Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

TARIKH THABARI: KISAH PENCIPTAAN NABI ADAM AS

Senin, 09 Maret 2015


Ketika  Allah SWT berkehendak untuk memperlihatkan kepada para Malaikat bahwa iblis akan bersikap takabur sesuai apa yang Dia ketahui tetapi mereka tidak mengetahuinya, dan Dia berkehendak untuk memperlihatkan kehancuran iblis dalam waktu dekat, maka Dia berfirman:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. Al-Baqarah : 30)
Para Malaikat menjawab:
"Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?" (QS. Al-Baqarah : 30)
Ibnu Abbas RA bertutur bahwa yang dimaksud oleh para Malaikat dengan jawaban tersebut adalah para jin yang telah menghuni bumi sebelumnya. Jadi, mereka bertanya kepada Allah apakah Dia hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi yang bersikap seperti para jin yang telah menghuni bumi sebelumnya, yaitu mengalirkan darah dan membuat kerusakan di sana dengan mendurhakai-Nya? Malaikat mengakhiri kata-katanya dengan mengucap:
"Kami senantiasa memuji-Mu dan mensucikan-Mu." (QS. Al-Baqarah : 30)
Lalu Allah berkata:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." (QS. Al-Baqarah : 30)
Yang Allah ketahui adalah bahwa iblis akan bersikap takabur, membangkang perintah-Nya dan tertipu oleh nafsunya. Dia akan memperlihatkan hal itu kepada para Malaikat agar mereka mengetahuinya secara langsung. Demikian pendapat Ibnu Abbas RA. Ada banyak pendapat dalam ayat ini, tetapi aku tidak suka memperpanjang pembahasan ini dengan menyebutkan semuanya di sini karena telah kuceritakan dalam kitabku yang berjudul Jami' al-Bayan an Ta'wil Ayi al-Quran. Ketika hendak menciptakan Nabi Adam AS, Allah memerintahkan agar diambilkan tanah dari bumi, sebagaimana ditutur dari Ibnu Abbas RA. Dia bertutur: "Lalu tanah itu datang, lalu Dia menciptakan Adam AS dari tanah yang lengket, berwarna hitam dan berbau. Dia menciptakannya dengan kekuasaan-Nya."
Ditutur dari Ibnu Abbas RA, Ibnu Mas'ud RA dan beberapa sahabat bahwa apa yang diketahui Allah dalam ayat di atas adalah perkara iblis. Setelah itu Allah mengutus Jibril ke bumi untuk mengambil tanah. Begitu sampai di sana, bumi berkata: "Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Allah dari kamu agar tidak mengambil sesuatu dari diriku dan membuatku cacat!." Akhirnya Jibril kembali tanpa mengambil apapun. Ia berkata: "Wahai Tuhan, bumi memohon perlindungan kepada-Mu dan Engkau memberinya perlindungan." Lalu Allah mengutus Mikail. Begitu sampai di sana, bumi memohon perlindungan kepada-Nya dari dia dan Allahpun memberinya perlindungan. Akhirnya Mikail kembali dan berkata seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Allah mengutus Malaikat maut. Begitu sampai di sana, bumi memohon perlindungan seperti sebelumnya. Lalu Malaikat maut berkata: "Aku memohon perlindungan kepada Allah jangan sampai aku kembali tanpa berhasil melaksanakan perintah-Nya."
Lalu dia mengambil tanah dari beberapa tempat di muka bumi. Ada yang berwarna merah, putih dan hitam, kemudian dicampur. Oleh sebab itu umat manusia lahir ke dunia dalam keadaan beragam. Setelah itu dia naik ke langit. Dia membasahi tanah itu hingga menjadi lengket, lalu dibiarkan hingga berbau busuk. Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang berbau." (HR. Al-Hijr : 26)
 Ibnu Abbas RA bertutur: "Allah mengutus iblis agar mengambil tanah. Lalu ia mengambil tanah dari permukaan bumi. Oleh sebab itu, Nabi Adam AS mendapat nama Adam karena ia diciptakan dari Adim (permukaan bumi). Dari sini Iblis berkata:
"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah (yang aku bawa)?" (QS. Al-Isra' : 61)
Said bin Jubair bertutur: "Nabi Adam AS dinamai Adam karena diciptakan dari adim –permukaan bumi-." Ali KWH bertutur: "Sesungguhnya Nabi Adam AS diciptakan dari permukaan bumi. Sebagian baik, yang lainnya buruk. Oleh sebab itu kamu melihat keturunannya sebagian baik dan yang lainnya buruk." Abu Musa al-Asyari RA bertutur bahwa Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan Nabi Adam AS dari segenggam tanah yang Dia ambil dari seluruh bumi sehingga keturunannya sesuai dengan sifat bumi, ada yang berkulit merah, hitam, putih dan tengah-tengah. Ada yang halus dan ada yang kasar, ada yang buruk dan ada yang baik. Lalu tanah itu dibasahi hingga menjadi lengket, kemudian dibiarkan hingga menjadi hitam dan berbau, kemudian dibiarkan hingga menjadi tanah yang kering. Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (QS. Al-Hijr : 26)
Ibnu Abbas RA bertutur: "Nabi Adam AS diciptakan dari tiga perkara, yaitu shalshal, hama' dan thin lazib. Thin lazib adalah tanah yang bagus, hama' adalah tanah yang berwarna hitam dan berbau, sedangkan shalshal adalah tanah yang dilembutkan. Dalam Al-Quran, yang dimaksud dengan shalshal adalah tanah kering yang memiliki shalshalah. Shalshalah adalah suara. Disebutkan bahwa setelah Allah membuat adonan tanah yang akan diwujudkan sebagai Nabi Adam AS, Dia membiarkannya selama empat puluh malam, ada pula yang mengatakan empat puluh tahun, dalam keadaan berupa jasad yang terlentang.
Ibnu Abbas RA bertutur: "Allah memerintahkan agar diambilkan tanah. Setelah tanah didatangkan Dia menciptakan Adam AS dari tanah yang bagus dari tanah hitam yang berbau busuk dengan kekuasaan-Nya. Setelah itu jasad Adam AS diam selama 40 malam dalam keadaan terlentang. Dalam keadaan tersebut iblis mendatanginya dan memukulnya dengan kaki hingga jasad Adam AS mengeluarkan suara. Allah berfirman:
"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti fakhar (tembikar)." (QS. Ar-Rahman : 14)
Fakhar adalah sesuatu yang bagian tengahnya kosong. Kemudian iblis memasuki jasad Adam AS melalui mulutnya dan keluar dari anusnya, lalu masuk dari anus dan keluar dari mulutnya. Ia berkata: "Kamu bukan sesuatu yang bisa mengeluarkan suara dengan sendirinya. Untuk apa kamu diciptakan? Aku bersumpah jika diberi kekuasaan atas dirimu maka aku akan membinasakanmu, dan jika kamu diberi kekuasaan atasku maka aku akan menolak perintahmu!."
Ibnu Abbas RA, Ibnu Mas'ud RA dan beberapa sahabat bertutur bahwa Allah berkata kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah. Ketika Aku telah menyempurnakannya dan meniupkan ruh ke dalam tubuhnya maka bersujudlah kepadanya!." Allah menciptakan Adam AS dengan kedua tangan (kekuasaan)-Nya agar iblis tidak takabur. Ketika ia takabur maka Dia akan berkata: "Apakah kamu takabur atas makhluk yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku, sementara Aku tidak takabur atas dia?"
Selama 40 tahun Adam AS masih berupa jasad dari tanah. Kemudian para Malaikat lewat di dekatnya. Mereka merasa takut ketika melihatnya. Yang paling takut adalah iblis. Lalu ia memukul jasad Adam AS hingga mengeluarkan suara seperti tembikar yang bersuara. Ia berkata: "Untuk apa kamu diciptakan?." Ia masuk melalui mulutnya dan keluar dari anusnya. Lalu ia berkata kepada Malaikat: "Kalian jangan takut. Tuhan kalian adalah shamad –tidak kosong bagian tengahnya- sedangkan jasad ini adalah ajwaf –kosong bagian tengahnya-! Aku bersumpah jika diberi kekuasaan atas dia maka aku akan membinasakannya."
Salman al-Farisi RA bertutur: "Allah mencampur tanah yang akan diciptakan sebagai Adam AS selama 40 hari, lalu Dia mengumpulkannya dengan kedua tangan-Nya. Bagian yang baik keluar dengan tangan kanan-Nya dan yang buruk keluar dengan tangan kiri-Nya. Kemudian Dia mengusapkan salah satu tangan-Nya pada tangan lainnya lalu mencampur bagian yang baik dengan yang buruk. Dari sinilah perkara yang baik keluar dari perkara yang buruk, dan yang buruk keluar dari yang baik."
Ibnu Ishaq bertutur: "Dikatakan bahwa Allah menciptakan Adam AS lalu meletakkannya. Dia melihat jasadnya selama 40 hari sebelum meniupkan ruh hingga jasad Adam AS menjadi kosong bagian tengahnya seperti tembikar tanpa tersentuh api. Setelah lewat masa tersebut dan Allah hendak meniupkan ruh ke jasad itu, Dia berkata kepada para Malaikat: "Ketika Aku telah meniupkan ruh ke dalamnya maka bersujudlah kalian kepadanya!." Ruh masuk dari arah kepalanya.
Ibnu Abbas RA, Ibnu Mas'ud RA dan beberapa sahabat bertutur: "Ketika telah sampai waktu dimana Allah hendak meniupkan ruh ke dalam jasad Adam AS, Dia berkata kepada para Malaikat: "Ketika Aku telah meniupkan ruh ke dalamnya maka bersujudlah kalian kepadanya!." Ketika ruh masuk dari arah kepalanya, tiba-tiba Adam AS bersin. Para Malaikat berkata: "Ucapkan Alhamdulillah!." Iapun mengucapkan kalimat itu. Lalu Allah berkata: "Tuhanmu memberimu rahmat." Ketika ruh sampai ke bagian matanya, ia melihat buah-buahan di surga. Ketika sampai ke bagian perutnya, ia ingin makan. Lalu ia melompat dengan tergesa-gesa untuk mengambil buah padahal ruh belum sampai ke bagian kakinya. Allah berfirman:
"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa." (QS. Al-Anbiya' : 37)
Lalu semua Malaikat bersujud kecuali iblis. Ia tidak mau bersujud karena takabur hingga menjadi kafir. Lalu Allah berkata: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada makhluk yang Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku di waktu Aku menyuruhmu?." Iblis menjawab: "Aku lebih baik dari dia. Aku tidak akan bersujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah!." Allah berkata: "Maka turunlah kamu dari surga! Kamu tidak pantas bersikap takabur di sana. Keluarlah dan kamu termasuk orang-orang yang hina!."
Ibnu Abbas RA bertutur: "Ketika Allah meniupkan ruh ke jasad Adam AS maka ruh masuk dari arah kepala. Bagian yang teraliri ruh berubah menjadi daging dan darah. Ketika ruh sampai di bagian pusarnya, Adam AS melihat tubuhnya. Ia merasa kagum terhadap keindahan tubuhnya. Iapun berusaha bangun tetapi tak mampu. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah di atas:
"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa." (QS. Al-Anbiya' : 37)
Maksud dari tergesa-gesa adalah tidak sabar dalam keadaan gembira maupun susah. Ketika ruh telah mengalir di seluruh tubuhnya, Adam AS bersin. Lalu dengan ilham Allah ia mengucap: "Alhamdulillahi rabbil alamin." Allah menjawab: "Yarhamukallah (Allah memberi rahmat) wahai Adam!." Kemudian Dia memerintahkan kepada para Malaikat yang ada bersama iblis –bukan Malaikat yang ada di langit- agar bersujud kepada Adam AS. Semuanyapun bersujud kecuali iblis. Ia membangkang karena ada rasa takabur dalam dirinya. Ia berkata: "Aku tidak akan bersujud. Aku lebih baik dari dia, lebih tua dan lebih kuat. Engkau menciptakan aku dari api dan menciptakan dia dari tanah." Menurutnya, api lebih kuat dari tanah. Oleh sebab itu Allah membuatnya putus asa dari semua kebaikan dan menjadikannya sebagai setan yang dilaknati sebagai bentuk hukuman atas kedurhakaannya."
Ibnu Ishaq bertutur: "Dikatakan bahwa ketika ruh sampai ke bagian kepala Adam AS, ia bersin dan mengucap Alhamdulillah, lalu Allah berkata: "Tuhanmu memberimu rahmat." Malaikatpun bersujud karena melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka tetapi musuh Allah, iblis, berdiri di antara mereka. Ia tidak mau bersujud karena takabur dan dengki. Allah berfirman:
"Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?." Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga. Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan." Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan." Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,  sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)." Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka." Allah berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran Itulah yang Ku-katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya." (QS. Shad : 75-85)
Ibnu Ishaq meneruskan: "Setelah Allah selesai mencela iblis dan ia tetap tidak mau bersujud maka Allah menjatuhkan laknat kepadanya dan mengeluarkannya dari surga."
Abu Hurairah RA bertutur bahwa Nabi SAW bersabda: "Allah menciptakan Adam AS dengan tangan-Nya, meniupkan ruh ke dalam jasadnya dan memerintahkan kepada Malaikat agar bersujud kepadanya. Merekapun bersujud. Lalu ia duduk, lalu bersin dan mengucap Alhamdulillah. Lalu Allah berkata: "Tuhanmu memberi rahmat. Datanglah kepada para Malaikat lalu ucapkan Assalamualaikum!." Iapun mendatangi mereka dan mengucapkan kalimat itu. Mereka menjawab: Waalaikum salam warahmatullah. Setelah itu ia kembali menghadap Allah. Allah berkata: "Kalimat itu adalah ucapan penghormatan bagimu dan keturunanmu."
Ketika iblis telah menampakkan takabur dan durhaka yang tersimpan dalam dirinya, dan Malaikat telah mengucapkan kalimat yang menunjukkan kekhawatirannya maka akhirnya menjadi jelas apa yang tidak mereka ketahui. Mereka tahu bahwa di antara mereka yang durhaka kepada Allah dan membangkang perintah-Nya. Kemudian Allah mengajarkan seluruh nama-nama kepada Nabi Adam AS. Para ulama salaf berbeda pendapat mengenai masalah ini, apakah yang dimaksud adalah nama-nama tertentu atau nama-nama secara umum?
Ibnu Abbas RA bertutur: "Allah mengajarkan kepada Nabi Adam AS seluruh nama, yaitu nama-nama yang dikenal orang, seperti manusia, hewan, bumi, tanah yang datar, laut, gunung, keledai dan sebagainya." Dalam riwayat lain dia bertutur: "Allah mengajarkan kepada Adam AS nama semua perkara hingga kentut yang tak bersuara." Dalam riwayat lainnya dia bertutur: "Allah mengajarinya nama segala sesuatu hingga kemaluan, kentut kecil dan kentut besar." Mujahid bertutur: "Nama yang diajarkan Allah kepada Adam AS adalah nama semua yang diciptakan oleh-Nya." Dalam riwayat lainnya ia bertutur: "Allah mengajarkan kepadanya nama segala sesuatu." Said bin Jubair bertutur: "Allah mengajarkan kepadanya nama segala sesuatu hingga unta, sapi dan kambing." Qatadah bertutur: "Allah mengajarkan kepadanya nama segala sesuatu. Ini gunung, ini laut dan seterusnya lalu Allah memperlihatkan benda-benda tersebut kepada Malaikat dan berkata:
"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah : 31)
Qatadah bertutur: "Ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Adam AS agar menceritakan nama-nama benda kepada para Malaikat maka iapun menceritakannya dan memasukkan benda-benda itu ke dalam kelompok besarnya." Hasan dan Qatadah bertutur: "Allah mengajarkan kepadanya nama segala sesuatu. Ini kuda, ini keledai, ini unta, ini jin, ini binatang liar. Allah menyebut segala sesuatu dengan nama masing-masing."
Beberapa ulama memiliki pendapat berbeda. Menurut mereka, Allah mengajarkan kapada Adam AS nama-nama tertentu, yaitu nama-nama Malaikat. Ar-Rabi' bertutur: "Yang diajarkan Allah kepadanya adalah nama-nama Malaikat." Ulama lainnya berpendapat bahwa yang diajarkan kepadanya adalah nama-nama keturunannya. Ibnu Zaid bertutur: "Yang diajarkan Allah kepadanya adalah nama-nama keturunannya."
Setelah Allah mengajarkan nama-nama benda kepada Adam AS, Dia memperlihatkan penduduk langit kepada para Malaikat dan berkata: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!." Maksudnya, jika ucapan kalian benar bahwa jika Aku menjadikan sebagian dari kalian sebagai khalifah-Ku di bumi maka kalian akan mentaati dan mensucikan Aku, dan tidak akan melakukan maksiat, dan jika Aku mengangkat khalifah dari selain kalian maka dia akan membuat kerusakan di sana dan mengalirkan darah, maka jika kalian tidak mengetahui nama-nama benda itu padahal kalian melihatnya secara langsung maka kalian lebih tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kalian di bumi jika Aku angkat sebagai khalifah, dan apa yang terjadi dengan selain kalian jika Aku mengangkatnya sebagai khalifah, karena kalian tidak melihatnya secara langsung. Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ulama salaf.
Abdullah bin Masud RA dan beberapa sahabat bertutur: "Yang dimaksud dengan kata-kata jika kalian memang orang-orang yang benar dalam ayat di atas adalah jika ucapan kalian benar bahwa manusia akan membuat kerusakan di bumi dan mengalirkan darah." Ibnu Abbas RA bertutur: "Yang dimaksudkan adalah jika kalian meyakini bahwa Aku tidak menjadikan khalifah di bumi."
Sebagian pendapat mengatakan bahwa ketika Allah memulai proses penciptaan Adam AS, Malaikat berkata kepada sesamanya: "Tuhan kita boleh saja menciptakan apa yang Dia Kehendaki, namun Dia tidak akan menciptakan makhluk kecuali kita lebih banyak penegtahuannya dan lebih mulia dari makhluk itu." Ketika Adam AS telah tercipta dan Allah telah mengajarkan nama segala sesuatu kepadanya, Dia memperlihatkan benda-benda itu kepada Malaikat dan berkata: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu adalah orang-orang yang benar ucapannya –yaitu bahwa Allah tidak menciptakan makhluk kecuali kamu lebih banyak pengetahuannya dan lebih mulia darinya-."         
Qatadah bertutur: "Allah bermusyawarah dengan Malaikat dengan berkata: "Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi." Lalu mereka berkata: "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan di sana dan mengalirkan darah? –Malaikat telah mengetahui bahwa tak ada yang lebih dibenci Allah dari perbuatan mengalirkan darah dan membuat kerusakan di bumi- kami selalu memuji dan mensucikan-Mu." Allah berkata: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." Dia mengetahui bahwa dari khalifah itu lahir para Nabi, para Rasul, orang-orang saleh dan para penghuni surga."
Qatadah bertutur: "Diceritakan kepada kami bahwa Ibnu Abbas RA berkata: "Sesungguhnya ketika Allah memulai proses penciptaan Adam AS para Malaikat berkata: "Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih mulia dan lebih banyak pengetahuannya dari kita." Lalu mereka diuji dengan diciptakannya Adam AS. Tiap makhluk pasti diuji sebagaimana langit dan bumi diuji dengan ketaatan. Allah berfirman:
"Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kalian menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". (QS. Fusshilat : 11)
Hasan dan Qatadah bertutur: "Karena para Malaikat mengetahui bahwa tidak ada dosa yang lebih besar dari perbuatan mengalirkan darah, mereka berkata: "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan di sana dan mengalirkan darah?" Allah menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." Ketika Dia memulai penciptaan Adam AS, para Malaikat berbisik kepada sesamanya: "Boleh saja Tuhan kita menciptakan apa yang Dia kehendaki, namun Dia tidak akan menciptakan makhluk kecuali kita lebih banyak pengetahuannya dan lebih mulia dari dia." Ketika Adam AS telah tercipta dan Allah telah meniupkan ruh ke jasadnya, Dia memerintahkan kepada Malaikat agar bersujud kepada Adam AS karena ucapan mereka. Allah melebihkan derajatnya di atas Malaikat. Akhirnya mereka sadar tidak lebih baik dari Adam AS. Lalu mereka berkata: "Jika tidak lebih baik dari dia maka kita lebih banyak pengetahuannya dari dia karena kita telah ada sebelum dia dan umat-umat telah diciptakan sebelumnya."
Karena telah membanggakan pengetahuannya, merekapun diuji. Allah mengajarkan seluruh nama benda kepada Adam AS lalu memperlihatkan benda-benda itu kepada Malaikat dan berkata: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu adalah orang-orang yang benar ucapannya bahwa aku tidak menciptakan makhluk kecuali kalian lebih banyak pengetahuannya. Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika ucapan kalian benar!." Lalu mereka bertaubat dan berkata: "Maha Suci Engkau, kami tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana." Lalu Allah memerintahkan kepada Adam AS agar menyebut nama benda-benda itu kepada mereka. Setelah selesai Dia berkata: "Bukankah Aku telah mengatakan bahwa Aku mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, dan Aku mengetahui apa yang kalian tampakkan dan yang kalian sembunyikan?." Yang mereka tampakkan adalah kalimat apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan di sana dan mengalirkan darah?, sedangkan yang mereka sembunyikan adalah kalimat yang diucapkan kepada sesamanya, yaitu kami lebih baik dari dia dan lebih banyak pengetahuannya."
Rabi' bin Anas bertutur: "Ketika para Malaikat mengetahui bahwa Allah hendak menjadikan khalifah di bumi mereka berkata kepada sesamanya: "Allah tidak menciptakan makhluk kecuali kita lebih banyak pengetahuannya dan lebih mulia dari dia." Lalu Allah berkehendak untuk memberitahu mereka bahwa Dia melebihkan derajat Adam AS dan mengajarkan seluruh nama benda kepadanya. Dia berkata: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini!" Setelah Adam AS melakukan perintah itu Allah berkata: "Bukankah sudah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?." Yang mereka tampakkan adalah kalimat apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan di sana dan mengalirkan darah?, sedangkan yang mereka sembunyikan adalah kalimat kami lebih banyak pengetahuannya dan lebih mulia dari dia. Akhirnya mereka sadar bahwa Allah melebihkan Adam AS atas mereka dalam hal pengetahuan dan kemuliaan.
Ketika sikap takabur dan kedurhakaan iblis tampak oleh Malaikat, Allah mencelanya karena sikap itu. Tetapi ia tetap durhaka sehingga Allah menjatuhkan laknat. Ia diusir dari surga. Kekuasaannya di langit bawah dan di bumi dicabut. Allah berfirman:
"Keluarlah dari surga karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat." (QS. Al-Hijr : 34, 35)
Setelah itu iblis berada di langit sedangkan Adam AS ditempatkan Allah di surga. Ibnu Abbas RA, Ibnu Mas'ud RA dan beberapa sahabat bertutur: "Iblis dikeluarkan dari surga saat dijatuhi laknat sedangkan Adam AS ditempatkan di surga. Ia berjalan di sana sendiri tanpa pasangan. Lalu ia tidur. Setelah bangun ternyata ada seorang wanita duduk di dekat kepalanya. Allah menciptakannya dari tulang rusuknya. Ia bertanya: "Siapa kamu?", "Aku seorang wanita", "Untuk apa kamu diciptakan?", "Agar kamu tentram bersamaku." Lalu Malaikat bertanya untuk mengetahui ilmu yang dimiliki Adam AS: "Siapa namanya, wahai Adam?", "Namanya Hawa", "Mengapa dinamai Hawa?", "Karena ia diciptakan dari hayy –sesuatu yang hidup-." Lalu Allah berfirman:
"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai!" (QS. Al-Baqarah : 35)
Ibnu Ishaq bertutur: "Ketika telah selesai mencela iblis, Allah memerintahkan kepada Adam AS agar memberitahu nama benda-benda kepada Malaikat. Kemudian Dia memberi rasa ngantuk kepada Adam AS menurut cerita dari ulama Ahli Kitab dari Abdullah bin Abbas RA dan lainnya. Lalu Dia mengambil satu dari tulang rusuknya sebelah kiri dan menutup tempatnya dengan daging. Adam AS masih tertidur hingga Allah menciptakan Hawa dari tulang itu. Dia menyempurnakannya sebagai seorang wanita agar Adam AS tentram bersamanya. Saat terbangun ia melihat Hawa di sampingnya. Menurut sebagian hikayat, ia berkata: "Ini adalah daging dan darahku. Ini istriku." Iapun tentram bersamanya. Setelah Allah menikahkan keduanya dan memberinya rasa tentram, Dia berfirman:
"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah : 35)
Mujahid bertutur: "Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam AS saat ia tidur. Begitu bangun ia berkata: "Ini seorang wanita!." Qatadah bertutur: "Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam AS."
_____________________________

Abi Muhamm, Pengasuh Pon-Pes Al Qoumaniyyah (Pondok Bareng), Jekulo, Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar