Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Pesantren, Gubug Indah Yang Dirindukan

Kamis, 19 Januari 2017

: Salamun Ali Mafaz

(Direktur Utama Relevansi Group, Inisiator gerakan “Movie Goes Pesantren” dan “Book To Movie,” Novelis dan Filmaker.)

Judul ini saya sematkan tidak lain karena sebuah kegelisahan kultural dalam batin saya tentang sebuah realita dan fakta saat ini. Pesantren sejatinya memfungsikan dirinya sebagai wadah kegelisahan religius dan wadah pencarian ilmu bagi kalangan masyarakat luas. Dengan tokoh sentral bernama Kiai, setidaknya persoalan keagamaan yang ada di masyarakat bisa dijawab paling tidak bisa direspon. Betapa indah saat saya banyak dihadapkan dengan buku-buku yang membahas pesantren misalnya karangan Zamahsari Dhofir yang berjudul Tradisi Pesantren, serta buku KH. Husein Muhammad yang berjudul Perempuan dan Pesantren, serta masih banyak deretan buku yang secara gamblang membuka tabir kehidupan di pesantren. Tentu saja ketika saya membaca buku-buku itu, pikiran saya langsung menerawang ke alam masa lalu dimana kehidupan di pesantren yang begitu indah, tentram, dan penuh dengan semangat belajar, takdim pada Kiai dan Ustadz serta persaudaraan yang tinggi.

Realitas yang saya bayangkan tentang tradisi pesantren pada masa itulah sekarang memang sedang menghadapi tantangan besar bernama “jagad modern” dunia saat ini memang begitu jauh dengan dunia masa lalu. Sehingga dorongan untuk mengembalikan pesantren kepada jati dirinya kerap kali disuarakan. Pertarungan pengaruh politik, rebutan jamaah, dan berebut estafet Kekiaian kerap kali dipertontonkan sebagian pesantren yang mungkin belum terbangun dari tidur panjangnya.

Persoalan lain yang muncul misalnya terkait dengan pengganti estafet pengasuh pesantren itu sendiri yang masih bias gender. Perempuan masih dianggap kurang pantas bahkan tidak mumpuni untuk melanjutkan kepemimpinan di pesantren. Ini tentu saja bertolak belakang yang nyatanya banyak perempuan berhasil menjadi pemimpin pesantren, misalnya seperti Nyai. Hj. Masriyah Amva yang merupakan potret seorang Nyai yang berhasil menjadi pengasuh di Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon dengan jumlah santri sekitar seribu lebih.

Kini perdebatan juga muncul untuk kalangan gawagis (jamak dari gus, atau sebutan putra Kiai) yang saat ini banyak mengambil estafet kepemimpinan pesantren tetapi banyak yang melenceng dari fitrah awal pendirian pesantren yang bersih dari segalam macam kepentingan. Meskipun dinamika di pesantren terus terjadi di setiap generasi tapi yang unik tradisi kitab kuning di pesantren terpelihara dengan baik. Kalangan pesantren menempatkan kitab kuning sebagai acuan utama dalam kehidupan sehari-hari. Terutama yang menyangkut masalah hukum ibadah atau ritual, akhlak atau perilaku, dan mu’amalah atau hubungan sosial. Perilaku itu tercermin dari cara mereka bersikap. Ketika warga menemui persoalan, rujukannya adalah bertanya ke Kiai. Lalu, Kiai menjelaskan berdasarkan keterangan dari kitab kuning.

Mayoritas dalam soal fikih, mereka bermahdzab Syafi`i, meski mereka juga mengakui keberadaan mazhab fiqh yang empat: Hanafi, Maliki, Syafi`i, Hambali.
Karena itu, kitab kuning yang dikaji di pesantren, kebanyakan kitab-kitab karya para ulama Syafi’iyah. Mulai dari kitab fikih tingkat dasar, seperti Safinatun Naja, Taqrib, Kifayatul Ahyar; menengah seperti Fathul Qarib, Fathul Wahab, Fathul Mu’in, I’anatuth Thalibin, Hasyiyah Bajuri, Muhazzab; hingga tingkat tinggi seperti Nihayatul Muhtaj, Hasyiyah Qalyubi wa Umairah, Al-Muharrar, Majmu Syarh Muhazzab. Semuanya merupakan susunan para ulama mazhab Syafi’i.

Kitab-kitab tersebut, berisi paparan mengenai hukum-hukum hasil ijtihad Imam Syafi’i, yang kemudian diuraikan lagi oleh para ulama pengikutnya dari abad ke abad. Hasil pemikiran ijtihad Imam Syafi’i sendiri, didiktekan (imla) kepada muridnya, Al-Buwaithi, yang menyusunnya lagi menjadi kitab Al-Umm (induk). Dari Al-Umm inilah lahir kitab-kitab fiqh susunan para ulama mazhab Syafi’i, baik yang ringkas dan tipis, seperti Taqrib karya Abu Suja, maupun yang panjang lebar dan tebal-tebal seperti Nihayatul Muhtaj karya Ar-Ramli, atau Majmu Syarah Muhazzab karya An-Nawawi.

Bahasan hukum-hukum dalam kitab kuning, bersumber dari hasil ijtihad para ulama mazhab, yang menggali langsung dari Al-quran dan sunnah Rasulullah. Yang mereka gali dan dijadikan bahan ijtihad, adalah hal-hal yang bersifat temporer, aktual, namun belum terdapat nash yang jelas di dalam Alquran dan Hadis. Untuk hal-hal yang sudah dijelaskan di dalam Alquran dan Hadis, tidak lagi dijadikan bahan ijtihad.

Saya kira hadirnya buku kumpulan cerpen dengan judul Robohnya Pesantren Kami yang ditulis oleh Muhammad Mujab ini merupakan sebuah “sentilan” yang dalam tentang realita pesantren saat ini yang jika tidak bisa dibentengi dari segala macam kepentingan maka tidak menutup kemungkinan istilah yang disematkan judul cerpen ini “robohnya pesantren kami” benar-benar akan terjadi.

Hemat saya judul cerpen ini begitu “mengigit” setiap umat Islam terutama kalangan NU supaya bersama-sama menjaga pesantren dan menyiapkan kader ulama dengan serius. Karena dengan menyiapkan kader ulama dengan serius, tardisi keilmuan yang diwariskan para sesepuh kiai kita akan senantiasa bisa dijadikan pedoman bagi masyarakat. Jangan sampai tradisi pesantren justru dikalahkan dengan jagad modern yang serba teknologi, generasi akan datang lebih melek media sosial dari pada mengkaji kitab kuning warisan para ulama dan kiai.

Saya berharap dari kumpulan cerpen ini akan hadir cerpen dan novel berikutnya dari Mohammad Mujab yang bisa mewarnai  dan tidak menutup kemungkinan karyanya akan menuju ke layar lebar. Sehingga dakwah ala pesantren akan lebih mudah diterima masyarakat ketika disampaikan dengan sebuah media film.

Akhir kata, saya ingin menyampaikan sebuah kata bijak bestari “Fa tasyabbahủ in lam takủnủ amtsἁlahum. Inna at-tasyabbuha bi ar-rijἁli falἁh.” (Tirulah mereka jika engkau tidak bisa mencapai derajat mereka. Sesungguhnya, meniru orang-orang besar itu saja sudah suatu kemenangan). Saya ucapkan selamat atas hadirnya kumpulan cerpen ini, semoga banyak memberikan manfaat dan menjadi inspirasi bagi orang banyak.

Jakarta, 27 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar