Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Ulama-Ulama Nusantara di Makkah Abad-19

Jumat, 10 Februari 2017
: Moh Machin

Komunitas pelajar dan pengajar Jawa (Nusantara) di kota suci -- yang biasanya berniat haji -- sudah sangat banyak, setidaknya sejak abad 17 M. Mereka ini punya peran besar di dalam tradisi Ulama Nusantara sesudahnya. Bisa dibilang, mereka adalah penyambung dua peradaban yang terpisah antara Jawa dan arab. Namun siapa yang pertama dan seberapa banyak mereka?

Memang sebuah hal yang sangat sulit jika kita memaksakan diri untuk melacak jejak Ulama pertama yang belajar di tanah suci. Hal ini jelas beralasan mengingat banyaknya orang-orang Jawa yang datang dan menetap di kota tsb. Tentu kiranya ini juga berlaku bila berusaha menghitung jumlah mereka. Jauh hari apa yang kita yakini ini juga disadari oleh banyak penulis, diantaranya Al-Maqqari, sejarawan Maroko yang menulis kamus biografi cendekiawan Spanyol di master piece-nya, Nafhu at-Thib Fi Ghusni al-Andalusi ar-Rathib.

Barangkali sudah mafhum di banyak kalangan tentang sosok Arsyad al-Banjari, Abdul Wahab bugis, Nafis Al-Banjari, dan Abdus Shamad Palembang yang menjadi wakil para pelajar Jawa di Mekah pada abad 18. Atau nama-nama semisal Yusuf Al-Makassari, Abdur Rauf Singkel. Nurundin Raniri dan beberapa nama lain yang meramaikan dunia keilmian abad 17. Namun bagaimana dengan abad 19?

Snouck Hurgronje yang membuat laporan tentang Mekah pada tahun 1885 M, pernah menulis tentang komunitas Jawa di kota tsb. Ia menggambarkan betapa masifnya gelombang kedatangan orang Jawa, baik sebagai penghaji atau pencari ilmu. Dalam bukunya itu, ia melaporkan bahwa orang-orang Jawa di Mekah adalah sosok religius. Mereka yang berusia lanjut dikenal ahli ibadah, sedangkan yang muda sangat tekun bahkan rakus dalam mencari ilmu.

Dalam catatan sejarah, abad 19 M ini bisa dibilang memberikan gambaran yang lebih utuh tentang Ulama Jawa di Mekah dibanding periode sebelumnya. Berbagai sumber, baik lokal maupun non-lokal menginformasikan berbagai tokoh agama di sana. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab diakui atau tidak, peralihan kendaraan kapal menjadi kapal api (sebelumnya kapal layar) serta dibukanya terusan Suez mempunyai peranan penting.

Pada paruh pertama abad 19, Tercatat beberapa nama Ulama Jawa yang sangat berpengaruh di sana. Setidaknya kita bisa mengambil contoh dengan Syekh Junaid betawi. Sosok satu ini seperti diungkapkan oleh Snouck, sangat dihormati oleh para Ulama Jawa di Mekkah. Mereka tak canggung untuk mencium tangan sang Syekh dan bahkan menganggapnya sebagi guru besar. (Snouck / 598). Kelak Syekh Junaid ini dianggap sosok terpenting dalam jaringan Ulama betawi.

Sang Syekh sebenarnya lahir di daerah Pekojan Jakarta, dan baru datang ke Mekah sekitar tahun 1834 M. Beberapa muridnya seperti Syekh Nawawi banten, Syekh Khatib Minangkabau, dan Syekh Mujtaba. Kelak yang terakhir ini dijadikan menantu oleh sang Syekh. Sedangkan menantu lain dari sang Syekh adalah Abdur Rahman Mishri, Ulama ahli falak dari Mesir. Dan mempunyai anak diantatanya Ibu mufti betawi Sayyid Utsman bin Yahya. (Genealogo Ulama betawi / 64).

Tradisi keilmuan pada masa itu juga sangat menarik minat para santri Jawa. Snouck Hurgronje mencatat, di dalam masjidil haram yang saat itu menjadi institusi paling mentereng di sana terdapat tidak kurang 50 halaqah keilmuan setiap hari. Dengan kondisi seperti itu. bisa dibayangkan bagaimana nunasa ilmiah yang terbentuk di sana. Apalagi institusi ini pun terbilang sangat lengkap. Karena menyediakan kajian 4 madzhab dan berbagai disiplin keilmuan.

Para santri Jawa di sana pun berasal daro berbagai daerah. Ada yang dari Banten, batavia, surabaya, semarang, Padang, Aceh, Banjar, Pontianak, Madura dan berbagai kawasan lain di Indonesia. Bahkan Snouck juga ketemu dengan santri-santri yang berasal dari Ponorogo dan Pacitan. (snouck / 602). Mereka meramaikan tidak saja halaqah ilmiah yang dipimpin Ulama Jawa, tapi juga halaqah Ulama lain bahkan yang beda madzhab sekali pun. Kepada Ulama tsb biasanya mereka belajar ilmu-ilmu di luar fikih.Tokoh-tokoh Ulama yang tercatat punya banyak murid dari Jawa seperti Syekh Sulaiman Afandi (w. 1308 H) dan Syekh Khalil Pasya. Keduanya bermadzhab Hanafi dan mengajar di Masjidil haram. Beberapa tokoh lain -- biasanya dari Mesir -- juga mendapat reputasi yang mentereng dan punya banyak murid dari Jawa. Kita bisa ambil contoh Syekh Musthafa Afifi (w. 1308 H), Syekh Nahrawi atau Syekh Ahmad Minsyawi (w. 1317 H), Syekh Hasbullah.

Dari banyaknya Ulama besar di Mekah saat itu, tampaknya sosok Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan adalah yang paling dihormati oleh orang-orang Jawa. Pada abad ini, setidaknya tercatat banyak sekali orang Jawa yang belajar kepada tokoh satu ini. Nama besar tokoh ini bahkan juga telah menyebrang nun jauh ke pulau Jawa. Banyak orang Jawa yang terinsipirasi dan menggunakan namanya. Di musim haji, rumah Syekh Ahmad Zaini Dahlan ini banyak dikunjungi orang Jawa. Mereka ada yang sekedar sowan atau mengubah nama. (dalam tradisi Jawa masa itu, orang berhaji sering merubah namanya menjadi nama arab). Snouck Hurgronje dalam bukunya tsb pernab melihat langsung rombongan dari Kediri - Jawa timur yang datang ke rumah sang Syekh. Dengan dipandu seorang Gaet, belasan orang itu satu persatu menghadap sang Syekh dan meminta nama baru.

Orang-orang Jawa di dalam lingkaran Ulama Mekah saat itu memang bukan hal yang aneh. Mereka tidak saja menjadi murid dan hadir di halaqah-halaqahmasjidi haram, tapi juga banyak yang menjadi pelayan (khadam). Snouck mencatat bahwa ada dua orang Jawa yang tinggal di rumah Sayid Muhammad Zainudin Syatha (ayah Syeikh Bakri Syatho yang begitu dihormati kalangan Jawa). Satu dari keduanya adalah Abdus Syakur yang berasal dari Surabaya. Sosok satu ini selain belajat kepada Sayid Muhammad, juga menjadi khadam yang melayani segala keperluan. Ia juga yang menyediakan air wudhu sang guru saat hendak shalat malam.

Abdus Syakur sendiri datang ke Mekah sekitar 40 tahun sebelum kedatangan Snouck. Yakni sekitar tahun 1845 M. Kepercayaan besar yang ia peroleh dari gurunya, membuat namanya terkenal di kalangan orang-orang Jawa saat itu. Snouck bahkan mengatakan bahwa Orang-orang Jawa di Mekkah saat itu tidak ada yang tak mengenal kisah Abdus Syakur dengan gurunya itu. Yang lebih mengejutkan lagi, Abdus Syakur akhirnya dijadikan menantu oleh sang Syeikh dan menikahi 3 anaknya secara berurutan.

Pada paruh kedua abad 19 itu, orang-orang banten bisa dibilang kalangan Jawa paling menonjol. Kebanyakan dari guru-guru agama saat itu adalah dari kalangan mereka. Sosok seperti Syeikh Nawawi banten, Syekh Abdul Karim banten (mursyid tarekat naqsyabandi pasca Khatib Sambas), Syeikh Marzuqi banten dan lainnya. Sosok Syekh Marzuqi ini tidak begitu terkenal dibanding dua karibnya, Syekh Nawawi dan Abdul Karim. Namun ternyata juga sosok yang luar biasa. Bahkan dalam penguasaan bahasa arab dan Melayu, ia dianggap Snouck lebih baik dibanding karibnya itu. Selain mengajar di rumahnya, Marzuqi juga mendapat kehormatan mengajar di Masjidil Haram. Hal ini tentu memperlihatkan keistimewaan tersendiri, sebab hanya kalangan yang benar-benar alim yang boleh mengajar di situ. (Snouck / 609)

Dari banyaknya tokoh-tokoh Banten di Mekah, nampak yang paling menonjol adalah Syekh Nawawi banten dan Syekh Abdul Karim banten. Tokoh pertama lebih dikenal di dalam bidang keilmuan, sedangkan yang kedua lebih sering dibicarakan dalam ranah tarekat -- khususnya tarekat Qadiriyah. Duo banten yang dihormati bukan saja oleh kalangan Jawa itu, benar-benar tokoh berpengaruh pada periode tsb. Syekh Nawawi -- selain pengajar ulung di Masjidil Haram -- juga seorang penulis produktif. Karya-karyanya sampai hari ini masih digunakan di berbagai negara, terutama Indonesia. Setidaknya reputasinya yang tinggi itu membuat orang-orang menjulukinya Sayyidu Ulama al-Hijaz (pemimpin Ulama Hijaz).

Lain lagi dengan karibnya, Syekh Abdul Karim banten. Namanya melejit pasca kemangkatan gurunya, Syekh Khatib Sambas dan menjadi pimpinan tertinggi tarekat Qadiriyah di Mekkah. Pengaruhnya di banten begitu luas, hingga saat pulang ke Banten pihak belanda selalu memata-matai dan mengekang langkahnya. Snouck Hurgronje yang pernah bertemu langsung bahkan bilang dalam bukunya, bahwa ulah belanda tsb membuat sang Syekh merasa terganggu dan terenggut kebebasannya. Hal ini karena fatwa dan nasihat sang Syekh, sangat didengarkan oleh penduduk Banten. Jelas hal itu membahayakan bagi kelanggengan imperialisme mereka. (Snouck / 614).

Van Bruinessen dalam tarekat Naqsyabandiyah bahkan secata tidak langsung menjelaskan bahwa Sang Syekh menjadi pihak paling berjasa atas pergolakan kaum tarekat di Banten tahun 1888 H. Pengaruhnya dari Mekah secara tidak langsung melahirkan keberanian penduduk Banten untuk melawan Penjajah. Melalui H. Marzuki (murid dari Sang Syekh), sang Syekh digadang-gadang menjadi aktor yang membangkitkan perlawan bersejarah itu.

Sementara tokoh dari bagian Jawa yang lain juga ikut meramaikan tradisi ilmiah di kota suci. Pada akhir abad 19 ini, perhatian khusus harus diberikan kepada Syekh Mahfudz Tremas - Pacitan. Sebelum menetap di Mekkah, sosok jenius ini terlebih dulu belajar kepada Kyai Sholeh Darat di Semarang. Tahap belajarnya di Mekkah kemudian ia lalui diantaranya dengan mengaji kepada Sayid Bakri Syatha (Ulama penting Syafi'iyah masa itu). Reputasi ilmiahnya sudah tidak perlu diragukan. Ia menguasai berbagai cabang ilmu, dari fiqih, hadits, dan Qira'at.

Salah satu teman Syekh Mahfudz mengaji kepada Sayid Bakri Syatha adalah Syekh Abdul Hamid Kudus. Ayahnya, Ali bin Abdul Qadir adalah Ulama kelahiran kota Kudus - Jateng. Sebelum kemudian keluarganya hijrah ke Mekkah, dan di kota tsb Ali kemudian punya anak sosok yang kita bicarakan ini. Beberapa kalangan dibuat bingung dengan tokoh ini. Penulis sering dengar orang mengatakan bahwa Abdul Hamid berasal dari Quds - Palestina. Sementara yang lain beranggapan sosok tsb berasal dari Kudus. Justru kajian kepustakaan menunjukkan bahwa keluarganya-lah yang berasal dari Kudus (sebelumnya mereka imigran dari Yaman).

Beberapa kalangan menambahi gelar Kudus di belakang namanya, sementara yang lain gelar daerah tsb disematkan justru di balik nama ayahnya bukan nama dirinya. Kerancuan ini mungkin saja dipicu kesalah pahaman menafsiri tradisi arab dalam penyematan nama kota asal. Snouck dalam bukunya tentang Mekkah menulis bahwa Orang-orang Jawa yang datang ke Mekkah identik menambahkan nama kota asal mereka di belakang nama aslinya. Biasanya tanpa imbuhan huruf "Al" atau nisbat layaknua orang arab. Berangkat dari ini kiranya penambahan kata 'Kudus' yang tepat adalah di belakang nama ayahnya, bukan Syekh Abdul Hamid yang justru lahir di Mekah.

Terlepas dari kerancuan tsb, tokoh yang kita bicarakan ini setidaknya termasuk murid unggul dari Sayyid Bakri Syatha. Sebuah fakta menarik yang memperlihatkan kualitas tokoh bersangkutan bisa kita baca melalui bukunya, Anwarus Saniyyah. Di pembukasn buku tsb, Syekh Abdul Hamid mengaku bahwa gurunya lah menyuruh dirinya untuk mengarang kitab tsb. Padahal matan dari kitab tsb adalah karangan dari gurunya langsung. Fakta ini jelas merupakan sebuah legitimasi dan pengakuan khusus seorang guru atas kualitas muridnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar