Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Tarekat Pekerja

Jumat, 27 Januari 2017
: Kiai Muhajir Madad Salim

Tarekat "Sughul" bisa dibilang bukan thariqah al mu'tabarah sebagaimana istilah itu yang biasa kita gunakan untuk menggambarkan laku - laku suluk ketarekatan. Tetapi meskipun demikian, bukan berarti Tarekat Sughul --dimana sughul dimaknai sebagai perbuatan mencari rejeki ( bekerja)-- jadi tidak penting atau kehilangan nilainya sama sekali, bahkan terkadang sughul /bekerja itu lebih bermakna dibanding bertarekat.
Seseorang yang melakukan sughul, setidaknya dia menjadi mahluk yang ada manfaatnya bagi kehidupan dunia. Petani misalnya, hasil panennya dibutuhkan umat manusia untuk memenuhi kewajiban kehidupan mereka yaitu makan. Berkat jasa mereka kehidupan di dunia masih dapat berjalan.
Tukang kain, menghasilkan komoditas yang juga dibutuhkan oleh kehidupan dunia. Berkat mereka kehidupan dunia pun berjalan semestinya, orang orang dapat menutupi aurat auratnya.
Pedagang, berkat jasa mereka kehidupan menjadi lebih mudah. Orang dapat mencari kebutuhannya atau menukarnya dengan yang lain di pasar. Di kerumunan para pedagang inilah ka'bah kehidupan diputar agar dunia dapat berlangsung harmoni. Jadi, petani, pengrajin, pedagang atau siapapun para pekerja adalah orang orang yang jelas ( tidak terbantahkan lagi) sangat bermanfaat / memberi manfaat kepada kehidupan mahluk di muka bumi. Dan dikatakan :AFDHOLUN NAS ANFAUHUM LIN NAS. Sebaik baik manusia adalah yang paling punya manfaat bagi kehidupan manusia yang lain ''
Kalau sudah begitu, jangan salah jika di hadapan Allah Ta'ala, mereka semua malah lebih mulia kedudukannya dibandingkan seorang Muridut Thariqah yang dalam pengakuan bertarekatnya dia masih :BELUM MAU MEROBAH TABIATNYA...Masih suka iri hati, hasud dan cinta dunia misalnya.
Pelaku tarekat yang tidak bertambah bersih akhlaqnya, bertambah bercahaya hatinya justru Sangat membahayan kehidupan. Tidak saja kehidupannya sendiri tetapi membahayakan kehidupan orang lain nya juga. 
Ketika orang lain menyangka dirinya sebagai sosok yang patut diikuti, diteladani melihat penampilan lahiriyahnya yang laksana para Sufi itu, hakekatnya yang mereka ikuti adalah fir'aun , Qorun, atau dajjal. Celaka bagi yang diikuti, dan kerugian besar bagi yang mengikuti.
Maka petani, pedagang, pekerja itu jauh lebih baik dimata Allah dibanding mereka, karena orang orang yang di dunia ini punya manfaat adalah perwujudan wakil Allah Ta'ala dalam mengatur roda kehidupan di bumi CiptaanNya ini. Merekalah bagihan dari para KALIPATULLAH, kholifatullohi fil Ardh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar