Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Kisah Habib Usman bin Aqil Dan Syeikh Nawawi al-Bantany, Teladan Habaib dan Kiai

Sabtu, 28 Januari 2017
Habib Usman ibn Aqil ibn Yahya al Alawi, Jati petamboran Jakarta, konon pernah membangun Masjid Jamik di Pekojan Jakarta Kota. Karena Masjid, maka Habib Usman sekaligus menyesuaikan arah kiblat masjid.

Di hari yang berbeda, Syaikh (baca: Kiai) Nawawi al-Bantani melintasi masjid tersebut, yang telah sempurna. Tapi, dalam benaknya ada pikiran bahwa Masjid ini bermasalah, padahal secara fisik masjid Jamik yang dibangun Habib Usman sudah selesai. Kiai Nawawi, yang masih remaja umur 15tahun, yakin betul bahwa letak arah kiblat masjid yang salah. Sungguh, kejadian ini mendorong terjadi perdebatan panjang antara *kiai dan habib*. Pastinya, Habib Usman tidak sepakat dengan pendapat Kiai Nawawi, apalagi Masjid Jamik sudah tuntas bangunannya. Akhirnya, Sang Kiai Mengajak mendekat Sang Habib sambil menarik lengannya agar mendekat rapat. Kiai Nawawi berkata: *lihat nan jauh disana ya Habib Usman, sambil menunjukkan jarinya ke arah ka'bah. Yang ternyata, dengan ijin Allah ka'bah kelihatan secara fisik*

Tanpa berpikir panjang, Habib Usman meyakini kebenaran pendapat Kiai Nawawi, apalagi dirinya juga melihat secara fisik posisi ka'bah. Seketika itu, Habib Usman langsung merebut tangan Kiai.Nawawi, untuk menciumnya. Tapi, gelagat itu telah dibaca, dengan cepat Kiai Nawawi langsung menarik tangannya hingga Habib Usman tidak dapat mencium tangannya.

Lantas terjadilah dialog antara keduanya: HABIB Usman, denga. Tawadu'nya, bertanya: Mengapa anda menolak kucium tanganmu sebagai pertanda hormat atas ketinggian ilmumu, sekaligus tanda anda layak sebagai predikat pewaris para Nabi (warastatul anbiya')

KIAI Nawawi, menjawab dengan lembut: Memang aku di beri kelebihan oleh Allah SWT-sekaligus anugerahNya- bisa melihat Ka'Bah dari jarak jauh secara fisik. Tapi, jangan dilupakan Habib, Antum lebih mulia dibanding aku sebab antum masih bagian dari dzurriyatun Nabi/keturunan Nabi. Mestinya, saya yang lebih berhak mencium tangan Habib Usman, ya sekaligus hormat pada turunan dan cucu cucu Nabi Muhammad SAW.

Setelah dialog selesai, Sang Habib tidak mau kalah, akhirnya Ia merangkul sampil memeluk Kiai Nawawi alBantani dengan keras sehingga tidak bisa bergerak, apalagi secara fisik badan Habib Usman lebih besar. Dalam kondisi ini, Sang Habib lantas mencium kening Kiai Nawawi berkali kali. Singkat cerita, keduanya akhirnya terharu dan menangis.

Potret bagaimana sikap tawadhu' kedua tokoh ini layak direnungkan dan menjadi teladan bersama, teladan mengakui kelebihan masing masing, tanpa ada perasaan di antara berdua, ada yang terbaik (baik sisi nasab maupun keilmuan).

"MUGI KITA TIDAK pernah Merasa Paling Baik/ paling benar". Dan Saget meneladani beliau berdua. AMIN. Lahuma, alfatihah...... من تواضع لله وضعه الله ومن تكبر وضعه الله. *رواه ابن ماجه*

*Dikutip dari Grup TUN  ##merawatKeluhuranBudiPekerti ##ayooobareng-bareng,26/1/2017 ........... Cerita dinukil singkat dri buku *Sejarah Pujangga Islam*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar