Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

TAFSIR MIMPI VERSI ISLAM: CARA, ETIKA DAN METODHE TAKBIR MIMPI

Rabu, 04 Maret 2015




CARA, ETIKA DAN METODHE TAKBIR MIMPI

1- Mimpi ada tiga macam:
A- Mimpi baik dan saleh. Mimpi ini adalah berita gembira dari Alloh dan satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.
B- Mimpi buruk. Mimpi ini permainan setan untuk mengganggu anak cucu Adam. Setan mempermainkan manusia dalam tidurnya.
C- Mimpi sesuatu yang sesuai dengan kenyataan yang dialami. Hal itu hadir dalam mimpi dan kebiasan ketika terjaga masuk dalam mimpi. Mislanya seseorang terbiasa makan pada jam sekian, lalu dia tidur pada jam itu. Lalu dia bermimpim akan. Atau dia terlampau kenyang makanan atau minuman, lalu dia bermimpi muntah-muntah.
            Selain ketiga macam di atas adalah mimpi tidak ada artinya, mimpi bunga tidur belaka. Tidak bisa ditakbirkan artinya karena rancau dan tidak sesuai dengan kaidah takbir mimpi.
2- Jika seseorang mengalami mimpi yang baik, maka dia dianjurkan melakukan empat hal:
a- Memuji Alloh swt.
b- Merasa gembira karena mimpi itu.
c- Menceritakannya kepada orang yang suka. Jangan bercerita kepada orang yang tidak suka.
d- Menakbirkannya dengan takbir yang baik dan benar. Sebab kenyataan mimpi sesuai dengan takbirnya.
3- Jika mimpinya buruk dan tidak disukai, dianjurkan melakukan tujuh hal. Jika dia lakukan, maka insya Alloh mimpi itu tidak berefek sampign burung. Ketujuh hal itu adalah:
a- Meminta perlindungan kepada Alloh dari kejahatan mimpi itu.
b- Berlindung dari setan sebanyak tiga kali.
c- Meludah ke arah kiri tiga kali.
d- Merubah agar miring lambung sebelumnya.
e- Sholat.
f- Tidak menceritakan mimpi kepada seornagpun.
g- Tidak menakbirkannya untuk dirinya sendiri.
            Dasar hal tersebut di atas adalah hadits-hadits berikut:
Diriwayatkan Bukhori dari Abu Said Al Khudri ra, bahwa dia mendengar Nabi saw bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian bermimpi dengan mimpi yang dia sukai, maka sesungguhnya mimpi itu hanya dari Alloh. Maka hendaklah dia memuji Alloh aats mimpi itu dan hendaklah dia menceritakannya. Dan apabila dia selain itu dari hal yang dia benci, maka sesungguhnya mimpi itu hanya dari setan. Maka hendaklah dia berlindung dari kejahatan mimpinya dan jangan menyebutkannya kepada seorangpun. Maka sesungguhnya mimpi itu tidak membahayakannya”.
            Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dari Abu Huroiroh ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Jika salah seorang dari kalian bermimpi dengan mimpi yang baik, maka hendaklah dia menafsirinya dan hendaklah dia menceritakannya. Dan jika dia bermimpi dengan mimpi ayng buruk, maka janganlah dia menafsirinya dan jangan pula menceritakannya”.
            Bukhori Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Salamah berkata: “Aku pernah bermimpi sampai jatuh sakit. Akhirnya aku mendengar Abu Qotadah ra berkata: “Aku pernah bermimpi, lalu aku jatuh sakit, sampai aku mendengar Nabi saw bersabda: “Mimpi yang baik dari Alloh. Karena itu, jika salah seorang dari kalian bermimpi apa yang dia senangi, maka janganlah menceritakannya, kecuali kepada orang yang diinginkannya. Dan jika dia bermimpi apa yang dia benci, maka hendaklah berlindung kepada Alloh dari kejahatannya dan dari kejahatan setan. Dan hendaklah dia meludah tiga kali dan jangan menceritakannya kepada seorangpun. Maka sesungguhnya mimpi itu tidak akan membahayakannya”.
            Dalam sebuah riwayat Muslim disebutkan: “Karena itu, jika dia bermimpi baik, maka hendaklah dia bergembira dan jangan bercerita, kecuali kepada orang yang diinginkannya”.
            Muslim meriwayatkan dari Jabir ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian bermimpi dengan mimpi yang dia benci, maka hendaklah dia meludah ke kiri tiga kali, hendaklah memohon lindungan kepada Alloh dari setan tiga kali dan hendaklah beralih dari lambung yang ada sebelumnya”.
            Muslim juga meriwayatkan dari Abu Huroiroh ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Lalu jika salah seorang dari kalian bermimpi sesuatu yang dia benci, maka hendaklah sholat dan jangan menceritakannya kepada manusia”.
____________________

 

Abu Muhammad Kholid bin Ali bin Muhammad Al Anbari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar