Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

RADEN FATAH (W.1518)

Senin, 06 Februari 2017



A.    Asal-usul Raden Fatah
                                                         
          Para ahli sejarah, berbeda pendapat dalam menentukan asal-usul Raden Fatah. Babad Jawa dan Serat Kanda begitu pula sumber berita yang yang diambil dari klenteng Sam Po Kong di Semarang memiliki perbedaan. Berbeda pula buku Sejarah Umat Islam Indonesia yang ditulis oleh bebrapa pakar sejarah mencamtumkan beberapa pilihan.Menurut Purwaka Caruban Nagari ia ketua raja Majapahit Kertabumi. Tome Pires dalam bukunya Suma Oriental (1413-1515) menyebutkan bahwa asal-usul penguasa Demak adalah Pate Rodim (Taufik Abdullah, dkk, 1991)
           Awalnya Raden Fatah, santri perguruan Islam di Ampel Denta, diberi ijazah oleh gurunya untuk membuka perguruan Islam di mana saja. Pada tahun 1475 Raden Fatah mendirikan pesantren di hutan Glagah Arum di sebelah selatan Jepara. Pesantren itu mendapat kemajuan yang pesat, sehingga Glagah Arum kampung kecil itu turut maju, akhirnya berobah menjadi kabupaten, yaitu Bintara dan Raden Fatah sebagai bupatinya (1475). Bintara menjadi pusat untuk menyebarkan Islam ke seluruh Jawa.
            Proses masuk Islamnya penduduk Demak tidak lain karena wilayah tersebut terletak di pantai pesisir-pesisir utara Jawa, yang pada saat itu menjadi pelabuhan yang ramai dikunjung para pedagang. Akibat hubungan dagang inilah Islam tersebar ke seluruh Pulau Jawa. Bukti-bukti arkeologis perjalanan sejarah ini terlacak di daerah Leran Gresik yang berbentuk batu nisan dengan nama Fatimah binti Maimun, sebagaimana telah kami uraikan di muka.
             Hanya setahun Sultan yang bijaksana ini menikmati gelar Sultan, walaupun sebelum itu telah lama memerintah sebuah kerajaan Islam yang pada hakikatnyatelah merdeka, tetapi resminya masih di bawah naungan Majapahit Ia meninggal pada tahun 1518.
Sumber sejarah tersebut dapat dibandingkan dengan sumber Babad Jawadan Serat Kanda. Dalam sumber itu disebutkan bahwa Raden Fatah adalah putra Arya Damar yang bersaudara dengan Raden Kusen. Arya Damar menghendaki upaya Raden Fatah naik tahta kerajaan di Palembang sebagai penggantinya dan Raden Kusen sebagi patihnya. Raden Fatah dan Raden Kusen berkerabatan terhadap niat ayahnya, karena masih sangat muda dan belum mampu memerintah. Ia segera jadi ejekan orang banyak dan tidak sampai hati membawa rakyat ke jurang nestapa. Mendengar ucapan itu Arya Damar diam. Suatu isyarat bahwaia marah (Slamet Mulyana, 1964).
           Dalam Serat Kanda disebutkan, mereka bertemu dengan dua orang penyamun bernama Supala dan Supali. Supala dan Supali yang bermaksud jahat terhadap mereka berdua, terpaksa menyerah. Sementara itu mereka berdua mendaki gunung Rasamukayang mengongkang di atas laut akan bertapa sambil menunggu kalau-kalau ada perahu dagang lewat. Ada seorang pedagang yang sudah siap berlayar ke Jawa. Ketika melihat bahwa ada duan orang pertapa di lereng gunung Rasamuka, segera dihampirinya. Tanya jawab berlangsung antara mereka Akhirnya kedua Raden itu menumpang perahu dagang sampai ke Pulau Jawa. Sampai Bandar Surabaya. Raden Fatah dan Raden Kusen mendarat. Dilihatnya menara masjid Ampel, Setelah beberapa lama tinggal di Ampel, Raden Kusen mengingatkan kakaknya untuk melanjutkan perjalanannya ke Majapahit., mengabdi kepadan Prabu Brawijaya. Ajakan itu ditolak, karena Raden Fatah segan mengabdi kepada raja Kafir. Raden Kusen disuruh berangkat sendiri. Raden Fatah tetap tinggal di Ampel. Diambil menantu oleh Sunan Ampel. Kemudian Raden Fatah atas petunjuk Sunan Ampel menetap di hutan Bintara atau Glagah Wangi. Hutan Bintara dibuka. Disitu ia mendirikan masjid dan menjadi guru agama. Raden Kusen berangkat ke Majapahit. Ia berhasil diterima sebagai magang (calon) dipura Majapahit. Tidak diceritakan beberapa lama ia menjadi magang. Akhirnya diwisudai menjadi adipati Terung.
           Dalam riwayat lain disebutkan Prabu Brawijayamendengar bahwa di hutan Bintara ada penghuni baru yang sangat gentur tapanya. Sang Prabu menanyakan siapa orang itu. Jawab adipai Terung, bahwa guru ilmu itu adalah kakaknya sendiri. adipai Terung diperintahkan memanggil Raden Fatah untuk menghadap sang prabu. Sampai di Sripanganti Raden Fatah bertemu dengan sang Prabu. Melihat tingkah laku dan rupa Raden Fatah sang prabu sangat tertarik. Sang prabu minta kepada dayang-dayang supaya diambilkan kaca. Yang diperintah segera beragkat. Sang prabu berkaca terkejutlah beliau, karena rupanya mirip skali dengan Raden Fatah. Raden Fatah diakui sebagai putera dan diwisudai menjadi adipati Bintara. Demikianlah Kusen menjadi adipati Terung dan Fatah menjadi Adipati Bintara. Adipati Bintara minta izin untuk mengundurkan diri. Sang prabu berpesan agar adipati Bintara setiap tahun menghadap sang prabu di Majapahit. Beliau memberi restu dan mengharapkan agar hutan Bintara di kemudian hari menjadi negara yang subur makmur dan adipati Bintara menjadi raja Islam yang pertama.
          Saat itu kerajaan Majapahit berada di daerah kemundurannya. Dipenuhi dengan kericuhan dan perang saudara yang tidak henti-hentinya. Saat itulah Adipati Bintara yang masih tunduk pada Majapahitsegera mengambil sikap untuk mengamankan keadaan agar rakyat tenang dan kehidupan rakyat berjalan sebagaimana mestinya.
          Prabu Brawijaya diberi tahu tentang kedatangan tentara Islam dari Demak di bawah pimpinan Raden Fatah. Adipati Bintara sudah sampai di pagelaran. Mendengar laporan itu Prabu Brawijaya segera naik panggung untuk melihat kedatangan puteranya, atas perintah Raden Fatah dan keputusan pra wali. Prabu Brawijaya dibiarkan lolos beserta semua pengikutnya yang masih setia.
          Kemudian adipati Bintara masuk istana. Melihat Istana kosong, menangis adipati Bintara. Atas nasehat Sunan Ampel, Sunan Giri diangkat menjadi raja Majapahit selama empat puluh hari untuk meghilangkan segala pengaruh raja kafir. Sesudah waktu empat puluh hari lampau, tahta kerajaan diserahkan kepada Raden Fatah. Raden Fatah dinobatkan oleh Sunan Ampel menjadi Sultan Demak dan mendapat gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Paelmbang Sayidin Panata agama. Setelah panobatan menyusul kemudian pembangunan masjid Demak.
          Demak merupakan pertama kerajaan Islam di pulau Jawa, berdiri bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit pada tahun 1478 setelah Perang Paregreg. Keruntuhan pusat Majapahit bukan oleh Muslim semata-mata, tetapi lebih banyak disebabkan Perang Paregreg, oleh dinasti Girindrawardhana dan Kediri. Tome Pires (1512-1515) sama sekali tidak tidak menyebut-nyebut nama Majapahit disebut Majapahit dan pusatnya tidak lagi di Trowulan, tetapi sangat besar kemungkinannya di Daha, atau Kediri. Hal ini jelas disebutkan oleh Tome Pires bahwa Davo (Daha) ialah ibukota kerajaan berhala (Hindu) yang letaknya dapat dicapai dengan berjalan kaki yang kuat selama dua hari dari Tuban. Sangat menarik perhatian bahwa Tome Pires menceritakan tentang masih adanya kerajaan-kerajaan yang bercorak Indonesia Hindu, baik di daerah pedalaman Jawa Timur maupun di Jawa Barat, disamping sudah adanya kerajaan yang bercorak Islam di Demak dan daerah lainnya di pesisir utara Jawa Timur, Jawa Tengah sampai Jawa Barat. Tome pires menyebutkan raja Daha, ialah Vigjaya dan “kapten utama” mungkin patihnya, Patih Gusti Pate, yang lebih berkuasa daripada rajanya dalam menjalankan pemerintahan. H.J. De Graaf menduga bahwa yang dimaksud dengan Batara Vigjaya adalah Br Wijaya yang namanya terkenal dalam babad-babad, dan yang lebih kurang setengah abad sebelumnya telah meninggalkan Majapahit sebagai pusat pemerintahannya dan pindah ke Daha atau ke Kediri (Tjandrasasmita. 1984:6, 19).
        Pendiri kerajaan Demak adalah Raden Fatah, yang masih keturunan Raja Majapahit, putera Brawijaya Raja Majapahit. Meski sudah menjadi kerajaan Islam Demak tetap patuh dan tunduk terhadap kerajaan Majapahit. Di bawah pemerintahan Raden Fatah kerajaan Demak menjadi pusat perkembangan Islam di pulau Jawa. Dan pada masa itu kekuasaan Demak juga terus meluas menggantikan posisi kerajaan Majapahit.

B.     Nidzam Islam di kerajaan Demak
       Setelah berdiri kerajaan Demak, maka pendidikan dan pengajaran Islam bertambah maju dengan amat pesat dan penyiaran Islam ke pulau Jawa, berjalan dengan amat mudah karena telah ada pemerintah dan pembesar-pembesar Islam yang membelanya.
Sekitar tahun 1476 di Pintara dibentuk suatu organisasi Bayangkare Islah (Anggota Pelopor Kebaikan). Itulah organisasi Islam yangbpertama dibentuk di Indonesia. Dalam rencana pekerjaannya antara lain disebutkan Mahmud Yunus (1979) sebagai berikut:
1.      Tanah Jawa Madura dibagi atas beberapa bagian untuk lapangan pekerjaan bagi pendidikan dan pengajaran. Pimpinan pekerjaan di tiap-tiap bagian dikepalai oleh seorang wali dan seorang pembantu (Badai).
2.      Supaya mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat maka pendidikan dan pengajaran Islam harus diberikan melalui jalur kebudayaan yang hidup dalam masyarakat itu, asal tiada menyalahi hukum syara’.
3.      Para wali dan para Badal, selain harus pandai dalam ilmu agama, harus pula memelihara budi pekerti diri sendiri dan berakhlak mulia, supaya menjadi suritauladan bagi masyarakat sekelilingnya.
4.      Di Bintara harus segera didirikan sebuah masjid Agung untuk menjadi sumber ilmu dan pusat kegiatan usaha pendidikan dan pengajaran Islam. Sebelum selesai persiapan bahan-bahan untuk masjid Agung itu, maka didirikan sebuah masjid sementara (semi permanent) dinamai masjid Sikayu. Itulah mesjid pertama yang didirikan di Jawa Madura (sekitar 1477). Sampai sekarang masih ada masjid di tempat asalnya, terkenal dengan nama Sikayu sebelah Barat dekat Semarang.
5.      Di tempat-tempat suatu daerah didirikan masjid di bawah pimpinan seorang badal untuk menjadi sumber ilmu dan pusat pendidikan dan pengajaran Islam. Mesjid-mesjid itu sampai sekarang masih dapat dilihat.
6.      Wali suatu daerah diberi gelaran resmi, yaitu gelaran Sunan ditambah dengan nama daerahnya, sedangkan badal gelaran resminya Kyai Ageng. Misalnya Sunan Gunung Jati, Sunan Geseng, Kyai Ageng Tarub, Kyai Ageng Sela dan lain-lain.

         Untuk penyempurnaan rencana Bhayangkare islah, maka oleh Dewan wali sangan dari
kerajaan Demak diambil putusan supaya semua cabang kebudayaan naional, yakni filsafat hidup, kesenian, kesusilaan, adat-istiadat, ilmu pengetahuan dan sebagainya sedapat mungkin diisi dengan anasir pendidikan dan pengajaran agama Islam. Dengan demikian agama islam menjadi mudah diterima rakyat dan menjadi darah daging tumbuh dalam masyarakat. Pelaksanaan putusan ditugaskan kepada Raden Syahid yang kemudian bergelar Sunan Kalijaga dan Raden Paku yang kemudian bergelar Sunan Giri. Usaha memasukkan anasir-anasir Islam ke dalam kebudayaan nasional itu berhasil dengan sebaik-baiknya.

C.     Masjid Agung

          Masjid Demak mulai dibangun, sembilan wali ikut serta membangunnya, yakni Sunan Giri, Sunan Cirebon, Sunan Gesang, Sunan Madjagung, Syekh Lemah Abang, Sunan Undung, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Sunan Kalijaga. Pada tahun 1328 Sunan Ampel mangkat.
          Sunan Kalijaga mendapat tugas untuk membuat tiang dan menetapkan kiblat. Tiang Masjid yang penghabisan dibikin dari tatal, oleh karena itu disebut Saka tal. Kiblat ada di tangan Kiri dan Ka’bah ada di tangan Kanan. Pembangunan Masjid selesai pada tahun Saka 1399 (1477) M berdasarkan candrasengkala yang berbunyi “Kori Trus Gunaning Janmi” (Solihin Salam. 1960). Sunan Giri diangkat menjadi imam, delapan sunan lainnya menjadi katib. Raden Iman, putera Sunan Kudus menjadi kebayan, marbot, modin dan bilal.
Nanti kita lihat, bahwa nidzam Islam Kerajaan Demak terus berlangsungmeskipun kerajaan Demak telah runtuh dan diganti Kerajaan Islam Pajang dan Mataram. Sistim ketatanegaraan ini dibangun oleh Raden Fatah bersama para wali di tanah Jawa. Palembagaan sistem ketatanegaraan tidak hanya muncul di Keraton tetapi dalam bentuknya yang klasik muncul di masjid-masjid sampai ke surau-surau.
             Di zaman Sultan Agung Mataram pelembagaan sistim itu semakin kuat. Kerajaan Islam Demak tidak hanya mewariskan sistem ketatanegaraan, tetapi juga mempersembahkan ideologi-ideologi politik yang lebih populer bagi orang Jawa dari pada etnis lain. Ideologi itu nampak dalam falsafah Jawa seperti Sabdo Pandhito Ratu (kesatuan ulama dan raja) dan lain-lain. Sistem ini juga kemudian terhapus oleh penjajahan Belanda sementara idiologinya tetap hidup sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar