Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Rumus-Rumus Dalam Menafsirkan Mimpi

Senin, 09 Maret 2015



Setelah anda gabungkan rumuz mimpi dengan dasar dan setiap takbir, susunlah dasar takbir dengan yang lain agar menghasilkan sebuah takbir yang tepat.
            Contoh-contoh di bawah dapat menjadi pedoman. Saya mengambilnya dari maestro takbir mimpi internasional, yaitu Imam Ibnu Sirin.
            Suatu hari, Hajjaj bin Yusuf bermimpi melihat dua orang bidadari turun dari langit. Hajjaj menangkap salah seorang dari mereka dan bidadari kedua kembali ke langit. Ibnu Sirin mendengar mimpi itu dan berkata: “Dua bidadari itu adalah dua huru hara. Hajjaj masih hidup ketika salah satu huru hara terjadi dan tidak hidup pada saat huru hara yang lain terjadi”. Ternyata Hajjaj masih hidup saat huru hara Ibnu Asy’ats dan sudah mati ketika huru hara Ibnu Muhallab terjadi.
            Mimpi Hajjaj ini mengandung dua rumuz :
Yang pertama : dua orang bidadari.
Yang kedua : Hajjaj menangkap salah satunya dan yang lain kembali ke langit.
            Untuk rumuz pertama, Ibnu Sirin mendasarinya dengan hadits, yaitu menakbirkan wanita dengan huru hara dan fitnah. Nabi bersabda: “Aku tidak meninggalkan setelah aku fitnah yang lebih bahay bagi lelaki daripada wanita”. (HR Bukhori Muslim) Sementara untuk rumuz kedua, Ibnu Sirin mendasarinya dengan dasar lain, yaitu perasaan. Lalu Ibnu Sirin menggabungkan kedua dasar dan menciptakan takbir yang tepat. Kenyataannya memang benar.
            Seorang lelaki menghadao Ibnu Sirin dan berkata: “Saya meminang seorang wanita. Lalu saya lihat dia dalam mimpi saya lihat hitam pendek”. Ibnu Sirin menjawab: “Hitamnya adalah harta bendanya. Sementara pendeknya adalah umurnya”. Tak lama kemudian wanita itu meninggal dunia dan lelaki itu mewaris harta bendanya.
            Dalam mimpi tersebut ada dua rumuz:
Pertama : hitamnya si wanita.
Kedua : pendeknya.
            Rumuz pertama oleh Ibnu Sirin didasari dengan bahasa. Menurut bahasa bangsa Arab, kata sawad (hitam) juga  harta banyak. Sementara untuk rumuz kedua, Ibnu Sirin mendasarinya dengan makna dan persamaan. Ibnu Sirin menyamakan badan dengan umur dalam hal panjang pendeknya. Kemudian Ibnu Sirin menggabungkan kedua dasar itu dan menghasilkan takbir tersebut.
            Abdulloh bin Muslim berkata: “Aku sering berkunjung kepada Ibnu Sirin. Pada suatu kesempatan, aku tidak berkunjung lama sekali dan bercakap-cakap dengan sekelompok orang dari sekte Ibadhiyah. Lalu aku bermimpi, seolah-olah aku bersama sekelompok orang yang memikul jenazah Nabi saw. Aku menghadap Ibnu Sirin dan menyebutkan mimpi itu. Ibnu Sirin menjawab: “Kenapa kamu berbincang-bincang dengan sekelompok orang yang berkeinginan untuk membunuh apa yang dibawa oleh Nabi saw?”
            Dalam mimpi ini ada dua rumuz:
Pertama : jenazah Nabi saw.
Kedua : pekerjaan sekelompok orang yaitu memikul jenazah tersebut untuk dikebumikan.
            Rumuz pertama oleh Ibnu Sirin ditakwili sebagai kebenaran yang dibawah oleh Nabio saw. Sementara rumuz kedua ditakwili sebagai pemusnahan kebenaran tersebut. Kedua takwil itu digabungkan dan terciptalah takbir tersebut.
            Seorang lelaki menghadap Ibnu Sirin dan berkata: “Aku bermimpi, seolah-olah di kepala saya ada sebuah mahkota dari emas”. Ibnu Sirin menjawab: “Bertakwalah kepada Alloh. Ayahmu berada di daerah asing dan matanya buta. Dia ingin kamu menemuinya”. Lelaki itu memasukkan tangannya ke tempat ikat pinggang dan menggeluarkan sepucuk surat dari ayahnya, di mana sang ayah menyebutkan, bahwa matanya buta dan berada di daerah asing dan menyuruh dia menemuinya.
            Pada mimpi di atas ada tiga rumuz:
Pertama : kepala.
Kedua : mahkota.
Ketiga : emas.
            Ibnu Sirin mendasari ketiga rumuz tersebut dengan makna dan terbentuknya kata. Kata ro’s (kepala)  kepemimpinan, sedangkan pemimpin orang adalah ayahnya. Mahkota hanya dipakai oleh orang Ajam, non Arab. Daerah Ajam adalah daerah asing bagi bangsa Arab. Dzahab (emas)  hilangnya mata. Ibnu Sirin lalu merangkum dasar-dasar tersebut dan menghasilkan takwil mimpi yang mengagumkan dan sesuai dengan kenyataan.
            Mimpi yang ditakwil atau ditakbir oleh Ibnu Sirin sesuai dengan realita. Mimpi sesuai dengan takbirnya. Hakim meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya mimpi terjadi sesuai takbirnya. Perumpamaan hal itu adalah seperti lelaki yang mengangkat kakinya, lalu dia menanti kapan dia meletakkannya. Karena itu, jika salah seorang dari kalian bermimpi dengan suatu mimpi, maka janganlah dia menceritakannya, kecuali kepada orang yang menasehati atau orang pandai”.
            Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Rozin Al Uqoili, bahwa Nabi bersabda: “Mimpi ada di kaki seekor burung selama belum ditakbirkan. Jika ditakbirkan, maka terjadi ..”
            Karena itu, kami mengingatkan, bahwa mimpi haruslah ditakbirkan dengan kebaikan selagi bisa tanpa ngawur. Jika tidak bisa, maka lebih baik tidak ditakbirkan”.
            Ibnul Wardi berkata:
Mimpi di sayap seekor burung
Jika anda takbirkan, terjadilah kebaikan atau keburukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar