Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Tata Cara dan Adabiyyah Membaca Maulid Simtud Durar (Habsyi)

Rabu, 04 Maret 2015
Gus Luqman Al Hakim sedang membaca maulid


Saya rasa yang paling kompetens dalam menerangkan tata cara [ kkayfiyyah ] membaca maulid Simtud Durar adalah , Gus Lukmanul Hakim . Melihat kedekatan beliau yang sangat dalam dengan keluuarga almarhum Al Habib Ali bin Alawiy al Habsyi . Beliau juga sampai sekarang masih mulazamah dengan majlis-majlis disana terlebih di hadrat Al Ustadz An najib As Sayyid Alawiy bin Ali al Habasyi.

Namun tidak ada rotan akarpun jadi . Apa yang saya sampaikan di sini hanya sekelumit saja dari Kayfiyyah tersebut . Sebagai kadar minimal , saya rasa cukup .  Tetapi bagi yang menginginkan kesempurnaannya , saya sarankan untuk bertanya lebih lannjut kepada Gus Lukman .
Kayfiyyah membaca Simthud Durar diantaranya adalah :
  1. Dalam keadaan bersuci,  baik badan , pakaian serta tempat.
  2. Menghadap kiblat jika memungkinkan.
  3. Membaca ratib Fatihah untuk para arwah sebelum mulai maulid , khususnya kepada shahibul Maulid yakni al Imam Al Habib Ali bin Muhammad bin Husain al Habasyi .
  4. Pemimpin majlis membaca nadham pembuka : YA RABBI SHALLI ALA MUHAMMAD.
  5. Munsyid [ pembbaca qashidah atau nasyid ] Membaca Qashidah ASSALAMU ALAIK ZAINNAL AMBIYA , boleh di iringi dengan pukulan rebana.
  6. Pemimpin majlis membaca ayat-ayat mulai , INNA FFATAHHNA LLAKA FATHAN MUBINA …WAMA MUUHAMMMADUN ILLA ROSUL …terahir ditutup dengan ayat LAQAD JAAKUM ROSULUN
  7. Pemimpin majlis mulai membaca Fasal pertama Maulid [ ALHAMDULILLAHIL QOWIYYI SUL THONNUUH ] dengan di dahului dengan Basmalah . Setiap kali selesai beberapa kalimat yang di baca , sesuai kontekh kalimat yang layak untuk waqaf [  berhenti membaca ] maka para hadirin menyahuti dengan shalawat :SHALLALLLOHU ALAIH … Contoh :
Ta’alaa mmajduhu wa’adhuma syaanuh  [ SHALLALLOHU ALAIH….] Kholaqol kholqo lihikmah * wathowa_ ‘alaiha ‘ilmah * wabasatho lahum min faidhil minnati ma_ jjarot bihi fi aqda_rihil qismah [ SHHALLALLOHU ALAIH… ] dan seterusnya . 

Jika selesai pembacaan sebuah fasal , maka hadirin bersama-sama membaca :
ALLAHUMMA SHOLLI WASALLIM ASHROFAS SHOLA_TU WAT TASLIM
ALA SAYYIDINA WANABIYYINA MUHAMMADINR ROUFUR ROHIM
ALLAHUMMA SHOLLI WASALLIM WABARIK ALAIH” 

8 .  Pemiimpin majli melanjutkan membbaca Fasal kedua [ TAJALLAL HHAQQU …. ] sampai selesai . Namun pada bagihan kalimat : “ BIBISYAROTI LLAQAD JA_AKUM ROSULUM MIN ANFUSIKUM…” hendaknya hadirin tidak mengikuti bacaan pimpinan majlis , tetapi andai ingin mengiringi bacaan nya maka tunggu hinggga pada penggalan terahirnya ,yakni kalimat : “ ROUFUN ROHIM “ .

9 .  Dilanjutkan membaca fasal ketiga [ WA ASY HADU ] , fasal keempat [ AMMA BA’DU ] . pada fasal keempat , di tiga kalimat terahirnya adalah do’a , sehingga hadirin sebaiiknya meng Amini .
WALA ALLO_H YANFA’U BIHIL MUTAKALLLIMA WAS SA_MI …   [ amin .. ]
FAYAD HKULA_NI FI SAYAFA_ATI HA_DHAN NABIYYIS Sya_fi …. [ amin .. ]
WAYATAROW WAHA_NI  BIROHI DHA_LIKANN NA’IM .. [ amin .. ]

10.  Membaca fasal ke lima [ WAQAD A_NA LIL QOLAMI ..]  dan sesudahnya Munsyid boleh melantunkan Qashidahnya . Dianjurkan , yangg membaca mulai fasal pertama hingga yang ke lima adalah satu orang yang sama [ pemimpin majlis ] , baru sesudahnya setiaap fasal dii baca bergantian satu orang demi satu orang yang lain .

11 . Membaca Fasal  ke enam [WAMUN DHU … ] dialnjutkan fasal kke tujuh [ WAHI_NA QORUBA..] Fasal ini adalah fasal dimana nanti akan mahallul  Qiyaam. Namun perlu diperhatikan detail bacaannya , yakni pada kalimat ke empat [ WA ALSINATUL MALLAIKATI , BIIT TABSYI_RI LIL ‘A__LAMINA TA’IJ ]  para hadirin bbersaa-sama membaca :
subahanalllooh wal hamdulillah , wala ilaha illal lohu wallo hu akbar 3 X walaa haula walla_ quwwata illa_ billa_hil ‘aliyyyil adhim… 1 X

Dan pada baris ketiga ada  kalimah berbunyyi :  HURIL A‘IEN … yang tepat adalah HURIL ‘IEN …

12 .Berdiri , mahallul Qiyam dengan membaca qashidah ASYYRAQAL KAUNUB TIHA_JA…boleh di iringi dengan pukulan rebana . Selesai mahallul qiyam , semua duduk kembali , dan Munsyid membca qashidah yg munasabah dengan majlis , dan tanpa iringan rebana .

Jika dibutuhkan , sesudah Munsyid selesai membaca qashidahnya seseorang dapat berdiri dan menyampaikan tausiyyyah , nasehat serta mauuidhotil Hasanah , barang 30 menit – satu jam .

13 .  Sesudah Tausiyyah dilanjutkan membaca Fasal kedelapan [ WAHI_NA BAROZA ] …Ini adalah fasal yang khusus meneranggkan detik-detik kelahiran Nabi SAW , maka setiap pembacaan Simthud Durar , fasal ini jangan sampai tidak di baca . Jika tidak membacanya ,, maka sama halnnya dia tidak membaca kisah Maulid beliau .  

14 . Meneruskan membaca fasal- fasal selanjutnya hingga fasal ke empat belas [ WALAQAD TASHOFA …] Oleh beberapa orang secara bergantian .Namun ada beberapa detail yang perlu di cermati , diantaranya :

Pada fasal ke sepuluh [ FANA SYA A..] di kalimat ke tujuh “ FAMA NAFATSA ‘ALA _ MARI_DHIN ILLA SYAFA_HUL LOH , hendaklah membuka kedua telapak tangannya dan meniupnya ,lalu mengusapkan telapak tangannya tersebut ke selluruh tubuh ataupun bagihan tubuh tertentu . Dengan niat tafa’ul ini , konon usapan tersebut dapat menyembuhkan penyakit yg tersimpan di dalam tubuh itu .

Pada fasal ke duabelas , [ WAMINAS SYAROFI..]  di halaman 44 , baris ke empat dari atas , yakni kalimat ‘ BA’DA AN ATS_NA_  ‘ALA TILKAL HADH ROTI BIT TAHIYYAT …’  ada dua wajah membacanya . Boleh dengan Rafa’ yaitu berbunyi “ bit ttahiyyatul mubaarokaatus shalawaatut thoyyiba_t”

Atau dengan Khafadh (dibaca kasroh) yaitu berbunyi  “ bittahiyyyatiil muuba_roka_tis shalaaa_tit Thayyiba_ti “ Namun memilih Rafa’  adalah lebih pantas dan lebih afdhal di banding Khaffadh.

Pada fasal ke empat belas  [ WALLAQOD ITTASHOFA…] pada halaman 56 yakni pada kalimat “ wa aqro as sala_m * ‘ala_ sayyidil ana_m “ maka para hadirin bersama-sama mengucap salam kepada Baginda Nabi SAW; “Assalamu alaika ayyuhan Nabiyyu warahmatulloo_hi waba_roka_tuh”  sebanyak 3 kali , dengan hati yang khusuk dan kepala tertunduk , membayangkan seakan-akan berdiri di depan pusara beliau di Madinah Al Munawwarah . 

15 . Sesudah fasal ke empat belas ini , Munsyid dapat membaca Qashhidah dan dapat pula diiringgi dengan rebana . Sesudah selesai , maka pemimpin majlis membaca fasal terahir , fasal Doa .

16 . Sebelum membaca fasal do’a hendaknya di dahului dengan membaca shalawat terlebih dahulu ,sehingga seperti ini contohnya : 

Bismillahir rohma_nir Rohim … Alllo_humma shalli ala_ sayyidina_ Muhammadin wa ‘ala_ alihi washah bihi_ ajma in. WALAMMA_ NADHOMAL FIKRU …dst.

Saat pada kalimat doa terahir , yakni  WA AKHIRU DA’WAANA ANIL HAMDULILLAHI ROBBBIL ALAMIN … maka hendaknya di sambung do’a penutup yakni :

subha_na robbika robbil izzati amma_ yashifun , wa sala_mun alal mursali_n  , wal hamdulilla_hi rabbil  ‘a_lamin .
innal loha wamala_ ikatahu_ yushollu_na ‘alan Nabiy , ya_ ayyuhal ladhi_na a_manu_  shollu ‘alaihi wasallimu_  tasli_ma
Shollallohu alaika ya_ sayyidana_ Muhammad
Dakwa_hum fi_ha_  subha_nakallo_humma watakhiyyatuhum fiha_ sala_m ,  wa a_khiru da’ wa_hum anil Ham du lilla__hi robbil ‘a_lamin.

Kemudian mengucapkan salam kepada Baginda nabi SAW tiga kali :
“ Asshola_tu was Salla_mu alaika Ya_ sayyyidal Mursalin.
As shola_tu was sala_mu  ‘alaika Ya_ Kho_taman Nabiyyin.
Aas Shola_tu was salla_mu ‘alaika , Ya_ man arsalahul loh rahmatan lil ‘A_lamin.”
Warodhiyalloo_hu Ta’a_la  ‘an askha_bi Rosulilla__hi ajjma’in.
Amiiin …
Al Fatihah..

***

Kayfiyah di atas adalah kayfiyyah yang sedikit sempurna , dan dapat di amalkan dalam majlis – majlis yang memang sudah siap dengan majlis maulid yang durasinya panjang .

Namun jika majlis maulidnya terbentur keterbatasan waktu , maka dapat dipersingkat bacaannya. Dengan cara beberapa Fasal tidak dibaca , yakni fasal – fasal sesudah Fasal maulid WAHINA BAROZA… adapun fasal WAHINA BARAZA dan fasal-fasal sebelumnya maka jika masih ingin banyak mendapatkan rahasia Maulid simthud Durar , maka jangan tidak di baca .

Untuk lebih asyik , hendaklah mengamati kebiasaan majlis-majlis dalam membaca Simtud Dhurar ini , sehingga akan terasa familier dengan penggalan-penggalan kalimat yang di letakkan waqaf [ berhenti] bacaannya sehinggga pada kata terahir , biasanya hadirin dapat menirukan bersama bacaan yang membaca , dan kemudian bersama-sama membaca ALLOHUMMA SHALLI ALAIHH..

Pada fasal do’a pun demikian , mana kata – kata yang di waqaf kan dan di tirukan lalu kemudian di sambung kata AAMIN…atau YA ALLAH …

Secara prinsip , sebenarnya Simthud Durar dapat di baca sambil apa saja . Dengan cara apa saja , bahkan seperti tata cara membaca sedikit fasal  dan memperbanyak Shalawat serta Qashidahannya sebagaimana yang dipraktekkan oleh Al Habib Syeikh Bin Abdulqadir as Sagaf .

Namun, kayfiyyah di atas setidaknya itu yang di sarankan oleh para anak cucu muallif simthud Durar  dan diyakini kayfiyyah tersebut lebih banyak akan memberikan asrar dan barakah majlis .

Demikian , kurang lebihnya mohon maaf dan maklum adanya . Wal afwu minkum 
_____________________________

Ust. Muhajir Madad Salim, Muthih Wedung Demak


Tidak ada komentar:

Posting Komentar