Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasany

Kamis, 19 Januari 2017

Oleh: Syaikh KH. Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Husaini

A. PENDAHULUAN

Perkembangan Thariqah Masyisiyyah di seluruh belahan dunia tidak bisa dilepaskan dari sosok Ulama Besar Sufi, yaitu Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi. Thariqah ini berkembang di berbagai belahan dunia mengajarkan bagaimana seorang manusia dalam aspek spiritual sebagai ‘abdullah (hamba Allah yang benar-benar lahir batin selalu terhubung pada Allah) serta dalam aspek sosial ia bisa menjadi khalifatullah (pemimpin yang bisa membumikan hukum-hukum Allah, mengimplementasikannya dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, bernegara, baik skala lokal, nasional, regional, dan internasional).

Untuk mengenal lebih jauh tentang sosok Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani ini, kami ungkap beberapa point-point penting kehidupan beliau.

B. POINT-POINT PENTING KEHIDUPAN SYEKH ABDUSALAM AL-MASYISYI

B.1. NASAB SYEKH ABDUS SALAM AL-MASYISYI

Masyisy adalah bahasa berber yang berarti 'kucing kecil',panggilan ini diberikan oleh ayahnya waktu Ia masih kecil. Ia termasuk seorang Syarif keturunan dari Maula Idris pendiri kerajaan Idrisiyah di Fes yang bersambung nasabnya ke Sayyidina Hasan.

Urutan nasab Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi dalam Kitab Thariqah Al-Masyisyiyyah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Musthafa Al-Husaini disebutkan bahwa Syaikh Abdussalam bin Masyisy bin Malik bin Ali bin Harmalah bin Salam bin Mizwar bin Haidarah bin Muhammad bin Idris al-Akbar bin Abdullah al-Kamil bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sabth bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah az-Zahra putri Rasulullah SAW.

B.2. KELAHIRAN

Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani adalah seorang sufi yang hidup pada masa pemerintahan dinasti Muwahiddin. Lahir di Kampung Jbel La'lam wilayah Arouss Maroko dekat Tanger pada tahun 1140-1227 Masehi atau setara dengan 559-626 Hijriyah. Pada hari beliau dilahirkan, Syaikh Abdul Qadir al-Jilaniy Al-Hasani mendengar suara hatif (bisikan ruhani); “Ya syaikh Abdul Qadir, cermatilah keadaanmu kepada penduduk kota Maroko, sesungguhnya yang akan menjadi wali Qutub di kota tersebut telah dilahirkan”.

B.3. PENDIDIKAN

Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur’an di Kuttab (tempat yang digunakan untuk mengajarkan anak-anak kecil membaca, menulis dan menghafal al-Qur’an) dan dia telah hafal al-Qur’an sejak berumur kurang dari 12 tahun kemudian pergi menuntut ilmu.

Selama hidupnya ia memiliki kesungguhan dan kemauan yang keras dalam menuntut ilmu serta menjaga Awrad (baca'an-bacaan zikir dan doa) hingga sampai ke jalan menuju makrifah kepada Allah swt . Dalam bidang ilmu pengetahuan salah satunya ia berguru pada Syaikh yang di juluki "Aqtharaan", dimakamkan di daerah Abraj dekat pintu Tazah. Dalam bidang tasawuf di antara para gurunya adalah Syaikh Abdurrahman bin Hasan al-'Aththar yang terkenal dengan "az-Ziyyaat". Dari beliau Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani belajar tentang ilmu mua'amalah dengan masyarakat yang sumbernya berakhlak sesuai dengan akhlak beliau Rasulullah SAW.

Maulana Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani dengan kedalaman ilmu dan kezuhudannya yang tinggi adalah sosok yang sangat tertutup dan tidak ingin di kenal oleh manusia. Hal ini bisa dilihat dari salah satu doa beliau, "Ya Allah aku mohon kepada-Mu agar makhluk berpaling dariku sehingga tidak ada tempat kembali bagiku selain kepada-Mu". Allah SWT pun akhirnya mengabulkan permohonan beliau tersebut dan karena sangat ketertutupannya itu sampai tidak ada yang mengenal beliau, kecuali muridnya Syaikh Abu al Hasan as-Syadzili.

Perkenalan dan pertemuan agung beliau dengan muridnya, Syaikh Abu al Hasan as Syadzili, berawal saat Syaikh Abul Hasan, yang saat itu di puncak perasaan yang dahsyat untuk bertaqarrub kepada Allah swt.berharap hatinya penuh cahaya ma'rifatullah, mengembara mencari Mursyid yang Quthub.

Sampailah ia ke negeri para wali di Irak. Dari satu wali ke wali lain yang ia temui belum juga membuatnya puas sebelum bertemu dengan seorang Wali Quthub di zaman itu. Padahal dari Maroko Syaikh Abul Hasan menembus ribuan kilometer menuju Irak, mengarungi padang sahara yang luar biasa luasnya, demi mencapai cita-citanya yang luhur.

Akhirnya ia bertemu dengan salah seorang wali di Irak. ketika itu sang wali yang ia temui mengatakan kepadanya: "Wahai anak muda, engkau mencari Quthub jauh-jauh sampai di sini. Padahal orang yang engkau cari itu sebenarnya di negeri asalmu sendiri. Dia adalah Quthubuz zaman yang agung saat ini. Sekarang pulanglah engkau ke Maghrib (Maroko) dari pada bersusah-payah berkeliling di negeri ini.Saat ini ia sedang berkhalwat di puncak gunung di sebuah gua. Temuilah dia dan cari di sana ...! "

Setelah itu ia bergegas menuju Maroko dan kembali ke desanya Ghamarah, tempat dimana ia dilahirkan. Hatinya tak terbendung untuk segera bertemu dengan Sang Quthub yang menetap di pucuk gunung (jabal al 'alam) itu. Ketika menempuh jalan berliku menuju puncak gunung itu Syaikh Abul Hasan akhirnya bertemu juga dengan Sang Quthub tersebut.

Kemudian Sang Quthub (Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani) memerintahkannya berkali-kali untuk mandi di dekat gua yang kebetulan ada air untuk mandi dan berwudlu, sampai ia sadar bahwa perintah tersebut untuk mensucikan diri dari hal-hal yang terkait dengan keangkuhan dan kesombongan.

Lalu saat ia keluar dari bersuci dan menghadap dalam keadaan faqir, dari arah gua itu muncul sosok yang tampak lanjut usia dengan pakaian yang sederhana, dan dengan songkok dari anyaman jerami Seraya berkata, "Marhaban Ya Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar, dst .. dengan menyebut nasab Syaikh Abul Hasan sampai ke Rasulullah SAW". Mendengar itu semua Syaikh Abul Hasan semakin takjub.

Belum sempat mengeluarkan kata, Sang Quthub itu melanjutkan, "Wahai Ali, engkau datang kepadaku sebagai fakir baik dari segi ilmu maupun amalmu, maka engkau akan mengambil dariku semua kekayaan, dunia hingga akhirat".

Bahkan ia melanjutkan, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebelum engkau datang ke sini, Rasulullah saw. telah memberi tahu kepadaku segala hal tentang dirimu, serta akan kedatanganmu hari ini. Selain itu aku juga mendapatkan tugas dari beliau agar memberikan pendidikan dan bimbingan kepadamu. Oleh sebab itu ketahuilah bahwa kedatanganku kemari sengaja untuk menyambutmu ... ". (al-Quthb as-Syahid Sidi Abdussalam bin Masyisy karya Imam Abdul Halim Mahmud: 16)

Meski tidak banyak meninggalkan karangan, namun salah satu warisan yang sangat penting dan berharga dari beliau adalah teks "Shalawat Masyisyiah", yaitu sebuah shalawat yang jika kata-katanya berbaur atau di ucapkan oleh ruh, maka akan membuat pemilik ruh tersebut terasa melayang di udara dari keluhuran dan keindahan alam malakut. Shalawat yang memiliki banyak rahasia dan keutamaan serta mampu memberikan pancaran cahaya Ilahi bagi para pengamalnya.

Adapun teks “Shalawat Masyisyiah” dari Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani tersebut adalah :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مَنْ مِنْهُ انْشَقَّتِ اْلاَسْرَارُ. وَانْفَلَقَتِ اْلاَنْوَارُ . وَفِيْهِ ارْتَقَتِ الْحَقَائِقُ . وَتَنَزَلَتْ عُلُومُ سَيِّدِنَا اٰدَمَ عَلَيْهِ السّلاَمُ فَاَعْجَزَالْخَلاَئِقُ . وَلَهُ تَضَاءَلَتِ الْفُهُومُ فَلَمْ يُدْرِكْهُ مِنَّا سَابِقٌ وَلاَ لاَحِقٌ . فَرِيَاضُ الْمَلَكُوْتِ بِزَهْرِ جَمَالِهِ مُوْنِقَةٌ . وَحِيَاضُ الْجَبَرُوْتِ بِفَيْضِ اَنْوَارِهِ مُتَدَفِّقَةٌ . وَلاَ شَيْئَ اِلاَّهُوَ مَنُوْط اِذْ لَوْلاَ الْوَاسِطَةٌ لَذَهَبَ كَمَا قِيْلَ الْمَوْسُوْط . صَلاَةً تَلِيْقُ بِكَ مِنْكَ اِلَيْهِ كَمَا هُوَ اَهْلُهُ . اَللَّهُمَّ اِنَّهُ سِرُّكَ الْجَامِعُ الدَّالُّ عَلَيْكَ وَحِجَابُكَ اْلاَعْظَمُ اْلقَائِمُ لَكَ بَيْنَ يَدَيْكَ . اَللَّهُمَّ أَلْحِقْنِى بِنَسَبِهِ . وَحَقِّقْنِىْ بِحَسَبِهِ . وَعَرِّفْنِىْ اِيَّاهُ مَعْرِفَةً اَسْلَمُ بِهَا مِن مَوَارِدِ الْجَهْلِ . وَاَكْرَعُ بِهَا مِنْ مَوَارِدِ الْفَضْلِ . وَاحْمِلْنِىْ عَلَى سَبِيْلِهِ إِلَى حَضْرَتِكَ حَمْلاً مَحْفُوْفًا بِنُصْرَتِكَ . وَاقْذِفْ بِىْ عَلَى الْبَاطِلِ فَأَدْمَغَهُ . وَزُجَّ بِىْ فِيْ بِحَارِ اْلاَحَدِيَّة . وَنْشُلْنِيْ مِنْ اَوْحَالِِ التَّوْحِيْدِ . وَأَغْرِقْنِيْ فِيْ عَيْنِ بَحْرِ الْوَحْدَةِ حَتَّى لاَأَرَى وَلاَ اَسْمَعَ وَلاَ اَجِدَ وَلاَ اُحِسَّ اِلاَّ بِهَا . وَاجْعَلْ حِجَابَ اْلاَعْظَمَ حَيَاةَ رُوْحِىْ وَرُوْحَهُ سِرَّ حَقِيْقَتِىْ وَحَقِيْقَتَهُ جَامِعَ عَوَالِمِيْ بِتَحْقِيْقِ الْحَقِّ اْلاَوَّلِ . يَا اَوَّلُ يَاآخِرُ يَاظَاهِرُ يَا باَطِنُ . اِسْمَعْ نِدَائِى بِمَا سَمِعْتَ بِهِ نِدَاءَ عَبْدِكَ زَكَرِيَّا عَلَيْهِ السّلاَمُ . وَانْصُرْنِيْ بِكَ لَكَ . وَاَيِّدْنِيِْ بِكَ لَكَ . وَاجْمَعْ بَيْنِىْ وَبَيْنَكَ وَحُلْ بَيْنِىْ وَبَيْنَ غَيْرِكَ . اَللهُ اللهُ اللهُ . إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ . رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً . إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا . صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ وَتَحِيَّاتُهُ وَرَحْمَاتُهُ وَبرَكَاتُهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ وَعَلَى آلِه وَصَحْبِهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ الْمُبَارَكَاتِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .

Allahumma shalli ‘alaa man minhun syaqqatil asraar

Wan falaqatil anwaar

wa fiihir taqatil haqaaiq

Wa tanazallat ‘uluumu sayyidinaa aadama ‘alayhis salaamu fa a’jazal khalaaiq

Wa lahu tadhaa alatil fuhuumu falam yudrik-hu minnaa saabiqu wa laa laahiq

Fari yaa dhul malakuuti bizahri jamaalihi muuniqah

wa hiyaadhul jabaruuti bifaydhi anwaarihi mutadafiqah

Wa laa syay-a illa wa huwa bihi manuuth

Idz lawla waa sithatu ladza haba kamaa qiilal mawsuuth

Shalaatan taliiqu bika minka ilayhi kamaa huwa ahluh

Allahumma inaahu sirrukal jaami’ud dallu ‘alayk

Wa hijaabuka a’zhamu’l qaa-imulaka bayna yadayk

Allahumma alhiqnii binasabih

wa haqqiqnii bi hasabih

Wa ‘arrifnii iyyahu ma’rifatan aslamu bihaa min mawaaridil jahl

Wa akra’u bihaa min mawaaridil fadhl

Wahmilnii ‘alaa sabiilihi ilaa hadhratik

Hamlan mahfuufan binushratika

waqdzif bii ‘alal baathili fa-admighah

wa zujjabii fii bihaari’ ahadiyyah

wansyulnii min awhaalit-tawhiid

wa aghriqnii fii ‘ayni bahril wahdah

hatta laa araa wa laa asma’a wa laa ajida wa laa uhissa ilaa bihaa

waj’allahummal hijaaba a’zhama hayaata ruuhii

wa ruuhahu sirra haqiiqatii

wa haqiiqatahu jaami’a ‘awaalimi bitahqiiqil haqqi awwal

yaa awwalu yaa aakhiru yaa zhaahiru yaa baathin

isma’ nida-ii bimaa sami’ta bihi nidaa-a ‘abdika sayyidinaa Zakariyya ‘alayhis salaam

wan shurnii bika laka

wa ayyidnii bika laka

wajma’ baynii wa baynaka

wa hul bayni wabayna ghayrika

Allah Allah Allah

Innal-ladzii faradha ‘alaykal qur’aan laradduka ilaa ma’aad

Rabbanaa aatinaa min ladunka rahmah

Wa hayyi’lanaa min amrinaa rasyadaa (3 kali)

Innallaaha wa malaaikatahu yushalluna ‘alan-nabiyy

Yaa ayyuhal ladziina amanuu shallu ‘alayhi wa sallimuu tasliima

Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam

Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun wa salaamu ‘alal mursaliin wal hamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Di Maroko ,sholawat ini masih lestari dan sering dibacakan secara berjama’ah di masjid masjid, zawiyah sufiyah sampai seringkali terdengar di radio radio kerajaan. Dan ini adalah upaya baik Kerajaan Maroko dalam melestarikan karya ulama’ agar tidak tergerus masa ,sekaligus upaya pengingat masyarakat untuk selalu bersholawat ,dan salam kepada Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wasallam.

B.4. KEHIDUPANNYA

Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani bekerja di lahan pertanian seperti penduduk kampung lainnya dan tidak bergantung kepada orang lain dalam mengatur urusan kehidupannya. Dia menikahi anak perempuan pamannya (pamannya bernama Yunus), dari pernikahannya ini dikarunia empat orang anak laki-laki: Muhammad, Ahmad, Ali, Abdus Shamad dan satu orang anak perempuan: Fatimah.

Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani mumpuni dalam bidang ilmu juga memiliki kezuhudan yang tinggi, Allah swt menyatukan dalam dirinya dua kemulian, dunia dan Agama, serta menjaga keutamaan keyakinan yang haqiqi. Dan Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani mendapatkan keberhasilan atas kesungguhan kemauan dan cita-citanya, seorang yang tidak pernah menyimpang dari jalan syari’at sehelai rambut pun, berpegang teguh pada Agama dan menyampaikan keutamaan-keutamaannya.

B.5. MURID-MURIDNYA

Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani (Rodhiyallahu Anhu), sebagaimana tercatat dalam kitab at Thabaqat as Syadziliyah al Kubro karangan Syaikh Hasan bin Muhammad bin Qasim at Tazy, merupakan guru dari tiga wali Quthub (pemimpin para wali).

Tiga wali Quthub yang dimaksud, yaitu :

1. Syekh Ahmad al Badawi (murid Wali Quthub Syekh Abdul Qadir al -Jailani dan Syekh Ahmad Rifai),

2. Syekh Ibrahim Ad Dusuqi dan

3. Syekh Abu al Hasan Ali bin Abdillah as Syadzili (Pendiri tarekat Syadziliyah).

Dengan demikian maka, Maulana Syekh Abdussalam bin Masyisy (Rodhiyallahu Anhu) adalah "Quthbul Aqthab" (Pemimpinnya para pemimpin wali).

B. 6. WAFATNYA

Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani dan wafat pada tahun 622 H (1261 M). dan dimakamkan di Jbel La'lam , sebelah selatan kota Tangier Ibu kota perekonomian Maroko saat ini.

C. PENUTUP

Biografi Syaikh Abdussalam Al-Masyisyi Al-Hasani ini kan menjadi inspirasi kita semua untuk menjadi seorang muslim yang baik, dan gemar mendalami ilmu-ilmu agama Islam.

Semoga kita semua bisa meneladaninya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar