Terima Kasih telah berkunjung di blog Pesantrenpedia ... Dapatkan konten-konten kami dalam format PDF di website resmi pesantrenpedia.org

Ajaran Nur Muhammad : Kontroversi Yang Tidak Kunjung Reda

Sabtu, 08 April 2017



: Mohammad Machin

Perbincangan tentang Nur Muhammad ini sangat menarik. Karena melibatkan berbagai macam tradisi besar islam, baik tradisi yang masih eksis maupun yang sudah gulung tikar. Dari mulai kalangan tasawuf falsafi, syiah, Sunni, hingga belakangan kaum Wahabi, semuanya mengeluarkan sikap dan pendapat masing-masing. Selama ratusan tahun ajaran ini juga berkembang di berbagai dunia islam. Mulai dari Arab, Persia, India hingga Nusantara. Di Nusantara sendiri, Ajaran ini pernah tersebar dari mulai Aceh hingga kawasan timur Indonesia. Dalam hal ini Otoritas pesantren, tarekat, dan majlis berperan besar.
Sebenarnya sejak lama telah terjadi tarik menarik antar kelompok soal kebenaran ajaran ini. Dua kelompok besar islam, Ahli hadits dan Sufi, bak air dan minyak dalam satu wadah : tidak bisa disatukan. Kelompok pertama menentang otentisitas sumber pijakan ajaran ini, sementara golongan kedua justru menjadi sponsor utama yang memperkenalkannya secara luas. Dua kelompok besar tsb nampaknya juga tidak menaruh minat dalam bidang ini secara bersamaan. Konsep Nur Muhammad sudah diperbincangkan dalam ranah tasawuf falsafi sejak abad 9, Sementara golongan kedua baru bereaksi beberapa abad kemudian (Tercatat Imam Suyuthi adalah pakar hadits paling awal yang mengomentari hadits Nur Muhammad).
Dalam literatur klasik, Terdapat beragam redaksi tentang konsep Nur Muhammad ini, Terutama tentang detail cerita yang diangkat. Namun secara garis besar, konsep tsb tetap sama. Nur Muhammad diyakini sebagai makhluk pertama yang diciptakan Allah. Dari Nur tsb Allah kemudian menciptakan semesta raya dengan segala isinya. Malaikat, Nabi, matahari, bulan, bintang, surga, neraka, Qalam, semuanya berasal dari Nur Muhammad. Nur tsb kemudian berada di tubuh Adam, lalu berpindah ke puteranya, Syits dan turun temurun hingga menjadi sempurna dengan lahirnya Nabi Muhammad.. Ajaran yang demikian ini diklaim mengacu pada sebuah hadits yang dinisbatkan kepada Abdur Razzaq dari sahabat Jabir bin Abdullah yang dalam semua literatur disebut tanpa disertai sanad.
Dalam literatur Syiah Ismailiyah, Ajaran ini mengalami sedikit variasi. Imad Al-Din al-Qurasyi, salah satu tokoh Syiah Ismailiyah dalam kitab Zuhrul Ma'ani menyebut riwayat bahwa : 'Arsy diciptakan dari Nur Muhammad, Cahaya langit dari Nur Ali, Cahaya bulan dari Nur Hasan (Puutera Ali), dan cahaya matahari dari Nur Husain (Putera Ali). Dari kalangan Syiah Imamiyah, Ajaran ini dikembangkan lagi dengan menisbatkan sebuah riwayat kepada Ali bin Abi Thalib. Bahwa yang mula-mula diciptakan Allah dari Nur keagungan-Nya bukan cuma Nabi dan Ali saja, tapi juga 11 imam Syiah. Mereka semua menyembah dan mensucikan Allah sebelum penciptaan makhluk. (236)
Kehadiran ajaran ini di kalangan Syiah juga dikonfirmasi oleh para sejarawan baik kontemporer maupun klasik. Dari kalangan klasik, Ibnu Thahir al-Maqdisi, dalam bukunya "Al-Bad'u Wa at-Tarikh" menulis : "Saya mendengar sebagian orang syiah mengira bahwa makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah Nur Muhammad dan Ali. Mereka juga menyebut riwayat. (Dan) Hanya Allah yang tahu kebenaran riwayat ini". Sementara dari kalangan kontemporer, Reonald Necholson juga mengatakan : "Paham tentang keazalian Nur Muhammad ini ditemukan dalam aliran syiah sejak waktu yang sangat lama". (al-Haqiqat al-Muhammadiyah Am Al-Falsafah al-Aflathuniyah / Aidh bin Sa'ad Ad-Dausari)
Belakangan konsep Nur Muhammad yang berbeda-beda ini menimbulkan gejolak intelektual di dalam dunia keilmuan. Kelompok ahli hadits kontemporer banyak yang menentangnya dengan dalih hadits yang dijadikan dasar idologis adalah hadits palsu (maudhu'). Sebagian pihak justru mensinyalir bahwa ajaran tsb berasal dari filsafat Plato yang diserap pertama-tama oleh ideologi syiah Ismailiyah. Diantara ahli hadits kontemporer yang menyatakan kepalsuan hadits ini adalah Sayyid Abdullah al-Ghumari, Sayyid Ahmad Al-Ghumari, Syekh Abdullah al-Harrari, Syekh Thahir bin 'Asyur, Syekh Abdullah at-Talidi, Syekh Rasyid Ridha, Syekh Abdul Fattah Abu Ghudah, dan masih banyak lagi. Dari kalangan Wahabi ada nama-nama seperti Al-Albani dan Bin Baz.
Ada beberapa argumentasi ilmiah yang dijadikan landasan para Ulama di atas. Diantaranya saja seperti tidak disertai sanad, tidak disebut dalam karya Abdur Razzaq sebagaimana diklaim, dan kandungan maknanya juga sangat kontradiktif. Belakangan dua alasan pertama sempat berusaha dipatahkan oleh seorang Doktor hadits, Isa Mani' Al-Himyari, yang mengaku menemukan salah satu manuskrip Mushannaf Abdu ar-Razaq yang memuat hadits Nur Muhammad lengkap dengan sanadnya. Penemuan itu-pun ia cetak dengan judul "Al-Juz'u al-Mafqud Min Mushannaf Abdir Razzaq" (bagian yang hilang dari Mushannaf Abdir Razzaq) dan sempat menggegerkan jagat keilmuan. Tak kurang dari 50 Cendekia hadits pun menentang secara keras karya tsb.
Berbeda dengan kalangan ahli hadits yang menentang. Dalam dunia tasawuf falsafi, ajaran ini justru tumbuh subur. Ajaran ini pertama kali dikenalkan oleh Al-Hallaj, Sufi yang dieksekusi mati. Lalu digodok oleh Ibnu 'Arobi (w. 638 H) sehingga menjadi semakin matang dan sempurna., Bagi kalangan ini, Sebelum lahir sebagai manusia, Nabi Muhammad sudah ada sebelum makhluk lain diciptakan. Keberadaan ini-lah yang mereka anggap sebagai Nur Muhammad yang berbeda dari kepribadian Nabi sebagai manusia dan utusan. Nur ini selanjutnya menjadi poros segala kehidupan di dunia dan terlibat dalam keberadaan segala perwujudan empiris. Dalam hal ini, Nur Muhammad adalah tempat tajalli paling sempurna bagi Tuhan.
Secara subtansial, Nur Muhammad -- seperti diuraikan Abu al-Ala' Afifi -- adalah perkara metafisik yang tidak terikat dengan waktu dan tempat. Dan karenanya ia bersifat azali Hal ini berbeda dengan kepribadian Nabi Muhammad sebagai manusia yang terikat masa dan tempat tertentu. Dalam kaitannya dengan manusia, Nur Muhammad ini bisa disebut al-Insan al-Kamil. Yakni konsep manusia sempurna yang mengumpulkan segala macam hakikat wujud pada dirinya. Sebagian peneliti menyebut : al-Insal al-Kamil ini bisa dibilang adalah perantara antara Tuhan dan makhluk. Sebab ia punya sifat keduanya. Maka jika Nabi Isa AS dalam keyakinan umat Kristiani menjadi tempat tampaknya sifat-sifat Allah SWT secara sempurna, maka bagi kalangan Sufi, orang tsb adalah Nur Muhammad (Al-Haqiqat al-Muhammadiyah).
Menurut Abu al-Ala', Ajaran Nur Muhammad yang semacam ini dikonsepsikan oleh Ibnu Arobi dari berbagai elemen filsafat di luar islam, Seperti Filsafat Plato, Kristen, Yahudi dan Syiah Ismailiyah. Tak lupa Ibnu Arobi juga membubuhkan hadits Jabir dalam membangun konsep ini. Saking eratnya hubungan Ibnu Arobi dengan ajaran ini, Abu al-Ala' juga menyebut bahwa ajaran tsb -- selain dalam lingkungan Syiah Ismailiyah, tidak dikenali kecuali dari Ibnu Arobi. Begitu besarnya pengaruh yang dihasilkan paham tsb, Sehingga Karl Henrik Becker menyebut bahwa paham ini-lah yang mengubah persepsi kelompok sufi tentang Nabi Muhammad dari seorang utusan Allah menjadi seperti Tuhan yang telah ada sejak dalam azali. Dan pada gilirannya melahirkan tradisi yang seolah-olah men-Tuhan-kan Nabi.
Selain Al-Hallaj dan Ibnu Arobi, konsep Nur Muhammad atau al-Insan al-Kamil juga diperbincangkan oleh tokoh-tokoh sufi lainnya dengan istilah yang beragam. Seperti Abdul Karim Al-Jili dalam bukunya "Al-Insan al-Kamil, As-Suhrawardi, Ibnu Sab'in, Ibnu al-Faridh dengan istilah Al-Quthb, Al-badawi, Al-Dasuqi, Ibnu al-Qadhib al-Ban dan para tokoh lain. Fakta ini-lah yang kemudian membuat kita dilematis. Sebab di sisi lain, ajarannya yang kontroversial telah mengundang kritik tajam dari berbagai kalangan, namun kedudukan mereka sebagi sufi agung justru tetap tidak tergoyahkan. Contoh saja, Imam Suyuthi yang dalam satu waktu mengkritik otentisitas hadits Jabir yang dijadikan landasan paham ini, tiba-tiba justru membela Ibnu Arabi dari tuduhan sesat dengan membuat kitab berjudul "Tanbihul Ghabi Fi Tabriati Ibni Al-'Arabi".
Namun terlepas benar tidaknya paham tsb, agaknya langkah terbaik adalah menyerahkan interpretasi dan pemahamannya kepada kalangan mereka sendiri. Tentu dengan tidak terburu-buru menghukumi sesat atau keliru. Toh bagi kalangan seperti Ibnu Arobi, Mereka punya logika dan aturan main sendiri di dalam mengelola paham-paham tasawufnya. Yang selama ini memang kerap memicu kontroversi. Dan agaknya kita musti mengutip statemen Sayyid Zaki Ibrahim terkait kelompok penganut tasawuf falsafi ini. Bahwa pertama-tama : "Tidak ada satu-pun manusia yang berijtihad dalam agama untuk masuk neraka. Dan karenanya, terkait ajaran mereka, bila terdapat ta'wil yang bisa diterima, maka kita musti menerimanya. Namun jika tidak, maka kita pasrahkan saja urusannya kepada Allah".
Sementara beberapa Ulama berupaya merekonsiliasi kontradiksi antara hadits Jabir di atas dengan Hadits Bukhari yang menyatakan makhluk pertama adalah 'Arsy. Diantaranya adalah Ibnu Hajar dalam kitabnya Fatawi Al-Haditsiyah. Menurutnya kontradiksi antara hadits Jabir (Nur Muhammad) dengan hadits yang justru menyatakan makhluk pertama adalah 'Arsy (bukannya Nur Muhammad) bisa saja dihindari, jika pada hadits pertama yang dikehendaki adalah awal penciptaan secara Idhafi (bukan awal sebenarnya) sedangkan dalam hadits Bukhari adalah awal secara Haqiqi (sebelum ada makhluk). Namun Abdullah al-Ghumari dalam Mursyidul Hair secara tegas menolak usulan Ibnu Hajar ini. Menurutnya, rekonsiliasi bisa dilakukan jika hadits Jabir juga berstatus Shahih.
Dalam dua arus besar yang tarik menarik di atas (Ahli hadits & Sufi) tampaknya hadits Jabir yang mejadi landasan ajaran Nur Muhammad tsb juga tidak serta merta memperoleh kesepakatan. (Dan mungkin saja ini yang juga menyebabkan paham tsb banyak menuai pro dan kontra). Dari kalangan ahli hadits, ada saja yang tidak memberi pernyataan eksplisit tentang statusnya dan justru seolah mendukungnya. Seperti Al-Qasthalani yang mengutipnya di dalam Mawahib alladuniyah. Sementara dari kalangan sufi pun tidak semuanya sepakat. Ibnu 'Ajibah al-Maghribi, tokoh sufi dari Maroko menyatakan kelemahan (Dhaif) hadits tsb dalam Syarah al-Hikam-nya.
"Ajaran Nur Muhammad di Nusantara"
Dalam sejarahnya, Konsep ajaran tsb dikenal luas di berbagai belahan dunia islam. Di Mekkah, jantung umat islam, ajaran tsb dikenal sudah sejak lama dan banyak disampaikan dalam berbagai kitab terutama kitab maulid. Diantaranya maulid Al-'Azzab karya Sekh Muhammad Azzab. Ibnu Hajar al-Haitami, Pakar Fikih Mekkah yang hidup di abad 9 H juga mengemukakan ajaran ini di dalam kitabnya Fatawi al-Haditsiyah. Di Yaman konsep tsb terbukukan dalam kitab Simtud Duror karya Habib Ali al-Habsyi. Ajaran tsb juga dikenal di India dan Persia. Adapun di Persia, ia dikemas diantaranya dalam sebuah karya berjudul Raudhatul Ajab, yang nantinya diterjemah ke dalam bahasa Melayu dan dikenal luas dengan teka Hikayat Nur Muhammad.
Tidak kalah dengan dunia islam di barat, Ajaran Nur Muhammad ini di Nusantara juga sangat populer sejak beberapa abad yang lalu. Kepopulerannya ini bisa dibuktikan dengan banyaknya teks-teks keagamaan Nusantara yang memperbincangkannya -- baik karya berbahasa arab, melayu, jawa, bahkan juga buton. Berdasarkan kajian manuskrip yang al-Faqir lakukan, ajaran ini sudah masuk ke Indonesia sejak masa awal islam. Kemungkinan pada masa kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Ajaran tsb dikenalkan oleh Syekh Abdullah al-'Arif, pendakwah arab yang datang ke Aceh, dalam kitabnya yang berjudul Bahrul Lahut.
Naskah tasawuf Nusantara lainnya yang memuat ajaran ini berjudul "Bayan al-Alif". Sampai saat ini al-Faqir belum menemukan data siapa penulisnya dan kapan dikarang. Namun genre tasawuf yang diusung di dalamnya mencerminkan bahwa karya tsb jelas lahir di bawah bayang-bayang tradisi tasawuf falsafi pada masa awal islam. Dalam manuskrip Bayan al-Alif yang tersimpan di perpustakaan kami, juga ditemukan hadits Nur Muhammad yang ditulis dengan redaksi yang agak berbeda dari redaksi dalam sumber-sumber arab. Hadits tsb menyatakan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah.
Seiring berjalannya waktu, paham tsb menyebar bersamaan dengan meluasnya pengaruh tradisi islam Aceh ke berbagai penjuru negeri. Distribusi kitab Bahrul Lahut dan Bayan al-Alif yang menjadi gerbong pertama ajaran ini menjangkau berbagai daerah di Nusantara. Yang pada gilirannya nanti menjadikan ajaran tsb dikenal secara luas di berbagai daerah. Sampai saat ini, naskah tsb ditemukan dalam bentuk bahasa melayu dan Jawa. Teks berbahasa Melayu tersimpan di Malaysia dan Madura, sedangkan yang berbahasa Jawa gandul berada di daftar koleksi perpustakaan kami. Adapun kitab Bayan al-Alif ini masih diajarkan sampai abad 19. Ronggo Warsito (w. 1873), Pujangga besar keraton Solo pun masih mengutip kitab ini dalam Wirid Hidayat Jati .
Ajaran Nur Muhammad ini juga ditemukan dalam karya klasik Nusantara dengan bergama bahasa. Bahkan ada karya yang secara khusus membahasnya. Adalah Hikayat Nur Muhammad , karya sastra melayu lama yang mengupas proses penciptaan Nur Muhammad dan segala manifestasinya. Dalam karya tsb, diterangkan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah. Darinya kemudian tercipta beragam anasir kehidupan, tanah, api dan air. Nur Muhammad juga berpindah dari Adam ke puteranya Syits, lalu secara turun temurun sampai ayah Nabi Muhammad, Sayid Abdullah.
Dalam catatan sejarah Nusantara, teks Hikayat Nur Muhammad ini sangat populer di kalangan umat islam. Perpustakaan nasional saja mengoleksi 7 naskah, perpustakaan Leiden di Belanda memiliki 1 naskah, dan terdapat juga naskahnya di british library. Ini belum menghitung naskah-naskah milik pribadi yang tersebar ke berbagai daerah, dan mungkin saja banyak yang hilang. Menurut inventarisasi yang dilakukan Rahmawati, terdapat 30 naskah yang tersebar dari mulai Jakarta, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan dengan bergama aksara. (tentang teks ini dan perbedaan redaksinya, lihat skripsi Rahmawati berjudul : Hikayat Nur Muhammad, Suntingan teks & penciptaannya/Universitas islam Indonesia / 2012).
Edward Jamaris yang melakukan penelitian terhadap teks ini di tahun 1983 mengemukakan, bahwa teks Hikayat Nur Muhammad yang tersimpan di Perpusnas bisa dikelompokkan menjadi 2 macam. Yakni teks pendek yang hanya membahasa Nur Muhammad dan proses penciptaan alam darinya. (teks pendek ini dicetak di Singapura). Kategori kedua adalah teks panjang yang menguraikan kejadian Nur Muhammad, sampai pada fase perpindahannya dari Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan sampai wujudnya yang sempurna di Nabi Muhammad. Lalu setelah beliau wafat, Nur tsb berpindah ke Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain, dan seterusnya pada keluarga Nabi.
Konsep tentang Nur Muhammad ini juga menyebar sampai ke pulau Buton yang berada di Sulawesi Tenggara. Sebuah naskah buton berjudul Hikayana Nuru Muhamadi yang disusun menggunakan bahasa cia-cia (bahasa setempat) membahas konsep tsb secara baik. Secara garis besar, isi dari naskah tsb tidak jauh beda dengan konsep Nur Muhammad di daerah lain. Teks tsb juga menyatakan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah. Naskah tsb adalah disalin oleh Abdul Malik Zahari pada tahun 1947 M. Ajaran Nur Muhammad juga ditemukan dalam karya sastra Melayu lainnya, seperti Hikayat Muhammad Hanafiyah, Hikayat Syah Merdan, dan dalam kitab perundang-undangan Mingkabau. (Edward Jamaris)
Dalam pandangan al-Faqir, proses meresapnya ajaran Nur Muhammad di Nusantara ini melibatkan berbagai unsur tradisi besar islam lama. Sebab menilik pada teks-teks Nusantara yang membicarakannya, serta karakteristik ajaran yang disampaikan, konsep ini bisa dibilang beragam, sebagaimana yang terdapat di dunia islam barat. Hal ini menjadi indikator bahwa kedatangan ajaran tsb tidak melalui satu pintu saja. Bisa diduga, bahwa 3 pengaruh tradisi besar yakni tradisi tasawuf falsafi, tradisi Syiah, dan tradisi fikib Ortodoks, ikut terlibat dan saling mewarnai. Hal ini bisa kita rasakan dengan kesan yang berbeda-beda dalam teks-teks tsb.
Dua teks pertama yang kami sebut, Bahrul Lahit dan Bayan al-Alif. Jelas menggambarkan aliran tasawuf dengan pendekatan filsafat yang memang pernah berkembang di Aceh. Secara sepintas, Teks Bahrul Lahut ini menggambarkan tasawuf seperti halnya yang dikemas oleh Abdul Karim al-Jili dalam bukunya Al-Insan al-Kamil. Pengaruh ini yang mungkin membuat konsep Nur Muhammad dalam Bahrul Lahut diuraikan dengan bahasa yang rumit dan sulit dipahami. Hal yang mungkin saja tidak kita temukan dalam konsep Nur Muhammad dalam kitab-kitab Maulid. Dalam teks Bahrul Lahut kami juga tidak menemukan kesan pengaruh Syiah yang begitu mencolok misalnya seperti dalam Hikayat Nur Muhammad.
Dalam teks ini , di mana dalam versi panjangnya menjelaskan peran serta Ahlul Bait dalam transformasi Nur Muhammad, seperti dalam riwayat Syiah Imamiyah, kesan Syiah begitu terasa. Dijelaskan di sini bahwa setelah Nabi wafat, Nur Muhammad berpindah secara turun temurun ke keturunan Nabi ( Imam Syiah ). Hikayat ini juga menjelaskan bahwa Nur Muhammad dirupakan dalam bentuk burung. Kepala burung adalah Ali bin Abi Thalib. Kedua matanya adalah Hasan dan Husain. Lehernya adalah Fathimah (puteri Nabi). Kedua lengannya adalah Abu bakar dan Umar. Ekornya adalah Hamzah (paman Nabi). Dan bagian belakangnya adalah Abbas (paman Nabi). Adanya pengaruh Syiah pada teks ini diperkuat lagi dengan fakta asal-usul teks tsb yang merupakan terjemah dari karya berbahasa Persia berjudul Raudhatul Ajab. (Dr. Liaw Yock Fang / Sejarah Melayu Lama)
Dalam Hikayat Nur Muhammad ini terdapat satu keterangan yang al-Faqir belum menemukan dalam sumber-sumber tentang Nur Muhammad lainnya, baik itu sumber arab maupun lokal. Kurang lebih sebagai berikut :
"Barang siapa yang membaca atau mendengar cerita ini maka ia memperoleh pahala seperti pahala naik haji dan mengelilingi Ka'bah 7 kali. Dan barang siapa membacanya setiap malam, maka ia akan memperoleh pahala mati syahid". (Hikayat Nur Muhammad / Hal. 8 / Cetakan Sulaiman Mar'i / Singapura, Pinang, Kota Baharu).
Agak belakangan, Ajaran Nur Muhammad Ini datang ke Nusantara bukan lagi melalui teks-teks dua tradisi tsb. Melainkan dibawa oleh tradisi baru yang datang dari Mekkah. Dalam tradisi ini, kesan tasawuf falsafi dan Syiah -- seperti dapat kita temui dari teks Bahrul Lahut dan Hikayat Nur Muhammad -- tidak terlihat. Tradisi ini mengemas ajaran Nur Muhammad secara sederhana. Diantaranya yang paling popouler, adalah teks-teks kitab Maulid Nabi. Ajaran Nur Muhammad yang diangkat dalam kitab-kitab ini adalah tentang penciptaannya yang mendahului semua makhluk. Paham ini bisa kita lihat dalam permulaan (Muqaddimah) kitab maulid Al-'Azzab. Sementara kitab Maulid Sintud Durar atau Maulid al-Habsyi mengemas paham ini dengan bentuk hadits yang biasanya dijadikan landasan, yakni hadits Jabir yang sudah kami bahas di atas.
Bisa dipahami bahwa penyebutan ajaran Nur Muhammad dalam kitab-kitab maulid ini, sengaja ditujukan untuk melegitimasi kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Apalagi ia dikutip dalam kitab yang secara khusus menjelaskan tentang keutamaan beliau. Hal ini sebenarnya terjadi bukan saja dalam kitab Maulid, tapi juga dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah , seperti kitab Mawahib Alladuniyah karya Imam Al-Qasthalani dan Khashais al-Kubra karangan Imam Suyuthi -- meski pun Imam Suyuthi dalam karya : Qut al-Mughtadzi dan Al-Hawi menganggap hadits Nur Muhammad yang dinisbatkan kepada Jabir bermasalah. Hal ini-lah yang oleh Syekh Abdullah al-Ghumari dan orang-orang yang sependapat, dianggap tidak perlu. Sebab sudah banyak hadits shahih yang menjelaskan keutamaan Nabi, tanpa perlu membawa hadits ini yang dianggapnya bermasalah. (Lihat : Mursyidul Hair).
Di Nusantara sendiri, terutama di abad modern, Ajaran Nur Muhammad memang belum mendapat perhatian yang cukup serius dari kalangan tokoh agama. Karya-karya yang lahir pun, lebih banyak menekankan pada aspek filologis -- seperti penelitian Rahmawati atas teks Hikayat Nur Muhammad. Sejauh ini al-Faqir hanya menemukan dua sikap Ulama Nusantara yang kurang lebih tidak beda dengan yang terjadi dalam tradisi besar islam di barat. Yakni menentang dan mendukung. Salah satu sikap yang mungkin paling awal adalah pernyataan Buya Hamka. Seperti dikutip Edward Jamaris -- ia menyatakan bahwa konsep ajaran Nur Muhammad adalah inti (diserap) dari filsafat Hinduisme bernama atman yang masuk ke dalam tasawuf islam.
Dari statemen di atas, kritik Hamka tampak-nya tidak secara tegas diarahkan kepada hadits Jabir yang menjadi landasan teologis ajaran ini. Hamka justru menyoroti ajaran ini dari sudut teologis dan tasawuf dengan menyatakan bahwa konsep tsb adalah konsep al-Insan al-Kamil yang dianut al-Hallaj, kemudian difilsafatkan (disempurnakan) oleh Ibnu Arabi, dan Abdul Karim al-Jili dalam kitabnya "Al-Insan al-Kamil". Menurut Hamka, Konsep al-Insan al-Kamil tsb maksudnya adalah manusia yang maha sempurna. Dia-lah permulaan wujud dan kesudahan Nabi. Dia menyatakan dirinya dalam bentuk yang berbeda-beda, menjadi Nabi Adam, dan seterusnya hingga sempurna dengan kelahiran Nabi SAW. Nur tsb, kemudian pindah secara turun temurun kepada Imam Ali dan cucunya.
Kalau-lah Hamka memandang ajaran tsb dari sudut ideologis, Habib Thahir Al-Kaff, Salah satu Ulama asal Tegal, memandang salah satu poin ajaran tsb dari sudut pandang hadits. Dalam acara haul Habib Ali Al-Habsyi beberapa tahun silam, Ia mengatakan bahwa hadits tsb shahih dan punya mata rantai (Sanad). Statemen tsb agaknya ia ungkapkan sebagai pembelaan atas hadits Jabir yang termaktub dalam kitab Simtud Durar. Dalam kitab tsb memang terdapat hadits yang dinisbatkan kepada Jabir yang secara tegas menyatakan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah. Dan kandungan ini-lah sebagaimana di atas, telah ditentang oleh Buya Hamka.
Selain dua tokoh di atas, Al-Faqir belum menemukan tokoh-tokoh agama di Nusantara yang mengomentari ajaran ini. Baik komentar terhadap haditsnya, mau-pun terhadap subtansi ajaran tsb. Terlepas dari kontroversi yang ada, Sampai sekarang ajaran tsb masih sering disampaikan dalam berbagai acara keagamaan. Kitab Maulid dan sastra melayu yang mengutip ajaran tsb-pun masih dibaca di mana-mana tanpa ada komentar tokoh-tokoh agama, baik komentar yang menentang mau-pun mendukung. Sejauh ini pun, kalangan yang menentang ajaran tsb kebanyakan berasal dari Timur tengah, meski ada saja dari mereka yang mendukungnya. (nama-nama mereka disebutkan Ziyad bin Umar at-Taklah / Lihat : Difa' 'An An-Nabi Wa Sunnatihi dan Al-Izhaq Li Abathil al-Ighlaq).
Pada masa belakangan ini, pemahaman atas Nur Muhammad seolah tercabut dari tradisi tasawuf falsafi yang dahulu sangat erat kaitannya. Orang-orang yang membaca ajaran ini banyak yang tidak mengira bahwa konsep Nur Muhammad adalah salah satu ajaran dalam tasawuf falsafi dan erat kaitannya dengan paham Wahdatul Wujud. Hal ini mungkin bisa dipahami karena beberapa alasan, diantaranya adalah sebab aliran tasawuf tsb telah gulung tikar dan tidak lagi ada pengikutnya. Tradisi besar yang kontroversial tsb, punah seiring mangkatnya para penganutnya. Dan akhirnya, pembicaraan tentang Nur Muhammad pun cenderung lebih sederhana dengan hanya bertolak dari hadits Jabir, tidak seperti dalam tasawuf falsafi yang menguraikannya dengan pendekatan logika filsafat yang sangat rumit.
Terakhir, Terlepas dari pro kontra yang terjadi, Kalau-lah memang ajaran ini adalah ajaran Ibnu Arabi, di mana istilahnya banyak yang hanya bisa dipahami oleh golongan mereka sendiri, maka biar-lah saja mereka dengan pemahamannya itu. Dan bagi yang tidak berasal dari golongan mereka, dan tidak paham betul tentang konsep Nur Muhammad ini, agaknya tidak mengapa jika tidak mempercayainya. Toh ajaran ini juga bukan termasuk akidah wajib yang menjadi syarat seseorang bisa disebut muslim. Terlebih konsepnya yang sulit dicerna, bila dipahami secara keliru, justru malah membahayakan akidah. Misalnya saja seperti meyakini bahwa Allah SWT berupa Nur (Cahaya). Dan dari Nur tsb diciptakan-lah Nabi Muhammad SAW.
Referensi :
1. Mursyidul Hair Fi Wadh'i Haditsi Jabir / Abdullah al-Ghumari
2. Al-Izhaq Li Abathil al-Ighlaq / Muhammad Ziyad bin Umar al-Taklah
3. al-Haqiqat al-Muhammadiyah Am Al-Falsafah al-Aflathuniyah / Aidh bin Sa'ad Ad-Dausari
4. Sejarah kesusastraan Melayu klasik / Dr. Liaw Yock Fang
5. Katalog Naskah Buton / Abdul Muluk Zahari
6. Bahr al-Lahut / Abdullah al-'Arif
7. Bayan al-Alif / pengarang tidak diketahui.
8. Hikayat Nur Muhammad / Cetakan Singapura
9. Hikayat Nur Muhammad / Penelitian Edward Jamaris
10. Hikayat Nur Muhammad, Suntingan teks dan penciptaannya / Rahmawati (2012).
11. Kitab-kitab Maulid, Al-'Azzab, Simtud Duror, dll.
12. Ushul Al-Wushul / Sayyid Zaki Ibrahim.
13. Ta'liq Fusush al-Hikam / Abu al-Ala' Afifi.
14. Artikel : Ganasnya Filsafat Tasawuf dan imbasnya pada paham Hakikat Muhammadiyah / Akhina Aufan Nawal (Guru di Pesantren al-Anwar Sarang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar