Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Kisah Persahabatan Dua Murid Tarekat

Senin, 06 Februari 2017
Dua pertapa di jaman Bani Israil mengikat persaudaraan karena Allah dan mereka berdua beribadah bersama di atas bukit. Suatu hari salah satu dari pertapa itu turun ke kota untuk sebuah keperluan. Namun dikota, ia tergoda dengan seorang perempuan di pasar dan kemudian tiga hari lamanya ia berzina dengannya. Karena malu dengan keadaannya ini, dia enggan kembali ke atas bukit untuk beribadah, bertapa dengan saudaranya.

Lama menanti diatas bukit, akhirnya sahabatnya turun untuk mencarinya. Penduduk kota satu persatu ditanya, adakah yang pernah melihat saudaranya? Orang orang memberinya kabar buruk. Saudaranya itu kini sudah berubah menjadi seorang pendosa dan hidup bersama tanpa ikatan perkawinan dengan seorang wanita. Tetapi tetap saja dia menemui saudaranya itu dan terlihat akhirnya oleh matanya sendiri, disebuah rumah ,sahabatnya iu sedang ada dalam dekapan seorang wanita. Tanpa ragu-ragu, dia hampiri sahabatnya itu dan dia peluk dengan erat. Dia pegang tangannya dan dia cium keningnya sembari berkata dengan halus, '' Bangkitlah, Mari kita sama - sama kembali ke atas bukit Dan beribadah lagi kepada Allah '' Saking malunya, saudaranya itu pura-pura tidak mengenali dan berkelit dengan ajakan tulusnya.

Tetapi dengan halus dia berkata : '' Saudaraku... apa yang terjadi dengan dirimu dengan perempuan ini, aku sudah mengetahuinya. Aku tidak akan menjauhimu hanya karena dosa yang kamu lakukan ini. Keadaanmu ini semakin bertambah kuat rasa sayangku kepadamu, dan aku akan membantumu untuk keluar dari kesalahan-kesalahan, kembali lagi beribadah seperti dahulu ''

Melihat kenyataan bahwa harga dirinya tidak jatuh dimata saudaranya, pertapa itupun luluh, dan kemudian bangkit meninggalkan kota, bersama saudaranya kembali beribadah keatas bukit seperti semula.

Cara-cara lembut dalam persahabatan seperti itulah cara-cara persahabatan yang khas dari para kaum Sufi, yakni para pelaku Tarekat. Cara dimana seorang sahabat tidak meninggalkan sahabatnya disaat saat suit. Bahkan para Shahabat Rasulullah SAW pun telah mengajarkannya demikian. Sayyidina Abu Darda' RA berkata : '' Jika saudaramu berubah, keadaannya berubah, janganlah engkau menjauhinya karena perubahannya itu. Sebab dia itu seseorang ( yang seperti orang lain ) , suatu saat terlena, tetapi suatu saat yg lain tersadardan lurus jalannya''

Syaikh Ibrahim An Nakhoiy berkata, '' Jangan engkau jauhi sahabatmu yang sedan bermaksiat, kamu menjauhinya karena dosa kemaksiyatannya itu. Sebab ia bisa jadi saat ini bermaksiyat, tetapi disaat berikutnya ia tinggalkan kemaksiyatannya '' Jangan pula engkau sebarkan ketengah masyarakat luas , kesalahan dan kemaksiyatan yang dilakukan oleh seorang Alim . Sebab seorang Alim itu suatu saat dapat melakukan kesalahan, tetapi disaat berikutnya dia cepat menyadari kesalahannya dan kemudian meninggalkannya. ''

Ada kisah dua orang murid Tarekat yang mengikat persahabatan lillah dalam lelaku suluk mereka. Tiba-tiba disuatu hari salah satu dari dua Murid tersebut merasakan dalam hatinya ada dorongan untuk menikmati sebuah syahwat nafsunya. Maka dengan jujur dia menuturkannya kepada sahabatnya dan berkata, '' Hatiku begitu kuat mendorong untuk menikmati nafsuku ini. Jadi, seandainya karena keinginan burukku ini engkau akan memutuskan persahabatan lillah diantara kita ini, maka aku memakluminya .... ''

Sahabatnya menjawab, '' Aku tidak akan memutus persahabatan kita hanya karena kesalahanmu ini. Dengarlah, Demi Allah aku tidak akan makan dan minum sampai engkau benar-benar dapat terbebas dari dorongan nafsu dalam hatimu itu ...''

Maka semenjak hari itu, dia setiap hari mendatangi sahabatnya dan bertanya :" Bagaimana keadaan hatimu hari ini? " Selalu saja dijawab, " Masih kuat dorongan syahwat dalam hatiku ...'' Maka dia tidak makan / minum sebagai mana janjinya atas Nama Allah. Hal ini berlangsung sampai 40 hari lamanya. Sampai kemudian dihari keempat puluh dia bertanya, " Bagaimana keadaan hatimu hari ini? " Dan dijawab, " Alhamdulillah ... Allah telah menghikangkan dorongan nafsu dalam hatiku hari ini . " Maka barulah dia bersedia makan dan minum sesudah tubuhnya menjadi begitu lemah dan kurus kering manahan lapar serta dahaganya 40 hari lamanya demi sebuah persahabatan dengan saudaranya.

Dahulu Ada seorang Pesalik yang terlihat jatuh dalam kelalaian. Seseorang kemudian berkata kepada Sahabatnya, '' Mestinya engkau hentikan persahabatanmu dengan dirinya ...'' Tetapi sahabatnya itu menjawab, " Tidak. Justru aku sangat ia butuhkan di waktu waktu seperti ini. Kelembutan nasehatku akan ia butuhkan untuk kembali membawanya kepada kebaikan ...''

Sikap-sikap empatik serta simpatik dalam sebuah persahabatan diatas adalah sikap yang mesti dilakukan oleh seorang pesalik manakala melihat sahabatnya terjatuh dalam kealpaan atau kesalahan dalam ibadahnya atau dalam syareatnya. Adapun jika kesalahan yang dilakukan adalah kesalahan yang berhubungan dengan hak-hak pribadi antar sahabat maka kewajiban seorang pesalik adalah bersabar terhadap perlakuan buruk sahabatnya kepada dirinya itu dan dengan tulus wajib memaafkannya.

Bakdhus Shalihin berkata, '' wajib bagimu untuk mencari 70 alasan yang mampu membuat hatimu dapat menerima kesalahan sahabatmu kepada dirimu. Jika hatimu masih tidak dapat memaafkannya, maka katakan kepada dirimu sendiri, duhai hati yang begitu kotor. Sahabatmu memberimu 70 alasan Dan engkau masih saja belum dapat menerimanya? Lalu siapakah gerangan yang bersalah kini, karena ternyata engkau sendiriah yang keterlaluan sikapnya ''

Syaikh Ibnul Mubarak RA berkata, " Seorang mukmin itu yang dicarinya adalah alasan-alasan ( agar dapat memaklumi kesalahan orang lain) , sedangkan seorang munafiq yang dicari-cariya adalah kesalahan - kesalahannya ( agar dapat menjatuhkan orang lain) "

Rasulullah SAW bersabda, " Mintalah kalian perlindungan Allah dari Tetangga yang buruk, yakni tetangga yang jika melihat yang baik-baik dia akan menutup-nutupinya, dan jika melihat yang buruk-buruk dia akan menyebar luaskannya ..''

***

Oleh: Kiai Muhajir Madad Salim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar