Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Ithâf al-Dzakî”, Syaikh Siti Jenar, dan Tafsir “Wahdatul Wujud”

Jumat, 10 Februari 2017
“Ithâf al-Dzakî”, Syaikh Siti Jenar, dan Tafsir “Wahdatul Wujud” Maha Guru Madinah untuk Muslim Nusantara di Abad ke-17 M

Beberapa hari yang lalu telah kita kaji sebuah manuskrip penting dari kitab berjudul “al-Jawâbât al-Gharâwiyyah li al-Masâil al-Jâwiyyah al-Juhriyyah” karangan seorang ulama besar Madinah asal Kûrân (Kurdistan) bernama Syaikh Burhân al-Dîn Ibrâhîm ibn Hasan al-Kûrânî al-Madanî (w. 1690).

Kitab “al-Jawâbât” ditulis di kota Madinah, dalam bahasa Arab, dan khusus untuk merespon lima buah persoalan yang datang dari Nusantara pada paruh abad ke-17 M. “al-Jawâbât” menjadi penting karena menjadi sumber data dan informasi yang kaya terkait sejarah sosial-intelektual Islam di Nusantara, serta sejarah hubungan intelektual ulama Nusantara-TimurTengtah yang terjadi pada masa itu.

Adapun ini adalah manuskrip kitab dari pengarang yang sama, yaitu Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî al-Madanî. Kitab ini juga tak kalah pentingnya, karena juga khusus ditulis untuk merespon sebuah permasalahan keislaman yang cukup serius berkembang di bumi Nusantara pada masa itu, yaitu tentang faham panteisme (wahdatul wujud) yang erat kaitannya dengan ajaran Syaikh Siti Jenar.

Kitab ini berjudul “Ithâf al-Dzakî fî Syarh al-Tuhfah al-Mursalah ilâ Rûh al-Nabî”. Adapun gambar ini adalah gambar halaman judul dan halaman pertama dari kitab tersebut, dari naskah manuskrip salinan (al-nuskhah al-makhtûthah al-mansûkhah) koleksi Perpustakaan Universitas Toronto, Kanada.

Kitab “Ithâf al-Dzakî” memiliki banyak salinan manuskrip. Prof. Oman Fathurrahman, filolog Islam Nusantara dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang lama meneliti kitab “Ithâf al-Dzakî” ini mengatakan ada kurang lebih 32 buah salinan naskah dari kitab tersebut. Ke-32 naskah salinan itu tersebar di beberapa perpustakaan dunia, mulai dari Mesir, Turki, Saudi Arabia, Iran, Jepang, Belanda, Jerman, hingga USA dan Kanada. Prof. Oman mendasarkan penelitiannya dari 17 buah naskah yang beliau temukan. Hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 2012 oleh Mizan, dengan judul “Ithaf al-Dhaki; Tafsir Wahdatul Wujud Bagi Muslim Nusantara”.

Kitab “Ithâf al-Dzakî” karangan al-Kûrânî sendiri merupakan uraian dan penjelasan (syarh) atas kitab “al-Tuhfah al-Mursalah fî Haqîqah al-Syarî’ah al-Muhammadiyyah” atau yang dikenal dengan “al-Tuhfah al-Mursalah ilâ Rûh al-Nabî” karangan seorang teosof (al-shûfî al-falsafî) besar asal Burhanpur (India) yaitu Muhammad ibn Fahdlullâh al-Burhânpûrî (w. 1620).

Melalui “al-Tuhfah al-Mursalah”, al-Burhânpûrî mengkaji ilmu tasawuf secara mendalam dan filosofis. Pemikiran al-Burhânpûrî sangat terpengaruh oleh pemikiran Syaikh Muhyiddîn Ibn al-‘Arabî (Ibnu Arabi, w. 1240), sufi dan filsuf besar asal Andalus (Spanyol) dan wafat di Damaskus (Syria). Melalui karyanya itu pulalah al-Burhânpûrî memperkenalkan konsep “martabat tujuh” dalam ilmu tasawuf. Namun permasalahannya adalah, pandangan-pandangan tasawuf al-Burhânpûrî dalam karyanya itu lebih cenderung didominasi oleh pemahaman pantheisme (wahdatul wujud) yang kontroversial.

Kitab “al-Tuhfah al-Mursalah”, konsep “martabat tujuh”, sekaligus faham “wahdatul wujud” ala al-Burhânpûrî sampai ke Nusantara, berkembang dengan sangat pesat dan berpengaruh besar di sana, sehingga menjadi semacam “tren pemikiran Islam” yang cukup dominan pada paruh pertama abad ke-17 M. Kitab “al-Tuhfah al-Mursalah” pun dijadikan pedoman. Beberapa ulama Nusantara yang ikut serta mengkampanyekan dan menyokong pandangan ini adalah Syaikh Hamzah Fansuri (w. ?) dan Syamsuddin Sumatrani (w. 1630).

Pandangan “wahdatul wujud” di atas ditentang oleh beberapa ulama Nusantara lainnya, seperti Syaikh Nuruddin Raniri (Nûr al-Dîn Muhammad ibn Jailânî ibn ‘Alî ibn Hasanjî al-Qarsyî al-Rânîrî al-Asy’arî, w. 1658) dan Syaikh Abdul Rauf Singkel (‘Abd al-Raûf ibn ‘Alî al-Fanshûrî al-Sinkilî al-Âsyî al-Jâwî, w. 1693). Dua ulama ini lebih hendak menyebarkan ajaran tasawuf berfaham sunni (al-Ghazzâlî atau al-Junaidî) yang berkaitan dengan fikih madzhab Syâfi’î dan teologi madzhab Asy’arî.

Perdebatan antara dua kubu, yaitu kubu “tasawuf wahdatul wujud” dengan kubu “tasawuf sunni” pun mengemuka dengan sangat dinamis. Syaikh Nuruddin Raniri dan Abdul Rauf Singkel pun menulis beberapa karya untuk merespon faham “wahdatul wujud” tersebut.

Abdul Rauf Singkel, yang merupakan salah satu murid terdekat Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî, mengajukan permasalahan dialektika faham “wahdatul wujud” ini kepada gurunya itu sewaktu al-Singkili berada di Madinah. Sang guru pun merespon permasalahan yang diajukan muridnya itu, yang kala itu sedang menjadi “tranding topic” di Nusantara.

Karena itu, dalam kata pengantarnya, Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî menulis;

ققد صح عندنا من أخبار جماعة الجاويين أن بلاد جاوة قد نشى في أهلها بعض كتب الحقائق وعلوم الأسرار. فتداولتها ايدي من باب (؟) ..... وذكروا لي أن من أشهرها عندهم المختصر الموسوم بالتحفة المرسلة الى النبي صلى الله عليه وسلم تأليف العارف بالله الشيخ محمد بن الشيخ فضل الله الهندي البرهانبوري نفع الله به، فاسترشحه لذك غير واحد منهم من هذا الفقير شرحا يوضح تطبيق مسالكه على قواعد أصول الدين المؤيد بالكتاب العزيز وسنة سيدن المرسلين

“Kami telah menerima kabar dari sekelompok Muslim Nusantara (Jamâ’ah al-Jâwiyyîn) bahwa di kalangan masyarakat Nusantara (Jawah) telah tersebar sebagian kitab tentang ilmu hakikat dan ilmu tasawuf. Mereka menceritakan kepadaku bahwa di antara kitab yang paling masyhur di kalangan mereka adalah risalah pendek berjudul ‘al-Tuhfah al-Mursalah’ karangan seorang al-Arif Billah Syaikh Muhammad bin Fahdlullah al-Hindi al-Burhanpuri, semoga Allah senantiasa memberikan kita kemanfaatan dari ilmu-ilmunya. Beberapa dari Jemaah Muslim Nusantara itu meminta kepada diriku yang fakir ini untuk menulis sebuah ulasan/penjelasan (syarh) atas kitab tersebut, agar dapat menjelaskan kesesuaian masalah-masalah di dalamnya dengan prinsip-prinsip dasar agama yang benar”.

Dijelaskan oleh Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî, bahwa permintaan yang diajukan oleh Muslim Nusantara untuk menanggapi masalah “wahdatul wujud” itu tidak datang sekali dua kali saja, tetapi berkali-kali. Akhirnya, setelah melakukan istikharah berkali-kali, beliau pun mengabulkan permintaan tersebut dan mulai menuliskan ulasan atas kitab “al-Tuhfah al-Mursalah” yang menjadi biang permasalahan dan perbedaan yang berujung perselisihan di kalangan Muslim Nusantara.

Dalam identifikasi al-Kûrânî, permasalahan di atas timbul akibat adanya ketimpangan yang cukup parah pada neraca pemahaman dan keilmuan Muslim Nusantara, pada tidak adanya balance antara pengamalan tasawuf sebagai ilmu batin (esoteris) dengan pemahaman fikih dan praktek syariat sebagai ilmu lahir (eksoteris). Kajian tasawuf berkembang tanpa diimbagi dan dibekali terlebih dahulu dengan dasar-dasar ilmu fikih dan ilmu-ilmu syari’at lainnya. Inilah yang kemudian meneguhkan pendapat al-Imam al-Ghazzali bahwa “man tashawwafa wa lam yatafaqqah faqad tazandaqa” (barang siapa yang mendalami ajaran dan laku tasawuf tanpa memiliki bekal dasar-dasar ilmu fikih, maka ia akan melenceng jauh!).

Anggitan Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî ini (Ithâf al-Dzakî), ternyata sangat efektif meredakan gejolak polemik pandangan “wahdatul wujud” yang terjadi di Nusantara. Faham tersebut pun kian surut dan redup dengan beriringnya waktu, utamanya setelah berkarirnya Syaikh Abdul Rauf Singkel, yang merupakan murid Syaikh Ibrâhîm al-Kûrânî, sebagai mufti Kesultanan Aceh. Lewat institusi resmi kenegaraan, Syaikh Abdul Rauf Singkel berhasil menghilangkan pengaruh ajaran tasawuf “wahdatul wujud” dan menggantinya dengan ajaran tasawuf yang sunni dan “resmi”.

Sahabat sekaligus guru saya al-Fadhil DukturHerman Syah, yang juga meneliti kitab “Ithâf al-Dzakî”, mengidentifikasi bahwa kitab tersebut ditulis pada tahun 1076 Hijri (1665 Masehi). Dikatakan oleh beliau, bahwa penanggalan paling tua berkaitan dengan penulisan naskah Ithaf ad-Dhaki ini terdapat dalam salah satu salinan naskah bernomor MS 820 koleksi Fazil Ahmed Pasa, Perpustakaan Köprülü, Istanbul (Turki), yang menyebutkan bahwa kitab “Ithâf al-Dzakî” mulai ditulis pada hari Ahad 30 Rabi‘ al-Awwal 1076 H/20 September 1665 M, dan selesai pada awal Jumada al-Akhir pada tahun yang sama.

Jakarta, Februari 2017
A. Ginanjar Sya’ban




Tidak ada komentar:

Posting Komentar