada kami kemarahanmu karena haditsku. Kami memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Kami hanya meriwayatkan dari kitab usang yang dimiliki banyak orang dan kami tidak tahu perubahan kaum Yahudi padanya. Sedangkan anda meriwayatkan dari kitab baru yang baru saja datang dari Ar Rahman dan dari Pimpinan para nabi serta nabi terbaik. Karena itu, kami ingin anda meriwayatkan hadits itu kepada kami, sehingga kami menghafalnya dari anda. Jika anda meriwayatkannya, maka mengganti hadits kami yang pertama”.
            Ikrimah berkata: “Ibnu Abbas mengulangi hadits di atas kepada Ka’b, sementara kami memasukkannya ke dalam hati bab demi bab. Ibnu Abbas sama sekali tidak menambah maupun mengurangi sesuatu, tidak mendahulukan maupun mengakhirkan apapun. Hal itu menambah kami cinta kepada Ibnu Abbas dan bertambah hafal hadits”.
            Termasuk hal yang diriwayatkan dari ulama salaf mengenai masalah ini adalah penuturan Abu Thufail, bahwa Ibnu Kawwa’ bertanya kepada Ali: “Wahai Amirul Mukminin, apa noda itu yang ada di rembulan?” Aku menjawab: “Kasihan kamu, apakah kamu tidak membaca Al Qur-an?
            “Lalu Kami hapuskan tanda malam”. (QS Al Isra’ : 12)
Itu adalah penghapusan tersebut”.
            Juga penuturan Ali bin Rabiah, bahwa Ibnu Kawwa’ bertanya kepada Ali: “Apa warna hitam yang ada di rembulan?” Ali menjawab:
            “Lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang”. (QS Al Isra’ : 12)
            Ibnu Abbas bertutur mengenai ayat:
            “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam”. (QS Al Isra’ : 12)
Ibnu Abbas berkata: “Itu adalah hitamnya malam”.
            Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas bertutur: “Dulu rembulan bersinar sebagaimana matahari. Rembulan adalah tanda malam dan matahari adalah tanda siang. ‘Lalu Kami hapuskan tanda malam’ yaitu warna hitam yang ada di rembulan”.
            Ibnu Juraij meriwayatkan, bahwa Abdullah bin Katsir bertutur tentang firman Allah:
            “Lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang”. (QS Al Isra’ : 12)
Abdullah berkata: “Yakni gelapnya malam dan terangnya siang”.
            Said meriwayatkan bahwa Qatadah bertutur mengenai ayat:
            “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam”. (QS Al Isra’ : 12)
Dengan berkata: “Kami berbincang-bincang bahwa menghapus tanda malam adalah gelapnya rembulan yang ada padanya. Allah menciptakan matahari lebih terang daripada rembulan”.
            Menurut kami, yang benar di antara pendapat-pendapat adalah bahwa Allah menciptakan matahari siang dan rembulan malam sebagai dua tanda. Allah menjadikan tanda siang yaitu matahari terang bendatang dan Allah menghapus tanda malam yaitu rembulan dengan warna hitam yang ada padanya.
            Mungkin saja dulu menciptakan dua matahari dari cahaya Arasy-Nya, kemudian Allah menghapus cahaya rembulan dengan malam sebagaimana dikatakan orang yang berpendapat demikian. Itulah penyebab perbedaan matahari dan rembulan.
            Mungkin juga terangnya matahari adalah karena pakaian yang dipakaikan kepadanya dari sinar Arasy dan cahaya rembulan adalah dari pakaian yang dipakaikan kepadanya dari cahaya Arasy.
            Seandainya sanad salah satu dari kedua hadits yang telah kami sebutkan, tentu kami mendukungnya, namun sayang sanad keduanya perlu ditinjau kembali, sehingga kami tidak berani mensahihkan isinya tentang perbedaan rembulan dan matahari. Hanya saja kami tahu dengan sesungguhnya, bahwa Allah membedakan keduanya dalam hal terangnya, sebab Dia tahu bahwa perbedaan itu mendatangkan kemaslahatan bagi makhluk. Karena itu, Dia menjadikan salah satunya bersinar terang dan yang lain cahayanya dihapus.
            Kami menuturkan perihal matahari dan rembulan dalam tarikh ini, meskipun kami berpaling untuk menuturkan permulaan Allah menciptakan langit dan bumi dan kami juga tidak menuturkan peciptaan seluruh makhluk Allah, sebab tujuan kami dalam menyusun kitab ini adalah masa dan sejarah para raja dan umat-umat serta para nabi dan rasul, sebagaimana kami tegaskan dalam mukadimah. Sedangkan tarikh dan masa itu dibatasi dengan malam dan siang yang merupakan jam peredaran matahari dan rembulan di langit, sebagaimana kami sebutkan dalam hadits dari Nabi saw. Sebelum Allah menciptakan malam matahari dan rembulan, makhluk yang telah ada tidak berada dalam masa, jam, malam maupun siang.
            Kami sudah menjelaskan berapa masa antara permulaan ciptaan Allah terhadap makhluk sampai Dia menyelesaikan seluruh makhluk menurut hitungan tahun dunia. kami mendasarinya dengan atsar dan hadits. Kami juga sudah menuturkan pendapat mengenai masa antara selesainya penciptaan seluruh makhluk sampai fananya alam semesta dengan dalil-dalil yang kami sebutkan dari hadits Nabi, ucapan sahabatnyan dan ulama lainnya. Tujuan kami menyusun kitab ini adalah sejarah para raja yang durhaka kepada Tuhan dan yang taat kepada-Nya serta sejarah para nabi san rasul. Kami sudah menuturkan pedoman sejarah dan waktu, yaitu matahari dan rembulan yang salah satunya menjadi pedoman untuk mengetahui waktu di malam hari dan yang lain menjadi pedoman untuk mengetahui waktu di siang hari. Selanjutnya kami akan membahas seseorang yang pertama kali diberi kerajaan oleh Allah dan diberi nikmat, namun kemudian ia tidak bersyukur, menentang ketuhanan Allah dan sombong kepada-Nya, sehingga Allah mencabut nikmat-Nya dan menghinakan dirinya. Kemudian kami meneruskannya dengan orang yang mengikuti jejaknya dan meniru langkahnya, sehingga Allah menimpakan siksa kepadanya dan menjadikannya termasuk kelompoknya serta menghinakannya. Kami juga menuturkan raja-raja yang semasa dengan orang tersebut atau sesudahnya yang terpuji atau dari kalangan para nabi dan rasul insya Allah.
            Raja pertama dan pemuka para raja adalah Iblis.
            Sebenarnya Allah mengindahkan fisik Iblis, menjadikannya mulia dan menjadikannya sebagai raja langit dan bumi menurut sebuah versi. Di samping itu, Allah menjadikannya bagian dari penjaga surga. Namun kemudian dia sombong kepada Allah mengaku sebagai tuhan dan menyuruh orang yang ada di bawah kekuasaannya untuk menyembahnya menurut sebuah versi. Karena itu, Allah merubahnya menjadi setan yang dilaknat, memburukkan fisiknya dan mencabut apa yang Dia anugrahkan kepadanya serta mengusirnya dari langit. Kemudian Allah menjadikan tempat kembalinya dan tempat kembali para pengikutnya di akhirat adalah neraka Jahanam. Semoga Allah melindungi kita dari murka-Nya, perbuatan yang membuat kita dimurkai dan kembali melakukan kesalahan.
            Kami mulai dengan menuturkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ulama salaf mengenai kemuliaan yang diberikan Allah kepada Iblis sebelum dia takabur dan mengaku sebagai tuhan. Setelah itu, kami meneruskannya dengan peristiwa pada masa kekuasaannya sampai saat dia diturunkan dari tahta dan penyebab nikmat Allah dicabut darinya. Dan lain-lainnya yang berkaitan dengan Iblis insya Allah.
__________________________

Abi Muhamm, Pengasuh Pon-Pes Al Qoumaniyah (Pondok Bareng), Jekulo, Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar